0

Guru Agama yang Menyesatkan Umat: Ancaman Serius bagi Integritas Spiritual dan Moralitas Bangsa

Share

Dalam salah satu bait yang tertuang di dalam kitab Tansyiroh, seorang ulama besar nusantara, KH. Ahmad Rifa’i, memberikan peringatan yang sangat tajam, mendalam, sekaligus menggugah kesadaran setiap insan yang bergelut dalam dunia pendidikan agama. Beliau menuliskan sebuah bait nadham yang berbunyi:

Harom dadi guru nasaraken amrih ditut
Nyoto gawe rusak ing agomo sinebut
Berayan ngajak sasar kufur kelancut
Tan nejo taubat nasuha ing Allah emut.

Bait ini bukan sekadar kritik sosial biasa, melainkan sebuah cermin spiritual tentang bagaimana ilmu yang seharusnya menjadi pelita justru bisa berubah menjadi kegelapan ketika ia kehilangan orientasi pada kebenaran dan ketulusan. Di tengah arus informasi yang begitu deras dan maraknya fenomena "guru agama" di media sosial saat ini, pesan KH. Ahmad Rifa’i menjadi sangat relevan sebagai filter moral bagi umat.

Bahaya Menjadikan Ilmu sebagai Alat Kekuasaan

"Harom dadi guru nasaraken amrih ditut"

Kalimat pertama ini langsung menghantam inti persoalan. KH. Ahmad Rifa’i dengan tegas menyatakan bahwa menjadi guru yang menyesatkan demi tujuan agar diikuti adalah sebuah perbuatan haram. Dalam tradisi pesantren, sosok guru bukan sekadar penyampai materi atau pemberi informasi, melainkan seorang penunjuk jalan (murshid) yang memikul amanah besar di pundaknya.

Ketika seorang pengajar agama mulai menjadikan popularitas, jumlah pengikut (followers), atau kedudukan sebagai tujuan utama dari dakwahnya, maka saat itulah ilmu kehilangan cahayanya. Kata "amrih ditut" mengisyaratkan adanya motif terselubung untuk mencari pengikut demi kepentingan diri sendiri. Dalam kondisi ini, guru tersebut tidak lagi membimbing manusia menuju rida Allah, melainkan menggiring mereka untuk mengagumi sosok dirinya. Inilah awal mula dari bencana intelektual dan spiritual.

Betapa banyak kerusakan yang lahir bukan dari kebodohan, melainkan dari kepandaian yang kehilangan keikhlasan. Seseorang mungkin memiliki lidah yang fasih, dalil yang dihafal di luar kepala, serta kemampuan retorika yang memukau, namun jika arah yang dibangun adalah untuk menonjolkan diri, maka ia sedang membangun menara kesesatan bagi umat.

Kerusakan Agama di Balik Simbol Kesalehan

"Nyoto gawe rusak ing agomo sinebut"

Kerusakan agama tidak selalu hadir dalam bentuk penolakan terang-terangan terhadap syariat atau aksi radikal. Seringkali, kerusakan itu menyusup secara perlahan dan halus. Ia hadir ketika agama dijadikan komoditas untuk mencari kedudukan, ketika nasihat agama berubah menjadi panggung untuk memamerkan ego, atau ketika ayat-ayat Tuhan dipelintir demi memuaskan nafsu golongan tertentu.

KH. Ahmad Rifa’i menggunakan kata "nyoto" yang berarti nyata. Ini menunjukkan bahwa kerusakan tersebut sebenarnya dapat diamati dan dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas. Agama yang seharusnya menjadi ruh kasih sayang, pelindung, dan pembawa kejujuran, justru berubah menjadi alat pemecah belah dan sumber konflik. Ketika agama hanya dibicarakan sebagai simbol tanpa dibarengi dengan akhlak yang mulia, maka yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang kering dari nilai ketuhanan. Agama tanpa ketulusan hanya akan menghasilkan kesalehan formalistik yang jauh dari esensi kasih sayang Ilahi.

Fenomena Kesesatan yang Berjamaah

"Berayan ngajak sasar kufur kelancut"

Guru Agama yang Menyesatkan Umat

Bait ini memotret kegelisahan sosial yang sangat relevan dengan zaman modern. Kesesatan yang dilakukan oleh seorang guru yang berpengaruh tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia akan mengajak, memengaruhi, bahkan membentuk lingkungan yang ikut terseret ke dalam pola pikir yang menyimpang.

Ketika kesalahan dijadikan sebuah gerakan, dibela ramai-ramai oleh pengikutnya, dan dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari, maka kerusakan menjadi jauh lebih luas dan sulit untuk dibendung. Kita sering menyaksikan bagaimana kebohongan yang diucapkan berulang-ulang melalui kanal media sosial dapat dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh para pengikutnya. Ukuran kebenaran kini bergeser dari hakikat dalil dan integritas moral menjadi sekadar seberapa banyak "like" atau pengikut yang dimiliki oleh sang pengajar.

Padahal, dalam pandangan ulama yang saleh, jumlah pengikut tidak pernah menjadi standar keselamatan. Kebenaran bukanlah sebuah konsensus popularitas. Kebenaran adalah sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah, yang membawa kedamaian hati, dan yang membuat seseorang semakin sadar akan kelemahan dirinya di hadapan Sang Pencipta.

Kehilangan Nurani dan Penyakit Kesombongan

"Tan nejo taubat nasuha ing Allah emut"

Ini adalah penutup yang paling menyedihkan dari rangkaian peringatan tersebut. Bukan sekadar melakukan kesalahan, tetapi sosok guru tersebut sudah tidak memiliki niat untuk melakukan taubat nasuha. Tidak ada lagi kegelisahan batin saat ia menyimpang, tidak ada rasa takut kepada Allah, dan yang paling fatal, tidak ada kerendahan hati untuk mengakui kekeliruan.

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Bahkan ulama-ulama besar sepanjang sejarah pun selalu menempatkan diri sebagai pembelajar yang senantiasa memohon ampun kepada Allah. Namun, ketika seseorang telah terperangkap dalam kesombongan intelektual, ia akan merasa dirinya paling benar dan tidak perlu introspeksi. Padahal, taubat nasuha adalah tanda bahwa hati seseorang masih hidup dan memiliki cahaya iman. Ketika seseorang merasa tidak perlu lagi memohon ampun, maka di situlah pintu kesombongan mengeras dan menutup pintu hidayah.

Menjaga Ilmu sebagai Cahaya dalam Kegelapan Zaman

Nadham KH. Ahmad Rifa’i ini sejatinya bukanlah sebuah serangan yang ditujukan hanya untuk "orang lain". Ia adalah ajakan bagi setiap individu yang berbicara, mengajar, menulis, atau menyampaikan pesan agama untuk senantiasa bercermin. Setiap ilmu membawa tanggung jawab yang sangat berat di dunia maupun di akhirat. Setiap ucapan yang keluar dari mulut kita bisa menjadi petunjuk yang menerangi jalan bagi orang lain, atau justru menjadi batu sandungan yang menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan.

Pesan ini sangat mendesak untuk diresapi di tengah maraknya fenomena guru agama "instan" yang lebih haus akan pujian daripada kebenaran. Agama harus dijaga dengan kejujuran hati dan keberanian untuk terus mengoreksi diri. Seorang guru yang sejati tidak akan pernah merasa perlu untuk memaksakan pengikutnya agar selalu setuju dengannya. Sebaliknya, ia akan mengajak murid-muridnya untuk selalu takut kepada Allah dan semakin rendah hati di hadapan sesama manusia.

Ilmu yang benar akan melahirkan ketakutan kepada Allah, bukan ketakutan akan kehilangan popularitas. Ilmu yang benar akan melahirkan rasa kasih sayang, bukan permusuhan. Ilmu yang benar akan melahirkan keinginan untuk terus memperbaiki diri, bukan keinginan untuk membenarkan kesalahan demi menjaga gengsi.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali bahwa menjadi guru bukan tentang seberapa besar pengaruh yang kita miliki di dunia, melainkan tentang seberapa banyak jiwa yang berhasil kita antarkan menuju pintu rida Allah dengan cara yang penuh ketulusan dan kejujuran. Marilah kita menjaga amanah ilmu ini agar ia tetap menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar kemanusiaan kita sendiri. Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat guru yang menyesatkan, dan senantiasa diberikan kekuatan untuk istiqamah di jalan yang diridai-Nya.