BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Tim kuasa hukum artis Sarwendah Tan, dengan tegas membantah dan mengklarifikasi beredarnya isu miring yang menyeret nama kliennya dalam praktik pesugihan di kawasan Gunung Kawi. Isu sensasional ini bermula dari unggahan video viral oleh Pesulap Merah, yang menampilkan kesaksian dari seorang narasumber yang diduga sebagai juru kunci di lokasi keramat tersebut. Pihak pengacara menegaskan bahwa tudingan tersebut adalah fitnah keji yang tidak memiliki dasar faktual dan sangat merugikan reputasi Sarwendah.
Abraham Simon, salah satu anggota tim kuasa hukum Sarwendah, menjelaskan secara rinci kronologi kunjungan kliennya ke Gunung Kawi. Menurut keterangannya, kehadiran Sarwendah di lokasi tersebut terjadi beberapa tahun silam, tepatnya sekitar tahun 2021 hingga 2022. Kunjungan ini bukanlah dalam rangka melakukan ritual mistis atau mencari jalan pintas kekayaan melalui pesugihan, melainkan murni untuk keperluan profesional, yaitu proses syuting sebuah program podcast yang populer. Program tersebut, yang dikenal dengan nama "Podcast Kakak Beradik," memang memiliki konsep yang kerap menjelajahi tempat-tempat yang dianggap memiliki nuansa horor dan kesakralan, sehingga membutuhkan pengambilan gambar di lokasi-lokasi unik.
Abraham Simon melanjutkan penjelasannya, bahwa tema yang diangkat dalam syuting podcast tersebut adalah horor, yang secara inheren mengharuskan tim produksi untuk mendatangi berbagai lokasi yang memiliki kesan mistis atau dianggap sakral. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menciptakan konten yang menarik dan menghibur bagi para penontonnya. Penting untuk digarisbawahi, Sarwendah tidak melakukan kunjungan tersebut sendirian. Ia didampingi oleh Jordi Onsu, yang merupakan rekan kerjanya dalam program tersebut, serta seluruh kru produksi yang terlibat dalam proses pengambilan gambar dan video. Kehadiran mereka semua di Gunung Kawi adalah bagian integral dari proses pembuatan konten podcast.
"Perlu kami luruskan bahwa yang terjadi adalah sebenarnya pada saat itu, sudah cukup lama, kira-kira 2021-2022 lah. Jadi pada saat itu memang ada syuting podcast Kakak Beradik," ujar Abraham Simon dengan tegas saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada Senin malam (18/5/2026). Ia menambahkan, "Podcast, jadi memang temanya horor begitu. Jadi memang ada pengambilan gambar dan video di sana. Jelas-jelas begitu. Jadi, ya ini pemberitaan-pemberitaan yang sebenarnya mungkin niatnya menghibur begitu ya awalnya, mencari sensasi, tapi dengan viral seperti ini cukup merugikan klien kami namanya disebut-sebut. Ini kan fitnah berarti ya." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa niat awal dari konten tersebut adalah hiburan, namun penyebarannya yang meluas telah menimbulkan dampak negatif yang signifikan bagi Sarwendah.
Senada dengan rekan kerjanya, Chris Sam Siwu, yang juga merupakan kuasa hukum Sarwendah, memberikan pembelaan yang kuat terhadap reputasi kliennya. Ia secara eksplisit menyoroti adanya framing negatif yang sengaja dibangun untuk mengaitkan kesuksesan dan popularitas Sarwendah dengan cara-cara instan dan tidak etis, seperti pesugihan. Chris Sam Siwu berargumen bahwa pandangan tersebut sangat bertolak belakang dengan etos kerja Sarwendah yang sesungguhnya.
"Klien kami ini kalau dibilang pesugihan, itu bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh klien kami. Klien kami itu kalau bisa dilihat dia bekerja dari pagi sampai malam, pagi sampai malam. Bertolak belakang dengan pesugihan. Pesugihan orang gak usah kerja tiba-tiba datang semua itu sendiri uangnya. Nah, ini jauh," terang Chris Sam Siwu dengan nada meyakinkan. Ia menekankan bahwa Sarwendah adalah sosok pekerja keras yang telah membangun karirnya melalui dedikasi dan usaha tanpa henti, sebuah prinsip yang sangat kontras dengan konsep pesugihan yang diasosiasikan dengan kemudahan dan hasil instan tanpa kerja keras.
Lebih lanjut, pihak kuasa hukum menyatakan bahwa mereka saat ini sedang dalam proses mempelajari secara mendalam seluruh materi video yang telah beredar luas di jagat maya. Fokus utama mereka adalah menelaah konten yang diunggah oleh Pesulap Merah, serta berbagai rekaman lain yang terkait dengan isu ini. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi apakah ada unsur kesengajaan dalam penyebaran informasi yang mencemarkan nama baik Sarwendah, ataukah ini hanyalah sekadar kesalahan penyampaian informasi yang keliru dari narasumber di lapangan.
"Kalau memang video ini disebarkan atau memang diframing menjelekkan nama baik klien kami, kami pasti akan lakukan upaya hukum seperti yang sebelum-sebelumnya. Ya, jadi kita akan pelajari dulu terkait video yang beredar," pungkas Chris Sam Siwu, memberikan sinyal tegas bahwa pihaknya tidak akan ragu untuk menempuh jalur hukum apabila terbukti ada pelanggaran terhadap hak dan reputasi kliennya. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan tim kuasa hukum dalam melindungi klien mereka dari fitnah dan pencemaran nama baik yang tidak berdasar.
Kasus ini menyoroti betapa mudahnya sebuah isu, sekecil apapun, dapat diperbesar dan menimbulkan dampak negatif yang signifikan di era digital ini. Penting bagi publik untuk bersikap kritis terhadap informasi yang beredar dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Tim kuasa hukum Sarwendah berharap klarifikasi ini dapat meluruskan kesalahpahaman dan mengembalikan citra baik klien mereka di mata masyarakat.
Perlu diingat kembali, bahwa kunjungan Sarwendah ke Gunung Kawi adalah murni untuk keperluan syuting program hiburan, sebuah fakta yang telah dikonfirmasi oleh tim kuasa hukumnya. Tuduhan pesugihan yang dilayangkan kepadanya adalah sebuah fitnah yang tidak memiliki dasar kuat dan telah menimbulkan kerugian moril serta materil yang tidak sedikit. Pihak Sarwendah menegaskan komitmennya untuk menempuh jalur hukum jika upaya pencemaran nama baik ini terus berlanjut. Mereka akan terus memantau perkembangan isu ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan reputasi Sarwendah.
Dukungan terhadap upaya Sarwendah dalam menghadapi isu negatif ini sangat diharapkan dari publik. Masyarakat diharapkan untuk dapat membedakan antara konten hiburan yang bersifat fiksi dengan realitas kehidupan yang sesungguhnya. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan terhindar dari penyebaran hoaks serta fitnah yang merusak.
Penting untuk dicatat bahwa Sarwendah sendiri dikenal sebagai sosok yang aktif dan pekerja keras. Ia kerap membagikan kegiatan sehari-harinya melalui media sosial, yang menunjukkan dedikasinya dalam berbagai bidang, mulai dari dunia hiburan hingga bisnis. Seluruh upaya dan kesuksesannya dapat dilihat sebagai hasil dari kerja keras dan ketekunan, bukan dari jalan pintas yang meragukan.
Keberanian tim kuasa hukum Sarwendah dalam memberikan klarifikasi ini patut diapresiasi. Mereka tidak hanya membantah isu yang beredar, tetapi juga memberikan penjelasan yang logis dan kronologis mengenai kejadian sebenarnya. Hal ini menunjukkan profesionalisme dan komitmen mereka dalam melindungi kliennya dari berbagai bentuk serangan negatif.
Harapan besar disematkan pada proses hukum yang akan ditempuh oleh tim kuasa hukum Sarwendah. Semoga keadilan dapat ditegakkan dan para pelaku penyebar fitnah dapat diberikan sanksi yang setimpal. Ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang.
Pada akhirnya, kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap figur publik, ada individu yang memiliki hak untuk dihormati dan dilindungi dari tuduhan palsu. Dukungan moral dan sosial dari masyarakat sangat berarti bagi Sarwendah dalam menghadapi cobaan ini. Diharapkan agar berita ini dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik mengenai duduk perkara yang sebenarnya.

