Nama Raden Ajeng Kartini selama ini lebih sering dibingkai dalam narasi modernitas, pendidikan Barat, dan perjuangan emansipasi perempuan. Surat-suratnya yang dibukukan dalam Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) sering kali dipahami sebagai bentuk kegelisahan intelektual seorang perempuan Jawa terhadap kungkungan adat yang patriarkis. Namun, di balik narasi kemodernan tersebut, terdapat dimensi spiritual yang sangat mendalam dan jarang diulas secara komprehensif, yakni kedekatan Kartini dengan tradisi keilmuan Islam melalui bimbingan seorang ulama besar Nusantara, KH. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Tulisan ini akan membedah lebih jauh bagaimana jejaring sanad keilmuan yang melibatkan KH. Ahmad Rifa’i, Mbah Tubo Purwosari, dan Mbah Sholeh Darat membentuk fondasi batin seorang Kartini.
Kisah ini berpijak pada sebuah momen di kediaman Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat, yang merupakan paman dari Kartini. Di sana, Mbah Sholeh Darat rutin mengisi pengajian tafsir Al-Qur’an. Saat itu, beliau tengah menguraikan makna Surat Al-Fatihah. Bagi Kartini, yang tumbuh dalam lingkungan priyayi dengan akses terbatas terhadap khazanah keislaman secara mendalam, penjelasan Mbah Sholeh Darat terasa bagaikan oase. Sang Kiai menerjemahkan ayat-ayat suci dalam bahasa Jawa yang sangat komunikatif dan kontekstual, sehingga Kartini dapat menangkap inti sari agama yang selama ini tampak asing dan hanya menjadi ritual formal belaka.
Ketertarikan Kartini pada pengajian tersebut bukan sekadar fenomena sesaat. Ia merasa bahwa agama haruslah dipahami dengan logika dan hati, bukan sekadar hafalan. Dalam catatan sejarah yang sering terlewat, Kartini bahkan pernah meminta Mbah Sholeh Darat untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar kaum perempuan dan masyarakat awam di Jawa dapat memahami wahyu Tuhan secara langsung. Permintaan ini adalah bukti nyata betapa kuatnya keinginan Kartini untuk mendemokratisasi akses terhadap ilmu agama, sebuah visi yang selaras dengan semangat pembaharuan Islam di masa itu.
Untuk memahami mengapa sosok Mbah Sholeh Darat begitu berpengaruh, kita perlu menarik benang merah ke belakang, menuju jaringan ulama besar di Jawa pada abad ke-19. Mbah Sholeh Darat adalah figur sentral yang menghubungkan banyak mata rantai keilmuan. Beliau merupakan murid dari Mbah Asy’ari Kaliwungu. Nama Mbah Asy’ari sendiri memiliki posisi yang sangat vital karena kedekatan nasab dan keilmuannya dengan KH. Ahmad Rifa’i, seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai pejuang perlawanan kultural terhadap kolonialisme Belanda.
KH. Ahmad Rifa’i merupakan tokoh pembaru yang sangat menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis dengan bahasa yang dipahami rakyat kecil. Mbah Asy’ari Kaliwungu, yang merupakan kakak ipar KH. Ahmad Rifa’i, berperan besar dalam transmisi pemikiran tersebut. Dalam tradisi pesantren, sanad bukanlah sekadar daftar nama guru, melainkan jembatan transmisi keberkahan dan otoritas keilmuan. Ketika Mbah Sholeh Darat menimba ilmu dari Mbah Asy’ari, secara otomatis beliau menyerap spirit keilmuan yang juga diwariskan oleh KH. Ahmad Rifa’i.
Menarik untuk disimak bahwa meskipun KH. Sholeh Darat tidak pernah bertemu secara langsung dengan KH. Ahmad Rifa’i, beliau tidak membiarkan keterbatasan geografis dan waktu memutus rantai ilmunya. Beliau justru menempuh jalan yang sangat mulia dengan berguru kepada Mbah Tubo di Purwosari. Mbah Tubo adalah salah satu murid kepercayaan KH. Ahmad Rifa’i yang mendalami karya-karya gurunya secara mendalam.
Di sinilah kita melihat potret ketawadhuan yang luar biasa dari Mbah Sholeh Darat. Meskipun beliau sudah menjadi kiai besar yang memiliki ribuan pengikut, beliau tidak merasa tinggi hati. Beliau rela meninggalkan kenyamanan di Semarang dan menetap di Purwosari selama kurang lebih 40 hari untuk "nyantri" kembali kepada Mbah Tubo. Maksud beliau adalah untuk menelaah karya-karya KH. Ahmad Rifa’i, terutama yang berkaitan dengan hukum Islam dan akidah, agar pemahamannya benar-benar memiliki otoritas yang sah.

Peristiwa ini memberikan pelajaran moral yang sangat berharga bagi generasi masa kini. Ilmu yang bermanfaat tidak lahir dari kesombongan intelektual, melainkan dari adab dan kerendahan hati. Seorang ulama besar sekalipun tetap merasa perlu untuk terus belajar dan menjaga sanad ilmunya agar tetap murni. Hal ini pula yang kemungkinan besar dirasakan oleh Kartini saat berinteraksi dengan Mbah Sholeh Darat. Ia melihat sosok kiai yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sangat beradab, yang membuat Kartini semakin menaruh hormat pada ajaran Islam.
Pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat adalah titik temu antara dua dunia. Kartini mewakili dunia intelektual modern yang kritis, sementara Mbah Sholeh Darat mewakili dunia tradisi pesantren yang dalam dan sarat makna. Emansipasi yang diusung oleh Kartini, jika dilihat dari sudut pandang ini, bukanlah bentuk peniruan mentah-mentah terhadap budaya Barat. Sebaliknya, ada akar spiritual yang kuat yang mungkin menjadi penyeimbang dalam pemikiran-pemikirannya. Sayangnya, narasi mengenai kedekatan Kartini dengan tradisi tafsir pesantren ini sering kali diabaikan oleh para sejarawan sekuler yang lebih fokus pada korespondensi Kartini dengan tokoh-tokoh Belanda.
Pengajian tafsir yang diikuti Kartini membuktikan bahwa Islam di tangan ulama seperti Mbah Sholeh Darat adalah agama yang inklusif, rasional, dan memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang. Ketika Mbah Sholeh Darat memberikan restu dan bimbingan kepada Kartini, beliau secara tidak langsung mengakui bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual yang sama dengan laki-laki untuk memahami pesan Tuhan. Ini adalah bentuk emansipasi yang berbasis pada kesadaran ketuhanan, bukan sekadar tuntutan hak sosial belaka.
Jejaring yang melibatkan KH. Ahmad Rifa’i sebagai tokoh sentral pergerakan, Mbah Tubo sebagai penjaga transmisi ilmu di Purwosari, dan Mbah Sholeh Darat sebagai penyebar ilmu di kalangan masyarakat luas termasuk kepada Kartini, menunjukkan betapa kuatnya fondasi peradaban Islam di tanah Jawa. Mereka adalah para penjaga gawang yang memastikan bahwa ilmu tidak hanya berhenti di lembaran kitab, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari.
Dalam konteks kekinian, menelusuri kembali jejak Kartini dan para gurunya ini menjadi sangat relevan. Kita sering terjebak dalam dikotomi antara "pendidikan umum" dan "pendidikan agama". Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa tokoh besar seperti Kartini justru mendapatkan kekuatan pemikirannya dari perpaduan keduanya. Beliau tidak menanggalkan identitasnya sebagai perempuan Jawa yang beragama, justru di sanalah ia menemukan pijakan untuk bergerak lebih jauh.
Sanad keilmuan yang mengalir dari KH. Ahmad Rifa’i melalui Mbah Tubo ke Mbah Sholeh Darat hingga sampai kepada Kartini adalah bukti bahwa ulama-ulama besar kita memiliki visi yang sangat luas. Mereka tidak anti terhadap perubahan, selama perubahan tersebut tidak mencederai nilai-nilai dasar agama. Kerendahan hati Mbah Sholeh Darat untuk belajar kepada Mbah Tubo menjadi bukti bahwa ilmu adalah proses yang tak berujung. Sementara kesungguhan Kartini untuk belajar tafsir di sela-sela kesibukannya sebagai putri bangsawan adalah contoh nyata bagi generasi muda tentang pentingnya mencari ilmu di mana pun berada.
Sebagai refleksi akhir, mari kita menengok kembali warisan intelektual dan spiritual dari tokoh-tokoh ini. Keberkahan ilmu tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gelar yang disandang, melainkan oleh seberapa besar adab yang menyertai proses perolehannya. Mbah Sholeh Darat, Mbah Tubo, dan KH. Ahmad Rifa’i adalah pilar-pilar yang menjaga agar cahaya kebenaran tetap menyala di tengah tantangan zaman yang berubah-ubah. Kartini, dengan segala perjuangannya, adalah salah satu buah dari mata rantai keilmuan tersebut.
Menghargai sejarah bukan berarti terpaku pada masa lalu, melainkan mengambil intisari dari setiap peristiwa untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan memahami bagaimana Kartini bersentuhan dengan khazanah keilmuan Islam, kita belajar bahwa modernitas dan tradisi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan jika diletakkan di atas fondasi adab dan sanad yang benar. Semoga kisah ini terus menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di balik setiap sosok besar, selalu ada guru-guru hebat yang menanamkan benih-benih kebaikan melalui ilmu dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.

