0

Milan Dibayangi Rekor Buruk di Markas Cremonese: Misi Bangkit Terganjal Sejarah Kelam di Stadio Giovanni Zini

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – AC Milan, raksasa Serie A yang tengah berjuang untuk bangkit pasca-terputusnya rentetan tak terkalahkan yang mengesankan selama 25 pertandingan, kini dihadapkan pada ujian berat di markas Cremonese. Kekalahan mengejutkan 0-1 dari Parma di pekan sebelumnya telah meninggalkan luka mendalam bagi Rossoneri, menggagalkan momentum positif yang telah mereka bangun. Kini, misi untuk kembali ke jalur kemenangan akan mereka jalani di Stadio Giovanni Zini, markas Cremonese, pada Minggu (1/3/2026) malam WIB. Namun, ambisi tim asuhan Massimiliano Allegri ini tampaknya harus berhadapan dengan bayang-bayang rekor buruk yang menghantui setiap lawatan mereka ke markas tim promosi tersebut.

Sejarah mencatat bahwa Stadio Giovanni Zini telah menjadi momok bagi AC Milan dalam beberapa kunjungannya. Dalam tiga lawatan terakhir ke kandang Cremonese, Milan secara mengejutkan gagal mencetak satu gol pun. Catatan tersebut mencakup dua pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol (0-0) dan satu kekalahan yang memilukan. Fakta ini tentu menjadi alarm bagi kubu Milan, yang biasanya dikenal dengan ketajaman lini serangnya. Bahkan, secara keseluruhan, Milan tidak mampu meraih kemenangan dalam tiga pertemuan terakhir melawan Cremonese, dengan rekor dua kali imbang dan satu kali kalah. Pertemuan pertama musim ini di San Siro pada pekan pertama Serie A 2025/2026 menjadi bukti nyata betapa sulitnya mengalahkan tim ini, di mana Luka Modric dan kawan-kawan harus mengakui keunggulan Cremonese dengan skor 1-2.

Massimiliano Allegri, sang pelatih yang kerap kali dijuluki "Sang Profesor" karena taktiknya yang cermat, tidak bisa menutupi kekecewaannya pasca-kekalahan dari Parma. Ia mengakui bahwa dampak dari terputusnya rentetan tak terkalahkan tersebut sangat terasa di internal tim. "Setelah enam bulan tanpa kalah, kami semua merasakan dampaknya," ujar Allegri seperti dilansir Football Italia. "Di hari Selasa, kami semua agak linglung, sementara di hari Rabu, kami menjalani sesi latihan yang bagus." Pernyataan ini mencerminkan betapa pentingnya mentalitas bagi sebuah tim besar, dan bagaimana kekalahan bisa sedikit mengganggu keseimbangan emosional para pemain. Namun, Allegri dengan tegas menyatakan bahwa timnya harus segera bangkit dan berlari lagi. "Cepat atau lambat, kami akan tergelincir; tentu kami tidak berharap itu terjadi, tapi itu sudah terjadi. Sekarang kami harus mulai berlari lagi," tegasnya, menunjukkan determinasi untuk segera melupakan hasil buruk dan fokus pada pertandingan selanjutnya.

Lebih lanjut, Allegri merinci lebih dalam mengenai rekor buruk yang menghantui Milan di markas Cremonese. "Dalam dua pertandingan terakhir di Cremona, Milan tidak mencetak gol; dua kali imbang 0-0 dan satu kali kalah," ungkapnya, menekankan betapa mandulnya lini serang Milan ketika bermain di stadion tersebut. Ia juga sedikit bernostalgia, mengingatkan bahwa kemenangan terakhir Milan di kandang Cremonese terjadi pada musim 1993/1994. "Kemenangan terakhir terjadi di 1993/1994; tahun sebelumnya, di bawah Capello, pertandingan selesai 1-1," kenangnya, menggambarkan bahwa bahkan di era keemasan Milan, kemenangan di sana bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Gambaran ini memberikan konteks historis yang lebih luas mengenai kesulitan yang dihadapi Milan di Stadio Giovanni Zini, yang bukan hanya masalah performa sesaat, tetapi juga sebuah pola yang berulang.

Dalam klasemen sementara Serie A, AC Milan saat ini menempati peringkat kedua dengan mengoleksi 54 poin dari 26 pertandingan yang telah dilakoni. Namun, jarak dengan pemuncak klasemen, Inter Milan, semakin melebar. Inter Milan yang pada Minggu (1/3/2026) dini hari WIB berhasil meraih kemenangan 2-0 atas Genoa, kini unggul 13 poin dari Rossoneri. Jarak poin yang cukup signifikan ini tentu menuntut Milan untuk tidak lagi kehilangan poin, terutama dalam pertandingan-pertandingan yang seharusnya bisa mereka menangkan. Kemenangan atas Cremonese bukan hanya penting untuk mengembalikan kepercayaan diri tim, tetapi juga untuk menjaga asa mereka dalam perburuan gelar Scudetto. Setiap poin yang hilang akan semakin menyulitkan perjuangan mereka untuk mengejar Inter Milan.

Analisis taktis terhadap Cremonese juga perlu dilakukan. Sebagai tim promosi, mereka tentu memiliki motivasi tinggi untuk memberikan kejutan di kandang sendiri, terutama melawan tim sebesar AC Milan. Kekalahan Milan dari Parma bisa jadi menjadi sinyal bahwa tim-tim kecil kini semakin berani dan mampu memberikan perlawanan sengit. Pelatih Cremonese kemungkinan akan menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain disiplin di lini pertahanan, memanfaatkan setiap peluang serangan balik, dan mengganggu ritme permainan Milan. Sejarah di Stadio Giovanni Zini yang menunjukkan Milan kesulitan mencetak gol bisa menjadi inspirasi bagi pertahanan Cremonese untuk tampil kokoh dan merepotkan lini serang Rossoneri.

Bagi AC Milan, menghadapi Cremonese di kandang mereka kali ini bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah sebuah ujian mental dan taktis. Allegri perlu menemukan formula untuk membongkar pertahanan Cremonese yang kemungkinan akan sangat rapat, dan juga memotivasi para pemainnya untuk melupakan tekanan rekor buruk. Kunci kemenangan Milan kemungkinan terletak pada kemampuan mereka untuk bermain dengan tempo tinggi, memanfaatkan lebar lapangan, dan ketajaman para pemain depan mereka. Penggunaan pemain pengganti yang cerdas juga bisa menjadi faktor penentu, terutama jika pertandingan berjalan alot.

Selain itu, performa individu pemain akan sangat krusial. Pemain-pemain seperti Rafael Leão, yang memiliki kecepatan dan kemampuan dribbling luar biasa, akan menjadi ancaman utama bagi pertahanan Cremonese. Hakan Çalhanoğlu, dengan visi bermain dan akurasi umpannya, diharapkan mampu menjadi kreator serangan. Di lini pertahanan, kehadiran pemain-pemain seperti Fikayo Tomori dan Alessio Romagnoli akan menjadi benteng kokoh yang harus dijaga. Namun, konsistensi performa seluruh tim adalah hal yang paling penting.

Kondisi kebugaran pemain juga menjadi faktor penting. Setelah pertandingan yang menguras tenaga melawan Parma, Allegri perlu memastikan bahwa para pemainnya dalam kondisi fisik prima untuk menghadapi Cremonese. Rotasi pemain mungkin perlu dipertimbangkan untuk menghindari kelelahan berlebih dan menjaga stamina tim dalam jangka panjang.

Menarik untuk dinantikan bagaimana AC Milan akan menyikapi tekanan dan sejarah kelam di Stadio Giovanni Zini. Apakah mereka akan mampu memecahkan kutukan tersebut dan meraih kemenangan penting untuk menjaga asa Scudetto, ataukah Cremonese akan kembali menjadi batu sandungan bagi Rossoneri? Pertandingan ini diprediksi akan berlangsung sengit, dan hasil akhirnya akan sangat menentukan arah perburuan gelar Serie A musim ini. Kegagalan meraih poin penuh di laga ini bisa jadi akan semakin mengubur mimpi Milan untuk meraih gelar juara musim ini, dan lebih jauh lagi, bisa menjadi awal dari periode yang kurang menyenangkan bagi tim yang berambisi besar. Semangat juang dan mentalitas juara harus benar-benar ditunjukkan oleh para pemain Milan di lapangan hijau nanti.