Teheran menjadi pusat perhatian dunia internasional saat ribuan massa memadati kompleks keagamaan Grand Mosalla untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Suasana duka yang menyelimuti ibu kota Iran ini tidak hanya menandai berakhirnya era kepemimpinan sosok yang memegang kendali penuh kebijakan negara sejak 1989 tersebut, tetapi juga menjadi panggung bagi berkumpulnya para pemimpin faksi militan regional yang selama ini berafiliasi dengan Teheran. Kehadiran delegasi tingkat tinggi dari Hizbullah Lebanon dan Hamas Palestina di tengah upacara pemakaman menegaskan ikatan ideologis dan strategis yang kuat dalam apa yang disebut sebagai "Poros Perlawanan".
Ali Khamenei, yang meninggal dunia pada usia 86 tahun akibat serangan udara yang dilancarkan oleh aliansi AS-Israel pada 28 Februari lalu, telah meninggalkan warisan politik yang sangat mendalam. Kematiannya, yang terjadi bersamaan dengan beberapa pejabat tinggi dan anggota keluarganya, telah memicu gelombang ketegangan baru yang mengguncang stabilitas Timur Tengah. Dalam konteks geopolitik saat ini, kehadiran para pemimpin kelompok militan ini di Teheran bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan pernyataan sikap bahwa jaringan perlawanan terhadap hegemoni Barat dan Israel tetap solid meski kehilangan tokoh sentral mereka.
Delegasi Hizbullah yang hadir dalam upacara khidmat tersebut dipimpin oleh Mohammed Fneish, seorang tokoh senior yang juga pernah menjabat sebagai menteri di pemerintahan Lebanon. Selain jajaran pejabat teras, delegasi ini juga membawa serta perwakilan keluarga dari para pejuang Hizbullah yang tewas atau terluka dalam konflik berkepanjangan di perbatasan Lebanon-Israel. Kehadiran Fneish menunjukkan bahwa hubungan Teheran dengan Hizbullah, yang merupakan proksi paling strategis Iran di Levant, tetap menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri Iran pasca-Khamenei. Di sela-sela prosesi pemakaman, delegasi Hizbullah diketahui melakukan pertemuan tertutup dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, untuk membahas arah kebijakan regional ke depan.
Di sisi lain, Hamas, kelompok perlawanan Palestina yang tengah berjuang menghadapi tekanan militer hebat di Gaza, juga mengirimkan delegasi tingkat tinggi. Kelompok ini dipimpin oleh kepala biro politiknya, Mohammed Darwish, didampingi oleh anggota biro politik senior seperti Bassem Naim. Kehadiran petinggi Hamas di Teheran membawa memori kolektif tentang insiden tragis Juli 2024, ketika pendahulu mereka, Ismail Haniyeh, tewas dalam sebuah operasi intelijen di Teheran saat menghadiri pelantikan Presiden Masoud Pezeshkian. Kehadiran delegasi Hamas saat ini merupakan penegasan bahwa mereka tetap memandang Iran sebagai sekutu terpenting di tengah isolasi politik dan blokade militer yang mereka alami.
Iran selama beberapa dekade telah menjadi penyokong utama bagi kelompok-kelompok militan di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan Houthi di Yaman. Kelompok-kelompok ini, yang secara kolektif dicap sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat dan sekutu Baratnya, telah membuat Iran terus-menerus menjadi sasaran sanksi ekonomi dan isolasi diplomatik internasional. Namun, bagi Teheran, dukungan terhadap kelompok-kelompok ini adalah instrumen kebijakan luar negeri yang esensial untuk memproyeksikan kekuatan Iran jauh melampaui perbatasannya sendiri, menciptakan "sabuk keamanan" yang menghadang pengaruh Amerika dan Israel di Timur Tengah.
Prosesi pemakaman yang berlangsung di Grand Mosalla ini dijadwalkan akan terus berlanjut hingga hari Minggu, yang telah ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah Iran. Keputusan pemerintah untuk memperpanjang masa berkabung menunjukkan betapa krusialnya figur Khamenei bagi struktur kekuasaan di Iran. Selama 35 tahun masa jabatannya, Khamenei tidak hanya bertindak sebagai otoritas keagamaan tertinggi tetapi juga sebagai pengambil keputusan akhir dalam isu-isu krusial seperti program nuklir, kebijakan ekonomi, hingga manuver militer di luar negeri. Kepergiannya di saat kawasan sedang berada dalam titik didih perang yang dipicu oleh serangan akhir Februari lalu menciptakan kekosongan kekuasaan yang menjadi tantangan berat bagi para suksesornya.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Iran menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dalam upacara pemakaman sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan asing. "Tunjukkan kepada dunia kebesaran Iran serta kemuliaan persatuan dan wibawa nasional," tulis pernyataan tersebut. Ajakan ini tampaknya berhasil, dengan lautan manusia yang mengenakan pakaian hitam berkumpul di Teheran, menciptakan pemandangan yang menunjukkan bahwa meskipun ada krisis internal dan tekanan internasional, pemerintah Iran tetap memiliki basis dukungan akar rumput yang sangat fanatik dan militan.
Kematian Ali Khamenei pada 28 Februari dalam serangan udara yang diklaim sebagai operasi gabungan AS-Israel telah mengubah peta pertempuran di Timur Tengah. Serangan tersebut tidak hanya menewaskan sang pemimpin, tetapi juga memicu serangkaian aksi pembalasan dan eskalasi militer yang saat ini masih berlangsung. Pertemuan antara delegasi asing dan para petinggi Iran di sela-sela pemakaman ini memberikan sinyal bahwa meskipun pemimpin tertingginya telah tiada, kebijakan "Poros Perlawanan" tidak akan mengalami pergeseran haluan yang drastis. Pertemuan dengan Abbas Araghchi menjadi indikator penting bahwa jalur komunikasi antara Teheran dan sekutu regionalnya tetap terjaga, memberikan jaminan bahwa koordinasi militer dan dukungan logistik tidak akan terputus.
Bagi komunitas internasional, kehadiran delegasi Hizbullah dan Hamas di Teheran memberikan pesan yang jelas bagi Barat. Bahwa sanksi ekonomi yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun tidak mampu memutus ikatan ideologis yang telah dibangun Iran di kawasan. Sebaliknya, setiap tindakan militer yang dilakukan terhadap Iran atau sekutunya justru memperkuat narasi perlawanan yang terus didengungkan oleh Teheran. Di tengah ketidakpastian politik pasca-Khamenei, dunia kini menunggu bagaimana Iran akan menavigasi krisis ini. Apakah akan ada perubahan dalam strategi regional, atau justru akan terjadi eskalasi yang lebih radikal untuk menjaga warisan revolusi yang ditinggalkan oleh mendiang pemimpin mereka.
Sementara itu, di jalan-jalan Teheran, kerumunan massa terus meneriakkan slogan-slogan anti-AS dan anti-Israel. Kepergian Khamenei diratapi bukan hanya sebagai hilangnya seorang tokoh agama, melainkan sebagai gugurnya seorang komandan tertinggi yang selama ini dianggap sebagai pelindung ideologi revolusi Islam. Bagi para delegasi Hizbullah dan Hamas, kehadiran mereka di sini adalah bentuk loyalitas kepada garis kebijakan yang pernah ditetapkan oleh Khamenei. Mereka datang untuk memastikan bahwa meski sang pemimpin telah tiada, komitmen Iran terhadap perjuangan kelompok-kelompok perlawanan tetap menjadi prioritas utama.
Situasi di Timur Tengah pasca-28 Februari memang berada dalam titik yang sangat genting. Perang yang dipicu oleh kematian Khamenei telah melibatkan berbagai aktor negara dan non-negara, menciptakan dinamika yang sangat kompleks untuk diselesaikan melalui jalur diplomasi. Dengan delegasi dari berbagai faksi hadir di Teheran, panggung pemakaman ini berubah menjadi forum informal untuk merumuskan masa depan "Poros Perlawanan". Pertemuan yang berlangsung di sela-sela duka nasional ini menjadi bukti bahwa Iran, meski sedang berduka, tetap memegang kendali atas jaringan proksinya.
Dalam beberapa hari ke depan, perhatian dunia akan tertuju pada bagaimana transisi kepemimpinan di Iran akan dikelola. Apakah Iran akan memilih sosok yang lebih moderat atau justru garis keras yang akan melanjutkan kebijakan agresif Khamenei? Kehadiran delegasi Hizbullah dan Hamas di pemakaman ini memberikan gambaran bahwa apa pun keputusan yang diambil oleh Dewan Ahli di Iran nanti, kebijakan luar negeri yang berorientasi pada dukungan terhadap kelompok militan kemungkinan besar akan tetap dipertahankan. Hubungan yang telah terjalin selama puluhan tahun ini telah mengakar kuat dalam doktrin pertahanan Iran, menjadikannya elemen yang sulit dipisahkan dari stabilitas nasional Iran sendiri.
Prosesi pemakaman yang megah dan penuh dengan simbolisme keagamaan serta politik ini adalah penutup dari sebuah bab penting dalam sejarah Iran modern. Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin; dia adalah simbol dari perlawanan Iran terhadap dominasi global. Kehadiran para pimpinan Hizbullah dan Hamas di samping para petinggi Iran di Grand Mosalla bukan hanya penghormatan, melainkan janji setia untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintis selama puluhan tahun. Di bawah bayang-bayang ketidakpastian perang, solidaritas yang ditunjukkan hari ini adalah pesan bagi musuh-musuh Iran bahwa "Poros Perlawanan" tetap berdiri tegak, siap menghadapi babak baru dalam konfrontasi regional yang tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.
Dengan berakhirnya upacara pemakaman pada hari Minggu mendatang, Iran akan memulai proses panjang untuk menentukan arah masa depan. Namun, satu hal yang pasti, bahwa kehadiran delegasi asing di Teheran hari ini menegaskan posisi Iran sebagai pusat gravitasi bagi kekuatan-kekuatan yang menentang tatanan dunia yang dipimpin oleh Barat di Timur Tengah. Dunia kini hanya bisa mengamati apakah solidaritas yang dipamerkan di pemakaman ini akan berubah menjadi tindakan militer yang lebih besar atau justru menjadi pijakan bagi negosiasi yang lebih pragmatis di masa depan. Untuk saat ini, duka di Teheran adalah duka bagi sebuah poros yang merasa terancam, namun tetap bertekad untuk terus bertahan di tengah badai geopolitik yang sedang berkecamuk.

