Pengumuman adaptasi film live-action dari game fenomenal "Elden Ring" telah menarik perhatian global sejak awal, namun kini proyek ambisius ini kembali menjadi sorotan setelah laporan mengenai lonjakan anggaran produksinya. Dari yang semula diperkirakan mencapai USD 100 juta (sekitar Rp 1,8 triliun), kini angka tersebut melonjak drastis hingga hampir menyentuh USD 200 juta, atau setara dengan Rp 3,6 triliun. Angka fantastis ini tidak hanya mengindikasikan skala produksi yang masif, tetapi juga menandakan kepercayaan besar dari studio A24 terhadap potensi film ini untuk menjadi salah satu adaptasi game paling epik dalam sejarah perfilman.
Peningkatan anggaran yang signifikan ini terungkap melalui laporan terbaru dari Wall Street Journal, yang kemudian dikutip oleh berbagai media hiburan, termasuk Eurogamer dan detikINET. Lonjakan dua kali lipat ini menempatkan film "Elden Ring" sebagai salah satu proyek terbesar dan termahal yang pernah ditangani oleh A24, sebuah studio yang dikenal dengan karya-karya independen yang kaya akan nilai artistik dan naratif. Angka Rp 3,6 triliun ini menempatkan "Elden Ring" sejajar dengan produksi blockbuster Hollywood papan atas, menunjukkan bahwa A24 siap untuk bermain di liga yang lebih tinggi dan bersaing dengan raksasa studio lainnya dalam memperebutkan perhatian penonton global.
Sebagai konteks, mari kita bandingkan dengan proyek-proyek A24 lainnya. Film termahal A24 hingga saat ini adalah "Marty Supreme" yang menelan biaya sekitar USD 70 juta (sekitar Rp 1,2 triliun). Kemudian ada "Civil War" karya Alex Garland yang menghabiskan sekitar USD 50 juta (sekitar Rp 906 miliar). Dengan anggaran hampir USD 200 juta, "Elden Ring" jauh melampaui rekor internal A24 sebelumnya, memperlihatkan pergeseran strategis studio ini untuk merangkul proyek-proyek dengan skala produksi yang lebih besar dan ambisi yang lebih tinggi. Keputusan ini kemungkinan didorong oleh kesuksesan finansial dan kritis dari adaptasi video game belakangan ini, yang telah membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, genre ini memiliki daya tarik yang sangat besar.
Penunjukan Alex Garland sebagai penulis dan sutradara adalah salah satu aspek paling menarik dari proyek ini. Garland bukanlah nama asing bagi para penggemar film bergenre fiksi ilmiah dan horor psikologis yang mendalam. Karyanya seperti "Ex Machina", "Annihilation", "Devs", "Men", dan yang terbaru "Civil War", telah menunjukkan kemampuannya menciptakan narasi yang provokatif, visual yang memukau, dan atmosfer yang mencekam. Gaya Garland yang kerap menyelami tema-tema eksistensial, kerusakan mental, dan eksplorasi identitas diri, sangat resonan dengan dunia Elden Ring yang penuh dengan mitos kelam, kehancuran, dan perjuangan karakter dalam mencari makna di tengah kehampaan. Kemampuannya menggarap detail dan membangun dunia yang imersif, meskipun seringkali dalam skala yang lebih intim, kini akan diuji dalam kanvas yang jauh lebih besar dan epik. Ini adalah kolaborasi yang menjanjikan, di mana visi unik Garland berpotensi mengangkat esensi Elden Ring ke layar lebar dengan cara yang belum pernah terpikirkan.
A24 sendiri memang dikenal memiliki kepercayaan besar terhadap Garland, dan telah berulang kali memberikan dukungan finansial yang signifikan untuk proyek-proyeknya yang berskala besar. Menurut The Hollywood Reporter, produksi "Elden Ring" ini akan kembali menempatkan Garland di puncak, dalam hal pengelolaan proyek terbesar dan paling ambisius A24. Kehadiran Garland diharapkan dapat memastikan bahwa adaptasi ini tidak hanya menjadi tontonan visual yang spektakuler, tetapi juga memiliki kedalaman naratif dan filosofis yang menjadi ciri khas karyanya, sekaligus tetap setia pada semangat asli game "Elden Ring".
"Elden Ring" sendiri adalah sebuah mahakarya dari FromSoftware, studio pengembang game Jepang yang terkenal dengan game-game RPG aksi yang menantang dan kaya akan lore. Dirilis pada tahun 2022, game ini dengan cepat meraih status sebagai salah satu game terbaik sepanjang masa, memenangkan berbagai penghargaan Game of the Year. Diciptakan oleh Hidetaka Miyazaki, sutradara visioner di balik seri "Dark Souls", dengan bantuan penulisan lore dari George R.R. Martin, penulis seri "A Song of Ice and Fire" (yang diadaptasi menjadi "Game of Thrones"), "Elden Ring" menawarkan dunia fantasi yang luas, misterius, dan penuh dengan bahaya. Pemain menjelajahi Lands Between, sebuah dunia yang hancur, menghadapi bos-bos mengerikan, mengungkap rahasia kuno, dan berusaha menjadi Elden Lord. Kedalaman lore, desain makhluk yang imajinatif, lingkungan yang memukau, dan tingkat kesulitan yang menantang namun adil, semuanya berkontribusi pada kesuksesan masif game ini. Mengadaptasi dunia yang begitu kaya dan kompleks ini ke dalam format film live-action tentu membutuhkan anggaran dan visi yang luar biasa.
Meskipun informasi mengenai produksi film ini telah beredar, rincian resmi dari A24 atau Bandai Namco (penerbit game Elden Ring) masih belum banyak. Namun, sebuah "kebocoran" tak terduga datang dari postingan seorang penata properti film tersebut bernama Sean Schofield. Dirinya sempat memposting konten terkait selesainya pengambilan gambar utama (principal photography) film ini di akun Instagram-nya, sebelum akhirnya dihapus. Postingan tersebut, meskipun singkat, memberikan konfirmasi tidak langsung mengenai kemajuan signifikan proyek ini.
Konten yang dimaksud menampilkan sebuah foto berisi tas produksi yang bertuliskan "Elden Ring" di bagian atasnya, sebuah gantungan kunci berbentuk clapperboard (papan penanda adegan), serta kartu ucapan terima kasih yang ditandatangani oleh sutradara Alex Garland dan sejumlah produser kunci, termasuk Allon Reich, Matthew Penry-Davey, Peter Rice, Andrew Macdonald, dan Charlie Reed. Keberadaan bukti visual dan tanda tangan dari tim inti produksi ini memberikan validitas kuat terhadap klaim selesainya tahap pengambilan gambar. Ini adalah kabar gembira bagi para penggemar yang telah menanti-nanti perkembangan adaptasi ini, karena ini berarti film telah melewati salah satu fase paling intensif dalam proses produksi.
Kini, film "Elden Ring" telah memasuki tahap pasca-produksi, sebuah fase yang tak kalah krusial dan memakan waktu, terutama mengingat skala dan kompleksitas dunia yang ingin dihadirkan. Dengan jadwal penayangan yang masih jauh, yaitu pada Maret 2028, tim produksi memiliki waktu yang cukup panjang untuk bekerja keras mengerjakan efek visual terbaik, penyuntingan, desain suara, dan musik. Mengingat anggaran yang melonjak, diharapkan tim VFX akan mampu menciptakan makhluk-makhluk mengerikan, lanskap Lands Between yang memukau, dan adegan pertarungan yang epik dengan detail yang luar biasa. Tahap pasca-produksi yang panjang ini juga menunjukkan ambisi untuk mencapai kualitas sinematik tertinggi, agar film ini tidak hanya memuaskan para penggemar game, tetapi juga menarik penonton umum.
Proyek "Elden Ring" ini juga hadir di tengah "era keemasan" adaptasi video game. Setelah puluhan tahun adaptasi game yang kurang memuaskan, beberapa tahun terakhir telah menyaksikan lonjakan kualitas yang signifikan. Serial seperti "Arcane" (League of Legends), "The Last of Us", dan "Fallout", serta film seperti "Sonic the Hedgehog" dan "The Super Mario Bros. Movie", telah membuktikan bahwa adaptasi game bisa sukses secara kritis maupun komersial jika ditangani dengan serius, menghormati materi sumber, dan melibatkan talenta terbaik. "Elden Ring", dengan anggaran besar dan sutradara kaliber Alex Garland, tampaknya siap untuk mengikuti jejak kesuksesan tersebut dan menjadi tolok ukur baru bagi genre adaptasi video game.
Dengan anggaran yang kini hampir mencapai Rp 3,6 triliun, film live-action "Elden Ring" tidak hanya menjadi salah satu adaptasi game termahal, tetapi juga menjadi penanda ambisi besar A24 dan Alex Garland untuk menghidupkan dunia FromSoftware yang ikonik ke layar lebar. Dari Lands Between yang luas hingga para demi-gods yang mengerikan dan lore yang mendalam, harapan tinggi kini disematkan pada proyek ini untuk memberikan pengalaman sinematik yang tak terlupakan. Penantian hingga Maret 2028 mungkin terasa panjang, namun dengan skala produksi dan talenta di baliknya, ada keyakinan bahwa hasilnya akan sepadan.

Komentar (0)