Kabupaten Wonosobo menjadi saksi penting dalam upaya penguatan kaderisasi organisasi Rifa’iyah, di mana Pimpinan Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) secara tegas menyerukan pentingnya menyiapkan generasi penerus yang kompeten dan berkarakter. Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada akhir Agustus 2026 ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah langkah strategis dalam menjamin keberlanjutan estafet kepemimpinan di lingkungan Rifa’iyah. Fokus utama dari pergerakan ini adalah mengintegrasikan peran santri sebagai pilar utama masa depan organisasi melalui pembekalan ilmu, mentalitas yang tangguh, serta visi kepemimpinan yang luas.
Kegiatan ini dibuka dengan gelaran seminar bertema "Transformasi Kepemimpinan Rifa’iyah" yang diselenggarakan di gedung Pimpinan Cabang (PC) Rifa’iyah Sapuran pada Ahad, 30 Agustus 2026. Acara yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini mendapatkan antusiasme tinggi dari para peserta, tercatat sebanyak 98 santri dari Ikatan Santri Rifa’iyah (ISR) hadir dengan penuh semangat untuk menimba ilmu. Dalam seminar tersebut, Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq Syafi’i, M.Pd., AH., memberikan orasi yang menggugah mengenai urgensi kaderisasi. Beliau didampingi oleh pengurus PP AMRI lainnya, yakni Syafiul Umam dan Afif, serta dihadiri oleh perwakilan dari daerah lain seperti Ketua PD AMRI Kabupaten Grobogan, Dzilki, beserta Komandan BARANUSA Grobogan, Roni.

Dalam paparannya, Abdul Kholiq Syafi’i menekankan bahwa ISR merupakan kawah candradimuka atau wadah penggemblengan utama bagi calon-calon pemimpin Rifa’iyah di masa depan. Ia menegaskan bahwa menjadi pemimpin dalam organisasi keagamaan sebesar Rifa’iyah memerlukan persiapan yang matang, tidak hanya dari sisi intelektual atau penguasaan ilmu agama, tetapi juga kesiapan mental dan jiwa besar untuk mengabdi. "Santri Rifa’iyah adalah calon pemimpin masa depan. Siapkan ilmu, mental, dan berjiwa besarlah," tegasnya di hadapan para peserta seminar. Pernyataan tersebut disambut dengan gemuruh tepuk tangan, menandakan adanya resonansi visi antara pengurus pusat dan para santri di tingkat daerah. Kehadiran tokoh-tokoh lokal, seperti Ketua PC Rifa’iyah Kecamatan Sapuran, KH. Mukhtasor, semakin menambah khidmat dan legitimasi kegiatan tersebut di mata para santri.
Jauh sebelum seminar berlangsung, rangkaian penguatan organisasi ini telah dimulai sejak Sabtu, 29 Agustus 2026. Pimpinan Pusat AMRI mengawali agenda dengan silaturahmi ke kediaman Ketua Dewan Syuro PP Rifa’iyah, KH. Afif Afadhol, pada pukul 20.00 WIB. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelaraskan arah pergerakan pemuda dengan kebijakan dan nasihat dari para sesepuh organisasi. Dalam kunjungan tersebut, Abdul Kholiq Syafi’i didampingi oleh jajaran pengurus PP AMRI asal Wonosobo, di antaranya Alawi Mas’ud, Usman, M.Pd., serta Ketua PD AMRI Kabupaten Wonosobo, M. Faqih Al-Amin, S.H. Pertemuan ini menjadi fondasi spiritual dan organisatoris bagi rangkaian agenda yang akan dilakukan pada hari berikutnya.
Setelah sukses menggelar seminar di Sapuran, agenda dilanjutkan pada siang harinya, tepat pukul 13.00 WIB, bertempat di Dukuh Ngariman, Kelurahan Purwojati, Kecamatan Kertek, Wonosobo. Di lokasi ini, PP AMRI menggelar sarasehan yang dihadiri oleh 105 peserta yang terdiri dari pengurus Pimpinan Daerah (PD) AMRI dan Pimpinan Cabang (PC) AMRI se-Wonosobo. Tema yang diusung dalam sarasehan ini adalah "Merajut Hati Mengeratkan Silaturahmi," sebuah tema yang sangat relevan untuk menyatukan kembali barisan organisasi di tingkat daerah.

Dalam forum sarasehan tersebut, Abdul Kholiq Syafi’i secara terbuka memberikan penegasan terkait dinamika organisasi yang sempat terjadi. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa rekan M. Faqih Al-Amin, S.H., adalah ketua yang sah dan memiliki mandat penuh untuk memimpin PD AMRI Wonosobo. Penjelasan ini menjadi penting sebagai bentuk penegakan konstitusi organisasi, di mana beliau menekankan bahwa wewenang untuk mengangkat maupun memberhentikan ketua PD berada di bawah otoritas penuh PP AMRI. Namun, di balik penegasan administratif tersebut, Abdul Kholiq juga mengedepankan sisi humanis dan ukhuwah Islamiyah. Beliau mengajak seluruh pihak untuk melupakan gesekan masa lalu dan berfokus pada agenda organisasi ke depan.
"Sekarang waktunya saling memaafkan, menjalin kerja sama seperti sediakala. Yang sudah berlalu kita jadikan pelajaran. Bismillah, kita buka lembaran baru. Ayo berjuang bersama," ajak Abdul Kholiq yang disambut positif oleh seluruh peserta. Pesan rekonsiliasi ini menjadi inti dari sarasehan tersebut, di mana kebersamaan dipandang sebagai modal utama dalam memajukan Rifa’iyah. Kehadiran Kepala Dusun Ngariman serta jajaran pengurus PD Rifa’iyah Wonosobo dalam forum tersebut semakin memperkuat narasi persatuan yang dibangun oleh PP AMRI.
Transformasi kepemimpinan yang didorong oleh PP AMRI di Wonosobo ini mencerminkan sebuah model manajemen organisasi yang dinamis. Di satu sisi, mereka sangat ketat dalam menjalankan aturan organisasi, namun di sisi lain, mereka sangat luwes dalam merangkul kader-kader muda melalui pendekatan silaturahmi dan dialog. Pola ini sangat efektif untuk menjaga militansi anggota. Bagi para santri, mendapatkan bimbingan langsung dari pimpinan pusat memberikan motivasi tambahan untuk lebih aktif berorganisasi. Mereka tidak lagi melihat organisasi hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai tempat latihan kepemimpinan yang nyata.

Lebih jauh, keberhasilan rangkaian kegiatan di Wonosobo ini juga menunjukkan bahwa komunikasi antara pusat dan daerah di lingkungan Rifa’iyah berjalan dengan baik. PP AMRI berhasil memposisikan diri bukan sebagai instruktur yang kaku, melainkan sebagai mentor yang membimbing. Dengan melibatkan unsur-unsur penting seperti Dewan Syuro dan pengurus daerah, setiap kebijakan yang diambil memiliki landasan yang kuat. Hal ini sangat krusial dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, di mana peran santri diharapkan mampu menjawab kebutuhan umat melalui dakwah yang modern dan organisasi yang profesional.
Para peserta yang hadir dalam rangkaian kegiatan ini pulang dengan membawa semangat baru. Mereka kini lebih memahami bahwa menjadi pemimpin Rifa’iyah di masa depan bukanlah tugas yang ringan, namun dengan bimbingan dan kolaborasi yang solid, hal tersebut dapat dicapai. Transformasi kepemimpinan yang dicanangkan oleh PP AMRI tidak hanya berhenti pada jargon, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata, mulai dari penataan administrasi hingga penguatan hubungan emosional antar pengurus.
Sebagai organisasi yang berbasis pada nilai-nilai keislaman dan pendidikan pesantren, Rifa’iyah memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Melalui inisiatif PP AMRI yang turun langsung ke akar rumput, diharapkan muncul kader-kader pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki loyalitas tinggi terhadap organisasi. Wonosobo menjadi titik awal yang sangat baik untuk memulai gerakan "Merajut Hati" ini, yang nantinya diharapkan bisa direplikasi di berbagai daerah lainnya di seluruh Indonesia.

Rangkaian kegiatan yang diakhiri dengan doa bersama ini menandai berakhirnya kunjungan PP AMRI di Wonosobo. Keberhasilan acara ini menjadi bukti nyata bahwa Rifa’iyah terus bergerak maju, bertransformasi mengikuti tuntutan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan. Dengan sinergi antara santri, pengurus cabang, daerah, dan pusat, masa depan Rifa’iyah dipastikan akan berada di tangan para pemimpin yang siap menghadapi tantangan global dengan landasan iman dan ilmu yang mumpuni. Semangat yang dibangun dari Wonosobo ini diharapkan akan terus bergelora dan menginspirasi seluruh warga Rifa’iyah di mana pun berada, untuk terus berkontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.
