0

Jejak Dakwah Rifa’iyah Kendal: Tiga Generasi Kiai dari KH Fadoli hingga Nurudin Azzen

Share

Sejarah perjuangan Rifa’iyah di Kabupaten Kendal tidak dapat dipisahkan dari dedikasi tiada henti keluarga besar dari Cepokomulyo. Selama tiga generasi, estafet kepemimpinan umat telah dipegang oleh KH. Muhammad Fadoli, KH. Zainudin, dan KH. Nurudin Azzen. Ketiga tokoh ini bukan sekadar pemimpin lokal, melainkan pilar penyangga ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang tetap tegak berdiri melintasi zaman, dari era kolonial Belanda hingga masa modern yang penuh tantangan intelektual.

KH. Muhammad Fadoli: Sang Pionir di Masa Penjajahan

Lahir pada tahun 1888 dengan nama kecil Sarboen, KH. Muhammad Fadoli adalah sosok yang meletakkan batu pertama perjuangan dakwah Rifa’iyah di Cepoko, Gemuh. Transformasi spiritual beliau mencapai puncaknya setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1928–1929. Perjalanan haji di usia 40 tahun pada masa itu merupakan bukti keteguhan iman yang luar biasa. Sepulangnya dari Tanah Suci, beliau menanggalkan nama masa kecilnya dan dikenal sebagai KH. Muhammad Fadoli, sebuah identitas yang kemudian menjadi simbol keulamaan yang disegani.

Jejak Dakwah Rifa’iyah Kendal: Tiga Generasi Kiai dari KH Fadoli hingga Nurudin Azzen

Sanad keilmuan beliau tersambung langsung kepada KH. Ahmad Rifa’i melalui perantara Kiai Imam Basyari di Beran, Watesalit, Batang. Kedekatan batin antara guru dan murid ini terekam dalam "Layang Kangen", sebuah bukti sejarah berupa surat kerinduan dari Kiai Imam Basyari kepada Sarboen. Hubungan inilah yang membentuk karakter KH. Fadoli sebagai sosok yang memegang teguh ta’dzim kepada guru, sebuah nilai yang menjadi fondasi utama dakwahnya.

Dalam buku Perlawanan Kiai Desa karya Prof. Dr. KH. Abdul Djamil, MA., KH. Fadoli tercatat sebagai satu dari tujuh tokoh utama penyebar ajaran Rifa’iyah di Kendal. Meski dipantau ketat oleh intelijen Belanda, beliau tetap konsisten membina santri di Dukuh Krajan, Desa Cepokomulyo. Fokus dakwah beliau pada kitab Riayah al-Himmah memberikan pemahaman mendalam tentang usul fikih dan tasawuf bagi masyarakat akar rumput. Hingga wafatnya pada tahun 1953, beliau telah berhasil membentuk basis massa yang kokoh, menjadikan Cepokomulyo sebagai salah satu benteng pertahanan ajaran Rifa’iyah di Jawa Tengah.

KH. Zainudin: Sosok "Kiai Tandur" dan Penjaga Gawang Kultural

Generasi kedua diteruskan oleh putra beliau, KH. Zainudin, yang lahir pada tahun 1943. Jika sang ayah adalah pejuang masa perintisan, KH. Zainudin adalah sosok yang menjaga stabilitas organisasi di tingkat kultural. Beliau dikenal dengan julukan "Kiai Tandur", sebuah metafora bagi kiai yang mandiri, bersahaja, dan tetap terlibat langsung dalam mengolah "ladang" dakwah di tengah masyarakat tanpa menggantungkan hidup pada orang lain.

Jejak Dakwah Rifa’iyah Kendal: Tiga Generasi Kiai dari KH Fadoli hingga Nurudin Azzen

Pendidikan KH. Zainudin merupakan perpaduan harmonis antara tradisi Rifa’iyah di Purwosari dan pendidikan pesantren salaf progresif di Lirboyo. Sintesis keilmuan ini menjadikannya figur yang sangat moderat namun teguh pada prinsip syariat. Beliau adalah penggerak yang memastikan organisasi Rifa’iyah tidak hanya sekadar ajaran, tetapi juga sistem sosial yang menyentuh kebutuhan jamaah.

Selama puluhan tahun, KH. Zainudin menjadi tempat bertanya bagi masyarakat. Keberhasilannya mendidik putra-putrinya menjadi tokoh agama dan kiai merupakan cerminan dari keberhasilan dakwah yang bersifat long-term. Hingga wafatnya pada tahun 2021, beliau meninggalkan warisan berupa kesadaran kolektif warga Cepokomulyo untuk terus berkhidmah kepada organisasi. Beliau adalah sosok yang memastikan bahwa api dakwah yang dinyalakan KH. Fadoli tidak pernah redup meski diterpa arus modernisasi.

KH. Nurudin Azzen: Transformasi Intelektual dan Modernitas

Generasi ketiga diwakili oleh KH. Nurudin Azzen, S.Ag, M.S.I., yang lahir pada tahun 1975. Beliau membawa angin segar bagi dakwah Rifa’iyah dengan mengintegrasikan khazanah klasik turats dengan metodologi akademik modern. Sebagai seorang dosen dan intelektual, KH. Nurudin adalah prototipe ulama masa kini yang memahami bahwa dakwah tidak hanya dilakukan di mimbar masjid, tetapi juga melalui ruang-ruang ilmiah.

Jejak Dakwah Rifa’iyah Kendal: Tiga Generasi Kiai dari KH Fadoli hingga Nurudin Azzen

Kiprahnya melintasi batas-batas lokal; beliau aktif dalam pengembangan literasi keagamaan dan penguatan organisasi. Meskipun telah mencapai jenjang pendidikan tinggi hingga tahap disertasi S3, kerendahan hati dan kepatuhannya pada akar tradisi keluarga tetap terjaga. Beliau membuktikan bahwa menjadi modern tidak harus meninggalkan identitas pesantren.

Tragedi duka menyelimuti keluarga ini ketika KH. Nurudin Azzen wafat pada tahun 2021, tepat di tahun yang sama dengan wafatnya sang ayah. Namun, estafet perjuangan tidak berhenti. Kepemimpinan di Masjid At-Taqwa Cepokomulyo kini dilanjutkan oleh adik beliau, Ky. Irhamudin Azzen, yang didukung penuh oleh H. M. Nasrudin Azzen. Ini adalah bukti bahwa sistem kaderisasi dalam keluarga besar ini telah matang dan mampu bertahan meski kehilangan sosok-sosok sentralnya.

Estafet yang Menembus Zaman

Peringatan Haul yang diselenggarakan setiap tahun di Cepokomulyo bukan sekadar ritual tahunan. Pada Ahad, 3 Mei 2026, sekitar 3.000 jamaah hadir untuk mengenang jasa ketiga tokoh ini. Antusiasme yang meluap dari berbagai daerah menunjukkan bahwa pengaruh KH. Fadoli, KH. Zainudin, dan KH. Nurudin Azzen telah melampaui batas geografis desa.

Jejak Dakwah Rifa’iyah Kendal: Tiga Generasi Kiai dari KH Fadoli hingga Nurudin Azzen

Ketiga generasi ini mengajarkan bahwa dakwah adalah sebuah maraton, bukan sprint. KH. Fadoli memberikan fondasi moral, KH. Zainudin menjaga keberlangsungan sistem kultural, dan KH. Nurudin memberikan kerangka intelektual yang relevan dengan perkembangan zaman. Ketiganya bersinergi membentuk profil pejuang Rifa’iyah yang utuh: militan, mandiri, dan berilmu.

Di tengah gempuran ideologi global dan perubahan sosial yang cepat, jejak dakwah keluarga besar Cepokomulyo ini menjadi cermin bagi warga Rifa’iyah lainnya. Mereka membuktikan bahwa dengan memegang teguh sanad keilmuan dan menanamkan nilai ta’dzim kepada guru, sebuah gerakan dakwah akan mampu melahirkan generasi penerus yang berintegritas.

Sebagai penutup, kisah tiga kiai dari Kendal ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa keberhasilan sebuah perjuangan dakwah tidak diukur dari seberapa besar popularitas yang diraih, melainkan seberapa dalam dampak yang dirasakan oleh umat di akar rumput. Semangat "Kiai Tandur" yang mandiri, dikombinasikan dengan keteguhan prinsip KH. Fadoli dan kedalaman intelektual KH. Nurudin Azzen, adalah resep abadi bagi keberlangsungan syiar Islam yang damai, mandiri, dan berwawasan kebangsaan. Semoga estafet kepemimpinan ini terus terjaga, melahirkan generasi-generasi berikutnya yang siap memikul tanggung jawab suci untuk menjaga marwah Rifa’iyah di bumi Nusantara.