0

Tahun Berganti, Produsen Mobil China Diramal Banyak Berguguran

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sektor otomotif China, khususnya segmen kendaraan listrik, tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Proyeksi untuk tahun mendatang mengindikasikan gelombang kejatuhan yang signifikan bagi banyak produsen mobil asal Negeri Tirai Bambu, sebuah fenomena yang dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang semakin menekan. Kinerja finansial yang memburuk pada tahun berjalan menjadi alarm kuat bahwa ketahanan mereka di pasar yang semakin kompetitif akan diuji habis-habisan. Kendaraan listrik buatan China memang telah menorehkan jejak yang impresif, menyebar dengan kecepatan luar biasa ke berbagai penjuru dunia. Fenomena ini didorong oleh lonjakan permintaan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, ditambah lagi dengan dukungan kebijakan yang masif dari pemerintah China. Bukti nyata dari keberhasilan ini adalah angka ekspor mobil listrik China yang tercatat meroket hingga 87 persen pada tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun, di balik gemerlap angka ekspor yang memukau, tersimpan realitas pahit bahwa tidak semua pemain di industri ini mampu menjaga momentum dan keberlanjutan bisnis mereka dalam jangka panjang.

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi titik balik yang menentukan bagi lanskap kendaraan listrik China. Analis industri memproyeksikan akan terjadi perombakan besar-besaran yang berpotensi membuat puluhan produsen kesulitan untuk bertahan di tengah persaingan yang kian sengit. Perkiraan penurunan pengiriman kendaraan baru di pasar domestik China sebesar lima persen tahun depan menjadi indikator awal yang mengkhawatirkan. Penurunan ini diperkirakan akan menjadi yang terbesar sejak tahun 2020, sebuah periode yang juga diliputi ketidakpastian ekonomi global. Penyebab utama dari penurunan ini diyakini adalah berkurangnya dukungan kebijakan dari pemerintah, yang sebelumnya menjadi tulang punggung pertumbuhan industri, serta fenomena kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) yang semakin meluas di sektor kendaraan listrik. Situasi ini menciptakan tekanan yang luar biasa bagi produsen, memaksa mereka untuk berinovasi sekaligus berhemat agar tetap relevan.

Merujuk pada laporan mendalam yang dipublikasikan oleh South China Morning Post, setidaknya 50 produsen mobil listrik tercatat mengalami kerugian finansial yang substansial pada tahun ini. Kondisi ini memaksa mereka untuk melakukan pemangkasan besar-besaran, baik dari sisi operasional maupun sumber daya manusia, yang puncaknya diperkirakan akan terjadi pada tahun 2026. Beberapa dari produsen yang mengalami kesulitan finansial parah bahkan diprediksi akan menghentikan operasionalnya secara total di tahun yang sama. Pernyataan dari Qian Kang, seorang pengelola pabrik yang memiliki spesialisasi dalam produksi komponen untuk industri otomotif, menyoroti urgensi situasi ini. "Waktu tidak berpihak pada produsen mobil yang tidak mampu memikat kalangan muda," ujarnya. "Bagi sebagian besar produsen mobil listrik yang merugi, kinerja tahun depan akan makin krusial. Ini adalah pertaruhan besar yang akan menentukan kelangsungan hidup mereka."

Keputusan kebijakan yang akan diumumkan oleh pemerintah China di masa mendatang memegang peranan sentral dalam menentukan nasib para produsen mobil listrik ini. Salah satu keputusan krusial yang paling dinanti adalah terkait keberlanjutan subsidi tukar tambah mobil listrik senilai 20.000 yuan, atau setara dengan Rp 47 jutaan, yang dijadwalkan akan diputuskan pada Januari 2026. Subsidi ini telah menjadi stimulus penting yang mendorong adopsi kendaraan listrik di kalangan konsumen. Selain itu, pembebasan pajak pembelian kendaraan listrik sebesar 10 persen yang saat ini masih berlaku, akan segera berakhir pada akhir tahun ini. Kebijakan ini akan mengalami penyesuaian, di mana tarifnya akan dikurangi menjadi 5 persen mulai Januari 2026, sebelum akhirnya sepenuhnya dihapuskan dan pajak tanpa insentif akan berlaku mulai tahun 2028. Perubahan kebijakan fiskal ini secara langsung akan memengaruhi daya beli konsumen dan pada akhirnya, volume penjualan produsen.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi industri ini adalah fenomena "perang harga" yang semakin intensif di pasar kendaraan listrik China. Meskipun praktik ini secara positif membuat harga mobil listrik menjadi lebih terjangkau bagi konsumen, namun di sisi lain, hal ini secara signifikan mengikis margin keuntungan yang bisa diraih oleh banyak perusahaan. Praktik penetapan harga yang agresif ini seringkali memaksa produsen untuk menjual produk mereka dengan keuntungan minimal, bahkan merugi, demi menjaga pangsa pasar. Ditambah lagi dengan kebutuhan investasi besar-besaran dalam riset dan pengembangan (R&D) untuk terus berinovasi dan menciptakan teknologi baru, yang pada akhirnya semakin menggerogoti keuntungan perusahaan yang sudah menipis.

Investor dan pengamat pasar, seperti Yin Ran, menggambarkan situasi ini sebagai sebuah "permainan bertahan hidup" yang brutal. "Jadi ini seperti permainan bertahan hidup, di mana produsen mobil yang menguntungkan akan jadi pemenang, sementara produsen yang merugi akan kehabisan dana," tegasnya. Dalam konteks ini, hanya sedikit perusahaan yang diprediksi akan mampu melenggang mulus melewati badai ini dan terus tumbuh pada tahun depan. Beberapa nama besar yang dipercaya masih memiliki fondasi yang kuat dan potensi pertumbuhan adalah BYD, Seres, dan Li Auto. Ketiga perusahaan ini tercatat masih mampu mencatatkan keuntungan yang sehat, menunjukkan ketangguhan model bisnis dan strategi pasar mereka dalam menghadapi tantangan industri yang kompleks. Ketiganya dipercaya akan menjadi pilar yang kokoh di tengah potensi gugurnya banyak pemain lain.

Analisis lebih mendalam terhadap tren global menunjukkan bahwa dorongan untuk elektrifikasi transportasi memang tidak terbendung. Perusahaan-perusahaan otomotif di seluruh dunia berlomba-lomba untuk mengembangkan dan meluncurkan model kendaraan listrik terbaru. Namun, transisi ini bukan tanpa tantangan. Di China, khususnya, dinamika pasar sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan persaingan domestik yang sangat ketat. Tingginya tingkat investasi dalam produksi kendaraan listrik telah menciptakan kapasitas yang jauh melampaui permintaan domestik saat ini, mendorong produsen untuk mengejar pasar ekspor. Namun, pasar ekspor juga tidak kalah kompetitif, dengan hambatan tarif, regulasi, dan persaingan dari produsen lokal di negara tujuan.

Pergeseran fokus pemerintah China dari insentif langsung ke arah pembangunan infrastruktur dan standar emisi yang lebih ketat merupakan indikasi dari fase baru dalam pengembangan industri kendaraan listrik. Jika sebelumnya subsidi tunai menjadi motor penggerak utama, kini penekanan akan bergeser pada daya saing teknologi, efisiensi produksi, dan kemampuan perusahaan untuk beroperasi secara mandiri tanpa dukungan finansial langsung. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan kebijakan ini dan terus berinovasi dalam teknologi baterai, efisiensi energi, dan pengalaman pengguna, akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Selain itu, perubahan selera konsumen juga memainkan peran penting. Generasi muda, yang semakin sadar akan isu lingkungan dan teknologi, menjadi target pasar utama. Produsen yang mampu menawarkan produk yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki desain menarik, fitur konektivitas canggih, dan pengalaman berkendara yang memuaskan, akan lebih berhasil menarik perhatian segmen ini. Kegagalan dalam memahami dan memenuhi preferensi konsumen muda dapat menjadi faktor penentu kejatuhan sebuah merek.

Perang harga yang disebutkan sebelumnya juga menciptakan dilema bagi produsen. Di satu sisi, harga yang kompetitif sangat penting untuk memenangkan pangsa pasar, terutama di pasar yang sensitif terhadap harga. Namun, di sisi lain, praktik ini dapat menyebabkan penurunan kualitas produk jika produsen terpaksa memangkas biaya produksi secara drastis. Keseimbangan antara harga yang terjangkau dan kualitas yang terjamin akan menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.

Investasi besar dalam riset dan pengembangan juga merupakan pedang bermata dua. Inovasi sangat penting untuk tetap berada di garis depan persaingan, tetapi biaya yang dikeluarkan untuk R&D dapat membebani keuangan perusahaan, terutama bagi produsen yang masih dalam tahap awal pertumbuhan atau yang memiliki skala produksi yang lebih kecil. Perusahaan yang memiliki strategi R&D yang efisien dan berfokus pada inovasi yang memberikan nilai tambah nyata bagi konsumen akan lebih mampu mengelola biaya ini.

Dalam gambaran besar, tahun-tahun mendatang akan menjadi periode konsolidasi yang signifikan di industri kendaraan listrik China. Perusahaan-perusahaan yang kuat secara finansial, memiliki teknologi yang unggul, merek yang kuat, dan pemahaman yang mendalam tentang pasar, akan muncul sebagai pemenang. Sementara itu, pemain yang kurang siap atau yang gagal beradaptasi dengan dinamika pasar yang berubah akan menghadapi tantangan yang berat, dan tidak menutup kemungkinan akan tersingkir dari persaingan. Kelangsungan hidup akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk berinovasi, beradaptasi, dan mempertahankan profitabilitas di tengah lingkungan bisnis yang semakin menantang. Prospek pertumbuhan ekspor mobil listrik China tetap cerah, namun kesuksesan di pasar internasional akan bergantung pada kemampuan produsen untuk menawarkan produk yang kompetitif dan memenuhi standar global.

Ke depannya, diperkirakan akan ada lebih banyak merger dan akuisisi dalam industri ini, saat perusahaan yang lebih kuat mengakuisisi atau bergabung dengan perusahaan yang kesulitan. Hal ini akan mengarah pada konsolidasi pasar, di mana segelintir pemain besar akan mendominasi. Perusahaan-perusahaan yang berhasil melewati badai ini tidak hanya akan memperkuat posisi mereka di pasar domestik, tetapi juga akan menjadi kekuatan yang lebih signifikan di pasar otomotif global. Perjalanan industri kendaraan listrik China masih panjang, dan tahun-tahun mendatang akan menjadi ujian terberat bagi ketahanan dan inovasi para pemainnya.