Rifan Muazin Ar-Rifai
Minggu, 13 September 2026 | 13.14 WIB

Ustaz Abdul Aziz Kupas Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i sebagai Ulama, Pendidik, dan Pejuang Bangsa

KH. Ahmad Rifa’i, sosok ulama karismatik asal Kendal, kini kembali menjadi sorotan dalam diskursus intelektual nasional berkat dedikasinya yang luar biasa dalam memadukan dakwah, pendidikan, dan semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Dalam perhelatan Gelar Wicara Kemah Literasi 2026 yang dihelat oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kendal, Ustaz Abdul Aziz, M.Pd., mengupas tuntas dimensi perjuangan KH. Ahmad Rifa’i yang dinilai melampaui zamannya. Beliau memandang sang ulama bukan sekadar figur keagamaan, melainkan arsitek perlawanan kultural melalui kekuatan literasi dan pendidikan yang hingga hari ini masih relevan untuk diteladani oleh generasi muda Indonesia.

Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari pejuang fisik pada masanya. Jika banyak tokoh lain memfokuskan diri pada angkat senjata, KH. Ahmad Rifa’i justru memilih jalur pendidikan dan penyadaran umat melalui tulisan. Beliau menyadari bahwa musuh utama bangsa saat itu bukan hanya penjajah bersenjata, melainkan kebodohan, keterbelakangan, dan degradasi moral yang sengaja dipelihara oleh kolonial. Oleh karena itu, melalui puluhan kitab yang ditulisnya dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon—yang dikenal sebagai Tarajumah—beliau mampu menembus batasan bahasa dan menjangkau masyarakat awam di pedesaan.

Penggunaan aksara Pegon merupakan strategi cerdas. Pada masa itu, bahasa Jawa adalah bahasa rakyat, dan aksara Pegon adalah media yang dipahami oleh santri serta masyarakat Muslim di Jawa. Dengan cara ini, KH. Ahmad Rifa’i berhasil menyebarkan nilai-nilai tauhid, syariat, dan akhlak yang dibalut dengan semangat anti-penjajahan. Karya-karyanya bukan sekadar teks keagamaan, melainkan risalah perlawanan yang membangkitkan harga diri bangsa di tengah cengkeraman kekuasaan kolonial Belanda yang represif.

Ustaz Abdul Aziz Kupas Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i sebagai Ulama, Pendidik, dan Pejuang Bangsa

Dalam paparannya, Ustaz Abdul Aziz menekankan bahwa keberanian KH. Ahmad Rifa’i dalam mengkritik kebijakan kolonial dan praktik ketidakadilan adalah manifestasi dari keteguhan imannya. Beliau tidak takut untuk menyuarakan kebenaran, meskipun risikonya adalah pengawasan ketat, intimidasi, hingga pengasingan. Baginya, dakwah adalah perjuangan, dan perjuangan adalah dakwah. KH. Ahmad Rifa’i memposisikan dirinya sebagai "guru bangsa" yang membimbing umat agar tidak tunduk pada kezaliman. Sikap kritis ini menjadikannya sosok yang sangat disegani sekaligus menjadi duri dalam daging bagi pemerintah kolonial yang merasa terancam oleh pengaruh besar sang ulama.

Penting untuk dipahami bahwa metode perjuangan KH. Ahmad Rifa’i adalah perpaduan antara kecerdasan intelektual dan kelembutan dakwah. Beliau membangun komunitas-komunitas pengajian yang bersifat mandiri. Dalam pengajian-pengajian tersebut, beliau tidak hanya memberikan materi hukum Islam (fiqih), tetapi juga menanamkan jiwa merdeka. Beliau mengajarkan bahwa seorang Muslim yang taat harus memiliki keberanian untuk menolak penindasan. Nilai-nilai seperti kemandirian, kejujuran, dan keadilan menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter pengikutnya, yang kemudian dikenal sebagai masyarakat Rifa’iyah.

Lebih lanjut, Ustaz Abdul Aziz mengajak peserta Gelar Wicara Kemah Literasi 2026 untuk membedah bagaimana relevansi perjuangan KH. Ahmad Rifa’i di era digital saat ini. Di tengah banjir informasi dan tantangan hoaks, budaya literasi yang dirintis oleh KH. Ahmad Rifa’i menjadi obat penawar. Beliau telah mencontohkan bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada tradisi membaca dan menulis. Generasi muda saat ini diharapkan mampu mengadopsi semangat tersebut dengan cara memproduksi konten-konten positif, edukatif, dan inspiratif yang dapat membangun kesadaran sosial, sebagaimana KH. Ahmad Rifa’i menulis kitab untuk membangun kesadaran umat.

Salah satu poin krusial yang diangkat adalah tentang bagaimana KH. Ahmad Rifa’i membangun sistem pendidikan yang inklusif. Pendidikan bagi beliau adalah instrumen pembebasan. Ia tidak membatasi ilmu hanya pada kalangan elit, melainkan berusaha menyebarkannya seluas mungkin ke pelosok desa. Warisan lembaga pendidikan yang beliau rintis terbukti mampu melahirkan kader-kader yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Inilah yang dimaksud sebagai "warisan terbesar"—bukan hanya gedung atau buku, melainkan generasi yang terus menjaga api perjuangan tetap menyala dari masa ke masa.

Ustaz Abdul Aziz Kupas Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i sebagai Ulama, Pendidik, dan Pejuang Bangsa

Dalam diskusi tersebut, terungkap pula bahwa ketokohan KH. Ahmad Rifa’i harus terus digali melalui riset-riset akademik yang lebih mendalam. Beliau bukan sekadar ulama lokal Kendal, melainkan ulama yang pemikirannya telah melintasi batas geografis. Karyanya yang tersimpan di berbagai perpustakaan dunia merupakan bukti bahwa pemikiran beliau diakui secara internasional sebagai pemikiran ulama Nusantara yang progresif. Ustaz Abdul Aziz menegaskan bahwa setiap santri dan generasi muda hendaknya menjadikan sosok KH. Ahmad Rifa’i sebagai role model dalam menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual (literasi) dan kekuatan spiritual.

Kehadiran kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi generasi muda di Kabupaten Kendal untuk kembali menggali sejarah lokal yang kaya akan nilai perjuangan. Dengan mengenal lebih dekat sejarah KH. Ahmad Rifa’i, diharapkan tumbuh rasa cinta tanah air yang dibalut dengan kesadaran religius. Semangat belajar yang ditunjukkan oleh sang ulama, yang tetap produktif menulis di tengah masa pengasingan, harus menjadi motivasi bagi generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menuntut ilmu dan berkarya demi kemajuan bangsa.

Pada bagian akhir penjelasannya, Ustaz Abdul Aziz menyampaikan bahwa perjuangan KH. Ahmad Rifa’i adalah tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk jujur, dan keberanian untuk memihak pada kebenaran. Nilai-nilai inilah yang perlu dirawat. KH. Ahmad Rifa’i telah memberikan cetak biru (blueprint) bagaimana seorang ulama harus bertindak di tengah masyarakat yang tertindas. Beliau tidak diam, beliau tidak bersembunyi; beliau melawan dengan pena, beliau mengedukasi dengan dakwah, dan beliau memimpin dengan keteladanan.

Sebagai penutup, kegiatan ini menjadi momentum refleksi kolektif. KH. Ahmad Rifa’i bukan hanya sejarah masa lalu, beliau adalah napas perjuangan yang harus tetap hidup di masa kini dan masa depan. Melalui literasi, pendidikan, dan dakwah yang berbasis pada nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, kita dapat meneruskan cita-cita besar beliau untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab. Warisan intelektual KH. Ahmad Rifa’i akan selalu menjadi lentera yang menerangi jalan bagi siapa saja yang ingin berjuang di jalan kebenaran dan ilmu pengetahuan.

Ustaz Abdul Aziz Kupas Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i sebagai Ulama, Pendidik, dan Pejuang Bangsa

Dengan demikian, pengupasan sosok KH. Ahmad Rifa’i oleh Ustaz Abdul Aziz dalam forum ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pengingat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pendahulunya. Perjuangan KH. Ahmad Rifa’i sebagai ulama, pendidik, dan pejuang bangsa adalah bukti nyata bahwa kekuatan pena dan ilmu pengetahuan jauh lebih tajam daripada senjata dalam meruntuhkan dominasi ketidakadilan. Mari kita teruskan estafet perjuangan ini dengan memperkuat budaya literasi dan menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat dan penuh semangat kemandirian, persis seperti yang telah dicontohkan oleh sang ulama besar, KH. Ahmad Rifa’i.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mungkin Anda Lewatkan