Dunia

Eskalasi Konflik Yaman: Houthi Intensifkan Serangan ke Bandara Arab Saudi, 19 Nyawa Melayang Sepanjang Oktober

Foto: Dok. kumparan / Ilustrasi Berita

Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan gelombang serangan udara yang intensif terhadap sejumlah infrastruktur vital di Arab Saudi. Sepanjang bulan Oktober, tercatat lebih dari 20 kali serangan yang menargetkan bandara-bandara sipil di berbagai wilayah Saudi. Aksi agresif ini tidak hanya melumpuhkan operasional penerbangan, tetapi juga memakan korban jiwa yang cukup signifikan, yakni sedikitnya 19 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, dalam konferensi pers yang disiarkan oleh Alekhbariya News pada Kamis (15/10), mengungkapkan bahwa eskalasi serangan ini merupakan bagian dari pola permusuhan yang terus meningkat sejak Juli. Menurut Al-Maliki, kelompok Houthi—yang secara luas diyakini menerima dukungan militer dan logistik dari Iran—telah menjadikan bandara sipil sebagai target utama untuk menciptakan instabilitas di wilayah Kerajaan.

Data yang dipaparkan oleh otoritas koalisi menunjukkan bahwa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran paling sering dengan total 20 serangan sejak awal Oktober. Insiden paling mematikan terjadi pada periode antara 7 hingga 11 Oktober, di mana serangan rudal yang menghantam fasilitas terminal menyebabkan 17 orang tewas dan 333 orang menderita luka-luka. Serangan ini menandai eskalasi drastis dalam konflik Yaman yang telah berlangsung bertahun-tahun, di mana infrastruktur sipil kini menjadi medan tempur utama.

Selain Riyadh, Bandara Internasional Abha yang terletak di wilayah Asir, bagian barat daya Arab Saudi, juga menjadi sasaran fatal. Di lokasi ini, dua orang dilaporkan tewas dan 28 orang lainnya mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil. Tidak berhenti di situ, serangan Houthi juga menyasar Bandara Internasional King Abdullah di Jazan, yang mengakibatkan tiga orang terluka. Bandara Internasional King Fahd di Dammam juga sempat menjadi target, meski beruntung tidak ada korban jiwa yang dilaporkan di lokasi tersebut. Secara total, terdapat setidaknya lima bandara sipil utama di Saudi yang telah menjadi sasaran serangan sejak 5 Oktober.

Peningkatan frekuensi serangan ini tidak lepas dari dinamika konflik di Yaman yang kian memanas. Koalisi pimpinan Arab Saudi, yang memberikan dukungan udara kepada pasukan pemerintah Yaman untuk memerangi Houthi, menilai bahwa serangan-serangan ke wilayah Saudi merupakan upaya Houthi untuk menekan posisi tawar mereka dalam konflik regional. Pasukan koalisi terus melancarkan operasi militer balasan dengan menggempur target-target strategis Houthi di wilayah Yaman sebagai bentuk pertahanan diri dan upaya untuk melumpuhkan kapasitas peluncuran rudal kelompok tersebut.

Dampak dari rentetan serangan ini tidak hanya terbatas pada korban jiwa. Gangguan besar terjadi pada lalu lintas penerbangan internasional dan domestik. Otoritas penerbangan Saudi terpaksa melakukan penyesuaian jadwal dan penutupan sementara di beberapa bandara demi keamanan penumpang dan operasional. Kerusakan properti di area terminal bandara juga menjadi catatan serius bagi otoritas Saudi, yang kini memperketat sistem pertahanan udara mereka guna mengantisipasi serangan susulan yang diprediksi masih akan berlanjut.

Pakar keamanan regional menilai bahwa penggunaan rudal jarak jauh dan drone serang oleh Houthi menunjukkan adanya peningkatan kapabilitas militer kelompok tersebut. Meskipun Houthi mengeklaim serangan ini sebagai tindakan balasan terhadap agresi koalisi, komunitas internasional memandang penargetan bandara sipil sebagai pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional. Serangan yang menyasar fasilitas publik, di mana warga sipil berada, memicu kecaman luas karena dianggap sebagai taktik teror untuk menciptakan ketakutan massal.

Konflik Yaman sendiri telah dikategorikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Perang proksi yang melibatkan berbagai aktor regional ini telah menghancurkan infrastruktur dasar Yaman dan menciptakan krisis kelaparan serta penyakit. Dengan eskalasi terbaru yang kini merembet ke wilayah Saudi, prospek perdamaian yang sempat diharapkan melalui jalur diplomasi tampak semakin menjauh. Arab Saudi, sebagai pemimpin koalisi, menegaskan komitmennya untuk terus melindungi kedaulatan wilayahnya dari ancaman rudal Houthi, sementara di sisi lain, beban kemanusiaan di Yaman terus membengkak seiring dengan berlanjutnya gempuran udara.

Situasi di lapangan kini berada dalam kondisi siaga tinggi. Sistem pertahanan udara Patriot milik Saudi dilaporkan bekerja ekstra keras setiap malam untuk mencegat rudal-rudal yang diluncurkan dari wilayah Yaman. Namun, keberhasilan Houthi dalam menembus pertahanan udara di beberapa titik menunjukkan tantangan besar dalam menjaga keamanan wilayah seluas Arab Saudi dari ancaman asimetris.

Peristiwa ini juga memicu pertanyaan mengenai efektivitas embargo senjata yang diberlakukan terhadap Yaman. Banyak pihak menyoroti perlunya tekanan diplomatik yang lebih kuat terhadap para pendukung Houthi untuk menghentikan aliran pasokan senjata yang digunakan untuk menyerang fasilitas sipil. Tanpa adanya terobosan diplomatik yang signifikan, baik dari pihak koalisi maupun kelompok Houthi, siklus kekerasan ini dikhawatirkan akan terus berlanjut, dengan warga sipil yang kembali menjadi korban utama di kedua sisi perbatasan.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan tensi. Baik Riyadh maupun kelompok Houthi masih bersikeras dengan narasi perang mereka masing-masing. Bagi warga sipil di Arab Saudi, ancaman dari langit kini menjadi kenyataan sehari-hari yang harus dihadapi, sementara bagi rakyat Yaman, situasi ini menambah lapisan penderitaan di tengah konflik domestik yang tak kunjung usai. Dunia internasional kini menanti langkah konkret dari PBB dan kekuatan besar lainnya untuk memediasi konflik ini sebelum jumlah korban jiwa akibat serangan bandara tersebut terus bertambah melampaui angka 19 orang yang tercatat di sepanjang bulan Oktober ini.

Ke depan, fokus utama otoritas Saudi diprediksi akan terbagi antara mempertahankan stabilitas ekonomi dan keamanan domestik serta melanjutkan operasi militer untuk melemahkan kemampuan serangan Houthi. Ketahanan sistem pertahanan udara akan menjadi penentu utama dalam meminimalisir dampak serangan di masa depan, sembari menanti apakah tekanan internasional mampu memaksa kelompok Houthi untuk kembali ke meja perundingan. Sampai saat itu tiba, kewaspadaan di seluruh bandara di Arab Saudi tetap berada pada level tertinggi, mengingat ancaman serangan drone dan rudal balistik tetap menjadi ancaman nyata yang membayangi setiap operasional penerbangan sipil.

Bagaimana respons Anda terhadap berita ini?

Lina Irawan

Penulis dan kontributor di Bahas Gadgets dan Teknologi.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda

Sampaikan komentar dengan santun dan patuhi pedoman komunitas situs ini. Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.