Jakarta – Di tengah sorotan publik yang intens terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masif di Kalimantan dan Sumatra, sebuah seruan penting muncul dari berbagai kalangan, terutama netizen dan figur publik, yang mengingatkan bahwa tragedi serupa dengan skala yang tak kalah memprihatinkan juga tengah melanda wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua. Kondisi ini, yang kerap luput dari perhatian nasional dan internasional, menimbulkan kekhawatiran mendalam akan dampak ekologis, sosial, dan kesehatan yang tak terpulihkan.
Selebriti dan komika berdarah Papua, Arie Kriting, melalui akun media sosialnya @arie_kriting, menjadi salah satu suara terdepan yang mendesak agar perhatian publik tidak hanya terfokus pada bagian barat Indonesia. Dengan nada prihatin namun tegas, ia menyoroti bahwa kebakaran hutan yang masif juga terjadi di Papua, Maluku, dan Sulawesi. Apa yang selama bertahun-tahun menjadi momok bagi Kalimantan dan Sumatra kini dirasakan pula oleh kawasan Indonesia Timur. Arie Kriting menceritakan pengalamannya saat pulang ke Sulawesi, di mana kualitas udara sudah memburuk drastis akibat asap. Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa di beberapa kota di Papua, penerbangan bahkan terpaksa ditutup karena kabut asap tebal yang menghalangi jarak pandang. "Ini kebakaran hutan nyaris mencakup seluruh wilayah Indonesia," tulisnya, menggambarkan betapa luasnya skala bencana ini.
Pernyataan Arie Kriting ini bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan sebuah refleksi dari realitas pahit yang dihadapi masyarakat di Indonesia Timur. Sebagai seorang figur publik yang memiliki akar kuat di Papua, suaranya membawa bobot dan autentisitas yang sulit diabaikan. Ia menggarisbawahi bahwa dampak karhutla tidak mengenal batas geografis, merayap dari satu pulau ke pulau lain, mengancam kesehatan dan aktivitas sehari-hari jutaan penduduk. Kualitas udara yang memburuk bukan hanya masalah kenyamanan, melainkan ancaman serius bagi kesehatan pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Penutupan penerbangan juga mengganggu konektivitas, ekonomi lokal, dan upaya penanganan bencana itu sendiri.
Senada dengan Arie Kriting, berbagai akun netizen turut menyuarakan keprihatinan mereka. Akun @celxxxxxo, misalnya, secara spesifik mengingatkan dunia tentang kondisi di ujung timur Indonesia. "Apakah dunia tau bahwa di ujung pulau Indonesia yaitu Papua Selatan sedang terjadi kebakaran hutan yang luar biasa hingga menyebabkan kabut asap tebal kiriman ke beberapa provinsi Papua lainnya. Sehat-sehat semua sodara disana 🙏🏽," tulisnya, menekankan urgensi perhatian global terhadap krisis ini. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kabut asap dari Papua Selatan tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga menyebar ke wilayah-wilayah tetangga, menciptakan lingkaran masalah yang kompleks.
Pertanyaan kritis juga dilontarkan oleh netizen lain, @TutxxxxxxxI, yang mempertanyakan mengapa kondisi darurat ini belum ditetapkan sebagai bencana nasional. "Dari Sumatra sampai Papua kebakaran dan belum jadi bencana nasional," ujarnya, menyoroti perbedaan perlakuan atau persepsi pemerintah terhadap bencana karhutla di berbagai wilayah. Penunjukan status bencana nasional akan membuka pintu bagi mobilisasi sumber daya yang lebih besar, koordinasi antarlembaga yang lebih kuat, serta pengakuan resmi terhadap skala dan tingkat keparahan krisis. Tanpa status tersebut, upaya penanganan seringkali terbatas pada lingkup daerah, padahal dampaknya sudah bersifat lintas provinsi dan berpotensi merugikan seluruh bangsa.
Fakta di lapangan memang mendukung kekhawatiran para netizen dan Arie Kriting. Mengutip laporan Mongabay Indonesia yang dirilis pada periode terkini, Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat indikasi karhutla di Papua telah melampaui angka 30.000 hektare sepanjang tahun ini. Angka ini bukanlah statistik semata, melainkan cerminan dari kehancuran ekologis yang masif, hilangnya habitat satwa, dan emisi karbon yang memperparah krisis iklim global. Untuk memberikan perspektif, luasan 30.000 hektare ini setara dengan puluhan kali lipat luas wilayah pusat kota besar, menunjukkan betapa dahsyatnya skala kebakaran yang terjadi.
Lebih rinci, laporan Sipongi menunjukkan bahwa Papua Selatan menjadi wilayah dengan luasan indikasi area terbakar terbesar, mencapai sekitar 25.838 hektare. Angka ini sangat signifikan dan menjadikannya episentrum karhutla di Tanah Papua. Sementara itu, indikasi area terbakar di Papua Tengah mencapai sekitar 2.520 hektare dan Papua Barat sekitar 2.496 hektare. Data ini secara gamblang memperlihatkan bahwa kebakaran di Papua bukan sekadar isu sporadis yang muncul di media sosial, melainkan sebuah krisis lingkungan berskala besar yang membutuhkan respons serius dan terkoordinasi.

Papua, dengan kekayaan hutan tropisnya yang lebat, sering disebut sebagai salah satu "paru-paru dunia" yang tersisa, bersama dengan hutan Amazon di Amerika Selatan dan Kongo di Afrika. Kehilangan puluhan ribu hektare hutan di Papua berarti hilangnya keanekaragaman hayati yang tak ternilai, termasuk spesies endemik yang hanya ditemukan di pulau ini. Hutan Papua adalah rumah bagi berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan tumbuhan yang unik, beberapa di antaranya belum teridentifikasi oleh sains. Ketika hutan terbakar, rumah mereka hancur, dan banyak spesies berisiko punah sebelum sempat dipelajari atau dilindungi.
Dalam unggahan netizen lainnya, akun @SUNxxxxxxxxxxxK mengingatkan secara spesifik tentang kebakaran di kawasan KM 71, Fakfak, Papua Barat. Yang lebih mengkhawatirkan, Raja Ampat, destinasi wisata bahari kelas dunia yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya, juga disebut dalam kabar yang sama. "Jangan lupakan Papua. Hutan di KM 71, Fakfak, Papua Barat ikut dilalap, dan Raja Ampat disebut dalam kabar yang sama. Yang terbakar bukan cuma kayu: rumah satwa dan warisan yang tidak bisa ditanam ulang semester depan. Semoga api cepat padam," harapnya. Seruan ini menyoroti bahwa dampak karhutla di Papua melampaui kerugian material; ia juga menghancurkan warisan alam dan budaya yang tak tergantikan. Kerusakan di Fakfak dan ancaman terhadap Raja Ampat menunjukkan bahwa api tidak hanya melalap hutan daratan, tetapi juga berpotensi mengancam ekosistem pesisir dan laut yang saling terkait.
Penyebab karhutla di Papua, seperti di wilayah lain, multifaktorial. Musim kemarau yang panjang dan ekstrem akibat fenomena El Niño menjadi pemicu utama, menciptakan kondisi kering yang sangat rentan terhadap api. Namun, faktor antropogenik atau aktivitas manusia juga berperan besar. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, pertanian skala besar, aktivitas penebangan liar, hingga praktik pembakaran tradisional yang lepas kendali, semuanya berkontribusi pada meluasnya titik api. Di Papua, isu pembukaan lahan seringkali berbenturan dengan hak-hak masyarakat adat yang telah hidup harmonis dengan hutan selama ribuan tahun. Konflik kepentingan ini memperumit upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Tantangan dalam menangani karhutla di Papua juga sangat besar. Wilayah Papua yang luas dan terpencil, dengan topografi yang sulit dijangkau, membuat operasi pemadaman api menjadi sangat rumit. Keterbatasan akses, minimnya infrastruktur, serta kurangnya sumber daya manusia dan peralatan pemadam kebakaran yang memadai di daerah-daerah terpencil, seringkali menjadi penghalang utama. Apalagi jika api membakar lahan gambut, yang dikenal sangat sulit dipadamkan karena api bisa membara di bawah tanah selama berminggu-minggu, menghasilkan asap tebal yang persisten. Papua memiliki ekosistem gambut yang luas, terutama di wilayah selatan, yang menjadikannya sangat rentan terhadap karhutla yang sulit dikendalikan.
Ketiadaan status bencana nasional juga menjadi hambatan serius. Dengan status tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat mengkoordinasikan respons secara lebih komprehensif, mengerahkan personel Manggala Agni dari KLHK, TNI, Polri, dan relawan secara lebih efektif, serta mengalokasikan anggaran darurat untuk penyediaan helikopter water bombing, alat berat, dan logistik bagi para petugas di lapangan. Tanpa status ini, respons cenderung bersifat sektoral dan kurang terintegrasi, padahal bencana ini membutuhkan penanganan lintas sektor dan lintas wilayah.
Dampak jangka panjang dari karhutla di Papua juga perlu menjadi perhatian. Selain masalah kesehatan dan hilangnya keanekaragaman hayati, karhutla juga berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca, yang mempercepat perubahan iklim global. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terluas di dunia, memiliki peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim. Karhutla yang terus-menerus terjadi di wilayah seperti Papua dapat mengancam komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi dan mencapai target pembangunan berkelanjutan.
Oleh karena itu, seruan dari Arie Kriting dan para netizen bukan sekadar ekspresi kekesalan, melainkan sebuah desakan untuk kesadaran kolektif dan tindakan nyata. Diperlukan perhatian yang setara dari pemerintah pusat, media, masyarakat luas, bahkan komunitas internasional, terhadap krisis lingkungan yang melanda Papua. Langkah-langkah strategis harus segera diambil, termasuk peningkatan kapasitas pemantauan dan peringatan dini, penguatan unit pemadam kebakaran di daerah, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, serta edukasi dan pemberdayaan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Kondisi di Papua menunjukkan bahwa krisis iklim dan lingkungan adalah masalah bersama yang tidak mengenal batas geografis atau politik. Melindungi hutan Papua berarti melindungi masa depan bumi, menjaga keanekaragaman hayati, dan memastikan keberlanjutan hidup bagi generasi mendatang. Sudah saatnya "paru-paru dunia" di timur Indonesia ini mendapatkan perhatian yang layak, sebelum kerusakannya mencapai titik yang tidak dapat diperbaiki lagi. Tragedi karhutla di Papua adalah pengingat pahit bahwa bencana lingkungan membutuhkan solidaritas dan respons yang komprehensif dari seluruh elemen bangsa.
