TEMANGGUNG – Kepedulian terhadap anak yatim dan kaum duafa merupakan bentuk nyata keberpihakan kepada kelompok lemah yang sangat dicintai Allah SWT. Siapa pun yang menyayangi dan mengasihi mereka akan mendapatkan kasih sayang serta perlindungan langsung dari Allah SWT. Pesan moral yang mendalam ini disampaikan oleh KH. Muhammad Idror Maemoen dalam puncak acara Santunan Anak Yatim ke-22 sekaligus peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang digelar oleh Panitia Santunan Anak Yatim (PANSAY) Ranting Rifaiyah Joho, Kecamatan Wonoboyo, Kabupaten Temanggung, pada Kamis (25/06/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan di halaman Masjid Istiqomah, Dusun Joho tersebut menjadi magnet luar biasa bagi masyarakat sekitar. Tercatat tidak kurang dari 2.000 pengunjung memadati area lokasi, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat dalam balutan ukhuwah Islamiyah. Rangkaian acara yang disusun secara apik ini meliputi tausiah keagamaan, prosesi penyerahan santunan kepada 457 anak yatim yang datang dari berbagai wilayah, serta doa bersama untuk menyambut pergantian tahun dalam kalender Hijriah.
Dalam tausiah utamanya, Gus Idror—sapaan akrab putra mendiang ulama kharismatik KH Maemoen Zubair—menekankan bahwa anak yatim dan kaum duafa bukanlah sekadar objek belas kasihan, melainkan golongan yang memiliki posisi istimewa di mata Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa memuliakan mereka adalah salah satu jalan pintas menuju rida ilahi.
"Orang yang mau berbagi, mengasihi, dan membantu anak yatim serta kaum lemah akan mendapatkan perlindungan dan jaminan dari Allah SWT. Sebaliknya, jangan sekali-kali menyakiti hati anak yatim, karena Allah akan memberikan balasan yang jauh lebih berat bagi siapa pun yang mendzalimi mereka," tegas Gus Idror di hadapan ribuan jamaah.
Lebih lanjut, beliau memberikan filosofi kehidupan yang sangat menyentuh terkait keberkahan dalam mengasuh anak yatim. Menurutnya, kepedulian terhadap anak yatim bukan hanya mendatangkan pahala jariyah yang tidak terputus, tetapi juga menjadi sebab datangnya pertolongan Allah (pertolongan gaib) dalam urusan pribadi seseorang. "Jika kita mengurus anak yatim dengan baik, maka Allah akan menjamin dan mengurus anak-anak kita," ujarnya, yang disambut dengan amin oleh para hadirin.
Gus Idror juga mengaitkan nilai kepedulian sosial ini dengan kepemimpinan dan kekuasaan. Baginya, sejarah telah membuktikan bahwa pemimpin atau sosok yang memiliki empati tinggi terhadap rakyat kecil akan selalu memperoleh pertolongan serta kemenangan dari Allah SWT. Dalam pandangannya, kekuatan sebuah bangsa atau komunitas sangat bergantung pada bagaimana mereka memperlakukan anggota masyarakat yang paling rentan.

Momentum Tahun Baru Islam 1448 H pun menjadi landasan beliau untuk berbicara tentang pentingnya perubahan diri. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW adalah inspirasi terbesar bagi umat untuk melakukan transformasi sosial. "Allah memiliki sifat Al-Lathif, Maha Lembut dalam mengatur perubahan. Banyak perubahan besar yang datang tanpa kita sadari prosesnya, namun dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istikamah," katanya.
Beliau menguraikan bahwa perkembangan Islam yang masif hingga ke seluruh penjuru dunia bermula dari langkah hijrah yang penuh strategi dan tawakal. "Dengan Hijrah, syariat Islam makin tampak, keputusan-keputusan besar mulai dijalankan, dan cahaya Islam semakin terang bagi umat manusia. Inilah yang harus kita tiru dalam kehidupan bermasyarakat; terus bergerak menuju kebaikan," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia PANSAY, M. Shokif Baihaqi, dalam laporannya memaparkan keberhasilan program yang telah berjalan secara konsisten selama 22 tahun ini. "Program ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan komitmen panjang kami untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan," ungkapnya.
Tahun ini, panitia berhasil menghimpun dana donasi dari para dermawan dengan nominal yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp 263.403.500. Dana tersebut kemudian didistribusikan kepada 457 anak yatim yang tersebar tidak hanya di Kabupaten Temanggung, tetapi juga menjangkau anak-anak yatim di Kabupaten Wonosobo dan Kendal. Hal ini menunjukkan bahwa jejaring kepedulian yang dibangun oleh Ranting Rifaiyah Joho memiliki jangkauan lintas daerah yang luas.
"Kami membuka layanan donasi sepanjang tahun, tidak hanya pada bulan Muharam. Selain santunan rutin Muharam, kami juga memiliki program penyaluran bantuan menjelang Hari Raya Idulfitri dan saat memasuki tahun ajaran baru. Bantuan ini kami hantarkan langsung ke tempat tinggal para penerima untuk memastikan ketepatan sasaran," jelas Haqi, yang merupakan lulusan Ekonomi Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Salah satu orang tua penerima santunan, Ibu Mistinah (52), asal Dusun Senet, Desa Purwosari, Wonoboyo, tampak haru saat mendampingi putranya, Satria Ali (10). Bagi Mistinah, santunan yang diberikan bukan sekadar nominal uang, melainkan bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan dan kehidupan sehari-hari anaknya.
"Bantuan ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sekolah dan harian anak saya. Kami merasa sangat terbantu dan diperhatikan. Semoga para dermawan yang telah menyisihkan hartanya diberikan balasan oleh Allah dengan keberkahan yang berlipat ganda, kesehatan, serta kelancaran rezeki," tutur Mistinah dengan nada haru.

Acara ini juga menjadi ajang konsolidasi para tokoh masyarakat dan pejabat daerah. Kehadiran berbagai elemen penting menunjukkan besarnya dukungan terhadap kegiatan sosial keagamaan ini. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya KH. Syihabudin (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hadist Wonorejo), KH. Imbuh Jumali (Pengasuh Pondok Pesantren Riyadhotus Sholihin Pomahan), serta KH. Samsul Maarif (Ketua Dewan Syuro Pengurus Daerah Rifaiyah Temanggung).
Selain dari kalangan ulama, hadir pula Agus Sujarwo selaku Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kabupaten Temanggung yang mewakili pemerintah daerah. Kehadiran unsur Forkompimcam Wonoboyo dan para kepala desa se-Kecamatan Wonoboyo semakin mengukuhkan bahwa gerakan sosial ini telah mendapat legitimasi dan dukungan penuh dari struktur pemerintahan setempat.
Kegiatan santunan ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat tentang esensi beragama yang tidak hanya terbatas pada ritual ibadah mahdah, tetapi juga ibadah sosial (muamalah). Dengan menyantuni anak yatim, komunitas Ranting Rifaiyah Joho telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi penggerak perubahan yang konkret di tengah tantangan ekonomi yang kian dinamis.
Kesuksesan acara ini diharapkan dapat memicu semangat bagi organisasi lain untuk melakukan hal serupa. Keistiqamahan panitia selama 22 tahun menjadi teladan nyata bahwa konsistensi dalam kebaikan akan membuahkan hasil yang besar. Dana yang terkumpul bukan hanya angka, melainkan simbol kepercayaan masyarakat kepada pengurus PANSAY dalam mengelola amanah umat.
Sebagai penutup, tausiah Gus Idror kembali terngiang dalam ingatan para jamaah bahwa kepedulian kepada sesama adalah cerminan dari iman seseorang. Di tengah dunia yang semakin individualistis, langkah PANSAY Ranting Rifaiyah Joho menjadi oase yang menyejukkan, menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang masih tegak berdiri di Kabupaten Temanggung.
Semoga semangat Hijrah 1448 H yang diusung dalam acara ini mampu menginspirasi lebih banyak pihak untuk terus peduli, berbagi, dan meringankan beban anak yatim, sehingga tercipta tatanan masyarakat yang lebih harmonis, beradab, dan penuh dengan keberkahan dari Allah SWT. Peran aktif dari para tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat umum dalam mendukung acara ini adalah kunci utama keberhasilan gerakan sosial yang berkelanjutan di masa depan.

