BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Keputusan artis Sarwendah untuk meninggalkan rumah lamanya dan menempati hunian baru akhirnya terkuak, mengungkap serangkaian permasalahan pelik yang memaksa dirinya mengambil langkah drastis demi ketenangan dan keamanan keluarganya. Keputusan besar ini bukan lahir dari keinginan semata, melainkan buah dari rentetan masalah yang kompleks, mulai dari sengketa harta gono-gini yang belum usai, ancaman lelang dari pihak bank terkait utang yang belum terselesaikan, hingga insiden gangguan keamanan yang meresahkan, terutama bagi anak-anaknya.
Chris Sam Siwu, tim kuasa hukum Sarwendah, secara gamblang membeberkan fakta mengejutkan di balik aset rumah yang sebelumnya sempat menjadi bagian dari kesepakatan pembagian harta gono-gini. Menurut penuturannya, aset yang diserahkan kepada kliennya ternyata tidak dalam kondisi bersih, melainkan masih terbelit utang yang jumlahnya terbilang fantastis kepada pihak bank. Kondisi ini sangat kontras dengan aset yang justru diterima oleh pihak Ruben Onsu, mantan suami Sarwendah. "Ternyata yang diberikan kepada klien kami ini bermasalah di bank, yang nilainya cukup fantastis. Klien kami tidak mau terseret lagi dengan pusaran itu, klien kami dengan finansial yang sudah mandiri, ya, klien kami lebih baik untuk pindah. Untuk mencari apa? Mencari kebahagiaan dengan anak-anak," ujar Chris Sam Siwu saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa keputusan pindah bukan sekadar mencari tempat tinggal baru, tetapi sebuah langkah strategis untuk melepaskan diri dari beban finansial dan potensi masalah hukum yang membelit rumah lama.
Kondisi rumah lama tersebut semakin tidak kondusif dan menimbulkan rasa was-was yang mendalam bagi Sarwendah. Munculnya ancaman penyitaan aset dan rencana lelang oleh pihak bank akibat kewajiban pembayaran utang yang belum dipenuhi, menciptakan ketidakpastian finansial yang signifikan. Namun, masalah finansial bukan satu-satunya pemicu kekhawatiran. Faktor keamanan menjadi pertimbangan krusial yang tidak bisa diabaikan, terutama demi melindungi anak-anaknya dari potensi ancaman. Pada tanggal 11 Juli lalu, sebuah insiden yang terekam oleh kamera CCTV di rumah tersebut menunjukkan adanya sejumlah pria yang diduga sebagai debt collector mendatangi kediaman Sarwendah pada malam hari. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mencari seseorang yang ternyata sudah tidak lagi menempati rumah tersebut. Kejadian ini tentu saja menimbulkan rasa takut dan ketidaknyamanan, mengingat kehadiran orang asing yang berpotensi mengancam keselamatan di tengah malam.
"Situasi-situasi yang tidak aman seperti ini yang tidak baik bagi anak-anak. Klien kami lebih memilih untuk pengin hidup tenang saja, pengin hidup tidak lagi dikait-kaitkan bahwa klien kami numpang segala macam. Ya itu menurut saya karena ada provokasi dan karena ada framing-framing tidak benar," tambah Chris Sam Siwu. Pernyataannya ini mengindikasikan adanya dugaan provokasi dan upaya pembentukan opini publik yang tidak sehat terkait status Sarwendah di rumah tersebut. Sarwendah, sebagai seorang ibu, tentu memprioritaskan rasa aman dan ketenangan bagi buah hatinya di atas segalanya. Keputusan untuk pindah adalah manifestasi dari upaya melindungi mereka dari dampak negatif konflik orang tua serta potensi bahaya yang mungkin timbul dari situasi finansial yang tidak stabil dan kehadiran pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
Proses perpindahan ini diakui oleh Sarwendah sendiri sebagai momen yang cukup berat dan membutuhkan perjuangan tersendiri. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjelaskan kepada anak-anaknya mengenai alasan mereka harus pindah rumah, tanpa membuat mereka merasa terbebani atau memiliki pandangan negatif terhadap situasi yang terjadi. "Pasti butuh perjuangan saya ya untuk menjelaskan kenapa harus pindah, gitu. Saya akan menjelaskan seminim mungkin gitu, sebaik mungkin tanpa memojokkan satu sama lain," tutur Sarwendah. Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan Sarwendah dalam menghadapi situasi sulit, di mana ia berusaha menjaga keutuhan emosional anak-anaknya di tengah gejolak rumah tangga orang tua mereka.
Meskipun telah menempati hunian baru, Sarwendah menegaskan bahwa dirinya tidak menutup pintu komunikasi bagi Ruben Onsu untuk tetap dapat bertemu dengan anak-anak mereka. Sebagai ayah dari anak-anaknya, Ruben Onsu tetap memiliki hak untuk hadir dalam kehidupan buah hati mereka. Sarwendah mengklaim telah secara proaktif mengirimkan alamat rumah barunya kepada sang mantan suami melalui pesan singkat. Tujuannya adalah agar Ruben mengetahui di mana anak-anaknya tinggal dan dapat mengatur jadwal pertemuan. "Saya juga sudah kasih alamatnya, pasti dong di mana pun kan itu ayah dari anak-anaknya. Jadi saya tidak pernah menutup gitu, di mana anak-anak mau ketemu, saya selalu tanya lagi gimana ayah jadi kita ketemu gitu," jelas Sarwendah.
Namun, hingga saat ini, Sarwendah mengaku belum mendapatkan respons balik dari Ruben Onsu terkait pengiriman alamat tersebut. Ketidakpastian ini membuatnya tidak dapat berbuat banyak, selain menunggu itikad baik dari mantan suaminya. "Tapi karena belum ada respons, saya juga nggak bisa berbuat apa-apa," pungkasnya dengan nada pasrah. Sikap Sarwendah ini mencerminkan komitmennya untuk tetap menjaga hubungan baik antara anak-anaknya dengan ayah mereka, meskipun hubungan dirinya dengan Ruben Onsu telah berakhir. Ia berharap komunikasi dapat terjalin lancar demi kebaikan dan kesejahteraan anak-anak. Keputusan pindah rumah ini, meskipun berat, pada akhirnya merupakan langkah yang diambil Sarwendah demi menciptakan lingkungan yang lebih aman, stabil, dan kondusif bagi pertumbuhan anak-anaknya, terlepas dari kompleksitas permasalahan yang melingkupinya. Ia berupaya menata kembali hidupnya, fokus pada kebahagiaan dan masa depan buah hatinya, serta berharap dapat segera menemukan ketenangan yang selama ini dirindukan.

