0

Di Maria: Van Gaal Bikin Saya Benci MU

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kehidupan Angel Di Maria di Manchester United, klub yang ia bela pada musim 2014-2015, nyatanya diwarnai oleh pengalaman pahit yang membuatnya merasakan kebencian terhadap klub berjuluk Setan Merah tersebut. Pengakuan mengejutkan ini diungkapkan langsung oleh bintang sepak bola asal Argentina itu dalam sebuah wawancara eksklusif dengan BBC Sport yang dirilis pada Selasa, 26 Mei 2026. Sumber utama dari ketidaknyamanan dan kebencian yang dirasakannya adalah hubungan yang memburuk dengan manajer tim saat itu, Louis van Gaal. Di Maria merasa bahwa Van Gaal tidak pernah memberikan apresiasi atau komentar positif terhadap performanya, sebuah pendekatan yang menurutnya secara konsisten berfokus pada kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di lapangan.

"Awalnya semuanya berjalan sangat baik. Semuanya berjalan lancar. Kemudian saya mulai memiliki masalah dengan Van Gaal dan dari situ semuanya berantakan," ujar Di Maria, mengenang kembali masa-masa kelamnya di Old Trafford. Keputusan Di Maria untuk bergabung dengan Manchester United pada musim panas 2014, dengan biaya transfer fantastis sebesar 59,7 juta Pound dari Real Madrid, sejatinya merupakan sebuah langkah besar dalam kariernya. Ia dikontrak selama lima tahun, sebuah durasi yang menunjukkan harapan besar klub terhadap potensinya. Namun, takdir berkata lain. Hanya dalam satu musim, ia memutuskan untuk meninggalkan Manchester United dan melanjutkan kariernya di Paris Saint-Germain. Keputusan ini, seperti yang ia jelaskan, dipicu oleh serangkaian faktor yang saling terkait, dengan dinamika hubungannya dengan Van Gaal menjadi titik krusial.

Di Maria melanjutkan, "Seperti yang saya katakan, saya memulai dengan sangat baik. Semuanya sempurna. Tapi kemudian tiba-tiba kami mulai banyak diskusi tentang semua kesalahan yang saya lakukan di lapangan. Dia tidak pernah menunjukkan kepada saya apa yang saya lakukan dengan baik, hanya hal-hal negatif, berulang-ulang. Akhirnya saya muak." Pernyataan ini menggambarkan betapa beratnya tekanan psikologis yang ia rasakan di bawah kepelatihan Van Gaal. Dibombardir hanya dengan kritik dan tanpa validasi atas performa positif, tentu saja mengikis kepercayaan diri seorang pemain. Lingkungan kerja yang negatif seperti ini dapat dengan cepat merusak motivasi dan kebahagiaan seorang atlet.

Selain masalah di lapangan, Di Maria juga mengungkapkan bahwa faktor eksternal turut memperburuk pengalamannya di Manchester. "Kehidupan di sana sangat berbeda. Hari menjadi gelap sangat cepat dan kemudian cuaca dingin mulai datang. Semuanya terus memburuk. Ada juga kasus perampokan di rumah saya," tuturnya. Manchester, dengan cuacanya yang seringkali dingin dan suram, serta insiden kriminalitas seperti perampokan yang menimpa rumahnya, menambah lapisan kesulitan dalam adaptasinya. Ia membandingkan pengalamannya di Manchester dengan Paris, di mana ia juga pernah mengalami perampokan namun tetap merasa nyaman dan memilih untuk bertahan.

"Ketika semua itu terjadi; ketika Anda tidak bermain, ketika keadaan tidak berjalan baik untuk Anda, ketika Anda memiliki masalah di dalam klub, itu akhirnya sangat memengaruhi Anda. Itu membuat saya membenci berada di sana," tegas Di Maria. Ia menyadari bahwa kombinasi dari masalah pribadi, performa yang tidak sesuai harapan, dan lingkungan klub yang tidak mendukung menciptakan situasi yang tidak dapat ia toleransi lagi. Kebencian yang ia rasakan bukan sekadar kekecewaan sesaat, melainkan akumulasi dari berbagai frustrasi yang akhirnya membentuk persepsi negatif yang mendalam terhadap klub. Prioritas utamanya adalah keluarganya, dan ketika situasi di Manchester mulai mengancam kedamaian dan kebahagiaan keluarganya, ia mengambil keputusan tegas untuk pergi.

"Saya juga pernah dirampok di Paris namun masih tinggal selama dua atau tiga tahun lagi, karena kehidupan di sana baik. Di Manchester, semuanya semakin memburuk. Saya ingin memprioritaskan keluarga saya dan itulah mengapa saya pergi." Keputusan untuk meninggalkan Manchester United pada tahun 2015 diambilnya dengan pertimbangan matang demi kesejahteraan keluarganya. Ia bahkan menolak untuk mengikuti sesi pramusim klub pada tahun 2015 demi mempercepat proses kepindahannya, memilih untuk kembali ke Argentina terlebih dahulu.

Namun, menariknya, meskipun memiliki pengalaman yang sangat negatif dan bahkan sampai merasa membenci klub, Di Maria tidak sepenuhnya menyesali keputusannya untuk bergabung dengan Manchester United. Ada beberapa alasan kuat di balik penyesalan yang minimal ini. "Tapi kalau bicara soal Premier League, suasananya, kehidupan di klub, jujur saja, saya merasa sangat senang karena ada orang-orang hebat di dalam klub yang selalu memperlakukan saya dengan baik, selalu mendukung saya dan membantu saya dalam segala hal. Untuk itu, saya bersyukur," tambahnya. Di balik masalah dengan Van Gaal, Di Maria mengakui bahwa ia menemukan aspek-aspek positif di klub, terutama dari staf lain dan para penggemar yang memberikan dukungan. Ia menghargai pengalaman bermain di liga yang paling bergengsi di dunia dan merasakan atmosfer stadion yang luar biasa.

"Itu adalah keputusan yang ingin saya buat. Saya ingin pergi ke MU. Sepak bolanya, tiba di stadion, suasananya, cinta dari para penggemar, saya tidak menyesalinya sama sekali. Bergabung dengan mereka sungguh luar biasa," jelas Di Maria. Ia menekankan bahwa motivasinya untuk bergabung dengan Manchester United tidak hanya didorong oleh faktor finansial, meskipun gaji yang ditawarkan memang sangat besar. Ada daya tarik intrinsik dari Premier League itu sendiri, termasuk gaya permainan, semangat kompetisi, dan tentu saja, gairah para pendukung. Pengalaman ini, meskipun diwarnai oleh kesulitan pribadi, tetap memberinya pelajaran berharga dan kenangan tersendiri yang ia anggap sebagai bagian dari perjalanan kariernya. Ia bersyukur atas kesempatan untuk merasakan atmosfer sepak bola Inggris yang unik, sebuah pengalaman yang menurutnya "sungguh luar biasa".