0

Curhat Jorge Martin Kena Janji Palsu Ducati: "Sudah Tandatangan Kontrak, Tapi Dibatalkan Demi Pembalap Lain"

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Jorge Martin, bintang MotoGP yang kerap dijuluki "The Martinator", akhirnya membuka tabir mengenai kekecewaan mendalamnya terhadap tim pabrikan Ducati. Dalam sebuah pengakuan yang mengejutkan, Martin secara blak-blakan mengungkapkan bahwa ia telah menjadi korban "janji palsu" dari tim Borgo Panigale. Situasi ini semakin memilukan mengingat sebelum kedatangan Marc Marquez, Martin sebenarnya telah resmi menandatangani kontrak untuk promosi ke tim pabrikan Ducati. Pengakuan ini terungkap dalam sebuah wawancara eksklusif di podcast Gypsy Tales, yang kemudian dilansir oleh Todo Circuito.

Martin menceritakan dengan detail bagaimana ia pernah berada di ambang mimpi untuk mengenakan seragam tim pabrikan Ducati Lenovo. "Itu sangat berat," ujarnya, menggambarkan betapa terpukulnya ia saat itu. "Saya sebenarnya sudah menandatangani kontrak untuk musim 2023 di atas motor pabrikan (Ducati Lenovo). Namun di satu titik, mereka berkata kepada saya, ‘Oke, kamu tidak jadi ke sana. Kami tidak menginginkanmu. Kami ingin pembalap lain.’" Ungkapan Martin yang dikutip dari Gypsy Tales pada Kamis, 18 Juni 2026, ini mengindikasikan adanya sebuah keputusan sepihak yang membatalkan kesepakatan yang seharusnya sudah mengikat. Ia menambahkan, "Saya sudah tanda tangan saat itu, dan saya rasa tidak ada satu pun orang yang tahu soal ini."

Kontrak yang telah ditandatangani tersebut, ironisnya, menjadi sekadar lembaran kertas kosong karena dibatalkan secara unilateral oleh pihak Ducati. Rasa kecewa yang mendalam tentu menyelimuti Martin. Namun, sebagai seorang profesional, ia terpaksa menerima keadaan dan menyepakati untuk tetap bertahan bersama tim satelit Prima Pramac Racing, dengan jaminan mendapatkan motor dengan spesifikasi pabrikan. Keputusan ini, meskipun berat, ia ambil demi kelangsungan karirnya di MotoGP.

Namun, nasib pahit kembali menghampirinya pada musim berikutnya. Setelah berhasil mengukir prestasi luar biasa dengan meraih gelar runner-up dunia pada musim 2023, bahkan bertarung sengit hingga seri terakhir penentuan, Ducati kembali memberinya secercah harapan untuk promosi ke tim utama. Lagi-lagi, harapan tersebut pupus di tengah jalan. Keputusan yang telah diberikan sebelumnya kembali diubah, meninggalkan Martin dalam kekecewaan yang berulang.

Situasi ini membuat rider asal Madrid tersebut merasa sangat kecewa dan prihatin dengan cara manajemen tim-tim besar memperlakukan para pembalap mereka. "Kontrak tidak ada artinya bagi pabrikan besar. Mereka hanya mempermainkan para pebalap, tidak diragukan lagi. Padahal kami sudah memberikan 100 persen di lintasan," sindirnya dengan tegas, merujuk pada pebalap bernomor start #89 tersebut. Ia merasa bahwa komitmen dan performa di lintasan tidak selalu menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan strategis tim.

Martin menyadari bahwa ada faktor-faktor non-teknis dan magnet komersial yang sangat kuat yang tidak dapat ia lawan, terutama ketika dihadapkan pada kehadiran seorang Marc Marquez. Nama besar dan daya tarik Marc Marquez terbukti menjadi faktor penentu yang mampu mengubah arah kebijakan di markas besar Ducati di Borgo Panigale. "Marquez adalah satu-satunya pebalap yang bisa menghalangi saya bergabung dengan tim pabrikan. Nama Marquez memiliki bobot yang sangat besar, dan jika dia menginginkan motor itu, dia akan mendapatkannya," ungkap Martin dengan nada pasrah namun penuh keyakinan.

Ia bahkan menyamakan nasib tragisnya dengan pembalap Formula 1, Carlos Sainz, yang harus merelakan kursinya di tim Ferrari demi Lewis Hamilton. "Ketika memikirkannya, saya juga teringat Carlos Sainz ketika dia kehilangan kursinya karena Hamilton. Bagaimanapun, dia adalah juara dunia tujuh kali. Tidak ada yang bisa saya lakukan. Jadi situasi ini kurang lebih sama," tegas pebalap asal Spanyol tersebut. Perbandingan ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh nama besar dan sejarah seorang pembalap dalam dunia balap motor maupun mobil, yang terkadang dapat mengalahkan prestasi atau kontrak yang sudah ada.

"Saat itu saya memimpin kejuaraan dengan selisih 40 poin. Hanya itu hal yang bisa saya kendalikan. Tapi ada faktor lain yang tidak bisa saya lawan," lanjut Martin, menekankan bahwa meskipun performanya di lintasan sangat gemilang, ada kekuatan eksternal yang lebih besar yang memengaruhi keputusannya. Ia mengakui bahwa keputusan Ducati untuk memilih Marquez daripada dirinya adalah keputusan yang sangat sulit bagi tim, namun pada akhirnya, daya tarik komersial dan historis Marquez tidak dapat ditolak.

Martin menyadari akhir dari perjalanannya bersama Ducati pada saat gelaran Grand Prix Italia 2024. Momen di Sirkuit Mugello tersebut menjadi titik balik penting dalam karirnya. Keputusan untuk pindah ke tim Aprilia, meskipun datang dari situasi yang mengecewakan, justru menjadi bahan bakar motivasi baru baginya. Momen di Mugello itu mengubah pendekatannya, mendorong Martin untuk tampil lebih lepas dan memberikan segalanya di sisa balapan musim tersebut. "Keputusan atau momen di Mugello 2024 itu membantu saya untuk berkata: ‘Oke, ini sudah selesai. Saya akan ke Aprilia. Terserahlah. Ayo, mari tampil habis-habisan musim ini.’ Dan berkat hal itu, saya berhasil memenangkan kejuaraan," ucap Martin, menutup kisahnya dengan nada optimis dan penuh semangat.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi Jorge Martin mengenai dinamika kompleks dalam dunia balap profesional, di mana kontrak dan performa di lintasan terkadang harus bersaing dengan faktor-faktor lain yang lebih besar. Namun, ia membuktikan bahwa dengan ketangguhan mental dan tekad yang kuat, ia mampu bangkit dari kekecewaan dan meraih kesuksesan di bawah bendera baru.