BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Dalam pertandingan lanjutan Premier League yang digelar di Gtech Community Stadium pada Jumat (13/2/2026) dini hari WIB, Arsenal harus puas berbagi angka dengan Brentford setelah ditahan imbang 1-1. Hasil ini tentu menjadi pukulan bagi ambisi The Gunners untuk terus merangkak naik di klasemen. Namun, sorotan utama pasca-pertandingan justru tertuju pada penampilan mengecewakan dari salah satu rekrutan anyar mereka, Eberechi Eze. Gelandang yang didatangkan dari Crystal Palace pada bursa transfer musim panas lalu itu bahkan harus rela ditarik keluar saat jeda babak pertama, sebuah indikasi jelas bahwa perannya dalam permainan Arsenal belum memberikan kontribusi yang diharapkan.
Pertandingan antara Brentford dan Arsenal berlangsung cukup ketat, terutama di babak pertama yang berakhir tanpa gol. Memasuki babak kedua, Arsenal akhirnya berhasil memecah kebuntuan melalui gol Noni Madueke pada menit ke-61. Gol tersebut sempat memberikan harapan bagi tim tamu untuk membawa pulang tiga poin. Namun, keunggulan Arsenal hanya bertahan selama sepuluh menit. Keane Lewis-Potter berhasil menyamakan kedudukan untuk Brentford, memaksa Arsenal kembali berjuang keras di sisa waktu yang ada. Sayangnya, hingga peluit panjang dibunyikan, skor imbang 1-1 tetap bertahan, mengukuhkan Brentford sebagai tim yang cukup merepotkan bagi tim-tim besar Premier League.
Keputusan manajer Arsenal, Mikel Arteta, untuk mengganti Eberechi Eze di awal babak kedua dengan Martin Odegaard tampaknya menjadi momen krusial yang mempertegas sorotan terhadap Eze. Eks striker Inggris, Peter Crouch, yang menyaksikan jalannya pertandingan, memberikan pandangannya terkait pergantian tersebut. Menurut Crouch, penampilan Eze di babak pertama memang tidak menunjukkan performa yang diharapkan. "Ya, Eze tidak bisa menguasai bola atau membuat semua berjalan lancar, dia tidak bisa membuat semua berjalan sesuai rencana," ujar Crouch di TNT Sports. Komentarnya ini menyiratkan bahwa Eze kesulitan untuk terlibat dalam alur permainan tim dan memengaruhi momentum serangan Arsenal.
Lebih lanjut, Crouch juga menyoroti aspek defensif Eze yang dinilai kurang optimal jika dibandingkan dengan Martin Odegaard. "Secara defensif dia mungkin tidak sebagus Martin Odegaard juga, pergerakannya di lapangan tidak cepat," tambahnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Eze tidak hanya gagal memberikan kontribusi di lini serang, tetapi juga belum mampu memberikan jaminan keamanan di lini tengah Arsenal. Kecepatan pergerakan Eze yang dianggap lambat juga menjadi salah satu poin kritik yang disampaikan oleh Crouch, yang secara tidak langsung dapat menghambat transisi serangan maupun pertahanan tim.
Peter Crouch kemudian menyimpulkan kekecewaannya terhadap penampilan Eze dalam laga tersebut. "Ini mengecewakan buat Eze, dia jarang main dan tidak memberikan dampak sama sekali," katanya. Pernyataan "jarang main" mungkin merujuk pada fakta bahwa Eze belum menjadi pilihan utama secara konsisten di beberapa pertandingan terakhir, meskipun ia adalah rekrutan yang diharapkan membawa dimensi baru bagi lini tengah Arsenal. Namun, yang paling krusial adalah penilaian "tidak memberikan dampak sama sekali." Ini adalah kritik keras yang menunjukkan bahwa kehadiran Eze di lapangan tidak terasa dan tidak mampu mengubah jalannya pertandingan ke arah yang lebih positif bagi Arsenal.
Data statistik yang menyertai penampilan Eze di babak pertama semakin memperkuat klaim tersebut. Gelandang berusia 27 tahun itu tercatat hanya menyentuh bola sebanyak 17 kali sepanjang 45 menit pertama. Jumlah sentuhan bola yang minim ini merupakan indikator yang sangat kuat bahwa Eze kesulitan untuk terlibat dalam permainan tim. Dalam sepak bola modern, seorang gelandang sentral diharapkan untuk menjadi poros permainan, menghubungkan lini pertahanan dan lini serang, serta mendistribusikan bola. Dengan hanya 17 sentuhan bola, jelas bahwa Eze tidak mampu menjalankan peran tersebut secara efektif.
Lebih jauh lagi, performa Eze tampaknya mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam beberapa pertandingan terakhir. Catatan pribadinya menunjukkan bahwa setelah berhasil mencetak hat-trick yang mengesankan ke gawang Tottenham Hotspur pada bulan November lalu, Eze belum mampu mencetak gol maupun memberikan assist di Premier League. Penurunan performa yang drastis ini tentu menjadi perhatian serius bagi staf pelatih Arsenal. Hat-trick melawan rival sekota seperti Tottenham memang sempat mengangkat profil Eze dan memberikan harapan besar akan kontribusinya. Namun, inkonsistensi yang terjadi setelahnya menimbulkan pertanyaan mengenai adaptasinya dengan taktik tim atau mungkin adanya masalah lain yang belum terungkap.
Kekecewaan terhadap penampilan Eberechi Eze dalam laga melawan Brentford bukanlah sebuah insiden terisolasi, melainkan sebuah pola yang mulai terlihat dalam beberapa penampilannya. Sebagai pemain yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi, terutama mengingat nilai transfernya, performa yang minim dampak seperti ini tentu tidak bisa diabaikan. Mikel Arteta dan tim pelatih Arsenal kini dihadapkan pada tugas untuk menganalisis secara mendalam faktor-faktor yang menyebabkan penurunan performa Eze. Apakah ini masalah taktis, fisik, mental, atau adaptasi dengan lingkungan baru, perlu segera diidentifikasi agar Arsenal dapat memaksimalkan potensi pemain yang mereka miliki.
Potensi yang dimiliki Eberechi Eze tidak dapat diragukan lagi. Kemampuannya dalam dribbling, visi bermain, dan tendangan jarak jauh pernah ia tunjukkan dengan gemilang di klub sebelumnya. Namun, mentransfer potensi individu ke dalam sebuah sistem tim yang solid adalah tantangan tersendiri. Di Arsenal, ia harus mampu beradaptasi dengan gaya permainan yang diinginkan oleh Mikel Arteta, yang seringkali menuntut pergerakan tanpa bola yang cerdas, pressing yang intens, dan kemampuan untuk berkombinasi dengan rekan setim secara efektif. Jika ia terus kesulitan untuk menunjukkan dampak positif di lapangan, posisinya dalam skuad utama Arsenal bisa terancam.
Situasi ini juga menjadi pelajaran bagi Arsenal dalam proses rekrutmen mereka. Meskipun Eze memiliki kualitas individu yang mumpuni, tidak semua pemain dapat langsung bersinar di klub baru, terutama di kompetisi sekeras Premier League. Faktor adaptasi budaya, bahasa, dan tuntutan taktis yang berbeda seringkali menjadi penghalang. Oleh karena itu, evaluasi yang mendalam sebelum merekrut pemain, serta dukungan yang memadai setelah kedatangan mereka, menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan transfer.
Pertandingan melawan Brentford ini menjadi sebuah peringatan dini bagi Arsenal. Hasil imbang yang diraih bukanlah hasil yang ideal, dan performa individu Eberechi Eze yang minim kontribusi semakin menambah daftar pekerjaan rumah bagi Mikel Arteta. Para penggemar Arsenal tentu berharap agar gelandang yang mereka elu-elukan ini dapat segera menemukan kembali performa terbaiknya dan memberikan dampak yang signifikan bagi tim di sisa musim ini. Jika tidak, sorotan dan kritik terhadapnya kemungkinan akan terus berlanjut, dan posisinya di skema permainan Arsenal akan semakin dipertanyakan. Masa depan Eze di Emirates Stadium tampaknya akan sangat bergantung pada kemampuannya untuk bangkit dari keterpurukan ini dan membuktikan bahwa ia adalah investasi yang berharga bagi The Gunners.

