KENDAL, Rifaiyah.or.id – Semangat nasionalisme dan religiusitas berpadu dalam perhelatan akbar Kemah Literasi 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Kendal pada Sabtu (12/9/2026). Salah satu agenda paling menyita perhatian dalam rangkaian kegiatan ini adalah Gelar Wicara (Talkshow) yang secara khusus membedah jejak perjuangan, pemikiran, dan kontribusi nyata KH. Ahmad Rifa’i, seorang Pahlawan Nasional asal Kabupaten Kendal yang dikenal sebagai ulama pejuang tangguh di abad ke-19.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini tidak sekadar menjadi ajang diskusi sejarah, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menghidupkan kembali ruh perjuangan sang ulama besar di tengah generasi muda. Kehadiran para pegiat literasi, santri, dan masyarakat umum dalam forum ini menunjukkan betapa besarnya relevansi pemikiran KH. Ahmad Rifa’i dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Sebagai narasumber utama, Ustaz Abdul Aziz, M.Pd., membedah secara mendalam sosok KH. Ahmad Rifa’i dari sudut pandang historis dan sosiologis. Menurutnya, KH. Ahmad Rifa’i bukan sekadar tokoh agama yang mengurusi persoalan ritualitas, melainkan seorang intelektual organik yang menggunakan literasi sebagai senjata utama melawan kolonialisme Belanda. Pada abad ke-19, ketika pendidikan formal masih sangat terbatas dan akses informasi dikuasai oleh penjajah, KH. Ahmad Rifa’i justru mampu membangun jaringan dakwah melalui karya-karya tulis yang ia susun dalam bentuk nazam (puisi berirama) berbahasa Jawa beraksara Arab Pegon.
"KH. Ahmad Rifa’i adalah sosok pendidik yang revolusioner. Beliau sadar bahwa untuk memerdekakan bangsa, masyarakat harus lebih dulu merdeka secara intelektual. Melalui karya-karya tulisnya, beliau mengajarkan pentingnya ilmu pengetahuan, keberanian dalam menyuarakan kebenaran, serta sikap kritis terhadap ketidakadilan sosial dan kesewenang-wenangan penguasa pada masa itu," ujar Ustaz Abdul Aziz di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, Ustaz Abdul Aziz menekankan bahwa warisan intelektual sang ulama, yang terangkum dalam berbagai kitab dan naskah kuno, merupakan pedoman hidup yang sangat berharga bagi pengikutnya, yakni organisasi Rifa’iyah. Nilai-nilai keberanian untuk menegakkan kebenaran (amar ma’ruf nahi munkar) yang diajarkan beliau menjadi fondasi mentalitas masyarakat Kendal dalam menghadapi penjajahan. Ia menegaskan bahwa dakwah KH. Ahmad Rifa’i adalah bentuk perlawanan kultural yang sangat efektif karena menyentuh akar kesadaran masyarakat di tingkat akar rumput.
Apresiasi tinggi datang dari Ketua Umum Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah Indonesia (PP AMRI), Abdul Kholiq, M.Pd., Al-Hafidz. Dalam pandangannya, terselenggaranya Gelar Wicara dalam rangkaian Festival Literasi 2026 di tanah kelahiran KH. Ahmad Rifa’i merupakan momentum emas untuk melakukan rekonsiliasi sejarah bagi generasi Z dan milenial. Abdul Kholiq menegaskan bahwa KH. Ahmad Rifa’i adalah aset nasional yang kontribusinya bagi bangsa Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Kita perlu menyadari bahwa semangat kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah akumulasi dari perjuangan para ulama, termasuk KH. Ahmad Rifa’i. Beliau adalah tokoh nasional dari Kendal yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Melalui acara ini, kami ingin agar generasi muda tidak kehilangan jati diri. Pemikiran-pemikiran beliau, seperti pentingnya pendidikan bagi perempuan, kritik terhadap sistem birokrasi yang korup, dan semangat kemandirian ekonomi, masih sangat relevan untuk diimplementasikan saat ini," ungkap Abdul Kholiq.

Lebih jauh, Abdul Kholiq berharap kegiatan ini tidak berhenti pada seremonial belaka. Ia menargetkan agar nilai-nilai perjuangan tersebut dapat bermetamorfosis menjadi tindakan nyata bagi generasi penerus. Ia mendambakan lahirnya sosok-sosok muda dari Kendal yang memiliki kedalaman ilmu layaknya sang ulama, namun tetap progresif dalam merespons perkembangan teknologi dan isu-isu sosial kontemporer. "Harapan kami, dari Kendal lahir generasi penerus yang mampu melanjutkan tongkat estafet dakwah, pendidikan, serta kepedulian sosial sebagaimana yang dicontohkan oleh KH. Ahmad Rifa’i," tambahnya.
Sejalan dengan semangat tersebut, Plt Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Kendal, Muntoha, S.Km., M.Kes., yang juga menjabat sebagai Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Kendal, menyatakan bahwa jejak fisik dan spiritual KH. Ahmad Rifa’i masih sangat terasa di tanah Kendal. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk melestarikan sejarah dan pemikiran tokoh-tokoh besar lokal sebagai bagian dari penguatan identitas masyarakat Kendal.
"Sosok KH. Ahmad Rifa’i bukan hanya milik keluarga besar Rifa’iyah, tetapi milik seluruh masyarakat Kendal dan bangsa Indonesia. Nilai perjuangan yang beliau wariskan telah menjadi bagian dari identitas kita. Pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan literasi yang berbasis sejarah lokal seperti ini, karena ini merupakan cara yang efektif untuk membangun karakter kebangsaan yang kuat di kalangan generasi muda," tutur Muntoha.
Muntoha juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan organisasi keagamaan dalam merawat sejarah. Ia berharap agar ke depan, dokumen-dokumen sejarah, karya tulis, dan literatur mengenai KH. Ahmad Rifa’i dapat diakses lebih luas melalui perpustakaan digital, sehingga semangat perjuangan beliau dapat dijangkau oleh generasi di luar Kendal sekalipun. Ia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya keluarga besar Rifa’iyah yang terus konsisten dalam menjaga marwah dan pemikiran sang pahlawan nasional.
Kemah Literasi 2026 ini sendiri menjadi simbol kebangkitan literasi di Kabupaten Kendal. Dengan mengusung tema-tema yang dekat dengan akar sejarah lokal, masyarakat diajak untuk tidak hanya sekadar membaca buku, tetapi juga "membaca" sejarah dan lingkungan sekitarnya. Literasi dalam konteks ini dipahami sebagai kemampuan untuk memahami realitas, mengolah informasi dengan kritis, dan bertindak secara bijak demi kemaslahatan umat.
Kegiatan ini pun ditutup dengan sesi tanya jawab yang antusias. Banyak peserta muda yang menanyakan bagaimana mengimplementasikan metode dakwah KH. Ahmad Rifa’i di era media sosial yang penuh dengan hoaks dan polarisasi. Menjawab hal tersebut, para pembicara sepakat bahwa keteladanan, kesantunan dalam berargumen, dan kedalaman ilmu adalah kunci utama dalam berdakwah di dunia digital, sesuai dengan watak KH. Ahmad Rifa’i yang selalu mengedepankan logika yang jernih dan argumen berbasis teks yang kuat.
Secara keseluruhan, rangkaian acara ini berhasil mencapai tujuannya untuk merevitalisasi semangat perjuangan KH. Ahmad Rifa’i. Diharapkan, kemah literasi ini mampu menjadi pemantik bagi lahirnya generasi baru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh sosok KH. Ahmad Rifa’i sepanjang hayatnya. Ke depan, diharapkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas seperti AMRI dapat terus berlanjut, guna menjadikan Kendal sebagai pusat rujukan literasi sejarah dan keagamaan yang inspiratif bagi daerah lain di Indonesia.
Dengan semangat "Meneladani Ulama, Membangun Bangsa", Kemah Literasi 2026 telah mencatatkan sejarah baru dalam upaya merawat ingatan kolektif masyarakat Kendal terhadap salah satu putra terbaik bangsa yang pernah dimiliki negeri ini. Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i adalah api yang tak boleh padam, dan melalui generasi muda yang berliterasi, api tersebut akan terus menyala, menerangi jalan menuju kemajuan bangsa yang beradab dan berilmu.
