Rif'an Muazin
Senin, 12 Oktober 2026 | 17.41 WIB

Asap Karhutla Kalimantan Masuk Rumah, Riset: AC-Pembersih Udara Tak Cukup

Jakarta – Bagi jutaan penduduk yang berdiam di wilayah Kalimantan, ancaman asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sekadar berita musiman, melainkan realitas pahit yang merasuk hingga ke relung terdalam rumah mereka. Ironisnya, upaya perlindungan diri yang selama ini dianggap efektif, seperti menutup rapat pintu dan jendela, bahkan menyalakan pendingin ruangan (AC) atau pembersih udara, ternyata tak cukup kuat membendung invasi partikel polusi berbahaya. Sebuah riset terbaru dari Amerika Serikat mengungkap bahwa partikel polusi berukuran mikroskopis dapat menyusup melalui celah-celah terkecil bangunan dan ventilasi, menjadikan rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan, turut tercemar.

Karhutla: Sebuah Tragedi Lingkungan yang Berulang

Kondisi ini telah menjadi persoalan kronis di Kalimantan, sebuah pulau yang dikenal dengan kekayaan hutan tropisnya namun juga rentan terhadap karhutla, terutama selama musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena El Niño. Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan, bahkan masih terjadi hingga kini, menghasilkan kabut asap tebal yang tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mengancam kesehatan, khususnya anak-anak yang memiliki sistem pernapasan lebih rentan.

Sejarah mencatat bahwa karhutla di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, telah menjadi bencana berulang sejak tahun 1997-1998, dengan puncaknya pada tahun 2015 dan kembali memburuk pada tahun 2019 dan 2023. Penyebabnya kompleks, mulai dari pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan akasia, penebangan liar, hingga praktik pembakaran lahan secara tradisional yang lepas kendali. Material gambut yang tebal di bawah permukaan tanah menjadi pemicu utama asap yang sulit dipadamkan dan bertahan sangat lama, melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif dan partikel polutan yang sangat berbahaya.

Dampak karhutla meluas melampaui batas geografis Indonesia. Kabut asap transnasional seringkali menyelimuti negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, bahkan Thailand bagian selatan, memicu protes dan ketegangan diplomatik di kawasan ASEAN. Laporan Associated Press pada 9 Oktober 2023 menggambarkan bagaimana warga Kalimantan Barat masih menghadapi asap pekat setelah kebakaran berlangsung lebih dari tiga bulan, sebuah indikasi nyata bahwa masalah ini jauh dari selesai dan memerlukan perhatian serius.

Ilusi Keamanan di Dalam Rumah

Laporan tersebut secara gamblang melukiskan frustrasi warga yang merasakan asap tetap masuk ke rumah mereka meskipun segala upaya telah dilakukan untuk menutup celah pintu, jendela, dan menggunakan pembersih udara. Situasi ini menyoroti sebuah realitas yang mengkhawatirkan: paparan asap bukan semata-mata persoalan bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan. Asap kini menjadi ancaman yang mengintai di dalam privasi dan keamanan rumah, tempat yang seharusnya menjadi perlindungan utama dari bahaya luar.

Partikel polusi yang dimaksud adalah PM2.5, singkatan dari Particulate Matter 2.5. Ini adalah partikel udara yang berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Untuk memberikan gambaran, ukurannya sekitar 30 kali lebih kecil dari diameter rambut manusia. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini dengan mudah terbawa aliran udara dan masuk ke bangunan melalui celah-celah mikroskopis pada pintu, jendela, sambungan antar material bangunan, atau bahkan melalui sistem ventilasi yang tidak dirancang khusus untuk menyaring polutan sekecil itu.

Ketika konsentrasi PM2.5 di luar melonjak hingga kategori "tidak sehat" atau bahkan "berbahaya" menurut Indeks Kualitas Udara (AQI), partikel yang masuk dapat dengan cepat membuat udara di dalam rumah ikut tercemar, terkadang mencapai tingkat yang hampir sama dengan di luar. Rumah-rumah yang umumnya dirancang dengan banyak bukaan alami atau ventilasi pasif, yang bermanfaat dalam kondisi udara normal, justru memberikan sedikit perlindungan ketika udara di luar sangat tercemar.

Penelitian Oregon State University: Pembuka Mata yang Mengkhawatirkan

Gambaran ilmiah yang lebih mendalam tentang fenomena ini terungkap dalam penelitian berjudul ‘Wildfire smoke indoors: A review of infiltration risk factors and exposure mitigation strategies’. Penelitian ini secara spesifik mengukur paparan PM2.5 di Kalimantan Tengah selama periode kebakaran tahun 2023. Para peneliti, Nathan Bolden, Kiernan Kilkenny, dan Nordica MacCarty, dari Oregon State University, Oregon, Amerika Serikat, melakukan studi lapangan yang komprehensif.

Untuk mendapatkan data yang akurat, mereka memasang 13 sensor pemantau kualitas udara di sejumlah lokasi, baik di perkotaan maupun perdesaan. Sensor-sensor ini ditempatkan secara strategis untuk mengukur konsentrasi partikel PM2.5, baik di dalam maupun di luar rumah warga. Metodologi yang cermat ini memungkinkan mereka untuk membandingkan secara langsung kualitas udara di kedua lingkungan tersebut.

Hasil penelitian ini sangat mengkhawatirkan. Rata-rata konsentrasi PM2.5 di luar ruangan selama periode pengamatan mencapai 136 mikrogram per meter kubik. Angka ini jauh melampaui batas aman yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu rata-rata harian 15 mikrogram per meter kubik. Dari total konsentrasi tersebut, diperkirakan sekitar 90 mikrogram per meter kubik berasal langsung dari asap kebakaran.

Namun, temuan yang paling mengejutkan dan menjadi sorotan utama adalah rasio median konsentrasi PM2.5 di dalam dan luar rumah di wilayah perdesaan yang mencapai angka 1,01. Angka ini secara matematis berarti bahwa konsentrasi polusi PM2.5 di dalam rumah, berdasarkan pengamatan tersebut, hampir sama dengan konsentrasi di luar rumah. Ini adalah indikator kuat bahwa bangunan di wilayah tersebut memberikan perlindungan yang sangat minimal terhadap asap karhutla. Peneliti secara tegas menulis bahwa rasio tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilaporkan selama kebakaran hutan di wilayah lain di dunia, seperti Amerika Serikat, di mana rasio indoor/outdoor PM2.5 biasanya lebih rendah, menunjukkan adanya tingkat filtrasi atau penyegelan bangunan yang lebih baik.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Atmosphere pada tahun 2024 ini juga memperkirakan bahwa sekitar 1,62 juta orang di Kalimantan Tengah terpapar kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya selama musim kering yang diteliti. Angka ini menggambarkan skala masalah kesehatan masyarakat yang luar biasa besar dan memerlukan respons yang setara.

Ancaman Tak Terlihat: Mengapa PM2.5 Sangat Berbahaya

Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuatnya sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel ini dapat dengan mudah menembus jauh ke dalam saluran pernapasan, melewati mekanisme pertahanan alami tubuh, dan masuk hingga ke alveoli di paru-paru. Dari sana, PM2.5 dapat masuk ke aliran darah, menyebar ke seluruh organ tubuh, dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius.

Paparan jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, batuk, sesak napas, dan memperburuk kondisi asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Namun, paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, dan bahkan masalah neurologis. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, wanita hamil, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan atau jantung, menghadapi risiko yang jauh lebih tinggi. Pada anak-anak, paparan PM2.5 dapat mengganggu perkembangan paru-paru dan meningkatkan risiko infeksi pernapasan. Bagi ibu hamil, paparan ini berpotensi menyebabkan kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah.

AC dan Pembersih Udara: Batasan Perlindungan

Meskipun banyak orang berharap pada AC dan pembersih udara sebagai solusi, penelitian ini menegaskan bahwa perangkat tersebut memiliki batasan yang signifikan. Banyak unit AC rumah tangga hanya berfungsi untuk mendinginkan dan mengedarkan kembali udara di dalam ruangan. Mereka tidak dirancang untuk secara efektif menyaring seluruh partikel PM2.5 yang masuk dari luar. Meskipun beberapa AC modern memiliki filter, kemampuannya seringkali terbatas pada partikel yang lebih besar dan tidak mampu menangkap PM2.5 secara efisien tanpa filter tambahan yang spesifik.

Demikian pula dengan pembersih udara. Kemampuannya sangat bergantung pada beberapa faktor: jenis filter yang digunakan (filter HEPA adalah yang paling efektif untuk PM2.5), kapasitas alat terhadap luas ruangan yang harus dibersihkan, dan seberapa parah kondisi udara yang harus diatasi. Sebuah pembersih udara mungkin efektif di ruangan kecil dengan tingkat polusi sedang, tetapi akan kewalahan di ruangan besar atau ketika tingkat asap di luar sangat pekat. Selain itu, jika rumah tidak tersegel dengan baik, pembersih udara akan terus-menerus bekerja untuk membersihkan udara yang terus-mencemari dari luar, mengurangi efektivitasnya secara keseluruhan.

Ini bukan berarti perangkat tersebut tidak berguna sama sekali. Mereka tetap memberikan tingkat perlindungan tertentu dan dapat membantu mengurangi konsentrasi polutan dalam batas tertentu. Namun, pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa perlindungan yang ditawarkan oleh perangkat ini memiliki batas, dan tidak dapat sepenuhnya mengkompensasi masuknya polusi dari lingkungan luar yang ekstrem.

Solusi Jangka Panjang: Dari Desain Bangunan hingga Pengelolaan Lahan

Penelitian ini secara tegas menunjukkan bahwa persoalan paparan asap di Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah. Pendekatan ini tidak hanya tidak praktis dalam jangka panjang, tetapi juga tidak efektif. Sebaliknya, peneliti menilai bahwa perbaikan desain bangunan menjadi krusial. Desain bangunan harus lebih mampu membatasi masuknya polusi, melalui penyegelan celah-celah, penggunaan jendela dan pintu yang lebih kedap udara, serta mungkin integrasi sistem ventilasi mekanis dengan filtrasi udara yang canggih (misalnya, filter MERV-13 atau HEPA) yang dapat menciptakan tekanan positif di dalam ruangan.

Namun, upaya perbaikan desain bangunan ini harus berjalan beriringan dengan solusi fundamental untuk menekan kebakaran gambut sebagai sumber utama asap. Ini berarti penegakan hukum yang lebih kuat terhadap pelaku pembakaran lahan, restorasi lahan gambut yang terdegradasi agar tidak mudah terbakar, pengembangan praktik pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan tanpa bakar, serta penguatan kapasitas pemadaman kebakaran dan sistem peringatan dini.

Selama kebakaran masih berlangsung dan asap terus dihasilkan, udara tercemar akan terus mencari jalannya masuk ke ruang yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Dengan demikian, persoalan kesehatan akibat karhutla bukan hanya soal seberapa jauh seseorang tinggal dari titik api, melainkan juga seberapa besar paparan polusi yang akhirnya masuk ke rumahnya. Ini adalah panggilan untuk tindakan kolektif dan komprehensif, mulai dari tingkat individu dalam memperkuat rumah, hingga tingkat pemerintah dalam mencegah karhutla dan memulihkan ekosistem yang rusak. Masa depan kesehatan jutaan warga Kalimantan bergantung pada seberapa serius dan efektif kita menanggapi ancaman tak terlihat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan