BREAKING
19 Orang Tewas Terinjak-injak Saat Festival Keagamaan di India ● Pengen Ikut Tren Video AI, Ayo Belajar di Sini! ● Timo Scheunemann Apresiasi Keseriusan Tim Peserta MLSC, Dorong Peningkatan Frekuensi Latihan untuk Sepak Bola Putri Berkelanjutan ● Gunung Anak Krakatau Tiga Kali Erupsi Minggu Siang: Kronologi Lengkap, Status Siaga, dan Imbauan Keselamatan bagi Masyarakat Pesisir Selat Sunda. ● Mengapa Demo di Paris Rusuh hingga Massa Menjarah Brand Mewah ● Babak I Nottingham Forest vs Arsenal Selesai 0-0, The Gunners Dominan Namun Buntu di Depan Gawang ● Eks Komisi II DPR Tegaskan 'Pasal Gibran' Tak Pernah Dibahas: Polemik Keabsahan Aturan Syarat Cawapres Mencuat Kembali ● Demo di Prancis Berujung Rusuh, Balai Kota Limoges Dibakar ●

PERHUMAS Soroti Etika dan Integritas Sebagai Landasan Regenerasi Humas

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perhelatan akbar Konvensi Humas Indonesia (KHI) 2026 yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, menjadi titik balik penting bagi masa depan profesi hubungan masyarakat di tanah air. Di tengah pusaran disrupsi teknologi dan perubahan perilaku publik yang semakin dinamis di ruang digital, Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) secara tegas menitikberatkan pada penguatan etika dan integritas sebagai fondasi utama dalam proses regenerasi praktisi humas masa depan. Isu krusial ini dikupas tuntas dalam forum "PEMUDA 2026 – Ruang Humas Muda" yang menjadi agenda primadona pada hari kedua konvensi, Minggu (18/10). Dengan mengusung tema besar "Humas sebagai Daya Bangsa – Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Indonesia", forum ini tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga manifesto bagi para praktisi muda untuk memahami bahwa peran humas melampaui sekadar fungsi publikasi, melainkan sebagai penjaga reputasi bangsa yang harus mampu membaca konteks sosial dengan presisi tinggi serta memastikan setiap komunikasi memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Ketua Umum PERHUMAS, Boy Kelana Soebroto, dalam pidato pembukaannya yang sarat akan visi, menekankan bahwa proses estafet kepemimpinan dalam profesi humas tidak boleh hanya dipandang sebagai pergantian posisi administratif atau seremonial belaka. Menurutnya, regenerasi yang sehat harus disertai dengan pewarisan nilai-nilai fundamental, standar profesionalisme yang ketat, dan kode etik yang tak tergoyahkan. Di era di mana informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tantangan untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan publik menjadi jauh lebih kompleks. Boy menyoroti fenomena media sosial saat ini, di mana angka keterlibatan atau engagement yang tinggi serta viralitas sebuah konten seringkali disalahartikan sebagai keberhasilan komunikasi. Padahal, viralitas tanpa substansi dan etika tidak akan memberikan pengaruh positif yang berkelanjutan bagi peradaban masyarakat. Ia menegaskan bahwa generasi senior memiliki kewajiban moral untuk tidak sekadar mewariskan panggung atau jabatan, melainkan harus memastikan bahwa standar moral, keberanian dalam berpikir kritis, serta tanggung jawab profesional tetap mengalir kuat dalam nadi para praktisi humas muda.

Selaras dengan pandangan tersebut, diskusi semakin mendalam ketika Co-Founder Total Politik, Budi Adiputro dan Arie Putra, membedah dinamika komunikasi di ruang digital yang kini menjadi medan tempur persepsi. Mereka berpendapat bahwa humas masa kini tidak boleh lagi terjebak dalam pola komunikasi satu arah yang bersifat instruktif atau sekadar menggugurkan kewajiban informatif. Diperlukan sebuah paradigma baru yang mendorong keterlibatan publik secara bermakna (meaningful engagement). Komunikasi yang efektif di era demokrasi digital adalah komunikasi yang mampu membuka ruang partisipasi, mendengarkan aspirasi, dan menciptakan dialog dua arah yang konstruktif. Bagi Budi dan Arie, humas memiliki peran strategis sebagai jembatan antara institusi dengan masyarakat, di mana kejujuran dalam menyampaikan pesan menjadi mata uang yang paling berharga dalam membangun kredibilitas di mata publik yang semakin kritis.

Perspektif dari sisi praktisi kreatif dan penggerak perubahan sosial diwakili oleh Jerhemy Owen, seorang kreator konten yang fokus pada isu lingkungan. Jerhemy memberikan sudut pandang segar mengenai bagaimana viralitas seharusnya dikelola. Ia menekankan bahwa menjadi viral hanyalah langkah awal atau pintu masuk untuk menarik perhatian publik. Namun, tugas sesungguhnya dari seorang komunikator adalah bagaimana mengarahkan perhatian masif tersebut menjadi sebuah tindakan nyata yang bermanfaat. Dalam konteks humas, kampanye yang sukses bukan hanya kampanye yang mendapatkan jutaan "like" atau "share", melainkan sejauh mana pesan tersebut mampu mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Dampak nyata hanya akan terjadi ketika perhatian publik diterjemahkan menjadi perubahan aksi yang konkret di lapangan. Hal ini menuntut praktisi humas untuk memiliki kemampuan narasi yang kuat sekaligus relevansi yang tinggi dengan kebutuhan audiensnya.

Menyambung pemikiran tentang dampak nyata, CEO & Founder JEJAKIN, Arfan Arlanda, menambahkan dimensi teknis dan strategis terkait pengukuran keberhasilan. Di era data besar (big data), upaya komunikasi harus disertai dengan indikator pencapaian yang jelas dan terukur. Arfan berpendapat bahwa keberhasilan humas tidak boleh lagi hanya berhenti pada laporan jangkauan atau seberapa luas pesan tersebar di media. Lebih dari itu, praktisi humas harus mampu membuktikan sejauh mana perubahan yang dihasilkan melalui data yang valid. Pengukuran ini penting untuk memastikan bahwa strategi komunikasi yang dijalankan benar-benar efisien dan mencapai sasaran. Konsistensi antara pesan yang disampaikan di ruang publik dengan realitas tindakan organisasi menjadi kunci utama dalam memulihkan atau mempertahankan kepercayaan, terutama ketika organisasi sedang menghadapi krisis atau melakukan kesalahan yang berpotensi merusak reputasi.

Tantangan dalam menjaga reputasi di sektor industri strategis dipaparkan secara gamblang oleh Troy Reza Warokka, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat PERHUMAS sekaligus Direktur Operasional ITDC dan Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026. Troy memberikan contoh nyata dalam pengelolaan destinasi wisata The Mandalika. Baginya, membangun kepercayaan publik terhadap sebuah proyek skala internasional tidak bisa dilakukan hanya melalui promosi bombastis atau pencitraan yang dipoles sedemikian rupa. Kepercayaan lahir dari konsistensi informasi yang diberikan kepada publik, kesiapan operasional yang matang di lapangan, koordinasi yang solid antar pemangku kepentingan, serta pengalaman nyata yang dirasakan oleh pengunjung. Jika ada ketimpangan antara apa yang dijanjikan dalam komunikasi dengan kenyataan yang ditemukan publik, maka reputasi akan runtuh seketika. Oleh karena itu, integritas dalam menyampaikan fakta operasional menjadi harga mati bagi seorang praktisi humas profesional.

Di sisi lain, Sekar Adisty Prabandari selaku Head of Corporate Communication PT Blue Bird Tbk, memperkaya diskusi dengan menyoroti pentingnya aspek empati dan transparansi dalam manajemen krisis. Dalam industri jasa transportasi, tantangan komunikasi seringkali muncul dari interaksi langsung dengan konsumen. Sekar mengingatkan bahwa ketika terjadi masalah, respons yang cepat saja tidak cukup. Humas harus mampu menunjukkan empati yang tulus dan keterbukaan mengenai perbaikan layanan yang sedang dilakukan. Reputasi institusi tidak hanya dibentuk oleh narasi-narasi indah saat kondisi stabil, melainkan justru diuji dan dibuktikan melalui bagaimana organisasi tersebut bertindak dan bertanggung jawab ketika menghadapi tekanan. Respons yang transparan dan diikuti dengan perbaikan nyata adalah satu-satunya jalan untuk meraih kembali hati publik.

Keberlanjutan profesi humas juga sangat bergantung pada bagaimana kesiapan generasi muda dalam mengambil tongkat estafet kepemimpinan. Ketua PERHUMAS Muda Jakarta Raya periode 2024-2025, Andi Raviali Ramadhan, menyatakan bahwa proses transisi ini harus dimaknai lebih dalam dari sekadar pergantian generasi secara biologis. Estafet kepemimpinan adalah proses transfer nilai-nilai luhur dan tanggung jawab profesi yang berat. Generasi muda harus siap untuk mengemban amanah sebagai garda terdepan komunikasi bangsa dengan tetap menghormati fondasi yang telah diletakkan oleh para senior, sembari membawa inovasi yang relevan dengan zaman mereka.

Ghina Amani Kemal Gani, Executive Director LSPR Institute of Communication and Business, turut memberikan pandangan akademis sekaligus praktis mengenai perawatan reputasi. Menurut Ghina, reputasi yang telah dibangun selama puluhan tahun oleh sebuah organisasi tidak pernah menjadi jaminan keamanan untuk masa depan. Di dunia yang berubah begitu cepat, organisasi harus terus merawat reputasinya setiap hari melalui keputusan-keputusan yang bertanggung jawab dan keberanian untuk beradaptasi dengan tren serta teknologi baru. Pendidikan humas masa kini harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan etis. Menjaga warisan masa lalu sambil memastikan relevansi di masa depan adalah inti dari keberlanjutan profesi ini.

Dalam sesi yang lebih teknis, forum ini juga membahas mengenai literasi teknologi sebagai bekal wajib bagi humas muda. Kemampuan memahami Kecerdasan Buatan (AI Literacy), kemahiran membaca data (Data Literacy), serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan etis menjadi tiga pilar kompetensi baru. Perkembangan AI memang menawarkan efisiensi luar biasa dalam produksi konten dan analisis sentimen, namun tanpa literasi data dan pertimbangan etis, teknologi tersebut justru bisa menjadi bumerang yang menyebarkan disinformasi. Praktisi humas harus tetap menjadi "pilot" yang memegang kendali atas teknologi, memastikan akurasi informasi, dan menjaga tanggung jawab moral kepada publik.

Hal ini dipertegas dalam sesi aktivasi bersama jurnalis data Katadata.co.id, Reza Aji Pratama, dan Lead of Design Team Katadata Creative Studio, Muhamad Yana. Dalam sesi workshop tersebut, peserta diajak untuk mempraktikkan cara mengolah data mentah menjadi narasi komunikasi yang kuat dan visual yang menarik tanpa mengabaikan konteks serta akurasi. Reza menekankan bahwa angka-angka statistik hanyalah benda mati sampai humas memberikannya konteks dan menjelaskan konsekuensinya bagi kehidupan manusia. Visualisasi data bukan sekadar untuk mempercantik presentasi, melainkan sebagai alat bantu agar publik dapat memahami informasi yang kompleks dengan lebih mudah tanpa ada distorsi makna.

Konvensi Humas Indonesia 2026 di Solo ini akhirnya merumuskan sebuah kesepahaman bersama bahwa praktisi humas memikul tanggung jawab besar dalam memastikan setiap pesan dipahami secara tepat oleh publik. Humas harus menjadi fungsi organisasi yang paling tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dan menjadi kompas moral yang menjaga konsistensi antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan oleh organisasi. Integritas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak bagi regenerasi humas yang berkualitas. Dengan etika sebagai kompas dan teknologi sebagai akselerator, generasi humas muda diharapkan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih transparan, terpercaya, dan berdaya saing global.

Melalui forum PEMUDA 2026 ini, PERHUMAS telah menegaskan posisinya sebagai organisasi yang tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter praktisi humas yang berintegritas tinggi. Di tengah tantangan hoaks, disinformasi, dan polarisasi digital, kehadiran humas yang memegang teguh etika menjadi sangat krusial untuk menenun kembali kepercayaan masyarakat yang sempat terkoyak. Solo, dengan segala nilai budaya dan historisnya, telah menjadi saksi lahirnya semangat baru bagi para "penenun kepercayaan" muda Indonesia untuk bergerak maju, membawa perubahan positif, dan memastikan bahwa profesi humas tetap menjadi pilar kekuatan bangsa dalam menghadapi ketidakpastian global di masa mendatang.

Sebagai penutup dari rangkaian acara di Solo, seluruh elemen PERHUMAS berkomitmen untuk terus mengawal isu etika ini dalam program-program kerja nyata di berbagai daerah. Pelatihan berkelanjutan, sertifikasi kompetensi yang berbasis etika, serta penguatan jaringan humas muda di seluruh universitas di Indonesia akan menjadi langkah konkret pasca konvensi. Harapannya, nilai-nilai yang dibahas dalam KHI 2026 tidak hanya berhenti menjadi dokumen atau catatan pertemuan, tetapi bertransformasi menjadi perilaku profesional sehari-hari bagi setiap praktisi humas di Indonesia, demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui komunikasi yang bermartabat dan berdampak.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Rif'an Muazin

Rif'an Muazin adalah Seorang Lelaki, Suami dan Ayah 3 Putra, Lelaki Kelahiran Pati, Tinggal di Bantul Yogyakarta. Hobi membuat Group FB, Channel dan Group Telegram. Coder / Programmer PHP Creator AliSuite, ShopeeSuite, BookSuite, WallSpot, WallSpot Plus, TubeSpot. Seorang Muslim, Madhab Syafi'i bermanhaj Salafy.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.