0

TSMC Mulai Produksi Massal Chip 2nm, Begini Kecanggihannya

Share

TSMC, raksasa manufaktur semikonduktor global, telah resmi memulai produksi massal chip berbasis teknologi 2 nanometer (N2). Tonggak penting ini bukan sekadar pencapaian teknis biasa, melainkan sebuah lompatan kuantum yang menandai era baru dalam industri semikonduktor, membawa kita lebih dekat ke perangkat yang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih bertenaga dari sebelumnya. Pengumuman ini juga menjadi debut arsitektur transistor Gate-All-Around (GAA) revolusioner di lini produksi volume tinggi TSMC, sebuah perubahan mendasar yang akan mendefinisikan standar teknologi chip untuk dekade mendatang.

Kabar monumental ini, yang sebelumnya dinanti-nantikan oleh para pengamat industri, tidak disampaikan melalui seremoni atau konferensi pers megah. Sebaliknya, TSMC memilih jalur yang lebih tenang, mengonfirmasinya secara diam-diam melalui pembaruan di situs resmi mereka. Dalam laman khusus teknologi 2nm miliknya, TSMC mengonfirmasi bahwa "produksi volume tinggi (volume production) telah dimulai pada kuartal IV 2025, sesuai target perusahaan," demikian dikutip dari Techspot, berdasarkan laporan yang diterbitkan pada Kamis, 1 Januari 2026. Konfirmasi ini menggarisbawahi kepercayaan diri TSMC dalam memenuhi jadwal yang ambisius, sekaligus menegaskan posisi dominannya sebagai pemimpin inovasi di garis depan teknologi chip.

Node N2 merepresentasikan pergeseran arsitektur paling signifikan bagi TSMC dalam beberapa generasi terakhir, bahkan bisa dibilang dalam sejarah modern manufaktur chip. Selama bertahun-tahun, industri mengandalkan desain FinFET (Fin Field-Effect Transistor) yang revolusioner, di mana gerbang transistor "membungkus" kanal arus listrik dari tiga sisi, mirip sirip ikan (fin). Desain FinFET telah mendorong kemajuan luar biasa dari node 22nm hingga 3nm. Namun, seiring dengan semakin kecilnya ukuran transistor, tantangan fisika mulai muncul. Mengontrol arus listrik dengan presisi tinggi pada skala atom menjadi semakin sulit dengan FinFET, yang menyebabkan masalah kebocoran daya dan performa yang kurang optimal.

Untuk mengatasi batasan ini, TSMC, seperti halnya seluruh industri, beralih ke desain transistor GAA nanosheet. Dalam arsitektur GAA, gerbang transistor membungkus penuh (gate-all-around) kanal arus listrik yang kini tersusun dari lapisan-lapisan nanosheet horizontal. Bayangkan sebuah jembatan (kanal arus) yang dikelilingi sepenuhnya oleh gerbang (gate) dari semua sisi, bukan hanya dari atas dan samping. Pendekatan "pengepungan" total ini memberikan kontrol elektrostatik yang jauh lebih superior terhadap arus listrik yang mengalir melalui kanal. Dengan kontrol yang lebih presisi, kebocoran daya dapat ditekan secara drastis, memungkinkan transistor beroperasi lebih efisien bahkan pada tegangan yang sangat rendah.

Implementasi GAA nanosheet ini memungkinkan TSMC untuk menghadirkan transistor yang secara fisik lebih kecil tanpa mengorbankan integritas sinyal atau performa. Hasilnya, chip N2 diklaim mampu menawarkan peningkatan performa sebesar 10-15% pada tingkat daya yang sama jika dibandingkan dengan node N3E sebelumnya, yang merupakan versi penyempurnaan dari teknologi 3nm TSMC. Atau, jika performa yang diinginkan setara, chip N2 dapat menghemat daya hingga 25-30%. Ini adalah angka yang sangat krusial, terutama untuk perangkat mobile di mana masa pakai baterai adalah raja, dan untuk pusat data bertenaga AI di mana efisiensi energi secara langsung mempengaruhi biaya operasional dan dampak lingkungan.

Selain peningkatan performa dan efisiensi daya, node N2 juga membawa peningkatan signifikan dalam kepadatan transistor. Desain campuran yang melibatkan logika, analog, dan SRAM (Static Random-Access Memory) menunjukkan peningkatan kepadatan sekitar 15%. Sementara itu, untuk desain logika murni, seperti yang ditemukan pada inti prosesor atau unit pemrosesan grafis (GPU), kepadatan bisa melonjak hingga 20%. Kepadatan yang lebih tinggi berarti lebih banyak transistor dapat dimuat ke dalam area chip yang sama, memungkinkan desainer chip untuk menambahkan lebih banyak inti pemrosesan, cache memori yang lebih besar, atau fitur-fitur baru lainnya tanpa memperbesar ukuran fisik chip. Ini adalah kunci untuk terus mendorong hukum Moore dan menghadirkan kemampuan komputasi yang semakin canggih dalam faktor bentuk yang lebih kecil.

Selain transisi ke GAA, TSMC juga membawa inovasi krusial di sisi distribusi daya. Node N2 mengadopsi penggunaan kapasitor metal-insulator-metal berkinerja super tinggi (SHPMIM). Kapasitor ini berfungsi sebagai "penyangga" energi di dalam chip, memastikan pasokan daya yang stabil dan bersih ke miliaran transistor yang beroperasi dengan kecepatan sangat tinggi. SHPMIM yang baru ini disebut memiliki kepadatan kapasitansi lebih dari dua kali lipat generasi sebelumnya, sebuah peningkatan yang dramatis. Pada saat yang sama, SHPMIM juga memangkas resistansi jalur daya secara signifikan.

Dampak dari SHPMIM ini sangat besar. Dengan pasokan daya yang lebih stabil dan efisien, chip N2 dapat beroperasi dengan lebih andal, terutama saat menghadapi lonjakan beban kerja yang intensif. Ini adalah aspek krusial untuk prosesor kecerdasan buatan (AI) dan komputasi performa tinggi (HPC) yang membutuhkan daya instan dan konsisten untuk melakukan triliunan operasi per detik. Stabilitas daya yang lebih baik berarti performa puncak dapat dipertahankan lebih lama tanpa masalah pelambatan (throttling) atau ketidakstabilan, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi energi keseluruhan dari sistem.

Produksi awal chip N2 dilakukan di Fab 22 yang berlokasi di Kaohsiung, Taiwan selatan. Langkah ini cukup menarik dan berbeda dari kebiasaan TSMC yang biasanya memulai node teknologi baru di fasilitas dekat pusat riset dan pengembangan utamanya di Hsinchu, yang sering disebut sebagai "Silicon Valley-nya Taiwan." Keputusan untuk memulai di Kaohsiung, sebuah kota pelabuhan besar, kemungkinan besar didorong oleh beberapa faktor strategis. Ini bisa jadi karena ketersediaan lahan yang lebih luas untuk fasilitas produksi berskala besar, dukungan pemerintah daerah, atau strategi diversifikasi risiko geografis. Sementara itu, Fab 20 yang berada di wilayah Hsinchu kini diproyeksikan akan menyusul produksi massal di tahap berikutnya, menunjukkan rencana ekspansi kapasitas yang agresif untuk memenuhi permintaan yang diperkirakan sangat tinggi.

Yang juga menarik adalah strategi pasar TSMC yang langsung menyasar dua segmen sekaligus dengan teknologi 2nm-nya: chip mobile dan komputasi performa tinggi, termasuk AI dan HPC. Ini menunjukkan kepercayaan diri TSMC terhadap fleksibilitas dan kapabilitas node N2 untuk melayani berbagai kebutuhan komputasi. CEO TSMC, C.C. Wei, sebelumnya telah menekankan bahwa permintaan terhadap N2 sangat kuat dari berbagai pelanggan di seluruh spektrum industri. Dorongan permintaan ini telah memicu perusahaan untuk menyiapkan lebih dari satu fasilitas produksi sejak awal, sebuah langkah yang menyoroti betapa vitalnya teknologi 2nm bagi masa depan komputasi.

Untuk segmen mobile, chip 2nm akan memungkinkan smartphone generasi mendatang untuk memiliki performa yang jauh lebih tinggi, grafis yang lebih imersif, kemampuan AI on-device yang lebih canggih, dan yang terpenting, masa pakai baterai yang lebih panjang. Sementara itu, di segmen HPC dan AI, N2 akan menjadi tulang punggung bagi akselerator AI generasi baru, prosesor server, dan superkomputer. Efisiensi energi yang ditingkatkan sangat penting untuk pusat data, mengurangi jejak karbon dan biaya operasional yang masif.

Ke depan, TSMC tidak berhenti di N2. Perusahaan ini sudah menyiapkan turunan teknologi yang lebih maju, yaitu N2P dan A16, yang dijadwalkan masuk produksi pada paruh kedua 2026. N2P akan menawarkan peningkatan performa dan efisiensi yang lebih lanjut dari N2 standar. Namun, yang paling dinanti adalah A16, yang akan membawa inovasi lebih jauh dengan teknologi Super Power Rail. Super Power Rail adalah pendekatan baru dalam distribusi daya di mana jalur daya dipindahkan ke sisi belakang wafer, di bawah transistor. Ini memungkinkan jalur sinyal di sisi depan untuk menjadi lebih rapat, menghasilkan kepadatan transistor yang lebih tinggi dan peningkatan efisiensi daya yang signifikan, sangat ideal untuk chip AI berskala besar yang membutuhkan daya sangat tinggi dan performa ekstrem.

Langkah TSMC ini juga memiliki implikasi geopolitik yang luas. Dalam perlombaan global untuk dominasi semikonduktor, Taiwan dan TSMC berada di garis depan. Keberhasilan TSMC dalam mengimplementasikan teknologi 2nm jauh di depan para pesaingnya, seperti Samsung dan Intel, akan semakin memperkuat posisinya sebagai foundry paling penting di dunia. Ini bukan hanya tentang keunggulan teknologi, tetapi juga tentang keamanan pasokan chip yang vital bagi ekonomi global dan pertahanan nasional berbagai negara.

Secara keseluruhan, dimulainya produksi massal chip 2nm oleh TSMC adalah sebuah momen bersejarah. Ini adalah puncak dari investasi miliaran dolar dalam penelitian dan pengembangan, serta kerja keras ribuan insinyur dan ilmuwan. Teknologi 2nm dengan transistor GAA dan inovasi SHPMIM-nya akan menjadi fondasi bagi revolusi teknologi berikutnya, mulai dari ponsel cerdas yang lebih pintar, laptop yang lebih bertenaga, mobil otonom yang lebih aman, hingga sistem AI yang dapat mengubah dunia. Era komputasi ultra-efisien dan berkinerja tinggi telah tiba, dan TSMC sekali lagi menjadi arsitek utamanya.