BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Tujuh hari telah berlalu sejak kepergian komedian senior Simson Rarameha Ngadang, yang lebih dikenal dengan sapaan Temon, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan sahabat. Di tengah kesedihan yang masih menyelimuti, sang istri, Mae, menemukan pelipur lara dalam kenangan manis masa lalu, terutama melalui lagu-lagu yang pernah diberikan Temon di awal pertemuan mereka pada tahun 1998. Kala itu, Temon masih mengabdikan diri sebagai seorang penyiar radio, suara merdunya seringkali menemani hari-hari Mae, dan kini, lagu-lagu tersebut menjadi jembatan emosional yang menghubungkan mereka kembali.
"Mengobati rindu, saya nyanyiin lagu-lagu dia, lagu-lagu kenangan kita," ungkap Mae dengan suara lirih saat ditemui di kediamannya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, pada Sabtu malam, 18 Juli 2026. Lirihnya suara Mae tak mampu menyembunyikan kerinduan yang membuncah di hatinya. Setiap nada yang ia lantunkan seolah membangkitkan kembali kehadiran Temon di sisinya, menghidupkan kembali momen-momen bahagia yang pernah mereka ukir bersama. Lagu-lagu tersebut bukan sekadar melodi, melainkan sebuah narasi cinta, saksi bisu perjalanan hidup mereka yang penuh tawa dan air mata.
Temon, sosok yang selalu berhasil menghibur banyak orang dengan leluconnya, kini telah tiada. Namun, semangatnya seolah tetap hidup dalam setiap lagu yang Mae nyanyikan. Ia memilih untuk terus menggenggam erat kenangan, menjadikannya sebagai penguat di tengah badai kesedihan. Kepergian Temon bagai kehilangan separuh jiwanya, namun Mae berjuang untuk tetap berdiri tegak, mengumpulkan kekuatan dari setiap senyum Temon yang terpatri dalam ingatannya.
Tak hanya melalui lantunan lagu, Mae juga menemukan kenyamanan dengan tetap tidur di sisi ranjang yang biasa ditempati almarhum. Ia sengaja tidak mengganti perlengkapan tidur yang terakhir kali digunakan oleh Temon, seolah ingin merasakan sisa-sisa kehangatan dan kehadiran sang suami. "Saya tidur di bantal yang dia tidurin sebelumnya sekarang. Jadi di bagian dia, biasanya kan saya di sebelah sini, jadi saya di pinggir yang di bagian dia tidur," jelas Mae, matanya menerawang jauh, membayangkan Temon terbaring di sampingnya seperti dulu.
Tindakan sederhana ini menjadi ritual pengobat rindu bagi Mae. Ia mencoba merasakan kembali kedekatan fisik yang telah hilang, seolah Temon masih ada di sana, memeluknya dalam lelap. Bantal itu menjadi saksi bisu mimpi-mimpi mereka, menjadi tempat terakhir Temon memejamkan mata sebelum akhirnya berpulang. Bagi Mae, setiap detail kecil ini memiliki makna yang sangat besar, menjadi pengingat bahwa cinta mereka abadi, melampaui batas kehidupan dan kematian.
Temon mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 08.42 WIB, di usianya yang ke-59 tahun. Serangan jantung yang mendadak merenggut nyawa komedian yang dicintai banyak orang ini. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Temon sempat dilarikan ke rumah sakit karena keluhan nyeri dada yang hebat. Namun, takdir berkata lain. Sang pelawak jenaka itu harus berpisah dengan dunia fana.
Perjalanan hidup Temon di dunia hiburan tanah air terbilang panjang dan penuh warna. Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, ramah, dan selalu siap menghibur siapa saja. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang sulit terisi di hati para penggemarnya. Banyak yang mengenang Temon bukan hanya sebagai komedian, tetapi juga sebagai pribadi yang baik dan dermawan.
Setelah sempat disemayamkan, jenazah Temon kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, tempat peristirahatan terakhirnya. Tangis haru mengiringi pemakamannya, para sahabat dan keluarga tak kuasa menahan kesedihan melihat sosok yang begitu mereka cintai harus berpulang. Suasana haru menyelimuti TPU Tanah Kusir saat prosesi pemakaman berlangsung.
Temon memulai karirnya di dunia hiburan sebagai penyiar radio. Suaranya yang khas dan gayanya yang jenaka membuatnya cepat dikenal. Dari radio, ia merambah dunia akting, membintangi berbagai sinetron dan film komedi. Setiap perannya selalu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton. Ia mampu membuat orang tertawa lepas, melupakan sejenak beban hidup yang mungkin sedang mereka pikul.
Di balik tawanya di layar kaca, Temon adalah sosok suami dan ayah yang penyayang. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Mae, sang istri, adalah cinta sejatinya. Hubungan mereka yang telah terjalin selama bertahun-tahun menjadi inspirasi bagi banyak pasangan. Keharmonisan rumah tangga mereka menjadi bukti bahwa cinta sejati itu ada.
Kini, Mae harus melanjutkan hidup tanpa kehadiran Temon di sisinya. Namun, ia tidak sendirian. Dukungan dari keluarga, sahabat, dan para penggemar Temon memberinya kekuatan. Kenangan indah bersama Temon akan selalu menjadi pelipur lara baginya, pengingat akan cinta yang takkan pernah pudar.
Kisah Temon dan Mae mengingatkan kita bahwa di balik setiap tawa, ada cinta yang mendalam. Di balik setiap kehilangan, ada kekuatan yang dapat ditemukan dalam kenangan dan kasih sayang. Temon mungkin telah tiada, namun semangatnya akan terus hidup dalam hati orang-orang yang mencintainya, dalam lagu-lagu yang dinyanyikan Mae, dan dalam setiap senyum yang ia tinggalkan. Kepergiannya adalah sebuah akhir, namun cinta mereka adalah sebuah awal yang abadi.
Mae kini hidup dengan bayang-bayang Temon, namun bayangan itu bukanlah bayangan kesedihan semata, melainkan bayangan kehangatan, tawa, dan cinta yang tak terhingga. Ia akan terus menyanyikan lagu-lagu kenangan, menjaga api cinta mereka tetap menyala. Setiap malam, ia akan tidur di bantal yang pernah menjadi sandaran kepala Temon, merasakan kehadiran sang suami dalam dekapan malam.
Meskipun raga Temon telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta, semangatnya akan terus hidup melalui karya-karyanya dan kenangan indah yang ia tinggalkan. Bagi Mae, Temon adalah segalanya, dan cinta mereka akan terus mengalir, abadi, melampaui batas waktu dan ruang. Doa dan dukungan dari semua pihak akan terus mengiringi langkah Mae dalam menjalani kehidupan pasca-kepergian suaminya.

