Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) V Rifa’iyah harus menjadi momentum strategis bagi seluruh pengurus untuk memperkokoh komitmen organisasi serta menyatukan visi dalam melayani umat. Penegasan ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Syuro Pimpinan Pusat Rifa’iyah, K.H. Afiff Afadhol, saat menerima kunjungan silaturahmi jajaran Organizing Committee (OC) Muskerwil V Rifa’iyah di kediamannya yang berada di kompleks Pondok Pesantren Al-Busro, Desa Tempursari, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Kamis (23/4).
Pertemuan tersebut menjadi ajang krusial bagi panitia pelaksana untuk memohon doa restu sekaligus mendapatkan arahan berharga dari sesepuh organisasi terkait arah gerak Rifa’iyah ke depan. K.H. Afiff Afadhol menyoroti bahwa di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, organisasi keagamaan seperti Rifa’iyah memiliki tantangan besar untuk tetap teguh pada khittah perjuangannya. Beliau menekankan bahwa Muskerwil tidak boleh sekadar menjadi agenda rutinitas administratif, melainkan harus menjadi ruang konsolidasi ideologis yang mampu meminimalisir potensi perpecahan di internal organisasi.

Menurut K.H. Afiff, potensi konflik di dalam sebuah organisasi adalah keniscayaan yang sering kali muncul akibat perbedaan pandangan atau kepentingan. Namun, beliau mengingatkan bahwa tugas utama setiap kader adalah mengelola perbedaan tersebut sebagai kekayaan organisasi, bukan sebagai pemantik keretakan. "Organisasi itu harus menjadi wadah yang menyatukan, bukan justru membuka ruang perpecahan. Kita harus mampu merajut keberagaman menjadi kekuatan kolektif yang solid untuk kemaslahatan umat," ujar beliau di hadapan jajaran panitia.
Salah satu poin penting yang ditegaskan secara mendalam oleh K.H. Afiff adalah peringatan keras agar Rifa’iyah tidak terseret ke dalam pusaran politik praktis. Beliau mengakui bahwa setiap pengurus organisasi memang perlu melek terhadap dinamika politik makro, namun hal itu harus dibatasi agar tidak mengaburkan identitas organisasi sebagai lembaga dakwah dan pendidikan. Menurutnya, ketika sebuah organisasi keagamaan terlalu dalam masuk ke ranah politik praktis, netralitas dan martabat organisasi akan terancam. Dampaknya, organisasi bisa terpecah karena perbedaan dukungan politik anggotanya, yang justru mencederai tujuan utama berdirinya organisasi tersebut.
"Orang yang mengurus organisasi memang harus memahami politik dalam arti luas, tetapi jangan sampai organisasi dibawa ke ranah politik praktis. Organisasi harus tetap netral dan memberi ruang bagi anggotanya untuk berbeda pandangan secara pribadi. Jangan sampai karena kepentingan politik sesaat, kita mengorbankan marwah dan keberadaan organisasi keagamaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu," tegas K.H. Afiff.

Lebih jauh, beliau menekankan bahwa esensi dari berorganisasi adalah pengabdian. Beliau mengingatkan para kader untuk menanamkan niat yang tulus dan ikhlas dalam menjalankan roda organisasi. K.H. Afiff menyampaikan pesan filosofis yang sangat mendalam: "Kita harus mencari barokah dengan menghidupkan Rifa’iyah, bukan mencari hidup di dalam Rifa’iyah." Kalimat ini mengandung makna bahwa pengurus harus memberikan kontribusi nyata, tenaga, dan pikiran untuk kemajuan organisasi, bukan justru menjadikan organisasi sebagai lahan untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok.
Dalam konteks Muskerwil V, K.H. Afiff berharap agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang menyentuh akar permasalahan umat. Beliau mengajak seluruh pengurus untuk terus belajar dari sejarah dan pengalaman organisasi lain yang telah sukses berkembang, sambil tetap menjaga semangat untuk mengaji dan berdakwah. Baginya, aktivitas berorganisasi adalah bagian dari ibadah, sehingga tidak boleh ada kepentingan duniawi yang menjauhkan seseorang dari kewajiban utamanya sebagai umat beragama.
Perbedaan pendapat, menurut K.H. Afiff, adalah hal yang wajar dan sehat dalam sebuah organisasi. Namun, beliau menekankan pentingnya adab dan cara mengelola perbedaan tersebut agar tetap dalam koridor organisasi yang harmonis. "Organisasi harus hadir sebagai ruang yang mampu mengelola dan mewadahi perbedaan tersebut, bukan malah menyeragamkannya dengan paksaan. Kedewasaan berorganisasi diukur dari bagaimana kita tetap bersatu meskipun ada perbedaan pandangan," tambah beliau.

Kunjungan silaturahmi tersebut dihadiri langsung oleh Ketua OC Muskerwil V Rifa’iyah, Amin Ridhoi, didampingi oleh anggota OC yakni Imron Mujahidin dan Abdul Manan. Selain bertujuan memohon restu, mereka juga secara resmi menyampaikan undangan kepada K.H. Afiff Afadhol untuk hadir memberikan tausiyah sekaligus membuka jalannya Muskerwil V. Menanggapi permohonan tersebut, K.H. Afiff menyatakan kesediaan dan dukungan penuhnya, seraya berharap Muskerwil V dapat melahirkan program kerja yang inovatif namun tetap berpijak pada nilai-nilai tradisi yang telah lama dipegang oleh Rifa’iyah.
Panitia pelaksana sendiri menyambut hangat arahan dari Dewan Syuro tersebut. Amin Ridhoi menyatakan bahwa pesan-pesan yang disampaikan oleh K.H. Afiff akan menjadi kompas bagi panitia dalam memastikan setiap tahapan Muskerwil V tetap berada pada rel yang benar. Pihaknya optimistis bahwa dengan bimbingan dari para ulama dan komitmen para kader, Muskerwil V akan menjadi tonggak sejarah baru dalam memperkuat solidaritas Rifa’iyah di tingkat wilayah hingga ke akar rumput.
Sebelumnya, persiapan Muskerwil V telah mencapai tahap finalisasi, termasuk aspek perizinan dan kesiapan logistik. Panitia optimis bahwa acara ini akan dihadiri oleh representasi pengurus dari berbagai daerah, yang nantinya akan menjadi saksi sekaligus pelaku dalam menyongsong masa depan organisasi yang lebih mandiri dan berpengaruh.

Dalam suasana diskusi yang cair dan penuh kekeluargaan, pertemuan tersebut juga membahas pentingnya regenerasi kepemimpinan. K.H. Afiff berpesan agar para pengurus muda diberikan ruang untuk berkreasi, namun tetap di bawah bimbingan para senior agar tidak kehilangan arah perjuangan. Hal ini selaras dengan visi besar Rifa’iyah untuk terus mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan integritas moral yang kokoh.
Sebagai penutup, K.H. Afiff kembali mengingatkan agar seluruh rangkaian kegiatan Muskerwil V diniatkan sebagai ikhtiar untuk mencari ridha Allah SWT. Dengan niat yang lurus dan koordinasi yang baik, beliau yakin bahwa hasil dari musyawarah ini akan membawa keberkahan bagi seluruh pengurus dan masyarakat luas yang menjadi sasaran dakwah Rifa’iyah. Semangat untuk "menghidupkan organisasi" ini diharapkan dapat menular kepada seluruh kader di tingkat cabang maupun ranting, sehingga Rifa’iyah semakin kokoh dan mampu menjawab tantangan zaman yang kian dinamis tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai organisasi keagamaan yang independen dan berwibawa.
Dengan berakhirnya kunjungan ini, panitia kini semakin fokus mematangkan detail teknis pelaksanaan. Pesan dari K.H. Afiff Afadhol menjadi pengingat bagi seluruh elemen organisasi bahwa kekuatan Rifa’iyah tidak terletak pada kekuatan politik, melainkan pada kemurnian visi, kesatuan langkah, dan keikhlasan dalam berkhidmah untuk agama dan umat. Muskerwil V ini bukan sekadar ajang formalitas, melainkan pembuktian bahwa Rifa’iyah mampu menjaga marwahnya tetap tegak di tengah godaan kepentingan praktis yang kerap membayangi organisasi kemasyarakatan di era modern saat ini.

