BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Menjadi anak dari figur publik, apalagi yang memiliki nama besar seperti aktris senior dan presenter kondang Alya Rohali, kerap kali diidentikkan dengan bayang-bayang ekspektasi tinggi dari masyarakat. Tekanan untuk mengikuti jejak sang ibu, menyamai pencapaiannya, atau bahkan melampauinya, bisa menjadi beban tersendiri bagi seorang anak. Namun, pemandangan berbeda justru terlihat pada Diarra Annisa Rachbini, putri semata wayang Alya Rohali. Alih-alih merasa terbebani, Diarra justru menjadikan nama besar ibundanya sebagai sumber motivasi untuk terus berkembang dan menemukan jati dirinya.
Diarra dengan lugas mengungkapkan bahwa ia tidak pernah merasakan adanya tekanan atau beban yang berarti terkait dengan status ibundanya. Baginya, nama Alya Rohali bukan merupakan sebuah batasan, melainkan cambuk untuk terus berjuang dan memberikan yang terbaik. "Kalau pressure, sebenarnya aku nggak pernah ngerasa seperti itu. Dari dulu justru aku menjadikannya sebagai motivasi," ujar Diarra saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7/2026). Pernyataan ini menggarisbawahi kedewasaan Diarra dalam menyikapi sorotan publik yang melekat pada dirinya. Ia memahami bahwa ketenaran ibunya adalah sebuah fakta yang tidak bisa dihindari, namun ia memilih untuk mengubah persepsi tersebut menjadi energi positif.
Lebih lanjut, Diarra menekankan bahwa Alya Rohali sendiri tidak pernah menuntut putrinya untuk mengikuti jejak karier yang sama atau bahkan menyamai rekam jejak kesuksesan yang telah diraih oleh ibunya. Sebaliknya, Alya Rohali senantiasa mengajarkan dan mendorong Diarra untuk memiliki karakter dan identitasnya sendiri. "Mama juga nggak pernah bilang kalau aku harus jadi seperti beliau. Yang selalu Mama bilang adalah aku harus jadi diri sendiri, punya karakter sendiri," jelas Diarra. Ajaran ini menunjukkan betapa bijaksananya Alya Rohali dalam mendidik putrinya, memberikan ruang bagi Diarra untuk tumbuh sesuai dengan potensi dan minatnya tanpa bayang-bayang sang ibu. Meskipun demikian, Diarra tidak menampik bahwa banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan dari ibundanya. Namun, ia menegaskan bahwa setiap pelajaran tersebut akan selalu ia jalani dan terapkan dengan caranya sendiri, sesuai dengan kepribadiannya. "Memang banyak hal yang aku pelajari dari Mama, tapi tetap aku jalani dengan caraku sendiri," tambahnya.
Keputusan Diarra untuk mengikuti ajang pemilihan Abang None Jakarta Barat pada tahun 2026, ketika usianya baru menginjak 18 tahun, menjadi salah satu momen yang menarik untuk disorot. Awalnya, Alya Rohali justru menyarankan agar Diarra lebih memprioritaskan dan fokus pada penyelesaian pendidikannya terlebih dahulu. "Sebenarnya karena aku masih 18 tahun, Mama memang sempat bilang, ‘Kuliah dulu aja’," ungkap Diarra. Keputusan ini memang menunjukkan adanya sedikit perbedaan pandangan awal antara ibu dan anak, namun hal ini justru menunjukkan dinamika hubungan yang sehat dan saling menghargai. Diarra sendiri juga sempat mempertimbangkan saran ibundanya. Namun, dorongan dari dalam dirinya untuk mencoba hal baru pada momen yang tepat akhirnya membuatnya mengambil keputusan. "Aku juga sempat kepikiran hal yang sama, tapi di saat yang bersamaan, aku merasa ini waktu yang tepat karena kebetulan lagi libur kuliah," jelas Diarra, menunjukkan bahwa ia juga mempertimbangkan aspek praktis dan timing dalam setiap keputusannya.
Dalam kesempatan yang sama, Alya Rohali turut berbagi pandangannya mengenai kesamaan sifat yang dimiliki dirinya dan Diarra. Salah satu kesamaan yang paling mencolok adalah dalam urusan penampilan. Keduanya memiliki perhatian yang tinggi terhadap detail, mulai dari pemilihan busana, sentuhan riasan wajah, hingga tatanan rambut sebelum beraktivitas di luar rumah. "Kita berdua lagi-lagi. Iya, aku. Maksudnya kalau aku tuh fashionista, jadi makeup, pakaian, rambut, semuanya harus terlihat bagus. Everything has to be nice. Kalau mau keluar, misalnya pilih-pilih juga. Harus tetap rapi dan sesuai," ujar Alya Rohali sambil tertawa, mengkonfirmasi kesamaan tersebut. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa sisi fashionista dan perhatian terhadap penampilan adalah sebuah warisan yang mengalir dalam darah keluarga mereka, namun tetap dijalani dengan cara masing-masing.
Lebih mendalam, presenter berusia 49 tahun itu menjelaskan alasan di balik kekhawatirannya saat Diarra memutuskan untuk mengikuti ajang Abang None Jakarta Barat 2026. Kekhawatiran tersebut ternyata berangkat dari pengalaman pribadinya ketika pertama kali mengikuti ajang serupa di masa mudanya. Alya Rohali menceritakan bahwa pada saat itu, ayahnya memiliki keinginan yang kuat agar dirinya lebih fokus pada pendidikan. Oleh karena itu, ia merasa perlu untuk membuktikan bahwa aktivitas di luar akademik, seperti mengikuti ajang kontes, tidak harus mengorbankan prestasi akademiknya. "Mungkin pressure yang paling terasa justru karena di keluarga, aku orang pertama yang ikut ajang seperti ini. Papa sebenarnya bukan nggak mendukung, tapi beliau lebih ingin aku fokus sekolah dan kuliah dulu," jelas Alya Rohali. Pengalaman inilah yang kemudian membuat Alya Rohali sedikit khawatir ketika Diarra mengambil langkah yang serupa. Ia tidak ingin Diarra mengalami hambatan yang sama atau bahkan merasa terbebani oleh ekspektasi yang ada.
Alya Rohali sangat memahami bahwa menjadi anak dari figur publik bisa membawa konsekuensi yang beragam. Namun, ia berusaha untuk tidak menularkan beban tersebut kepada Diarra. Sebaliknya, ia ingin Diarra merasakan kebebasan untuk mengeksplorasi dirinya sendiri dan menemukan jalannya sendiri. "Makanya aku pengin membuktikan kalau ikut Abang None bukan berarti prestasi akademik jadi terganggu," tambahnya, merujuk pada pengalamannya sendiri dan harapannya agar Diarra dapat melalui proses tersebut dengan baik dan tanpa hambatan yang berarti. Dukungan Alya Rohali terhadap Diarra, meskipun sempat ada sedikit kekhawatiran awal, menunjukkan betapa ia adalah ibu yang suportif dan memprioritaskan kebahagiaan serta perkembangan putrinya. Ia memberikan kebebasan bagi Diarra untuk belajar dari pengalamannya sendiri, sambil tetap memberikan bimbingan yang konstruktif.
Hubungan antara Alya Rohali dan Diarra Annisa Rachbini ini menjadi contoh menarik tentang bagaimana seorang anak dari figur publik dapat menavigasi dunia dengan caranya sendiri. Dengan dukungan orang tua yang tepat, dan kemampuan untuk mengubah potensi tekanan menjadi motivasi, Diarra mampu membangun identitasnya sendiri tanpa harus merasa terbebani oleh nama besar ibundanya. Ia membuktikan bahwa kesuksesan bukanlah tentang meniru, melainkan tentang menemukan dan mengembangkan potensi diri yang unik. Pengalaman Diarra ini juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang berada dalam situasi serupa, menunjukkan bahwa bayang-bayang orang tua yang sukses bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bisa menjadi titik awal untuk meraih kesuksesan versi diri sendiri. Keberanian Diarra untuk menjalani hidupnya dengan caranya sendiri, sambil tetap menghargai warisan dan pelajaran dari ibundanya, adalah kunci utama yang membuatnya tampil bersinar dengan kepribadiannya yang otentik.

