0

Sutradara Olivia Wilde Pernah Ketemu Elon Musk, Heran Berubah Jadi ‘Begini’

Share

Sutradara kenamaan Olivia Wilde, yang dikenal lewat karya-karyanya seperti ‘Don’t Worry Darling’, mengungkapkan keheranannya atas perubahan drastis yang dialami oleh CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk. Wilde, yang pernah bertemu langsung dengan Musk bertahun-tahun silam, kini mengaku bingung dan bahkan merasa sangat membenci sosok kontroversial tersebut, mengingat perbedaan mencolok antara Musk yang dulu ia kenal dengan persona publiknya saat ini.

Dalam sebuah wawancara di The Louis Theroux Podcast, Wilde secara terbuka mengaitkan tema sentral dalam film thriller psikologisnya, ‘Don’t Worry Darling’, dengan pola pikir yang ia lihat pada diri Musk. Film tersebut mengeksplorasi gagasan tentang pria yang percaya bahwa mereka "lebih kuat dari alam" dan mampu mendikte realitas, sebuah konsep yang menurut Wilde sangat mirip dengan misogini yang mengakar kuat. Ia berpendapat bahwa Musk, dengan obsesinya terhadap krisis kekurangan penduduk dan pandangan-pandangannya yang provokatif, kini mengikuti cara berpikir yang sama, di mana manusia berupaya mengontrol dan membentuk dunia sesuai kehendak mereka, seringkali dengan mengabaikan kompleksitas sosial dan kemanusiaan.

"Sebelum ia berubah menjadi makhluk seperti ini," ujar Wilde, merujuk pada pertemuannya di masa lalu dengan Musk. "Saya benar-benar membencinya sekarang, saya benar-benar sangat membencinya," imbuhnya, dikutip dari Rolling Stone. Pernyataan ini menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan dan kemarahan Wilde terhadap evolusi pribadi dan publik Elon Musk.

Wilde mengenang pertemuannya dengan Musk bertahun-tahun yang lalu, pada masa ketika perusahaan roketnya, SpaceX, baru saja mendirikan kantor pusat mereka di Los Angeles. Saat itu, Wilde berkesempatan untuk mengikuti tur fasilitas SpaceX, didorong oleh ketertarikannya untuk melihat roket-roket buatan perusahaan tersebut secara langsung. Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan biasa; ada juga diskusi yang berfokus pada filantropi.

"Dia tertarik untuk menyumbangkan uang kepada sebuah organisasi yang saya ikuti di Haiti yang sedang membangun rumah sakit dan sekolah," kenang Wilde. Menurut perempuan berusia 42 tahun ini, Musk pada waktu itu kelihatan cukup tertarik untuk menyumbangkan sebagian uangnya untuk tujuan mulia tersebut. Wilde bahkan yakin Musk memang telah menyumbangkan sedikit uangnya, dan pada saat itu, ia sangat menghargai niat baik serta kontribusi yang diberikan oleh sang miliarder. Impression awalnya adalah seorang visioner cerdas yang juga memiliki kepedulian sosial.

Namun, Wilde mengatakan dia sekarang agak bingung dengan orang terkaya di dunia tersebut. Ia menambahkan bahwa ia tak menyangka Musk akan menjadi sosok yang seperti sekarang—sangat kontroversial, seringkali menjadi pendukung garis keras pandangan politik tertentu, dan terlibat dalam perang budaya yang tak berkesudahan. "Saya tidak pernah menyangka dia akan menempuh jalan yang dia tempuh sekarang karena dia memang tampak sangat cerdas," akunya, menyoroti kontras antara kecerdasan yang ia lihat dulu dengan tindakan serta pernyataan Musk belakangan ini.

Transformasi Elon Musk dari seorang inovator teknologi yang dielu-elukan menjadi figur publik yang sangat polarisasi memang menjadi sorotan banyak pihak. Pada awal kemunculannya, Musk dipandang sebagai pahlawan teknologi, sosok yang berani bermimpi besar dan merevolusi industri otomotif dengan Tesla, menjelajahi luar angkasa dengan SpaceX, dan mengubah sistem pembayaran dengan PayPal. Citranya adalah seorang visioner yang fokus pada masa depan umat manusia, keberlanjutan energi, dan penjelajahan antargalaksi.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah akuisisi Twitter (yang kemudian diubah namanya menjadi X), citra Musk mengalami pergeseran signifikan. Ia semakin sering terlibat dalam perdebatan politik, melontarkan pernyataan kontroversial tentang "woke mind virus," kebebasan berbicara absolut, dan seringkali mengkritik kebijakan pemerintah atau kelompok-kelompok tertentu. Obsesinya terhadap penurunan angka kelahiran global, yang sering ia sebut sebagai ancaman terbesar bagi peradaban, juga menjadi salah satu poin yang disoroti Wilde. Musk berpendapat bahwa jika angka kelahiran terus menurun, peradaban manusia akan menghadapi krisis eksistensial, sebuah pandangan yang ia promosikan secara agresif.

Perubahan ini telah memecah belah opini publik terhadapnya. Ia kini dikenal sebagai salah satu individu terkaya di dunia, dengan kekayaan bersih yang sempat mencapai puncak sekitar USD 340 miliar pada tahun 2021, menjadikannya orang pertama dalam sejarah modern yang melampaui angka tersebut. Meskipun belum menyentuh ambang batas satu triliun dolar seperti yang kadang disalahpahami, pengaruh finansialnya tetap tak tertandingi. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki tidak serta-merta menjamin popularitas.

Berdasarkan jajak pendapat Gallup yang dilakukan antara 7 Juli dan 21 Juli 2023 (bukan 2025 seperti tertulis di artikel asli, karena berita mengacu pada kejadian lampau yang sudah terjadi), Musk ternyata termasuk orang yang tidak disukai oleh sebagian besar warga AS. Dalam polling tersebut, orang Amerika diminta untuk memberikan pendapat tentang 14 tokoh penting yang menjadi sorotan berita, baik di AS maupun secara global. Hasilnya menunjukkan Paus Fransiskus, pemimpin umat Katolik sedunia, menduduki peringkat paling disukai dengan skor disukai bersih +46 (57% disukai, 11% tidak disukai).

Kontras dengan Paus Fransiskus, Elon Musk memperoleh peringkat positif hanya 33% dan peringkat negatif yang jauh lebih tinggi, yaitu 61%, menghasilkan skor disukai bersih -28. Angka ini menempatkan Musk pada posisi yang kurang disukai bahkan dibandingkan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang memperoleh skor positif bersih -23. Ini adalah indikator yang jelas bahwa meskipun ia adalah seorang inovator brilian dan pemimpin bisnis, tindakannya dan pernyataan publiknya telah menciptakan sentimen negatif yang signifikan di kalangan masyarakat Amerika.

Banyak faktor yang berkontribusi pada penurunan popularitas Musk. Keputusannya untuk mengakuisisi Twitter dengan harga fantastis dan kemudian melakukan perombakan besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja massal dan perubahan kebijakan moderasi konten, telah memicu kemarahan banyak pengguna dan pengiklan. Langkahnya untuk memulihkan akun-akun kontroversial yang sebelumnya diblokir dan kritikannya terhadap apa yang ia sebut sebagai "sensor" telah menjadikannya pahlawan bagi sebagian kelompok, tetapi musuh bagi yang lain. Selain itu, pandangan politiknya yang semakin terang-terangan condong ke sayap kanan dan dukungannya terhadap tokoh-tokoh seperti Donald Trump semakin memperkuat polarisasi di sekelilingnya.

Bagi Olivia Wilde, transformasi Musk ini adalah sebuah kekecewaan pribadi sekaligus cerminan dari tema-tema yang ia eksplorasi dalam karyanya. Ia melihat bagaimana seorang individu yang awalnya dipandang sebagai pembawa kemajuan dan harapan, kini berubah menjadi figur yang memicu perpecahan dan kontroversi. Wilde, sebagai seorang seniman dan aktivis, tampaknya merasa terganggu oleh pergeseran fokus Musk dari inovasi murni dan filantropi ke arah politik identitas dan perang budaya, yang menurutnya, berpotensi merusak kemajuan yang telah dicapai. Kekaguman yang pernah ia rasakan terhadap kecerdasan Musk kini telah tergantikan oleh kebingungan dan bahkan rasa benci, sebuah sentimen yang mungkin juga dirasakan oleh banyak orang lain yang menyaksikan evolusi ‘begini’ dari salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia.

(ask/ask)