0

Australia Tambah Anggaran Pelajaran Bahasa Indonesia, ‘Oke Gas’ Pun Diucap sebagai Simbol Eratnya Hubungan Bilateral

Share

Pemerintah Australia di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Anthony Albanese resmi mengambil langkah strategis untuk memperkuat jembatan budaya dan diplomatik dengan Indonesia. Melalui pengumuman yang disampaikan oleh Anggota Parlemen Australia, Tim Watts, pemerintah Partai Buruh Australia berkomitmen mengucurkan dana sebesar AUD 11,4 juta atau setara dengan Rp145 miliar khusus untuk mendukung pendidikan bahasa Indonesia di Negeri Kanguru tersebut. Langkah ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sebuah investasi jangka panjang guna memastikan bahwa generasi mendatang Australia memiliki pemahaman yang mendalam mengenai tetangga terdekatnya.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Tim Watts menekankan urgensi dari kebijakan ini. Baginya, Indonesia adalah mitra yang paling krusial bagi Australia. Ia bahkan memberikan peringatan keras bahwa tanpa adanya intervensi finansial dan kebijakan yang konkret dari pemerintah federal, eksistensi pengajaran bahasa Indonesia di institusi pendidikan Australia terancam punah pada masa jabatan parlemen berikutnya. Kekhawatiran ini didasarkan pada tren penurunan jumlah kampus dan sekolah di Australia yang menawarkan kurikulum bahasa Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Yang menarik, dalam pidato dan video yang ia bagikan, Tim Watts menunjukkan kedekatannya dengan dinamika politik Indonesia. Ia secara khusus mengucapkan frasa "Oke gas", sebuah slogan yang sangat populer dan identik dengan masa kampanye Presiden Prabowo Subianto pada 2024. Penggunaan frasa ini bukan hanya sebagai bumbu retorika, melainkan simbol semangat baru dalam meningkatkan hubungan kedua negara. Watts mengaitkan slogan tersebut dengan komitmen pemerintah federal untuk "tancap gas" dalam mempererat kerja sama dengan Indonesia, baik di bidang keamanan maupun pertukaran budaya.

Dana AUD 11,4 juta untuk pendidikan bahasa ini merupakan bagian dari paket anggaran yang lebih besar, yakni AUD 33,2 juta, yang dialokasikan untuk implementasi Perjanjian Keamanan Bersama Australia-Indonesia. Selain fokus pada bahasa, anggaran tersebut juga mencakup alokasi sebesar AUD 3,4 juta untuk pembangunan Dialog Kepemimpinan Australia-Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa Australia memandang aspek linguistik sebagai instrumen utama dalam diplomasi lunak (soft diplomacy) guna menopang kerja sama keamanan yang lebih keras dan formal.

Pentingnya bahasa dalam hubungan antarnegara menjadi narasi utama yang terus didorong oleh Watts. Ia menegaskan bahwa memahami Indonesia tidak bisa dilakukan hanya melalui jalur formalitas kenegaraan, tetapi harus melalui pemahaman mendalam terhadap bahasa dan budayanya. Oleh karena itu, pemerintah Australia tidak hanya memberikan bantuan untuk pengajaran di dalam negeri, tetapi juga menambah kuota beasiswa bagi pelajar Australia untuk datang langsung ke Indonesia. Dengan belajar bahasa di tanah kelahirannya, para pelajar Australia diharapkan tidak hanya mahir secara teknis linguistik, tetapi juga memiliki kepekaan budaya yang lebih tajam.

Dalam narasi yang dibangunnya, Watts juga bernostalgia mengenai kunjungan kerjanya ke Indonesia bulan lalu. Bersama dengan Wakil Pimpinan Senat, Richard Colbeck, ia mengunjungi Solo, Jawa Tengah, yang ia sebut sebagai hub politik dan budaya yang sangat berpengaruh. Kunjungan ini memberinya perspektif baru tentang Indonesia modern. Watts menceritakan pengalamannya bertemu dengan pemimpin-pemimpin muda, termasuk Wali Kota Solo, Respati Ardi, serta Pangeran Mangkunegara X. Pertemuan-pertemuan ini, menurutnya, memberikan pemahaman yang lebih otentik mengenai arah masa depan Indonesia yang dinamis.

Ia pun mengutip pidato bersejarah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, saat memberikan pidato di parlemen Australia pada tahun 2020. Saat itu, Jokowi menegaskan bahwa "Australia adalah sahabat paling dekat Indonesia". Mengacu pada pernyataan tersebut, Watts merasa bahwa sudah saatnya Australia membalas persahabatan tersebut dengan aksi nyata. Dengan "Oke gas", ia mengajak seluruh elemen di Australia untuk memandang Indonesia bukan sekadar sebagai tetangga geografis, melainkan sebagai mitra strategis yang masa depannya saling terikat.

Fenomena merosotnya minat belajar bahasa Indonesia di Australia memang menjadi perhatian serius bagi para pengamat hubungan internasional. Selama dekade terakhir, minat siswa Australia terhadap bahasa-bahasa Asia, termasuk Indonesia, sempat mengalami fluktuasi. Banyak sekolah yang kesulitan mempertahankan kelas bahasa Indonesia karena minimnya guru yang berkualifikasi serta kurangnya insentif bagi siswa. Dengan adanya suntikan dana segar dari pemerintah federal ini, diharapkan terjadi revitalisasi kurikulum dan peningkatan kualitas pengajaran yang lebih menarik bagi generasi Z di Australia.

Selain aspek pendidikan, investasi ini juga memiliki dimensi ekonomi. Kemampuan berbahasa Indonesia bagi warga Australia akan membuka lebih banyak peluang kolaborasi di sektor bisnis, investasi, dan riset. Mengingat Indonesia sedang gencar melakukan hilirisasi industri, seperti pengolahan nikel dan emas, tenaga kerja serta pelaku bisnis Australia yang memahami bahasa dan budaya Indonesia akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Sinergi antara kebijakan bahasa dan kerja sama ekonomi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem hubungan bilateral yang saling menguntungkan (win-win solution).

Lebih jauh lagi, langkah Australia ini memberikan pesan positif bagi kawasan Asia Pasifik. Di tengah ketegangan geopolitik yang sering terjadi di kawasan, penguatan hubungan antara Australia dan Indonesia melalui jalur pendidikan merupakan sinyal stabilitas. Dengan saling memahami melalui bahasa, prasangka-prasangka yang mungkin muncul akibat perbedaan sistem politik atau latar belakang budaya dapat diminimalisir. Bahasa, dalam konteks ini, menjadi alat utama untuk membangun kepercayaan (trust building).

Program beasiswa yang dijanjikan oleh pemerintah federal juga dirancang untuk menciptakan "duta-duta muda" yang memahami realitas Indonesia di lapangan. Saat pelajar Australia berinteraksi dengan masyarakat lokal, mereka akan belajar tentang keragaman Indonesia yang luar biasa—mulai dari kehidupan di kota-kota besar hingga tradisi di kota-kota seperti Solo. Pengalaman langsung ini jauh lebih berharga daripada apa yang bisa dipelajari di dalam ruang kelas.

Dalam jangka panjang, jika inisiatif ini berhasil, maka akan terbentuk sebuah jaringan alumni dan profesional yang memiliki ikatan emosional kuat dengan Indonesia. Mereka inilah yang nantinya akan menjadi penggerak utama dalam hubungan kedua negara, baik di sektor pemerintahan, swasta, maupun pendidikan. Tim Watts dan pemerintahan Albanese tampaknya sadar bahwa hubungan antarnegara bukan sekadar tentang tanda tangan di atas kertas perjanjian keamanan, melainkan tentang bagaimana rakyat kedua negara saling berkomunikasi dan memahami satu sama lain.

Kutipan "Oke gas" yang diucapkan Watts pun menjadi cerminan bahwa diplomasi saat ini membutuhkan sentuhan yang lebih populis dan relevan dengan perkembangan zaman. Dengan mengadopsi elemen budaya populer Indonesia ke dalam pidato formalnya, Watts berhasil menjangkau audiens yang lebih luas dan menciptakan sentimen positif di kalangan masyarakat Indonesia. Ini adalah bentuk komunikasi politik yang cerdas, yang menunjukkan bahwa Australia benar-benar menaruh perhatian besar pada Indonesia.

Sebagai penutup, kebijakan penambahan anggaran ini merupakan titik balik penting dalam diplomasi Australia-Indonesia. Dengan dukungan finansial yang masif dan kemauan politik yang kuat, bahasa Indonesia kini memiliki peluang besar untuk kembali menjadi bahasa asing yang populer di Australia. Harapannya, langkah ini akan diikuti oleh komitmen yang berkelanjutan, sehingga hubungan kedua negara tidak hanya menjadi "sahabat dekat" di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi mitra yang saling memahami, saling mendukung, dan terus melaju—atau seperti kata Watts, "Oke gas"—menuju masa depan yang lebih harmonis. Langkah ini membuktikan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan yang paling kokoh dalam membangun peradaban dan kemitraan di abad ke-21.