0

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Share

Menjelang usianya yang ke-497 pada 22 Juni 2024, Jakarta, kota megapolitan yang tak pernah tidur, kembali mengundang decak kagum sekaligus nostalgia. Perjalanan panjang hampir lima abad telah mengukir transformasi drastis pada wajah kota ini, mengubahnya dari sebuah pelabuhan kecil bernama Jayakarta menjadi pusat ekonomi dan budaya yang gemerlap. Sebuah konten viral yang dibuat oleh TikToker @geminiranja atau H1STORYMAKER berhasil mengabadikan rentang perubahan tersebut, menampilkan perbandingan visual "dulu vs sekarang" yang membuat siapa pun yang melihatnya akan terheran-heran. Perubahan ini bukan sekadar pergantian bangunan, melainkan cerminan evolusi peradaban, pertumbuhan penduduk, dan denyut nadi modernisasi yang tak terbendung.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Dari Jayakarta di abad ke-16 hingga Batavia di era kolonial Belanda, dan akhirnya Jakarta Raya pasca-kemerdekaan, setiap sudut kota ini menyimpan cerita. Dokumentasi visual yang disajikan H1STORYMAKER menjadi jendela waktu yang memperlihatkan bagaimana lansekap, arsitektur, dan bahkan atmosfer kota telah berubah secara fundamental.

Salah satu perbandingan yang paling mencolok adalah Villa Raden Saleh yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cikini. Dulu, bangunan ini adalah kediaman megah milik maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh, yang dibangun dengan gaya arsitektur Indische Empire yang khas. Halaman luasnya yang rindang menjadi saksi bisu kreativitas sang seniman. Kini, meski struktur utama bangunannya masih dipertahankan sebagai bagian dari rumah sakit, fungsinya telah berubah total. Pohon-pohon besar dan hijaunya taman berganti dengan area parkir, fasilitas medis modern, dan hiruk pikuk aktivitas rumah sakit. Transformasi ini menggambarkan adaptasi bangunan bersejarah untuk memenuhi kebutuhan kontemporer masyarakat.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Bergeser ke pusat kota lama, Perempatan Harmoni di tahun 1895 tampak jauh berbeda dengan kondisinya sekarang. Foto lama menunjukkan sebuah persimpangan yang relatif lengang, dihiasi dengan bangunan-bangunan bergaya kolonial yang megah dan jaringan trem sebagai moda transportasi utama. Trem-trem listrik beroperasi di jalanan yang masih didominasi pejalan kaki dan kereta kuda. Harmoni pada masa itu adalah pusat pemerintahan dan perdagangan kolonial, sebuah titik strategis yang menghubungkan berbagai wilayah penting. Kini, Harmoni adalah simpul transportasi yang sangat padat, di mana jalur TransJakarta, MRT, dan ribuan kendaraan pribadi saling bersilangan. Bangunan-bangunan kolonial yang tersisa telah diselimuti oleh modernitas, dengan gedung-gedung tinggi dan infrastruktur perkotaan yang kompleks. Perubahan ini menunjukkan lonjakan populasi dan kebutuhan akan mobilitas yang efisien di ibu kota.

Tak kalah menarik, Lapangan Banteng Barat pada tahun 1880 terlihat sebagai hamparan tanah lapang yang luas, dikenal sebagai Waterlooplein, tempat parade militer dan acara publik kolonial. Monumen yang menjadi ciri khasnya saat itu adalah patung J.P. Coen, pendiri Batavia, yang kemudian diganti dengan monumen Pahlawan Pembebasan Irian Barat setelah kemerdekaan. Saat ini, Lapangan Banteng Barat telah menjelma menjadi ruang terbuka hijau modern dengan taman yang tertata apik, air mancur menari, dan tentu saja, Monumen Pembebasan Irian Barat yang ikonik. Area sekitarnya pun dipenuhi dengan gedung-gedung perkantoran dan hotel, jauh dari kesan lapang dan lengang seperti di abad ke-19.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Perjalanan waktu juga mengubah wajah Jalan Gunung Sahari. Foto dari tahun 1980 memperlihatkan jalanan yang sudah cukup ramai dengan kendaraan, namun masih menyisakan ruang dan deretan toko-toko sederhana. Kontrasnya, Jalan Gunung Sahari hari ini adalah urat nadi transportasi yang sangat vital, penuh sesak dengan kendaraan bermotor, diapit oleh gedung-gedung komersial, hotel, dan pusat perbelanjaan yang menjulang. Lebar jalan telah diperluas, namun kemacetan tetap menjadi pemandangan sehari-hari, menggambarkan pertumbuhan pesat aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Infrastruktur pengendali banjir, Pintu Air Manggarai, juga mengalami metamorfosis. Gambar lama menunjukkan pintu air ini sebagai struktur kokoh yang dibangun Belanda untuk mengatur aliran Sungai Ciliwung, dikelilingi oleh pemukiman yang masih sederhana dan vegetasi yang lebih alami. Sekarang, Pintu Air Manggarai tetap berdiri sebagai pengendali banjir vital, namun lingkungannya telah berubah drastis. Bangunan-bangunan permanen dan pemukiman padat mengelilinginya, menunjukkan betapa urbanisasi telah merambah setiap jengkal lahan di Jakarta.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Balai Kota Jakarta di tahun 1925, atau yang dulu dikenal sebagai Stadhuis, memancarkan pesona arsitektur kolonial yang elegan, dikelilingi oleh area yang lebih terbuka. Bangunan ini adalah pusat administrasi kota yang penting. Kini, Balai Kota masih berfungsi sebagai pusat pemerintahan DKI Jakarta, namun dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang ramai, dan hiruk pikuk aktivitas ibu kota. Meskipun bangunan aslinya terawat dengan baik, konteks perkotaan di sekelilingnya telah benar-benar modern.

Pancoran Glodok pada tahun 1946 masih menunjukkan ciri khas pecinan dengan bangunan-bangunan berarsitektur Tionghoa yang padat dan aktivitas perdagangan tradisional yang kuat. Glodok dikenal sebagai salah satu pecinan tertua dan terbesar di Jakarta. Saat ini, Pancoran Glodok masih menjadi pusat aktivitas ekonomi Tionghoa, namun dengan sentuhan modernisasi yang kuat. Bangunan-bangunan lama berpadu dengan toko-toko modern, pusat perbelanjaan, dan keramaian yang jauh lebih intens, mencerminkan perpaduan tradisi dan modernitas.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Karya arsitektur megah seperti Gereja Katedral Jakarta yang dibangun pada tahun 1890, tetap kokoh berdiri dengan arsitektur Neo-Gotiknya yang menawan. Foto lama menunjukkan Katedral yang menjulang tinggi di tengah area yang masih relatif sepi. Sekarang, Katedral ini menjadi landmark ikonik di jantung kota, berhadapan langsung dengan Masjid Istiqlal, dan dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi serta kepadatan lalu lintas. Keberadaannya menjadi simbol ketahanan sejarah dan spiritual di tengah gelombang modernisasi.

Di kawasan pusat seni, Jalan depan Gedung Kesenian Jakarta di tahun 1920 tampak asri dengan deretan pepohonan dan bangunan bergaya kolonial yang elegan, dulunya dikenal sebagai Schouwburg Weltevreden, sebuah gedung teater termegah di Batavia. Kini, Gedung Kesenian Jakarta masih menjadi wadah seni dan budaya, namun jalanan di depannya telah menjadi jalur sibuk dengan kendaraan yang tak henti-hentinya melintas, diapit oleh bangunan-bangunan modern dan fasilitas publik lainnya.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Kampung China, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Pintu Besar Selatan, pada tahun 1880 adalah pusat perdagangan dan kehidupan masyarakat Tionghoa di Batavia. Gambar lama memperlihatkan deretan toko dan rumah yang padat dengan aktivitas khas pecinan. Saat ini, Jalan Pintu Besar Selatan masih mempertahankan beberapa bangunan lamanya, namun telah menjadi arteri jalan yang sangat padat, bagian dari kawasan Kota Tua yang ramai dikunjungi wisatawan, dengan toko-toko modern dan lalu lalang manusia yang jauh lebih banyak.

Kembali ke Harmoni, Potret Simpang Harmoni Jalan Gajah Mada di tahun 1870, sebelum proyek MRT berjalan, menunjukkan suasana yang tenang dengan trem kuda atau trem uap melintas di jalanan tanah atau berbatu. Perubahan besar terjadi ketika infrastruktur modern seperti MRT dibangun, mengubah total lansekap bawah tanah dan permukaan jalan. Kini, kawasan ini adalah salah satu simpul transportasi terintegrasi dengan stasiun MRT bawah tanah, jembatan layang, dan kepadatan lalu lintas yang tak terbayangkan di masa lalu.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Stasiun Tanah Abang di tahun 1910 adalah sebuah stasiun kereta api yang sederhana namun vital untuk menghubungkan Batavia dengan daerah lain. Arsitekturnya klasik dan suasananya masih tenang. Saat ini, Stasiun Tanah Abang telah berkembang menjadi salah satu stasiun tersibuk di Indonesia, melayani ribuan komuter setiap hari. Bangunannya telah direnovasi dan diperluas berkali-kali, fasilitasnya modern, dan area sekitarnya menjadi pusat perdagangan tekstil yang legendaris, jauh dari kesan tenang di awal abad ke-20.

Gedung Candranaya, yang dulunya merupakan rumah Kapten Tionghoa Khouw Kim An, di masa lalu adalah bangunan megah dengan arsitektur Tionghoa-Eropa yang kental, menjadi pusat komunitas. Kini, Gedung Candranaya masih berdiri sebagai salah satu cagar budaya penting, namun ia terkepung oleh gedung-gedung tinggi modern dan hiruk pikuk perkotaan. Keberadaannya mengingatkan akan sejarah panjang komunitas Tionghoa di Jakarta.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Salemba juga tidak luput dari sapuan waktu. Kedua jalan ini, yang dulunya relatif tenang dengan deretan bangunan rendah dan pepohonan, kini telah berubah menjadi koridor padat dengan gedung-gedung bertingkat, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan tentu saja, kemacetan lalu lintas yang menjadi ciri khas Jakarta. Jalan Salemba, khususnya, yang dikenal sebagai kawasan pendidikan dengan kampus Universitas Indonesia, kini adalah perpaduan antara pusat studi dan aktivitas komersial yang sibuk.

Perbandingan visual yang disajikan oleh H1STORYMAKER ini bukan hanya sekadar tontonan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang dinamika sebuah kota. Dari perahu-perahu tradisional di tepi sungai hingga gedung-gedung pencakar langit yang menembus awan, dari jalanan tanah hingga jalan tol bertingkat, Jakarta telah melalui transformasi yang luar biasa. Perubahan ini didorong oleh berbagai faktor: pertumbuhan populasi yang eksplosif, tuntutan ekonomi sebagai pusat bisnis, investasi infrastruktur besar-besaran, serta adaptasi terhadap gaya hidup modern.

Jakarta Dulu vs Sekarang Jelang 5 Abad, Perubahannya Bikin Melotot

Namun, di balik gemerlap modernisasi, ada pula pertanyaan tentang identitas dan warisan. Banyak bangunan bersejarah telah lenyap digantikan struktur baru, sementara yang lain berjuang untuk bertahan di tengah tekanan pembangunan. Upaya pelestarian cagar budaya menjadi semakin krusial agar jejak sejarah Jakarta tidak sepenuhnya terkikis oleh zaman.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-497, Jakarta berdiri sebagai kota yang dinamis, penuh kontradiksi, dan tak henti beradaptasi. Perubahannya yang "bikin melotot" adalah bukti nyata dari kapasitas kota ini untuk terus berkembang, berinovasi, dan menulis ulang kisahnya sendiri di setiap generasi. Meskipun status ibu kota negara akan berpindah ke Nusantara, Jakarta akan tetap menjadi jantung sejarah, ekonomi, dan budaya Indonesia, sebuah kota yang selalu menarik untuk ditelusuri jejak-jejak masa lalunya di tengah gemuruh masa kini. Bagi yang ingin menyelami lebih jauh bentangan waktu ini, karya-karya @geminiranja di TikTok adalah titik awal yang sempurna untuk menyaksikan sendiri metamorfosis yang luar biasa ini.