Fri 4 Sep 2026 International edition

Ulasan Gadgets dan Teknologi Terkini

Rifaiyah

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Senja turun perlahan di balik pepohonan, menyapu warna jingga dari cakrawala hingga menyisakan kelabu yang samar. Di teras rumah yang sederhana, seorang ayah duduk termangu, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya yang letih. Di dalam rumah, tiga anaknya tengah bermain dengan riang; suara tawa mereka yang polos sesekali memecah keheningan, namun anehnya, keceriaan itu tidak mampu mengusir kegelisahan yang menyesak di dada sang ayah sejak beberapa hari terakhir. Ia merasa seolah-olah beban hidup sedang menindih pundaknya dengan tekanan yang tak kasat mata.

Sebagai seorang ayah dari tiga orang anak, ia adalah pejuang di garis depan keluarga. Setiap pagi, ia berangkat dengan membawa harapan setinggi langit, namun setiap sore ia pulang dengan membawa hitungan yang memilukan. Uang sekolah anak-anak, biaya beras yang terus merangkak naik, tagihan listrik yang harus segera dilunasi, hingga kebutuhan harian rumah tangga yang tak ada habisnya. Kehidupan baginya seperti sebuah siklus tanpa ujung, di mana setiap rupiah yang didapat seolah hanya numpang lewat sebelum akhirnya berpindah tangan untuk menutupi kebutuhan berikutnya.

Malam itu, setelah ketiga anaknya terlelap dalam mimpi, ia duduk di sudut meja makan, membuka dompet yang tampak kusam. Hanya ada beberapa lembar uang yang tersisa, jumlah yang bahkan mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minggu depan. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan yang terasa sangat berat hingga ke lubuk hati terdalam. Di tengah sunyi yang mencekam, serentetan pertanyaan mulai menyiksa batinnya. "Apakah aku kurang bekerja keras?" tanyanya pada diri sendiri. "Apakah rezekiku memang ditakdirkan sesempit ini? Mengapa orang lain tampak begitu mudah menjalani hidup, sementara aku harus menghitung setiap rupiah dengan gemetar?"

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar seperti pusaran air di kepalanya, menciptakan rasa cemas yang kian mendalam. Ia merasa seolah-olah pintu rezeki sedang tertutup rapat baginya, sementara dunia di luar sana terus bergerak maju meninggalkan dirinya yang tertatih-tatih. Kegelisahan ini akhirnya membawanya pada sebuah keputusan. Keesokan harinya, ia memutuskan untuk pergi menemui seorang kiai alim di desanya, sosok yang dikenal luas bukan hanya karena kedalaman ilmunya, tetapi juga karena kejernihan batin dan keadilannya dalam memandang persoalan manusia.

Sesampainya di kediaman sang kiai, ia menumpahkan segala keluh kesah yang selama ini dipendamnya. "Yai," ucapnya dengan suara bergetar, "saya bekerja setiap hari, saya berusaha sekuat tenaga, dan saya tidak ingin anak-anak saya kekurangan. Tapi mengapa semakin saya mengejar rezeki, hati saya justru merasa semakin sempit? Seolah-olah dunia ini tidak lagi memiliki ruang bagi saya untuk bernapas."

Sang kiai diam sejenak, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan tersebut sebelum akhirnya beliau menatap pria itu dengan pandangan yang teduh. "Menurutmu," tanya kiai itu dengan nada tenang, "apa sebenarnya yang membuat seorang manusia itu mulia?"

Pria itu terdiam, mencoba mencari jawaban yang paling tepat. "Apakah karena hartanya yang melimpah, Yai?" jawabnya ragu. Kiai itu menggeleng perlahan. "Apakah karena rumahnya yang megah dan jabatannya yang tinggi?" Kiai itu kembali menggeleng dengan senyum yang tipis.

"Lalu mengapa," ujar sang kiai dengan suara yang lebih dalam, "engkau mengukur kebahagiaan dan kemuliaanmu dengan sesuatu yang memang tidak pernah Allah janjikan untuk sama rata bagi setiap hamba-Nya? Engkau sedang membandingkan dirimu dengan orang lain, sementara engkau lupa bahwa setiap jiwa memiliki ujiannya masing-masing."

Sang kiai kemudian mengajak pria itu merenungi sebuah pitutur luhur dari KH. Ahmad Rifa’i dalam kitab Abyanal Hawaij, Korasan 66, yang berbunyi:

Mukmin faqir sah iman syarat kapepekan
Kedik rizqine qona’ah kebatinan
Iku nyoto luwih luhur kaderajatan
Mungguh Allah wus kasebut ning Qur’an

Ketika Rezeki Terasa Sempit

Artinya: "Seorang mukmin yang hidup dalam kefakiran, tetapi tetap sah imannya dan teguh hatinya, yang meskipun sedikit rezekinya namun ia memiliki sifat qanaah (merasa cukup) di dalam batinnya, maka itulah yang justru lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an."

"Faqir itu bukan berarti hina," lanjut sang kiai dengan nada yang menenangkan. "Yang hina adalah ketika seseorang kehilangan Allah hanya karena ia begitu terobsesi mengejar dunia hingga melupakan siapa Pemberi Rezeki. Kemiskinan bukanlah aib, namun kemiskinan yang dibarengi dengan keluh kesah dan jauh dari Allah adalah musibah yang sesungguhnya."

Sang kiai kemudian melanjutkan kutipan tersebut:

Lamon netepi wajib tinggal maksiat
Mongko faqir adil luwih luhur derajat
Anapon faqir maksiat tan sholat
Mongko luwih hino tuwin kafir laknat

"Jika seorang yang hidup sederhana tetap menjalankan kewajiban agama dan meninggalkan maksiat," jelas sang kiai, "maka kefakirannya tidak akan membuatnya rendah di mata Allah, bahkan ia bisa lebih luhur derajatnya daripada orang kaya yang lalai. Namun, jika orang miskin lalu meninggalkan salat, gemar berbuat maksiat, dan menjauh dari Allah, maka kemiskinan itu bukanlah sebuah kemuliaan, melainkan jalan menuju kehinaan."

Kalimat-kalimat tersebut menghantam relung hatinya dengan begitu kuat. Pria itu menyadari bahwa selama ini, masalah terbesarnya bukanlah sedikitnya uang di dompet, melainkan sempitnya pandangan hatinya. Ia selama ini terlalu sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan, membandingkan apa yang ada di tangan orang lain dengan apa yang ia miliki. Ia melupakan keberkahan-keberkahan kecil yang sebenarnya adalah rezeki yang jauh lebih mahal dari sekadar uang; anak-anak yang tertawa di ruang sebelah adalah rezeki yang tak ternilai, istri yang setia menunggunya pulang adalah anugerah, tubuh yang masih mampu bekerja keras adalah modal yang luar biasa, dan kesempatan untuk bersujud setiap hari adalah karunia yang tidak bisa dibeli dengan harga berapapun.

Sang kiai memberikan nasihat penutup, "Berusahalah, jangan pernah malas, dan carilah rezeki dengan cara yang halal. Tunaikan kewajibanmu sebagai hamba dan jauhi segala bentuk kemaksiatan. Namun, setelah semua ikhtiar itu engkau lakukan, serahkanlah hasilnya sepenuhnya kepada Allah. Tugasmu adalah berusaha, bukan menentukan berapa banyak Allah harus memberimu. Biarkan Allah yang mengatur takaran rezeki yang terbaik bagimu, karena Dia Maha Tahu apa yang benar-benar engkau butuhkan, bukan sekadar apa yang engkau inginkan."

Pria itu mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca menyadari kebodohannya selama ini. Ia pun berpamitan dan pulang ke rumah dengan langkah yang terasa lebih ringan. Saat ia sampai di rumah, malam telah larut. Ia berdiri di ambang pintu kamar, memandangi wajah ketiga anaknya yang tertidur lelap dengan damai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa lapang. Ia menyadari bahwa uang di dompetnya memang belum bertambah, masalah hidupnya pun belum semuanya selesai, namun cara ia memandang dunia telah berubah secara total.

Ia tersenyum kecil di tengah kesunyian malam. Mungkin Allah memang tidak sedang membuat hidupnya sempit, melainkan sedang mendidik jiwanya agar menjadi pribadi yang tangguh. Allah sedang mengajarkannya bahwa luasnya rezeki tidak selalu diukur dari banyaknya angka di rekening, melainkan dari seberapa lapang hati seseorang dalam menerima setiap ketetapan-Nya.

Malam itu, ia menutup dompetnya tanpa rasa cemas, lalu membuka sajadah dengan penuh kerinduan kepada Sang Pencipta. Di hadapan Allah, ia bersujud dan memanjatkan syukur. Ia akhirnya memahami sebuah hakikat yang mendalam: tidak semua orang yang memiliki sedikit adalah orang yang kekurangan, dan tidak semua orang yang memiliki banyak adalah orang yang kaya. Sebab kekayaan yang paling sulit dicari di dunia ini bukanlah harta yang berlimpah, melainkan sifat qanaah—rasa cukup yang menetap di dalam hati—yang membuat seseorang merasa tenang meskipun dunia sedang tidak berpihak padanya. Kini, ia tidak lagi merasa sesak, karena ia tahu bahwa selama Allah ada di hatinya, ia tidak pernah benar-benar kekurangan.

Related stories

More from Rifaiyah

View all →

Most viewed across the site