Dalam sebuah pengungkapan yang menarik perhatian dunia teknologi, John Ternus, CEO Apple, baru-baru ini membuka tirai di balik pengembangan salah satu produk terobosan terbaru perusahaan: iPhone Duo. Ponsel layar lipat pertama dari Apple ini tidak hanya berhasil menembus pasar dan menarik perhatian global, tetapi juga mendapat pengakuan prestisius dengan masuknya dalam daftar "Penemuan Terbaik Tahun 2026" yang dirilis oleh Majalah TIME. Ternus sendiri menjadi bintang sampul edisi khusus tersebut, memberikan wawasan mendalam tentang perjalanan panjang dan penuh tantangan di balik inovasi yang kini siap mengubah lanskap industri smartphone.
Pengakuan dari TIME Magazine bukan sekadar formalitas; ini adalah validasi atas upaya bertahun-tahun Apple untuk menyempurnakan teknologi layar lipat. iPhone Duo, yang kini telah tersedia untuk dipesan melalui pre-order, menandai langkah besar Apple ke segmen pasar yang sudah lebih dulu diramaikan oleh para pesaingnya. Meskipun terkesan terlambat jika dibandingkan dengan vendor lain yang sudah meluncurkan ponsel lipat generasi awal di akhir tahun 2010-an, keterlibatan Ternus dalam pengembangan perangkat layar lipat ternyata sudah dimulai jauh lebih awal, yakni sejak lima belas tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa Apple tidak terburu-buru, melainkan mengambil pendekatan yang matang dan berorientasi pada kesempurnaan.
Dalam wawancara eksklusifnya dengan majalah TIME, Ternus mengungkap fakta mengejutkan yang mendasari keberadaan iPhone Duo. Ia bercerita bahwa pada tahun 2011, bersama dengan lima orang insinyur Apple lainnya, ia telah mengajukan permohonan paten untuk perangkat elektronik yang memiliki kemampuan untuk dilipat. Pada masa itu, ide tentang ponsel yang bisa ditekuk mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah bagi banyak orang, namun Ternus dan timnya sudah mulai menjajaki kemungkinan teknisnya. Mereka menyelidiki jenis baterai apa yang mungkin diperlukan untuk mendukung mekanisme lipat, serta bagaimana circuit board yang kompleks dapat dirancang agar tetap berfungsi optimal dalam desain yang fleksibel. Visi ini adalah bukti nyata dari pemikiran jauh ke depan yang selalu menjadi ciri khas Apple.
"Terasa jelas bahwa pada akhirnya kita akan sampai pada titik di mana display OLED akan menjadi fleksibel," kata Ternus kepada TIME, seperti dikutip dari 9to5Mac pada Jumat (16/10/2026). Pernyataan ini menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap potensi teknologi OLED, jauh sebelum teknologi tersebut menjadi standar industri seperti sekarang. Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar; kemampuan OLED untuk memancarkan cahaya sendiri tanpa perlu backlight memungkinkan desain yang lebih tipis dan, secara teoritis, lebih fleksibel. Namun, mewujudkan fleksibilitas itu secara praktis, dengan daya tahan dan kualitas visual yang tetap prima, adalah tantangan teknis yang sangat besar.
Ketika vendor ponsel lainnya mulai meluncurkan ponsel layar lipat generasi awal pada akhir tahun 2010-an, Ternus mengaku tidak terlalu terkesan dengan produk-produk yang beredar di pasaran. "Contoh-contoh lain di dunia terasa murahan dan jelek," ujarnya dengan blak-blakan. Kritik ini mencerminkan standar tinggi Apple dalam hal desain, kualitas material, dan pengalaman pengguna. Banyak ponsel lipat awal memang menghadapi masalah seperti engsel yang kurang kokoh, lipatan layar yang terlalu terlihat, atau daya tahan yang meragukan. Bagi Apple, meluncurkan produk yang tidak memenuhi standar keunggulan mereka bukanlah sebuah pilihan. Filosofi ini telah menjadi pilar strategi Apple selama bertahun-tahun: mereka mungkin bukan yang pertama, tetapi mereka bertekad untuk menjadi yang terbaik, atau setidaknya yang paling sempurna.
Selama proses pengembangan yang panjang dan rumit, Ternus secara konsisten mendorong timnya untuk mencurahkan lebih banyak waktu dan tenaga ke dalam proyek iPhone Duo, meskipun ponsel layar lipat lainnya sudah lebih dulu hadir di pasar. Tekanan untuk menjadi yang pertama seringkali mengarah pada kompromi kualitas, dan Ternus tampaknya ingin menghindari perangkap tersebut. Ia percaya bahwa inovasi sejati membutuhkan kesabaran dan dedikasi untuk mengatasi setiap rintangan teknis dan desain. Dorongan ini menjadi krusial dalam menciptakan produk yang tidak hanya berfungsi, tetapi juga memancarkan kualitas premium yang diharapkan dari sebuah perangkat Apple.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan ponsel layar lipat adalah meminimalisir atau bahkan menghilangkan tanda lipatan yang seringkali terlihat di tengah layar. Ini adalah masalah yang tidak hanya memengaruhi estetika, tetapi juga pengalaman visual dan daya tahan layar itu sendiri. Richard Dinch, VP of Product Design Apple, menceritakan bagaimana Ternus secara khusus mendorong timnya untuk mencari solusi inovatif untuk masalah ini. "Lalu dia berkata, ‘Dengar Rich, kamu akan tahu kapan saatnya melakukan sesuatu yang tepat.’ Dan itu memberikan kami kepercayaan diri untuk mendobrak batasan inovasi dan manufaktur, dan terbang ke penjuru dunia untuk menghubungkan seluruh pemasok kami dan akhirnya menciptakan teknologi nanotexture," kata Dinch.
Teknologi nanotexture yang disebut Dinch ini merupakan puncak dari upaya keras dan kolaborasi global. Nanotexture kemungkinan besar adalah lapisan mikroskopis yang dirancang untuk menyamarkan lipatan atau bahkan mencegahnya terbentuk secara signifikan, dengan cara memanipulasi bagaimana cahaya berinteraksi dengan permukaan layar. Ini adalah contoh konkret bagaimana visi Ternus mendorong tim untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi untuk menciptakan solusi yang benar-benar baru. Keterlibatan Ternus dalam detail desain seperti ini menunjukkan fokusnya yang kuat pada pengalaman pengguna, di mana setiap aspek, sekecil apa pun, harus sempurna. Perjalanan tim untuk menghubungkan pemasok di seluruh dunia juga menyoroti kompleksitas rantai pasokan Apple dan komitmen mereka untuk mendapatkan material dan komponen terbaik.
Wawancara dengan TIME ini juga mengungkap lebih banyak tentang gaya kepemimpinan Ternus. Ia menghabiskan masa jabatan awalnya sebagai CEO dengan fokus yang sangat kuat pada desain. Ini bukan hal yang mengejutkan, mengingat warisan Apple yang sangat mengedepankan desain sejak era Steve Jobs. Di bawah kepemimpinan Ternus, tampaknya filosofi "desain adalah segalanya" tetap menjadi inti dari setiap produk Apple. Fokus pada desain ini tidak hanya berarti estetika yang menarik, tetapi juga fungsionalitas yang intuitif dan pengalaman pengguna yang mulus, bahkan untuk teknologi yang sekompleks layar lipat.
Selain sorotan pada inovasi dan kepemimpinan, Ternus juga membagikan sisi yang lebih personal dan manusiawi dari dirinya. Ia mengaku kurang tidur menjelang peluncuran iPhone 18 series dan iPhone Duo, sebuah periode yang pastinya sangat intens dan penuh tekanan. Puncak dari ketegangan itu terekam dalam penampilannya di livestream YouTube iShowSpeed, di mana tangannya terlihat gemetar. Ini adalah momen yang jarang terlihat dari seorang CEO perusahaan teknologi raksasa, yang seringkali tampil dengan citra yang sangat terkontrol. "Saat itu saya sedang dipenuhi adrenalin, kafein, dan kegembiraan untuk hari itu," ucap Ternus, menjelaskan kondisi emosional dan fisiknya saat itu. Pengakuan ini memberikan gambaran tentang betapa besar dedikasi dan emosi yang dicurahkan dalam setiap peluncuran produk Apple, tidak hanya oleh tim, tetapi juga oleh pemimpin tertinggi perusahaan. Momen ini juga menunjukkan bahwa di balik layar kesempurnaan produk Apple, ada manusia-manusia yang bekerja tanpa henti, menghadapi tekanan luar biasa, namun juga merasakan kegembiraan yang mendalam saat visi mereka akhirnya terwujud.
Peluncuran iPhone Duo dan pengakuan dari TIME Magazine bukan hanya menandai pencapaian penting bagi Apple, tetapi juga mengukuhkan posisi John Ternus sebagai pemimpin visioner yang mampu mengarahkan perusahaan menuju era inovasi berikutnya. Dengan iPhone Duo, Apple tidak hanya memasuki pasar ponsel lipat, tetapi juga mendefinisikan ulang standar kualitas dan pengalaman pengguna dalam segmen tersebut. Perjalanan panjang dari paten di tahun 2011 hingga produk yang dirilis di tahun 2026 adalah bukti nyata dari ketekunan, keyakinan pada visi, dan komitmen tak tergoyahkan terhadap kesempurnaan yang selalu menjadi ciri khas Apple. Ini adalah kisah tentang bagaimana ide yang tampaknya mustahil, dengan waktu, dedikasi, dan kepemimpinan yang tepat, bisa menjadi kenyataan yang mengubah dunia.

Komentar (0)