Keberagaman adalah sunnatullah yang mutlak dalam kehidupan manusia, termasuk di dalam bingkai kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia. Sebagai umat yang berpegang teguh pada ajaran Islam, kita diajarkan untuk memandang perbedaan bukan sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai rahmat yang memperkaya khazanah intelektual dan spiritual kita. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa adalah langkah utama untuk menjaga lisan, hati, dan persaudaraan di tengah perbedaan yang ada. Takwa yang hakiki akan membimbing seorang mukmin untuk bersikap dewasa, bijaksana, dan santun dalam menyikapi setiap perbedaan pandangan, baik itu dalam ranah pemikiran, politik, maupun ijtihad keagamaan yang bersifat cabang atau furu’iyyah.
Salah satu rujukan besar dalam ilmu aqidah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kitab Maqalat al-Islamiyyin karya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Hal yang paling luar biasa dan patut diteladani dari sosok Imam al-Asy’ari adalah sikap moderatnya. Beliau tetap menyebut kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan pendapat dengannya sebagai al-musallin (orang-orang yang shalat) dan al-islamiyyin (orang-orang Islam). Beliau memberikan teladan agung bahwa perbedaan pemikiran dalam internal umat tidak lantas menghalalkan darah, merendahkan kehormatan, apalagi memutus tali silaturahmi. Sikap ini menjadi jangkar penting bagi kedamaian umat, di mana persaudaraan di atas iman harus lebih diutamakan daripada sekadar kemenangan ego atas pendapat pribadi.
Dikisahkan oleh para muridnya, menjelang kewafatannya, Imam al-Asy’ari menegaskan prinsip hidupnya dengan berkata, "Aku bersaksi bahwa aku tidak mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat ini, karena semuanya merujuk kepada Tuhan yang satu, dan sesungguhnya semua perbedaan ini hanyalah perbedaan dalam redaksi atau ungkapan." Pesan ini sangat faktual dan relevan jika kita tarik ke dalam konteks Indonesia saat ini. Di tengah derasnya arus informasi dan interaksi di media sosial, kita sering melihat betapa mudahnya lisan seseorang menghakimi sesama Muslim. Hanya karena perbedaan pilihan politik, afiliasi organisasi masyarakat, atau perbedaan cara ibadah yang tidak menyentuh akar aqidah, kita seolah lupa bahwa kita semua bersujud menghadap kiblat yang sama.
Perselisihan yang tajam sering kali berujung pada caci maki, penyebaran hoaks, pemutusan silaturahmi, hingga pelabelan buruk seperti "sesat" atau "ahli bid’ah" yang dilontarkan tanpa landasan ilmu dan adab yang memadai. Padahal, Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 10 yang menegaskan bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk mendamaikan antara saudara yang berselisih dan tetap bertakwa kepada Allah agar mendapatkan rahmat-Nya. Rasulullah SAW juga memperkuat pesan ini melalui hadits riwayat Imam Muslim, "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh membiarkannya dalam kesulitan, dan tidak boleh merendahkannya."
Penting bagi kita untuk memahami bahwa perbedaan pendapat dalam khazanah Islam bukanlah fenomena baru. Para ulama terdahulu, termasuk para imam mazhab yang empat, sering kali berbeda pandangan dalam masalah hukum yang bersifat zhanni atau spekulatif. Namun, mereka tidak pernah menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk saling menjatuhkan. Mereka tetap saling menghormati dan menghargai. Inilah yang disebut sebagai adab dalam perbedaan. Jika para ulama besar saja mampu mengelola perbedaan dengan keanggunan akhlak, maka sudah sepatutnya kita, sebagai umat di zaman modern, meniru jejak langkah mereka. Keragaman di Indonesia bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekayaan yang harus dijaga.

Dalam membangun bangsa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, kita membutuhkan persatuan yang kokoh. Persatuan tidak berarti kita harus memiliki pemikiran yang seragam. Persatuan adalah kesepakatan untuk tetap saling menghargai meskipun terdapat perbedaan di antara kita. Kita harus menyadari bahwa musuh utama kita bukanlah saudara seiman atau sesama anak bangsa yang berbeda pendapat, melainkan hawa nafsu yang memicu kesombongan, fanatisme buta, dan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan bahwa kebenaran sering kali memiliki banyak sudut pandang.
Mari kita jadikan mimbar Jumat ini sebagai momentum untuk mengevaluasi diri. Sudahkah lisan kita terjaga dari menyakiti saudara? Sudahkah hati kita lapang dalam menerima perbedaan? Jangan sampai perbedaan pilihan duniawi, apalagi sentimen yang dipicu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, meruntuhkan bangunan ukhuwah yang telah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu kita. Kita perlu membangun narasi yang positif, narasi yang penuh dengan kasih sayang, dan narasi yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam beragama.
Pendidikan karakter berbasis keislaman yang moderat harus terus digalakkan. Kita harus mengajarkan generasi muda bahwa menghargai orang lain yang berbeda adalah bagian dari implementasi iman. Ketika kita mampu menahan diri untuk tidak menghakimi, di situlah kemuliaan seorang Muslim terlihat. Rasulullah SAW memberikan standar yang sangat tinggi dalam pergaulan, yaitu memposisikan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita tidak ingin dicaci, maka janganlah kita mencaci. Jika kita ingin dihargai pendapatnya, maka belajarlah untuk menghargai pendapat orang lain terlebih dahulu.
Dalam menutup khutbah ini, mari kita renungkan kembali bahwa perbedaan adalah rahmat yang diberikan Allah SWT untuk menguji sejauh mana kualitas kesabaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Allah tidak menciptakan manusia dalam keadaan yang sama agar mereka bisa saling mengenal, saling belajar, dan saling melengkapi. Keindahan pelangi terletak pada warnanya yang berbeda-beda, begitu pula keindahan umat Islam terletak pada keragaman pemikiran dan pendekatan ibadahnya yang tetap bersatu dalam tauhid kepada Allah SWT.
Semoga Allah SWT senantiasa melembutkan hati kita, mempersatukan langkah kita, dan membimbing kita untuk selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Semoga bangsa Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, kemakmuran, dan keberkahan, serta dijauhkan dari segala bentuk perpecahan yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Marilah kita terus berdoa agar perbedaan ini menjadi jembatan menuju persatuan yang lebih erat, bukan menjadi tembok pemisah yang membuat kita semakin jauh satu sama lain. Akhirnya, semoga kita semua termasuk golongan hamba-hamba Allah yang mampu merangkul perbedaan dengan penuh kasih sayang dan kearifan, serta mendapatkan syafaat dari baginda Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak. Amin ya Rabbal Alamin.

