Keteladanan Rasulullah SAW merupakan mercusuar bagi kehidupan manusia, di mana akhlak beliau bukan sekadar teori moral, melainkan realitas hidup yang membumi, sangat kontras dengan fenomena sebagian tokoh agama di era modern yang sering kali terjebak dalam menara gading kekuasaan, kesombongan, dan standar ganda. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan beragama saat ini, kita sering menyaksikan realitas yang menyayat hati, di mana mereka yang seharusnya menjadi teladan justru menjadi sumber kegelisahan umat. Pertanyaan mendasar yang muncul di berbagai forum diskusi umat adalah: apakah perilaku para tokoh agama hari ini masih mencerminkan sifat kenabian, atau justru telah bergeser menjadi simbol kemewahan dan kepentingan duniawi yang merusak esensi dakwah itu sendiri?
Sebuah ilustrasi sederhana sering muncul di tengah masyarakat kita, yakni tentang ketidaknyamanan saat makan bersama orang yang dianggap "tokoh agama" atau kiai. Ada semacam jarak psikologis yang terbangun—bukan karena kemuliaan akhlak sang tokoh, melainkan karena kesan eksklusif dan segan yang berlebihan. Hal ini sangat jauh berbeda dengan sosok Rasulullah SAW. Dalam Ath-Thabaqat al-Kubra karya Imam Ibnu Sa’ad, diriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa seorang pria datang menemui Nabi SAW dan tubuhnya gemetar karena rasa segan yang luar biasa. Rasulullah SAW, dengan kerendahan hati yang luar biasa, segera meruntuhkan sekat tersebut dan bersabda, "Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putra dari seorang perempuan Quraisy yang biasa memakan dendeng." Inilah cerminan pemimpin sejati; beliau tidak pernah memposisikan diri sebagai penguasa yang harus ditakuti, melainkan sebagai hamba Allah yang melayani umat dengan cinta dan kesederhanaan.
Kenyataan hari ini sering kali memilukan. Banyak tokoh agama yang justru terlibat dalam perselisihan organisasi demi memperebutkan pengaruh, terjerat kasus moral yang mencoreng institusi agama, hingga gaya hidup yang jauh dari kata sederhana di tengah jemaah yang masih berjuang untuk bertahan hidup. Fenomena ini oleh sebagian orang disebut sebagai "dunia terbalik", di mana posisi sebagai tokoh agama dijadikan sebagai alat untuk meraih legitimasi politik dan keuntungan ekonomi. Ketika agama dijadikan komoditas, maka wajar jika terjadi jarak yang lebar antara isi khutbah di atas mimbar dengan perilaku di balik layar. Seolah-olah, mimbar hanya menjadi panggung untuk menutupi borok-borok perilaku yang sesungguhnya jauh dari nilai-nilai ketakwaan.
Perlu dipahami bahwa Rasulullah SAW sendiri pernah diberikan pilihan oleh Allah SWT, apakah ingin menjadi Malikan Nabiyyan (nabi sekaligus raja) atau Abdan Rasulan (hamba sekaligus rasul). Dalam Musnad Imam Ahmad, melalui riwayat Abu Hurairah, dijelaskan bahwa Malaikat Jibril membisikkan agar Nabi SAW memilih untuk bertawadhu. Tanpa keraguan sedikit pun, beliau memilih menjadi hamba dan rasul. Pilihan ini adalah bukti nyata bahwa bagi Rasulullah, kekuasaan hanyalah instrumen untuk khidmah (pelayanan), bukan untuk kemegahan. Jika kita melihat sejarah, beliau adalah kepala negara yang mengelola administrasi, panglima perang yang strategis, dan kepala rumah tangga yang adil, namun beliau tidak pernah membiarkan semua jabatan itu mengikis sifat kemanusiaan dan kerendahan hatinya.
Allah SWT telah memberikan peringatan keras dalam QS. At-Taubah ayat 34 mengenai perilaku para tokoh agama yang menyalahgunakan kedudukannya. "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak dari pendeta-pendeta Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta manusia dengan jalan yang batil, serta menghalang-halangi manusia dari jalan Allah." Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kerusakan yang ditimbulkan oleh tokoh agama yang korup jauh lebih berbahaya daripada orang awam, karena umat meletakkan kepercayaan mereka pada otoritas agama. Ketika seorang tokoh agama menjadi su’u (buruk), maka yang rusak bukan hanya dirinya, melainkan tatanan kepercayaan umat terhadap agama itu sendiri.

Ketimpangan antara ucapan dan tindakan adalah penyakit kronis yang juga ditegur oleh Allah dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3. "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sungguh besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." Ancaman bagi mereka yang khianat terhadap ilmunya sendiri sangat mengerikan, sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim tentang seseorang di neraka yang ususnya terburai dan berputar-putar seperti keledai penggilingan. Ketika ditanya mengapa ia mengalami siksa tersebut, ia menjawab bahwa ia dahulu memerintahkan kebaikan tetapi ia tidak melakukannya, dan melarang kemungkaran tetapi ia sendiri melanggarnya. Ini adalah peringatan bagi setiap individu yang membawa nama agama, bahwa tanggung jawab di akhirat jauh lebih berat daripada tepuk tangan jemaah di dunia.
Krisis keteladanan ini tidak boleh dibiarkan. Sebagai umat, kita harus memiliki sikap kritis yang sehat. Ghuluw atau berlebih-lebihan dalam mengagungkan tokoh hingga menganggap mereka suci tanpa cela adalah kesalahan fatal. Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti agar kita tidak menyanjungnya sebagaimana umat Nasrani menyanjung Nabi Isa. Kita mencintai ulama karena ilmunya dan kedekatannya dengan Allah, namun jika mereka mulai menyimpang dari jalan kenabian, maka kita memiliki kewajiban moral untuk tidak mengikuti kesesatan tersebut. Kiai dan ustadz bukanlah nabi yang maksum; mereka adalah manusia biasa yang bisa salah, namun mereka memikul beban tanggung jawab yang lebih besar karena ilmu yang mereka sandang.
Langkah untuk memperbaiki keadaan ini dimulai dari internal diri kita masing-masing. Bagi para tokoh, kembalilah pada prinsip Abdan Rasulan. Jadikan ilmu sebagai jalan untuk melayani, bukan untuk memuaskan ego kekuasaan. Bagi umat, jadikanlah Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar utama dalam menilai kebenaran, bukan semata-mata bergantung pada ketokohan seseorang. Kita harus berani menegur dengan santun jika melihat kemungkaran di lingkungan tokoh agama, namun juga tetap menghormati mereka yang masih istikamah menjaga amanah dakwah.
Di penghujung khutbah ini, mari kita renungkan pesan Umar bin Khattab ra.: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab." Introspeksi adalah kunci. Apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi umat, atau justru menjadi beban tambahan bagi agama? Jangan sampai kita menjadi tokoh agama yang hanya pandai merangkai kata di atas mimbar, namun kering dari keteladanan di lapangan. Ingatlah bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang merendahkan dirinya karena-Nya, sebagaimana sabda Nabi SAW dalam riwayat Muslim. Kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan iman yang sesungguhnya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua, menjaga hati para ulama dan pemimpin umat dari godaan duniawi, serta membimbing kita untuk selalu mengikuti jejak Rasulullah SAW yang mulia. Semoga ilmu yang kita miliki dan ketokohan yang mungkin dititipkan kepada sebagian dari kita, benar-benar menjadi cahaya yang menuntun umat menuju jalan yang diridai-Nya, bukan menjadi fitnah yang menjauhkan mereka dari agama. Marilah kita berdoa agar Allah senantiasa membersihkan hati kita dari kesombongan, sifat riya, dan ambisi duniawi yang merusak, sehingga kita dapat menghadap-Nya dengan hati yang selamat, membawa warisan dakwah yang jujur dan tulus sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Barakallahu li wa lakum fil qur’anil ‘azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wa dzikril hakim. Aqulu qouli hadza wa astaghfirullaha li wa lakum, fastaghfiruhu innahu huwal ghafurur rahim. Khutbah kedua akan kita tutup dengan memohon ampunan dan kekuatan agar kita tidak terjerumus ke dalam kehinaan akibat ketokohan yang disalahgunakan. Semoga setiap langkah kita dalam menuntut dan mengamalkan ilmu selalu dalam bimbingan rahmat-Nya, dan semoga Allah SWT menghimpun kita kelak di surga bersama orang-orang yang dicintai-Nya, di bawah naungan syafaat Rasulullah SAW yang akhlaknya adalah Al-Qur’an itu sendiri. Amin ya Rabbal Alamin.

