BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Momen Hari Raya Idulfitri atau Lebaran tidak hanya identik dengan silaturahmi dan hidangan lezat, tetapi juga dengan tradisi berbagi Tunjangan Hari Raya (THR) serta pertanyaan klasik mengenai kapan menikah. Bagi selebritas Anwar BAB, momen ini memiliki makna mendalam, baik dalam hal berbagi maupun doa yang selalu ia panjatkan. Ia mengaku selalu menyiapkan uang recehan dengan jumlah yang cukup untuk dibagikan kepada keluarga besar, kerabat, hingga orang-orang di sekitarnya yang datang berkunjung. "Ya pastikan, karena balik lagi ini kan setahun sekali. Makanya aku bilang gini, yang tadinya rumah kita nggak minta jadi minta. Itu kan di Lebaran doang kan? Makanya aku nyiapin berbagai macam uang-uang kecil gitu," ungkap Anwar BAB saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Lebih dari sekadar tradisi, Anwar BAB menilai bahwa kegiatan bagi-bagi THR ini memiliki makna yang lebih dalam, yaitu sebagai bentuk sedekah dan kepedulian terhadap sesama. Ia berharap melalui tradisi ini, semua orang dapat merasakan kesejahteraan dan kebahagiaan di hari yang fitri. "Karena ya kalau nggak Lebaran kan orang mungkin malu datang-datang ke rumah minta-minta THR gitu kan? Momen. Jadi ya gimana ya? Aku bilang kayak ya sudah bersedekah, beramal gitu. Karena jangan sampai di satu Syawal, di hari Lebaran ada orang yang kelaparan, ada orang yang nggak punya beras, nggak punya makanan. Insyaallah semua sejahtera deh," jelasnya dengan penuh keyakinan.
Selain fokus pada aspek berbagi, Anwar BAB juga mengungkapkan doa yang senantiasa ia panjatkan setiap kali memasuki bulan Ramadan dan merayakan Lebaran. Doa utamanya adalah memohon agar selalu diberikan umur panjang, sehingga ia dapat kembali bertemu dengan bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri di tahun-tahun berikutnya. "Doanya mudah-mudahan jadi gini. Setiap Lebaran, setiap Ramadan adalah doa aku dikabulin tahun lalu. Di tahun sekarang aku doa lagi, ‘Ya Allah mudah-mudahan panjangkan umurku, sampaikan umurku di Ramadan tahun depan’ gitu. Kalau Ramadannya mah pasti ada, kitanya yang kita nggak tahu ada apa nggak," tuturnya dengan nada penuh kerendahan hati.
Menjelang akhir perbincangan, Anwar BAB juga tak luput dari pertanyaan yang selalu menghantuinya, terutama di momen Lebaran, yaitu kapan ia akan melepas masa lajang. Pertanyaan "kapan kawin" ini memang kerap dilontarkan oleh kerabat, tetangga, bahkan orang yang baru ditemui. Namun, alih-alih merasa tertekan atau kesal, Anwar BAB justru memberikan respons yang kocak dan tak terduga. Ia mengaku seringkali membalas pertanyaan tersebut dengan candaan yang mengundang tawa.
"Gue timpuk semur sama dodol sama uli," ujarnya sambil tertawa terbahak-bahak, menggambarkan betapa ia akan memberikan "balasan" berupa makanan khas Lebaran kepada siapa saja yang menanyakan hal tersebut. Ia melanjutkan dengan menceritakan pengalamannya yang pernah membalas komentar pedas seorang ibu-ibu yang menanyakan kapan ia menikah. "Benar, orang dulu saja pernah ada ibu-ibu ngatain gitu aku maki-maki. Katain, ‘Kapan kawin?’ ‘Bisa diam nggak bu? Ibu kapan? Ibu dipanggil sama Allah’ waduh," pungkasnya sambil tertawa geli.
Respons kocak Anwar BAB ini menunjukkan bahwa ia tidak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan yang terkadang dianggap mengganggu tersebut. Ia lebih memilih untuk menanggapinya dengan humor, menciptakan suasana yang lebih ringan dan menyenangkan di tengah momen perayaan. Sikapnya ini juga bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang yang seringkali merasa tertekan dengan pertanyaan serupa, untuk lebih santai dan menganggapnya sebagai bagian dari dinamika sosial saat Lebaran.
Kisah Anwar BAB ini kembali menegaskan bahwa Lebaran adalah momen yang penuh dengan berbagai macam cerita. Ada cerita tentang keikhlasan berbagi, ada cerita tentang harapan dan doa, dan tentu saja, ada cerita tentang canda tawa yang mewarnai setiap interaksi.
Tradisi berbagi THR, yang diakui Anwar BAB, memang memiliki akar budaya yang kuat di Indonesia. Ini bukan sekadar pemberian uang, melainkan sebuah simbol kepedulian dan kasih sayang yang disalurkan kepada keluarga, kerabat, dan bahkan orang-orang yang kurang beruntung. Uang recehan yang disiapkan Anwar BAB menjadi bukti nyata dari perhatiannya terhadap detail-detail kecil yang bisa membuat perbedaan besar bagi penerimanya. Ia memahami bahwa di momen Lebaran, banyak orang yang mungkin membutuhkan sedikit bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, dan dengan senang hati ia turut berkontribusi.
Pentingnya momen Lebaran sebagai waktu untuk bersedekah dan beramal juga ditekankan oleh Anwar BAB. Ia melihat Lebaran sebagai kesempatan emas untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta meningkatkan kebaikan. Dengan memberikan THR, ia merasa turut berperan dalam mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi orang lain, sejalan dengan semangat Idulfitri yang mengajarkan tentang pemaafan dan berbagi kebahagiaan.
Doa memohon umur panjang agar dapat bertemu kembali dengan Ramadan dan Lebaran di tahun berikutnya adalah doa yang sangat universal dan menyentuh. Ini mencerminkan kesadaran akan betapa berharganya setiap momen kehidupan dan betapa besar nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Anwar BAB menyadari bahwa keberadaan dirinya di tahun mendatang tidaklah pasti, oleh karena itu, ia senantiasa memohon kepada Sang Pencipta agar diberikan kesempatan untuk terus beribadah dan menebar kebaikan.
Sementara itu, respons kocak Anwar BAB terhadap pertanyaan kapan menikah menjadi sorotan tersendiri. Di Indonesia, pertanyaan ini seolah menjadi ritual wajib yang dilontarkan kepada kaum lajang, terutama saat berkumpul dengan keluarga besar. Namun, Anwar BAB dengan gaya khasnya berhasil mengubah potensi situasi canggung menjadi momen komedi. Tindakan "menimpuk" dengan makanan khas Lebaran seperti semur, dodol, dan uli adalah metafora yang cerdas untuk menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap pertanyaan yang dianggap mengusik privasinya.
Pengalamannya membalas komentar pedas seorang ibu-ibu dengan mengingatkan akan panggilan Tuhan adalah contoh keberanian untuk bersikap tegas namun tetap berbalut humor. Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya ingin menghibur orang lain, tetapi juga mampu menjaga batasannya dengan cara yang unik dan tak terlupakan.
Kisah Anwar BAB ini memberikan pelajaran berharga bahwa momen Lebaran dapat diisi dengan berbagai kegiatan positif yang bermakna. Mulai dari keikhlasan berbagi, ketulusan berdoa, hingga kemampuan untuk menanggapi situasi sosial dengan kecerdasan dan humor. Ia berhasil menunjukkan bahwa di balik citra publiknya, terdapat kepribadian yang hangat, dermawan, dan memiliki selera humor yang tinggi.
Keberaniannya untuk bersikap jujur dan apa adanya, terutama dalam menanggapi pertanyaan pribadi, patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa ia tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri dan tidak terpengaruh oleh tekanan sosial yang terkadang muncul di momen-momen tertentu.
Secara keseluruhan, cerita Anwar BAB ini adalah pengingat yang menyenangkan bahwa Lebaran adalah waktu untuk merayakan hidup, berbagi kebahagiaan, dan tetap menjaga semangat positif, bahkan ketika dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang terkadang membuat kita ingin menghilang sejenak. Dengan respons kocaknya, Anwar BAB tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan kita untuk melihat sisi lucu dari kehidupan, bahkan dalam situasi yang paling biasa sekalipun.

