Dunia

Gedung Aramco di Saudi Jadi Sasaran Houthi, Kebakaran Terjadi

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Kementerian Energi Arab Saudi secara resmi mengonfirmasi insiden serangan yang menyasar fasilitas vital milik raksasa minyak dunia, Saudi Aramco, yang berlokasi di kota Dhahran, Provinsi Timur. Serangan yang terjadi pada Selasa malam waktu setempat tersebut memicu kepanikan di wilayah metropolitan Dammam setelah suara dentuman keras terdengar di sekitar markas besar perusahaan energi tersebut. Meski sempat memicu kobaran api di sebuah gedung administratif, otoritas keamanan Saudi memastikan bahwa situasi berhasil dikendalikan dengan cepat tanpa adanya korban jiwa.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui platform X, seorang pejabat Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan bahwa pihak berwenang telah segera merespons insiden tersebut dan menerapkan prosedur keselamatan standar. Langkah mitigasi langsung diambil, termasuk instruksi bagi seluruh karyawan Aramco untuk menjalankan sistem bekerja dari rumah (WFH) sepanjang hari Rabu sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi serangan susulan atau ancaman keamanan yang masih berkembang.

Eskalasi ketegangan ini terjadi di tengah memanasnya kembali konflik regional yang melibatkan kelompok pemberontak Houthi asal Yaman. Serangan terhadap fasilitas Aramco ini bukanlah insiden terisolasi, melainkan bagian dari rangkaian serangan intensif yang dilancarkan Houthi terhadap infrastruktur strategis dan sipil di Arab Saudi selama beberapa hari terakhir. Sebelum menyasar Dhahran, kelompok tersebut diketahui telah melancarkan serangan udara mematikan yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Data otoritas penerbangan sipil Saudi mengungkapkan bahwa dampak serangan di Bandara Internasional King Khalid sangat signifikan. Pada Sabtu (10/10/2026), sebuah proyektil atau pesawat nirawak menghantam area Terminal 3, memicu ledakan yang mengejutkan para jemaah dan penumpang yang sedang mengantre. Tragedi tersebut menelan korban jiwa yang cukup besar, dengan sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka. Situasi di bandara sempat kacau balau, dengan kepulan asap membubung tinggi dari area terminal yang menjadi target.

Tidak berhenti di sana, serangan kembali terjadi pada Minggu (11/10/2026). Koalisi pimpinan Saudi melaporkan bahwa sebuah proyektil menghantam area Terminal 4, yang kembali memicu kebakaran di fasilitas publik tersebut. Insiden hari Minggu ini menambah daftar panjang korban, dengan satu orang dilaporkan tewas dan 11 orang lainnya mengalami luka-luka. Rentetan serangan dalam waktu berdekatan ini menunjukkan peningkatan kapabilitas dan agresivitas serangan kelompok Houthi, yang kini tidak lagi hanya menyasar target militer, melainkan juga fasilitas sipil yang padat penduduk.

Konflik Yaman sendiri, yang menjadi akar dari ketegangan ini, telah kembali berkobar sejak Juli 2026. Arab Saudi, yang memimpin koalisi internasional untuk mendukung pemerintahan Yaman yang sah, kini harus menghadapi tantangan keamanan yang lebih kompleks di wilayah perbatasannya. Houthi, yang secara terbuka mengklaim tanggung jawab atas serangan-serangan tersebut, menyatakan bahwa aksi mereka adalah bentuk perlawanan terhadap blokade dan operasi militer koalisi di Yaman.

Bagi Arab Saudi, serangan terhadap Saudi Aramco di Dhahran membawa implikasi ekonomi yang cukup serius. Aramco merupakan jantung dari perekonomian Kerajaan dan pemain kunci dalam pasar energi global. Gangguan pada infrastruktur Aramco tidak hanya mengancam keamanan energi domestik, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas harga minyak dunia. Oleh karena itu, pemerintah Saudi kini berada di bawah tekanan besar untuk meningkatkan sistem pertahanan udara, seperti sistem Patriot atau THAAD, guna menangkis serangan proyektil dan drone yang kerap digunakan oleh kelompok Houthi.

Pakar keamanan internasional mencatat bahwa pola serangan Houthi kini telah bergeser ke arah "perang asimetris" yang lebih agresif. Dengan menggunakan drone bermuatan bahan peledak (loitering munitions) dan rudal balistik jarak jauh, Houthi mampu menjangkau pusat-pusat populasi dan ekonomi di jantung Arab Saudi, termasuk Riyadh dan Dammam. Serangan ke Bandara Internasional King Khalid yang menargetkan terminal penumpang sipil dianggap sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional yang berat, mengingat bandara adalah fasilitas yang dilindungi dalam konflik bersenjata.

Dunia internasional, termasuk PBB dan beberapa negara besar, mulai menunjukkan kekhawatiran mendalam atas eskalasi ini. Sekretaris Jenderal PBB berulang kali menyerukan gencatan senjata segera dan dialog diplomatik antara pihak-pihak yang bertikai di Yaman. Namun, upaya perdamaian sejauh ini masih menemui jalan buntu karena tuntutan yang saling bertolak belakang antara koalisi pimpinan Saudi dan pihak Houthi.

Di dalam negeri Arab Saudi, masyarakat mulai merasakan dampak psikologis dari serangan-serangan yang beruntun ini. Keamanan di fasilitas-fasilitas vital diperketat secara drastis. Penjagaan di sekitar kilang minyak, terminal bandara, dan gedung-gedung pemerintah ditingkatkan dengan patroli udara yang lebih intensif. Bagi warga asing dan pekerja migran di Saudi, situasi ini menciptakan rasa ketidakpastian, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor-sektor strategis seperti perminyakan dan transportasi udara.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, juga terus memantau perkembangan situasi ini. Keselamatan WNI di Arab Saudi menjadi prioritas utama, terutama mereka yang berada di dekat wilayah yang menjadi target serangan. Imbauan agar WNI tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat terus disuarakan oleh KBRI di Riyadh maupun KJRI di Jeddah. Anggota legislatif di Indonesia pun sempat mendesak pemerintah untuk melakukan langkah evakuasi atau perlindungan khusus jika kondisi keamanan di Arab Saudi terus memburuk dan tidak terkendali.

Melihat ke depan, pengamat militer memperkirakan bahwa Arab Saudi akan merespons serangan-serangan ini dengan peningkatan serangan udara balasan ke basis-basis pertahanan Houthi di Yaman. Namun, strategi militer semata dinilai tidak akan mampu menyelesaikan akar masalah konflik Yaman yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dibutuhkan solusi politik komprehensif yang melibatkan semua faksi di Yaman, dengan dukungan dari kekuatan regional seperti Iran dan negara-negara Teluk lainnya.

Insiden di Dhahran ini menjadi pengingat pahit bahwa stabilitas di Timur Tengah sangatlah rapuh. Selama konflik di Yaman tidak menemukan titik terang, ancaman terhadap infrastruktur strategis seperti Aramco akan tetap menghantui. Bagi Aramco sendiri, tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan kelangsungan operasional di tengah ancaman keamanan yang terus-menerus. Investasi dalam sistem deteksi dini dan perlindungan infrastruktur fisik akan menjadi fokus utama perusahaan dalam jangka menengah.

Sebagai penutup, rangkaian serangan yang menargetkan fasilitas vital Saudi, mulai dari bandara internasional hingga markas Aramco, menandai fase baru yang berbahaya dalam konflik Yaman. Kebakaran kecil di gedung administratif Aramco mungkin bisa dipadamkan, namun api konflik regional yang membakar Yaman dan merembet ke wilayah Saudi tampaknya masih jauh dari kata padam. Dunia kini menanti langkah diplomatik apa yang akan diambil oleh komunitas internasional untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil dan untuk menjaga stabilitas pasar energi global yang sangat bergantung pada keamanan fasilitas di Arab Saudi.

Keamanan nasional Arab Saudi kini diuji oleh kemampuan mereka dalam memitigasi serangan udara yang semakin canggih. Tanpa adanya terobosan diplomatik, ancaman serupa diprediksi akan terus membayangi wilayah tersebut, menuntut kewaspadaan tingkat tinggi dari pemerintah dan masyarakat di Kerajaan Arab Saudi. Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kapan operasional kantor Aramco di Dhahran akan kembali normal sepenuhnya, namun pihak perusahaan memastikan bahwa keamanan karyawan adalah prioritas utama di atas segalanya. Situasi ini terus berkembang, dan dunia tetap memantau bagaimana Riyadh akan merespons tantangan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Lina Irawan

Penulis dan kontributor di Bahas Gadgets dan Teknologi.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.