Ketegangan di perbatasan Lebanon Selatan kembali memanas setelah militer Israel melancarkan serangan udara presisi yang menyasar kota Arab Salim, sebuah kawasan padat penduduk di distrik Nabatieh. Insiden mematikan yang terjadi pada Minggu (25/5/2026) ini telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, sekaligus memicu kemarahan internasional atas keselamatan tenaga medis di zona konflik. Berdasarkan laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan tersebut tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga menghantam tim penyelamat yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan di lapangan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin (26/5/2026), otoritas kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa dua orang dinyatakan tewas seketika di lokasi kejadian. Salah satu korban yang tewas diidentifikasi sebagai seorang paramedis yang bertugas di bawah naungan Komite Kesehatan Islam, sebuah organisasi nirlaba yang berafiliasi dengan kelompok Hizbullah. Selain dua korban jiwa tersebut, tercatat sedikitnya 10 warga lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Di antara para korban luka, terdapat dua paramedis tambahan dari Komite Kesehatan Islam dan empat anggota dari asosiasi Pramuka Risala, sebuah organisasi amal yang juga memiliki keterkaitan erat dengan gerakan politik dan militer Hizbullah.
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang berkepanjangan antara Israel dan kelompok Hizbullah sejak Oktober tahun lalu. Arab Salim, yang terletak di wilayah Nabatieh, merupakan area strategis yang selama beberapa bulan terakhir sering menjadi sasaran operasi militer Israel dengan dalih menargetkan infrastruktur atau personel yang dianggap sebagai ancaman keamanan. Namun, jatuhnya korban dari kalangan tenaga medis menimbulkan kekhawatiran serius mengenai perlindungan terhadap personel kemanusiaan yang seharusnya dilindungi di bawah hukum humaniter internasional.
Pemerintah Lebanon dengan tegas mengutuk serangkaian serangan yang terus menargetkan sektor kesehatan dan tim darurat di wilayah selatan. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Kesehatan Lebanon menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas dan personel medis merupakan pelanggaran serius terhadap konvensi Jenewa yang mengatur perlindungan bagi tenaga medis di zona konflik. "Serangan musuh Israel berturut-turut di kota Arab Salim bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan tindakan yang mengabaikan keselamatan nyawa mereka yang berupaya menyelamatkan orang lain," ujar juru bicara kementerian dalam keterangannya kepada media.
Para paramedis dari asosiasi Pramuka Risala dan Komite Kesehatan Islam dikenal sebagai garda terdepan dalam merespons krisis di Lebanon Selatan. Mereka sering kali menjadi pihak pertama yang tiba di lokasi serangan udara untuk mengevakuasi warga sipil yang terjebak di bawah reruntuhan atau memberikan pertolongan pertama bagi mereka yang terluka akibat ledakan. Dengan terbunuhnya seorang paramedis dan cederanya enam petugas kesehatan lainnya, kapasitas operasional layanan darurat di distrik Nabatieh kini berada dalam ancaman, yang pada gilirannya akan berdampak langsung pada keselamatan warga sipil di wilayah tersebut.
Analisis dari berbagai pengamat keamanan di kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa pola serangan Israel di Lebanon kini semakin agresif. Tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur pendukung yang berada di area sipil. Distrik Nabatieh, yang memiliki populasi padat, telah mengalami kerusakan infrastruktur yang signifikan akibat gempuran yang berlangsung terus-menerus. Selain kerusakan fisik, trauma psikologis yang dialami warga setempat semakin mendalam, terutama bagi mereka yang harus menyaksikan sendiri petugas medis yang seharusnya membantu mereka justru menjadi target serangan.
Di sisi lain, militer Israel berdalih bahwa serangan-serangan tersebut dilakukan untuk melumpuhkan aktivitas kelompok bersenjata Hizbullah yang beroperasi di dalam pemukiman sipil. Israel mengklaim bahwa kelompok tersebut menggunakan ambulans dan fasilitas medis sebagai kedok untuk memindahkan personel atau logistik perang. Namun, klaim ini selalu dibantah dengan keras oleh pihak Lebanon dan organisasi kemanusiaan terkait yang menyatakan bahwa seluruh aktivitas mereka semata-mata bersifat medis dan kemanusiaan.
Situasi di perbatasan Lebanon-Israel kini berada di titik didih. Komunitas internasional, melalui berbagai perwakilan diplomatik, terus menyerukan penghentian permusuhan. Namun, upaya de-eskalasi tampaknya menemui jalan buntu. Kematian tenaga medis ini diprediksi akan semakin memperkeruh suasana dan memicu respons balasan dari pihak Hizbullah, yang dapat memperluas skala konflik ke wilayah yang lebih luas.
Bagi warga Arab Salim, hari Minggu tersebut akan diingat sebagai tragedi kemanusiaan. Proses pemakaman korban yang merupakan paramedis tersebut dipenuhi oleh isak tangis rekan sejawat dan warga setempat. Mereka menuntut keadilan dan perlindungan internasional agar para petugas kesehatan dapat bekerja tanpa rasa takut akan menjadi sasaran serangan udara berikutnya.
Dunia internasional kini menanti langkah selanjutnya dari PBB dan organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk merespons insiden ini. Perlindungan terhadap staf medis bukan lagi sekadar isu lokal di Lebanon, melainkan isu global yang menyangkut integritas hukum humaniter di tengah perang modern. Jika serangan terhadap tenaga medis terus dibiarkan tanpa adanya mekanisme akuntabilitas yang jelas, maka risiko krisis kemanusiaan di Lebanon Selatan akan semakin memburuk, meninggalkan ribuan warga tanpa perlindungan medis yang memadai di tengah situasi perang yang tidak menentu.
Sebagai penutup, eskalasi di Nabatieh ini merupakan pengingat nyata betapa rapuhnya garis depan di Lebanon. Setiap nyawa yang hilang, terutama mereka yang berdedikasi untuk menyelamatkan nyawa orang lain, menjadi pengingat pahit tentang mahalnya harga sebuah perdamaian yang hingga kini belum juga terwujud. Masyarakat internasional diharapkan tidak tinggal diam dan segera mengambil langkah konkret untuk memastikan bahwa koridor kemanusiaan dan perlindungan bagi tenaga kesehatan tetap menjadi prioritas utama di atas segala kepentingan militer yang bertikai.

