0

Ketika Kaca Hati Berdebu

Share

Ada malam-malam yang tidak direncanakan menjadi istimewa, namun justru di situlah hikmah paling dalam turun tanpa diduga. Malam itu, sebagaimana malam-malam yang lain sepanjang hampir dua tahun terakhir, majelis selapan kembali digelar. Para sesepuh, kiai, asatidz, dan warga Rifa’iyah duduk berjajar, sebagian menenteng kitab tarajumah yang sudah lusuh dimakan usia. Malam itu dijadwalkan kajian kitab Ushul Fiqih Tasawuf, Riayatul Himmah—sebuah forum yang telah menjelma rutinitas batin bagi warga Rifa’iyah: tempat mereka pulang, sebulan sekali, untuk menakar ulang arah hidupnya. Namun sebelum kitab itu sempat dibuka, terjadi sesuatu yang justru menjadi pelajaran pertama malam itu—jauh sebelum satu kalimat pun dari kitab dibacakan.

Pembawa acara menyampaikan permohonan maaf. Kiai yang dijadwalkan mengisi malam itu, KH. Khairuddin, yang biasa mengaji kitab Tahsinah, berhalangan hadir karena ada uzur. Kekosongan itu lalu dipasrahkan kepada Kiai Akramuddin dari Biro Syariah. Tetapi Kiai Akramuddin menolak halus—bukan karena enggan, melainkan karena ketawadhuan yang tak membiarkannya merasa pantas menempati posisi itu. Permintaan lalu berpindah kepada Kiai Ahmad Riyadin Al-Hafidz, anggota Biro Syariah yang lain. Jawabannya pun serupa: belum sanggup. Pada akhirnya, giliran jatuh kepada KH. Muhammad Abidun, Lc., Ketua Biro Syariah Pimpinan Pusat Rifa’iyah. Beliau duduk di meja Muallim sambil tersenyum, mengakui dengan jujur di hadapan jamaah bahwa malam itu ia hadir bukan sebagai kiai yang terjadwal, melainkan sebagai orang yang didesak maju.

Ada sesuatu yang menyentuh dari peristiwa kecil ini. Di tengah budaya yang kerap memuja jabatan dan panggung, para kiai di majelis itu justru saling menghindar dari mimbar, saling mendorong yang lain untuk maju lebih dulu. Ketawadhuan bukan lagi teori yang dikaji dari kitab, melainkan yang benar-benar dipraktikkan sebelum pengajian dimulai. KH. Muhammad Abidun sendiri menjelaskan filosofi di baliknya: mengaji kitab secara runtut, dari halaman ke halaman, adalah hak istimewa para masyayikh yang memiliki sanad muttasil hingga KH. Ahmad Rifa’i. Bila terjadi kekosongan seperti malam itu, pengisi pengganti cukup menyampaikan tema, tidak harus melanjutkan urutan kitab. Maka malam itu pun bukan kelanjutan dari kitab Tahsinah, melainkan sebuah tema besar yang menjadi induk dari seluruh laku spiritual: watahhiril qolba—bersihkanlah hatimu.

Kitab yang dibuka adalah nazam dari kitab Riayatal Himmah, berisi ilmu telung perkara: Ushul Fiqih Tasawwuf, karya Syekhina KH. Ahmad Rifa’i. Nazam ini begitu akrab di telinga warga Rifa’iyah—dihafal turun-temurun, dilantunkan dalam bahasa Jawa pegon yang khas, namun maknanya menghunjam jauh melampaui susunan kata-katanya yang sederhana. Dari satu bait pembuka itu, KH. Muhammad Abidun mengurai tiga pesan inti. Pertama, membersihkan kalbu dari riya’, yakni pamer di dalam amal ibadah. Sesuatu yang tampak seperti kebaikan di luar, namun keropos di dalamnya. Kedua, meluruskan niat. Setiap langkah menuju Allah harus dimulai dari niat yang jujur. Ketiga, disertai ikhtiar yang sungguh-sungguh atau wabtaghi bil asbab.

Di sinilah letak pembeda penting antara rojak dan umniyah. Rojak adalah harapan yang disertai usaha nyata, sedangkan umniyah adalah sekadar angan-angan kosong. Kepada siapa ketiga hal ini digali? Nazam itu menjawab tegas: kepada seorang alim adil. Dan di atas semua itu, ada satu rambu yang paling mudah terlewat: jangan pernah merasa bahwa amal yang berhasil dilakukan adalah murni buah usaha sendiri. Melupakan hal ini adalah pintu masuk penyakit ujub: membanggakan amal seolah semuanya berasal dari diri sendiri.

Mengapa hati—bukan akal, bukan tubuh—yang harus dibersihkan lebih dulu? KH. Muhammad Abidun mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang segumpal daging yang menentukan baik atau rusaknya seluruh jasad. Hati diibaratkan seperti teko; jika isinya kopi, yang keluar kopi. Jika isinya air comberan, yang keluar pun comberan. Lisan yang tajam menyakiti, tangan yang bergerak buruk, semuanya berpangkal dari satu ruang yang sama: kalbu. Ada catatan sejarah yang menarik disampaikan malam itu. Fase dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah dipenuhi penekanan pada tazkiyatun nafs—pembersihan jiwa. Semua itu menunjukkan satu prinsip penting dalam syariat: tadaruj atau bertahap. Namun fondasi paling awal, yang tak pernah ditunda, selalu sama: membersihkan hati.

Bagian yang paling menyentuh adalah ketika KH. Muhammad Abidun mengurai klasifikasi hati menurut Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah: qolbun mayitun (hati yang mati), qolbun maridun (hati yang sakit), dan qolbun salimun (hati yang selamat). Qolbun mayitun adalah kondisi hati yang sudah tertutup rapat dari cahaya kebenaran. Kebutaan yang sesungguhnya bukanlah kebutaan mata di kepala, melainkan kebutaan mata hati (basirah). Seseorang bisa saja melihat dengan sempurna, namun tetap buta dalam arti yang paling menentukan.

Ketika Kaca Hati Berdebu

Qolbun maridun, hati yang sakit, justru lebih dekat dengan kita semua—inilah hatinya orang beriman yang lebih banyak dikuasai hawa nafsu ketimbang syariat. Cirinya sederhana namun menohok: tidak merasakan kenikmatan beribadah. Mengaji terasa berat, salat hambar, zikir tak berbekas. KH. Muhammad Abidun mengutip peringatan Nabi tentang kaum Khawarij, yang salat dan bacaan Al-Qur’annya melimpah, namun tak menembus hati karena disumbat kesombongan. Pesan penting di sini: klasifikasi ini bukan alat untuk menghakimi orang lain, melainkan cermin untuk menakar diri sendiri. Ibarat orang yang sedang demam, makanan paling lezat sekalipun akan terasa hambar di lidahnya, bukan karena makanannya buruk, tetapi karena tubuhnya sedang sakit.

Dan qolbun salimun—hati yang selamat, adalah bekal yang dibawa menghadap Allah di hari kiamat ketika harta dan anak-anak tak lagi berguna. Jabatan, kekayaan, bahkan keturunan, semuanya tak berdaya di hadapan-Nya, kecuali satu hal: kebersihan hati.

Dari mana ilmu yang menerangi hati itu datang? KH. Muhammad Abidun mengutip Imam Al-Ghazali yang membagi jalan masuknya ilmu ke dalam kalbu menjadi dua jalur. Jalur pertama datang dari luar—melalui mata dan telinga, melalui pengajaran guru, dan majelis ilmu. Jalur kedua datang dari dalam—ilham yang ditancapkan langsung ke dalam kalbu atau ilmu laduni. Namun jalur kedua bukan jalan pintas yang bisa dipilih sesuka hati. Ia menuntut mujahadah—tirakat panjang meninggalkan yang haram dan menjauhi yang syubhat. Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati sebagai kolam; air ilmu bisa datang dari sungai (jalur luar), bisa pula muncul dari mata air di dasar tanah (jalur dalam). Meskipun mata air bawah tanah lebih jernih, seorang penuntut ilmu tetap wajib menempuh jalur syariat: mengaji kepada para ulama, bukan berdiam diri menanti wangsit.

KH. Muhammad Abidun juga menerjemahkan konsep tasawuf ke dalam bahasa yang akrab dengan era modern. Manusia diciptakan sebagai makhluk canggih, ibarat ponsel pintar dengan spesifikasi tertinggi. Namun bila ponsel itu dipenuhi virus dan aplikasi sampah, performanya akan melambat, sering macet, bahkan hang. Begitu pula hati manusia—secanggih apa pun ia diciptakan, bila dipenuhi dosa dan kelalaian, ia akan kehilangan kepekaannya sendiri. Beliau juga mengutip metafora Imam Al-Ghazali: kalbu sebagai raja, akal sebagai perdana menteri, amarah sebagai aparat keamanan, dan syahwat sebagai gubernur. Jika sang raja—kalbu—memerintah dengan baik melalui akal yang tegak pada koridornya, seluruh anggota tubuh akan ikut tertib.

Sesi tanya jawab menghadirkan kedalaman spiritual yang nyata. Saat ditanya bagaimana cara menghidupkan hati yang mati, KH. Muhammad Abidun memberikan tiga langkah: taubat, mencari guru yang mursyid, dan dzikir. Taubat adalah pintu masuk yang tak bisa ditawar, sebagaimana kisah Umar bin Khattab yang hatinya luluh saat mendengar lantunan ayat Al-Qur’an. Mencari guru yang alim dan adil adalah kebutuhan, layaknya pasien yang membutuhkan dokter spesialis. Sementara dzikir adalah pengasah hati yang berkarat, dengan urutan istighfar, sholawat, dan tahlil. Seiring waktu, dzikir yang semula sekadar di lisan akan berpindah menjadi dzikir yang hadir di hati.

Tentang bagaimana cara mengetahui bahwa kita telah merasakan manisnya ibadah, KH. Muhammad Abidun mengutip Umar bin Khattab yang menyatakan bahwa pertemuan dengan saudara seiman dan salat malam adalah kenikmatan tertinggi. Begitu pula kisah Rabiah al-Adawiyah yang merasa sedih ketika malam berganti pagi, karena waktu bermunajat akan segera berakhir. Kenikmatan ini bukanlah hasil kalkulasi usaha manusia semata, melainkan bonus dari Allah bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Tidak ada jalan pintas menuju kenikmatan ibadah, selain membersihkan hati dan menempuh jalan mujahadah.

Sesi malam itu ditutup dengan doa dan sholawat, namun meninggalkan satu pertanyaan mendasar yang dibawa pulang oleh setiap jemaah: seperti apa keadaan hati saya malam ini—mati, sakit, atau selamat? Barangkali, di situlah letak keberkahan dari sebuah kekosongan jadwal yang tak terduga. Ketika seorang kiai yang "didesak" naik mimbar justru menyampaikan pesan yang paling dibutuhkan: bahwa perjalanan menuju Allah tidak dimulai dari kefasihan berbicara, melainkan dari satu titik yang paling sunyi dalam diri manusia—kaca hati yang harus senantiasa dibersihkan dari debu duniawi. Menjaga kebersihan hati adalah perjuangan seumur hidup, sebuah ikhtiar untuk tetap memantulkan cahaya Ilahi di tengah kegelapan zaman yang seringkali membuat jiwa kita berdebu dan kehilangan arah. Akhirnya, setiap warga Rifa’iyah yang pulang malam itu membawa sebuah resolusi batin: merawat hati agar tetap jernih, agar setiap amal tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi menjadi tangga yang benar-benar menghantarkan diri menuju keridaan-Nya. Wallahu a’lam bishawab.