0

Alya Rohali Terapkan Tough Love Mendidik Ketiga Putrinya, Dorong Kemandirian Bakat hingga Lepas Campur Tangan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kedekatan aktris sekaligus mantan Puteri Indonesia, Alya Rohali, dengan putrinya, Diarra Annisa Rachbibi, telah mencuri perhatian publik. Dalam berbagai kesempatan, Alya tak segan berbagi mengenai filosofi dan metode pengasuhan yang ia terapkan untuk ketiga buah hatinya: Adjani, Savannah, dan Diarra. Pendekatan Alya terbilang dinamis, mencerminkan perpaduan antara kelembutan dan ketegasan yang ia sebut sebagai tough love. "Aku sih jujur kadang-kadang menerapkan tough love. Ya harus, untuk yang terbaik. Mungkin kadang-kadang sedikit VOC juga ada sebagai ibu karena somehow dalam parenting kita harus fleksibel. Ada waktunya lembut, mendengarkan, berempati, dan sebagainya," ungkap Alya Rohali saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, pada Kamis (23/7/2026). Fleksibilitas ini menjadi kunci, karena Alya menyadari bahwa setiap anak dan setiap situasi membutuhkan respons yang berbeda dari orang tua.

Waktu berlalu begitu cepat, dan kini ketiga putri Alya telah beranjak dewasa, membawa kebanggaan tersendiri bagi sang ibu. Di antara ketiganya, Diarra Annisa Rachbibi seringkali disebut sebagai putri yang paling memiliki kemiripan dengan Alya, baik dari segi fisik maupun bakat. Pengakuan ini datang tidak hanya dari Alya sendiri, tetapi juga dari lingkungan terdekatnya. "Iya, memang time flies, cepat banget. Jadi memang kalau aku punya tiga anak perempuan, dari segi fisik memang ada yang bisa dibilang paling mirip aku. Banyak yang bilang, ‘Ini fotokopinya lo banget nih’," tutur Alya dengan senyum bangga. Kemiripan fisik ini bahkan diamini oleh teman-teman Alya semasa remaja, yang takjub melihat bagaimana Diarra mewarisi paras ibunya.

Lebih dari sekadar kemiripan fisik, Alya juga melihat bahwa Diarra mewarisi minat dan bakat yang serupa dengannya, terutama dalam bidang komunikasi. Kemampuan Diarra dalam berbicara di depan umum dan public speaking dinilai sangat baik, sebuah kualitas yang mengingatkan Alya pada masa mudanya ketika ia aktif di dunia kontes kecantikan. "Apalagi teman-teman masa remaja aku juga bilang begitu. ‘Ini kok kecil banget, tapi ternyata minat dan bakatnya juga sama’. Her ability juga ada yang sama. Maksudnya, dia bisa tampil di depan banyak orang, kemudian kemampuan public speaking-nya juga lumayan bagus," jelas Alya. Perpaduan antara kecantikan paras dan talenta komunikasi ini membuat Diarra menjadi sosok yang menonjol, dan banyak yang melihatnya sebagai penerus jejak sang ibu.

Namun, meskipun melihat potensi besar dalam diri Diarra, Alya Rohali memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan pengembangan bakat putrinya. Sikap ini terlihat jelas ketika Diarra memutuskan untuk mengikuti ajang Abang None Jakarta Barat 2026. Alya memberikan ruang seluas-luasnya bagi Diarra untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kemampuannya secara mandiri. "Aku kan sudah jauh banget, aku sudah tahun 1994 menjadi None Jakarta Barat. Jadi sudah nggak terlalu berkecimpung dengan dunia yang sekarang. Aku juga nggak terlalu banyak mendapat laporan. Aku benar-benar melepas dia. Kami lihat saja, ya sudah, kamu silakan grow sendiri. Aku nggak terlalu banyak interfere," tegas Alya. Keputusan ini menunjukkan keyakinan Alya pada kemampuan Diarra untuk belajar, tumbuh, dan menemukan jalannya sendiri, tanpa beban atau intervensi berlebih dari orang tua.

Filosofi tough love yang dipegang Alya Rohali bukan berarti ia mengabaikan aspek emosional dalam pengasuhan. Sebaliknya, ia memahami pentingnya keseimbangan. Ia meyakini bahwa seorang ibu tidak selalu harus bersikap lembut, tetapi juga perlu menunjukkan ketegasan ketika situasi menuntutnya. Ketegasan ini bukan untuk menghukum, melainkan untuk membimbing dan menanamkan nilai-nilai penting yang akan membentuk karakter anak menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab. Fleksibilitas ini memungkinkan Alya untuk merespons kebutuhan emosional anak-anaknya dengan cara yang paling sesuai, menciptakan lingkungan yang aman namun juga menantang untuk pertumbuhan mereka.

Alya Rohali, dengan pengalaman hidupnya sebagai mantan Puteri Indonesia dan seorang ibu dari tiga anak perempuan, memiliki perspektif unik mengenai dinamika keluarga dan pengasuhan. Ia menyadari bahwa peran ibu terus berkembang seiring dengan bertambahnya usia anak. Jika dulu ia mungkin lebih banyak terlibat dalam tugas-tugas dasar pengasuhan, kini fokusnya bergeser pada pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai moral, dan dukungan terhadap aspirasi pribadi anak. Dalam kasus Diarra, Alya tidak hanya melihat potensi dalam bidang yang pernah ia geluti, tetapi juga menghargai minat dan passion yang dimiliki putrinya. Ini adalah bentuk dukungan yang matang, di mana orang tua tidak memaksakan kehendaknya, tetapi menjadi fasilitator bagi perkembangan diri anak.

Proses mendidik anak, terutama di era digital seperti sekarang, tentu memiliki tantangan tersendiri. Alya Rohali, meskipun tidak secara eksplisit membahas detail tantangan tersebut, tersirat dalam pernyataannya mengenai fleksibilitas dan tough love. Ia kemungkinan besar harus beradaptasi dengan berbagai isu yang dihadapi remaja masa kini, mulai dari penggunaan media sosial, pergaulan, hingga tekanan akademis dan sosial. Dengan menerapkan pola asuh yang tidak kaku, Alya memberikan ruang bagi anak-anaknya untuk membuat keputusan, belajar dari kesalahan, dan membangun kemandirian. Ini adalah bekal penting yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Pernyataan Alya mengenai kemiripan Diarra yang "fotokopinya lo banget" juga bisa diartikan lebih dalam. Kemiripan ini bukan hanya soal fisik, tetapi mungkin juga tentang semangat, ketekunan, dan cara pandang terhadap kehidupan. Jika Diarra memiliki minat dan bakat yang sama di bidang komunikasi, ini menunjukkan bahwa nilai-nilai dan pola pikir yang ditanamkan Alya telah meresap dengan baik. Kemampuan public speaking yang baik, misalnya, adalah aset berharga yang dapat membuka banyak pintu di masa depan, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi. Alya, sebagai seorang yang pernah sukses di panggung publik, tentu memahami betul pentingnya keterampilan ini.

Keputusan Alya untuk tidak terlalu banyak mengintervensi proses Diarra dalam ajang Abang None Jakarta Barat 2026 juga patut diapresiasi. Di era di mana banyak orang tua cenderung terlalu protektif atau justru ambisius terhadap pencapaian anak, Alya memilih pendekatan yang lebih santai namun tetap suportif. Ia tidak memberikan tekanan berlebih, tetapi memberikan kepercayaan penuh pada Diarra untuk menjalani pengalamannya. Ini adalah bentuk pemberdayaan yang sangat penting bagi perkembangan psikologis anak. Dengan begitu, Diarra akan belajar untuk bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dan merasakan kepuasan atas pencapaian yang diraihnya melalui usaha pribadi.

Lebih jauh lagi, Alya Rohali tampaknya telah merumuskan strategi pengasuhan yang berfokus pada penanaman kemandirian dan kepercayaan diri pada anak-anaknya. Ia memberikan fondasi yang kuat melalui nilai-nilai keluarga dan dukungan emosional, namun juga memberikan kebebasan untuk bereksplorasi dan menemukan jati diri. Dalam konteks ajang Abang None, ini berarti Diarra didorong untuk tampil dan menunjukkan kemampuannya tanpa merasa terbebani oleh ekspektasi ibunya. Keberhasilan atau kegagalan dalam kompetisi tersebut akan menjadi pelajaran berharga bagi Diarra, yang akan membantunya tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bijaksana.

Perjalanan Alya Rohali sebagai ibu dari tiga anak perempuan adalah cerminan dari bagaimana orang tua modern dapat menyeimbangkan peran mereka. Ia bukan hanya ibu yang penyayang dan suportif, tetapi juga pembimbing yang tegas ketika diperlukan. Tough love yang ia terapkan adalah manifestasi dari cinta yang mendalam, yang didasari oleh keinginan untuk melihat anak-anaknya tumbuh menjadi individu yang berdaya, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan kepala tegak. Dedikasinya untuk memberikan ruang bagi pertumbuhan mandiri, seperti yang ia lakukan pada Diarra, adalah bukti kebijaksanaan dan kedewasaan dalam mengasuh generasi penerus.