0

Lebih Tua dari Dinosaurus, Misteri Organisme 9 Meter Bingungkan Ilmuwan

Share

Riset terbaru yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Science Advances kini mengungkap fakta yang lebih mencengangkan: bentuk kehidupan purba tersebut bukan tanaman, hewan, atau bahkan jamur seperti yang banyak diduga sebelumnya. Sebaliknya, Prototaxites, nama ilmiah organisme enigma ini, mungkin mewakili bentuk kehidupan multiseluler yang sama sekali asing dan belum pernah diketahui sebelumnya, sebuah cabang pohon kehidupan yang benar-benar terpisah. "Apa yang bisa kami katakan, berdasarkan semua analisis baru, adalah organisme ini sangat berbeda dari kelompok modern mana pun yang kita kenal saat ini," ujar Corentin Loron, ahli paleontologi dari Edinburgh University dan salah satu penulis utama penelitian tersebut. Pernyataan ini membuka pintu bagi pemahaman baru tentang keanekaragaman hayati awal Bumi, sekaligus memperdalam misteri tentang bagaimana kehidupan kompleks pertama kali berevolusi dan beradaptasi di daratan.

Prototaxites pertama kali diidentifikasi sekitar 160 tahun silam, dengan penemuan fosilnya yang menarik perhatian para naturalis dan ilmuwan. Pada abad ke-19, para ilmuwan, mungkin terkesima oleh ukurannya yang kolosal dan penampilannya yang menyerupai batang pohon, awalnya mengklasifikasikan Prototaxites sebagai batang pohon konifer yang membusuk. Asumsi ini cukup masuk akal pada masanya, mengingat kurangnya teknologi analisis mikroskopis dan biokimia yang canggih. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan metode penelitian, studi lanjutan mengungkap bahwa organisme ini tersusun dari jaringan tabung-tabung mikroskopis yang saling menjalin dengan rumit, bukan sel-sel berbentuk kotak yang khas menyusun jaringan tanaman. Struktur internal ini secara fundamental berbeda dari anatomi tumbuhan yang dikenal, mematahkan hipotesis awal dan mengarahkan penelitian ke arah yang baru.

Ketidaksesuaian dengan struktur tanaman memicu serangkaian teori alternatif. Ilmuwan lain berpendapat bahwa Prototaxites adalah massa yang menyerupai lumut kerak, sebuah hubungan simbiosis yang kompleks antara jamur dan alga. Teori ini memiliki daya tarik karena lumut kerak dikenal dengan kemampuannya bertahan hidup di lingkungan ekstrem dan bentuknya yang bervariasi. Namun, seiring waktu, hipotesis ini juga menghadapi tantangan. Beberapa tahun terakhir, perhatian peneliti beralih pada kemungkinan Prototaxites lebih mirip jamur, sebagian karena tampaknya organisme ini tidak menghasilkan energi melalui fotosintesis. Jika bukan tanaman, dan tidak berfotosintesis, maka mekanisme nutrisi Prototaxites akan lebih mirip dengan jamur yang memperoleh makanan dari materi organik yang membusuk. Hipotesis jamur ini menjadi yang paling dominan dan diterima secara luas dalam beberapa dekade terakhir, menawarkan penjelasan yang relatif koheren tentang keberadaan organisme raksasa non-fotosintetik di daratan purba.

Namun, riset baru yang dipimpin oleh Corentin Loron dan timnya menantang kembali konsensus tersebut. Penelitian ini berfokus pada analisis mendalam terhadap tiga fosil Prototaxites yang digali dari Rhynie Chert, sebuah situs fosil yang luar biasa di dekat Aberdeen, Skotlandia. Rhynie Chert adalah ekosistem prasejarah yang sangat istimewa, dikenal sebagai salah satu tempat ditemukannya tanaman, jamur, dan fauna terawal yang paling terawetkan di dunia. Situs ini menawarkan jendela yang tak tertandingi ke periode Devon awal, sekitar 400 juta tahun lalu, saat kehidupan darat baru mulai mengolonisasi benua. Keunikan Rhynie Chert terletak pada kondisi pengawetannya yang fenomenal; situs tersebut dulunya adalah mata air panas purba, mirip dengan Yellowstone di era modern. Aktivitas vulkanik dan silika yang kaya dari mata air panas tersebut secara cepat menyelimuti dan memfosilkan organisme hidup, mengawetkan detail mikroskopis mereka dengan presisi yang menakjubkan.

Kondisi pengawetan yang unik di Rhynie Chert menjadi kunci dalam penelitian Loron. "Kami masih bisa mendapatkan tanda-tanda yang memberi tahu kami tentang komposisi asli fosil-fosil tersebut, artinya fosil itu tidak ‘terlalu matang’ (rusak karena panas), dan tidak terlalu banyak berubah oleh proses geologi," jelas Loron. Ini memungkinkan timnya untuk menganalisis biomarker, yaitu molekul organik yang berfungsi sebagai "sidik jari" biologis, yang masih terperangkap dalam fosil. Biomarker ini memberikan petunjuk penting tentang biokimia asli organisme tersebut.

Analisis baru yang cermat menunjukkan bahwa biomarker dalam fosil Prototaxites secara kimiawi berbeda dari fosil jamur yang ditemukan di situs yang sama dan terawetkan dalam kondisi serupa. Perbandingan langsung ini sangat krusial. "Jika Prototaxites adalah jamur, kami memperkirakan ia akan mengikuti tren yang sama dengan jamur tersebut karena mereka berada bersebelahan dalam kondisi penguburan yang sama," kata Loron. Namun, data menunjukkan sebaliknya. Profil kimia Prototaxites ternyata unik, tidak sesuai dengan pola yang ditemukan pada jamur lain dari periode yang sama. Selain perbedaan biokimia, fitur struktural Prototaxites juga berbeda secara signifikan dari semua jamur yang diketahui, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah. Kombinasi bukti biokimia dan struktural ini membawa tim pada kesimpulan yang mengejutkan: Prototaxites tidak dapat dikategorikan sebagai jamur.

Berdasarkan hasil ini, tim menyimpulkan bahwa masih terlalu dini, bahkan mungkin salah, untuk memaksakan Prototaxites masuk ke dalam kategori biologis yang sudah ada. Organisme ini mungkin mewakili domain kehidupan yang sama sekali baru, sebuah kelompok yang telah punah dan tidak memiliki keturunan modern. Penemuan ini tidak hanya memecahkan teka-teki lama, tetapi juga membuka kotak Pandora tentang keragaman kehidupan di Bumi purba. Ini menunjukkan bahwa pohon kehidupan mungkin memiliki cabang-cabang yang jauh lebih banyak dan lebih eksotis daripada yang kita bayangkan sebelumnya.

Kevin Boyce, seorang profesor ilmu Bumi di Stanford University yang sebelumnya telah melakukan penelitian tentang Prototaxites, mendukung gagasan bahwa organisme purba ini tidak berfotosintesis seperti tanaman. Ia berpendapat bahwa Prototaxites kemungkinan mengonsumsi sumber karbon di lingkungannya, sama seperti beberapa jamur saat ini yang hidup dari materi organik membusuk. "Anda bisa membandingkannya dengan jamur, tapi jamur belum ada pada masa setua itu," sebut Boyce, menyoroti garis waktu evolusi. Meskipun Boyce memiliki pandangan yang mengarah ke kemiripan dengan jamur, temuan Loron yang lebih baru dengan bukti biomarker yang kuat kini memperjelas bahwa kemiripan fungsional tidak serta merta berarti kemiripan taksonomi. Prototaxites mungkin mengisi relung ekologis yang mirip dengan jamur, tetapi melakukannya dengan biologi yang fundamental berbeda.

Misteri seputar Prototaxites masih sangat banyak. Misalnya, bagaimana Prototaxites menempel ke tanah atau substratnya masih belum jelas. Apakah ia memiliki struktur seperti akar atau rizoid untuk jangkar dan penyerapan nutrisi? Mengingat ukurannya yang kolosal, pertanyaan tentang bagaimana organisme tersebut, yang diperkirakan tumbuh lambat, dapat berdiri tegak sepanjang hidupnya juga menjadi teka-teki. Pada masa itu, belum ada tanaman yang menghasilkan lignin, polimer kompleks yang memberikan kekakuan pada batang pohon dan memungkinkan mereka tumbuh tinggi. Ini menyiratkan bahwa Prototaxites harus memiliki mekanisme struktural yang unik untuk menopang diri. Bagaimana ia bereproduksi? Apakah ia melepaskan spora seperti jamur atau memiliki metode lain? Apa peran ekologisnya di lanskap purba? Apakah ia merupakan dekomposer utama yang mendominasi, ataukah ia memiliki fungsi lain yang belum terbayangkan? Dan yang terpenting, mengapa bentuk kehidupan yang begitu dominan dan unik ini pada akhirnya punah, meninggalkan sedikit jejak selain fosil yang membingungkan?

Tim Corentin Loron berencana untuk melakukan studi lanjutan pada organisme berbentuk tabung lain yang mirip dengan Prototaxites, berharap dapat memperdalam penelitian dan mengungkap lebih banyak lagi tentang "alien" dari masa lalu Bumi ini. Setiap penemuan baru tentang Prototaxites tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang evolusi kehidupan di Bumi, tetapi juga mengingatkan kita akan luasnya pengetahuan yang belum terkuak. Keberadaan Prototaxites mendorong para ilmuwan untuk berpikir di luar kategori yang sudah ada, membuka pikiran terhadap kemungkinan adanya bentuk-bentuk kehidupan yang tidak konvensional, baik di masa lalu Bumi maupun di planet-planet lain. Organisme purba ini, lebih tua dari dinosaurus dan tanaman, terus menjadi pengingat bahwa sejarah kehidupan di Bumi jauh lebih aneh dan menakjubkan daripada yang kita duga.