Malam di Dukuh Sipring, Desa Jatingarang, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, pada 9 September 2026, menjadi saksi bisu betapa besarnya kecintaan warga terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW. Halaman Masjid Baitul Muslimin berubah menjadi hamparan cahaya, dipenuhi oleh ribuan jemaah yang tumpah ruah dari berbagai dusun, mulai dari Dukuh Larangan hingga Longkeang. Mereka hadir dengan satu niat yang sama: menghidupkan kembali kerinduan dan meneladani kemuliaan akhlak sang Rasul dalam sebuah peringatan Maulid Nabi yang khidmat dan penuh makna.
Suasana sakral dimulai ketika Bapak Kiai Tasrif membuka acara dengan untaian tawasul yang menyentuh kalbu. Alunan hadiah Al-Fatihah dialirkan dengan penuh takzim kepada Rasulullah SAW, para nabi dan rasul, Syaikh Abdul Qadir Jailani, hingga para masyayikh dan alim ulama yang telah mendahului. Gema kalimat tayyibah yang dipanjatkan mengalirkan ketenangan, seolah membasuh jiwa setiap orang yang hadir. Kekhusyukan ini kemudian disempurnakan oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ust. Mi’roju Muhammad, qori muda berbakat asal Paesan, Kedungwuni, Pekalongan. Ayat-ayat yang ia lantunkan mengenai kedudukan Nabi sebagai penutup para rasul dan teladan utama (uswatun hasanah) seakan merasuk ke dalam relung hati jemaah, mengingatkan bahwa setiap tarikan napas kita hendaknya berpijak pada tuntunan Sang Baginda.
Setelah lantunan ayat suci, suasana semakin syahdu dengan pembacaan selawat dan tawasul kepada ahli Badar. Suara jemaah yang bersahutan menyerukan “Ya Rabbana, ya Rabbana” menciptakan gelombang getaran spiritual yang menyatukan seluruh hati. Dalam momen ini, sekat-sekat antarwarga seolah melebur, digantikan oleh ikatan ukhuwah Islamiyah yang kokoh.
Bapak Tarjo, selaku ketua panitia, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas gotong royong warga Dukuh Sipring. Ia menegaskan bahwa kesuksesan acara ini adalah buah dari kekompakan masyarakat yang guyub rukun. Baginya, peringatan Maulid bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan investasi rohani yang besar bagi pribadi, keluarga, dan kemaslahatan desa. Dengan kerendahan hati yang tulus, ia memohon maaf atas segala keterbatasan dalam penyelenggaraan, sebuah sikap yang menunjukkan betapa kuatnya budaya saling menghormati di dusun tersebut.
Tak kalah hangat, Kepala Desa Jatingarang, Bapak Anjang Tias Asmara, hadir dengan pesan-pesan yang membumi. Ia mengingatkan jemaah bahwa mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan ucapan, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia memberikan arahan praktis mengenai pentingnya menjaga kesehatan di musim kemarau, kesadaran menjaga lingkungan agar terhindar dari kebakaran hutan, hingga pengelolaan irigasi yang adil melalui musyawarah. Menjelang pemilihan kepala desa yang akan datang, ia memberikan pesan yang sangat krusial: perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, namun jangan sampai memutus tali persaudaraan. “Monggo, boleh berbeda pilihan, asal tetap rukun,” tegasnya, yang disambut dengan anggukan setuju oleh seluruh hadirin. Baginya, persatuan adalah modal utama kemajuan desa yang tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.
Sebagai penyejuk di tengah rangkaian acara, grup hadroh Al-Mursyidin dari Pekalongan tampil memukau. Lantunan selawat yang mereka bawakan dengan penuh irama dan semangat berhasil mencairkan suasana, memberikan jeda yang menyegarkan sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW melalui seni yang indah.

Puncak acara malam itu adalah tausiyah yang disampaikan oleh KH. Syukri Maulana dari Batang. Dengan gaya bicara yang akrab dan sesekali diselingi humor ringan, beliau mengupas tuntas hakikat meneladani akhlak Nabi di era modern. KH. Syukri menekankan bahwa Rasulullah SAW tidak meninggalkan harta benda duniawi, melainkan dua warisan abadi: Al-Qur’an dan Sunnah. Selama umat Islam berpegang teguh pada dua pusaka ini, mereka tidak akan tersesat. Inilah alasan mengapa institusi pendidikan Islam seperti madrasah, TPQ, dan masjid tetap berdiri tegak; karena di sanalah warisan Nabi dijaga dan diturunkan kepada generasi penerus.
Salah satu kisah yang paling mengharukan adalah tentang turunnya wahyu surat Ad-Dhuha. KH. Syukri menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW, meski seorang yang ummi, memiliki keyakinan mutlak pada janji Allah. Keteguhan hati Nabi saat menghadapi keraguan dari pihak luar menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk tetap sabar dalam menghadapi ujian kehidupan. Beliau juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kasih sayang yang luar biasa, hingga beliau menyatakan tidak rela jika ada seorang pun dari umatnya yang bertauhid masuk ke dalam neraka. Pesan ini menjadi pengingat bagi jemaah bahwa syafaat Nabi adalah harapan besar, namun harus diiringi dengan usaha nyata meneladani akhlak beliau.
Dalam ranah akhlak sehari-hari, KH. Syukri menyoroti pentingnya sifat tabassum atau murah senyum. Rasulullah SAW adalah pribadi yang wajahnya selalu menyejukkan bagaikan bulan purnama. Meski menghadapi beban hidup yang berat, beliau tetap menjaga keramahan. Ini adalah tantangan besar bagi kita, namun sangat mungkin dilakukan jika kita niatkan sebagai ibadah. Beliau juga menyentuh aspek rumah tangga, menekankan bahwa keluarga yang harmonis dibangun di atas kesabaran, bukan ketiadaan masalah. Rasulullah SAW adalah teladan suami yang bijaksana, yang selalu menempatkan kebaikan terhadap keluarga sebagai standar kemuliaan seseorang.
Lebih jauh, beliau menekankan etika sosial, mulai dari adab bertamu hingga cara memimpin yang penuh empati. Beliau menceritakan kisah Rasulullah yang mencari seorang perempuan tua yang biasa membersihkan masjid karena merasa kehilangan. Ini adalah pelajaran kepemimpinan yang sangat relevan: pemimpin yang baik adalah mereka yang peduli terhadap orang-orang kecil yang sering terlupakan oleh masyarakat luas. Terakhir, beliau berpesan tentang ibadah yang konsisten. Tidak perlu melakukan ibadah yang luar biasa berat jika tidak berkelanjutan. Cukuplah mastatha’tum—sesuai kemampuan masing-masing—namun dilakukan dengan istiqamah.
Acara diakhiri dengan doa bersama yang dipanjatkan dengan penuh harap, memohon agar warga Dukuh Sipring senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, dan persatuan. Lantunan selawat “Ya Hanana” yang berkumandang di penghujung malam seolah menjadi penutup yang manis, meninggalkan kesan mendalam bagi setiap jiwa yang hadir.
Kegiatan Maulid Nabi di Dukuh Sipring ini adalah cerminan dari semangat Islam yang damai dan inklusif. Ia bukan sekadar seremoni, melainkan wadah untuk merajut kembali ukhuwah yang mungkin sempat merenggang, serta menjadi ruang belajar bagi warga untuk terus berbenah menjadi pribadi yang lebih baik. Di masa depan, harapan agar semangat ini tetap lestari menjadi doa kolektif warga Desa Jatingarang. Dengan meneladani akhlak Rasulullah SAW, masyarakat yakin bahwa kedamaian dan kemajuan desa akan selalu terjaga, karena sejatinya, mencintai Nabi adalah mencintai kemanusiaan dan menjaga keharmonisan di bumi.
Peringatan ini membuktikan bahwa di desa-desa kecil seperti Sipring, nilai-nilai besar tentang toleransi, gotong royong, dan keteladanan masih hidup subur. Kehadiran ribuan jemaah adalah bukti nyata bahwa kerinduan kepada sosok Rasulullah tetap menjadi kompas hidup bagi masyarakat, membimbing mereka untuk selalu berjalan di atas rel kebaikan, menebar senyum, dan menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. Semoga apa yang ditanamkan melalui pengajian ini dapat tumbuh menjadi buah kebaikan yang dirasakan oleh seluruh warga Jatingarang dan sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari, baik di ladang, di rumah, maupun dalam interaksi sosial di masyarakat.
