Moskow diguncang oleh gelombang serangan udara paling masif dalam sejarah konflik Rusia-Ukraina selama dua tahun terakhir. Langit ibu kota Rusia yang biasanya sibuk berubah menjadi zona pertempuran udara yang mencekam, di mana ratusan drone Ukraina dilaporkan menyusup masuk dan menghantam titik-titik vital, termasuk kilang minyak utama dan area pemukiman warga. Insiden ini menandai eskalasi drastis dalam strategi militer Kyiv yang kini semakin berani menyasar pusat kekuasaan Rusia secara langsung, tepat di saat Presiden Vladimir Putin sedang memimpin KTT Rusia-ASEAN di Kazan, sekitar 700 kilometer dari lokasi serangan.
Kepanikan melanda warga Moskow saat sirine pertahanan udara meraung-raung di sepanjang malam hingga Kamis (18/6/2026) pagi. Laporan resmi dari otoritas Rusia menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara mereka bekerja ekstra keras untuk mencegat sekitar 180 drone yang menargetkan wilayah ibu kota, sementara Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim total 500 drone Ukraina telah dicegat di berbagai wilayah negara tersebut sejak Rabu malam. Namun, jumlah yang berhasil ditembus pertahanan udara Rusia tidak sedikit, terbukti dengan kebakaran hebat yang melanda kompleks Kilang Minyak Moskow (MNPZ) di distrik Kapotnya. Asap hitam pekat membumbung tinggi ke udara, menutupi cakrawala selatan Moskow, disertai bau menyengat yang mengganggu pernapasan warga sekitar.
Dampak dari serangan ini melumpuhkan mobilitas udara di Moskow. Seluruh bandara utama di ibu kota, termasuk bandara tersibuk di Rusia, Sheremetyevo, terpaksa ditutup selama berjam-jam. Ratusan jadwal penerbangan dibatalkan atau ditunda, menciptakan kekacauan logistik yang signifikan. Pihak otoritas bandara bahkan harus mengevakuasi para penumpang ke tempat perlindungan bawah tanah sebagai langkah mitigasi darurat saat drone-drone tersebut terdeteksi berada di radius dekat fasilitas penerbangan. Meski bandara akhirnya dibuka kembali menjelang siang, trauma dan ketegangan masih menyelimuti aktivitas penerbangan.
Walikota Moskow, Sergei Sobyanin, melalui pernyataan resminya di aplikasi Telegram, mengakui bahwa beberapa drone berhasil mencapai sasaran di kilang minyak, meskipun ia tidak merinci tingkat kerusakan fisik yang dialami fasilitas tersebut. Sementara itu, di distrik Zhukovsky, sebuah drone menabrak gedung apartemen bertingkat, menyebabkan kerusakan struktural dan kebakaran di lantai atas. Rekaman video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kepanikan warga, termasuk suara isak tangis penghuni gedung saat api melahap bagian hunian mereka. Selain itu, puing-puing drone yang jatuh juga memicu kebakaran di pusat perbelanjaan di pinggiran kota, menambah daftar kerusakan infrastruktur sipil yang terdampak oleh operasi militer ini.
Di luar wilayah Moskow, situasi tidak kalah mencekam. Gubernur wilayah Rostov melaporkan bahwa serangan drone Ukraina di wilayahnya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Satu orang dilaporkan tewas dan sedikitnya dua lainnya mengalami cedera parah akibat ledakan yang ditimbulkan oleh serangan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa strategi Ukraina bukan hanya menyasar ibu kota, tetapi juga memutus jalur pasokan logistik dan ekonomi di wilayah-wilayah strategis selatan Rusia.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, secara terbuka memuji operasi militer yang dinilai sebagai "respons yang sepenuhnya dibenarkan" atas agresi berkelanjutan Rusia terhadap Ukraina. Dalam pernyataannya, Zelensky menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Rusia adalah langkah taktis untuk melemahkan mesin perang Moskow. Kilang minyak merupakan target utama karena perannya sebagai penyumbang dana utama bagi kas perang Rusia. Dengan melumpuhkan kapasitas pengolahan minyak, Ukraina berharap dapat membatasi kemampuan Rusia dalam membiayai operasi militer yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun.
Eskalasi serangan drone ini terjadi di tengah kebuntuan diplomatik yang berkepanjangan. Upaya untuk mengakhiri konflik melalui perundingan damai tampak semakin jauh dari jangkauan. Sebaliknya, kedua belah pihak justru semakin meningkatkan intensitas serangan. Sebagai balasan, Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Rusia telah meluncurkan lebih dari 200 drone dan serangkaian rudal balistik ke wilayah Ukraina sepanjang Rabu malam hingga Kamis dini hari. Ini membuktikan bahwa perang ini telah bertransformasi menjadi perang atrisi (pengikisan) di mana kedua negara saling menguji daya tahan infrastruktur dan moral penduduknya masing-masing.
Pengamat militer internasional menilai serangan kali ini sebagai "titik balik taktis" dalam penggunaan drone. Sebelumnya, drone lebih banyak digunakan untuk pengintaian atau serangan skala kecil. Namun, operasi masif dengan ratusan unit secara serempak menunjukkan bahwa Ukraina telah mengembangkan teknologi drone yang lebih canggih, memiliki jangkauan lebih jauh, dan mampu mengecoh radar pertahanan udara Rusia yang selama ini dibanggakan. Serangan ini juga membuktikan bahwa pertahanan udara Rusia memiliki celah ketika harus menghadapi serangan "swarm" (gerombolan) drone dalam jumlah besar yang datang dari berbagai arah.
Keamanan di Moskow kini berada pada level siaga tertinggi. Jalan-jalan di sekitar area yang terdampak telah ditutup untuk mempermudah akses tim pemadam kebakaran dan evakuasi. Pemerintah Rusia kini dihadapkan pada tantangan berat untuk meyakinkan warga bahwa mereka aman, di tengah meningkatnya ketakutan publik atas ketidakmampuan militer dalam melindungi pusat pemerintahan dari ancaman udara. Bagi Rusia, insiden ini bukan hanya kerugian ekonomi akibat terbakarnya kilang minyak, tetapi juga pukulan telak terhadap citra kekuatan militer mereka.
Sementara itu, komunitas internasional memantau perkembangan ini dengan kekhawatiran tinggi. Eskalasi serangan ke jantung ibu kota Rusia meningkatkan risiko meluasnya konflik dan potensi salah perhitungan yang dapat membawa situasi ke tingkat yang lebih berbahaya. Meskipun Zelensky mengklaim ini adalah bentuk pertahanan diri, bagi banyak analis, serangan ini adalah babak baru yang lebih berbahaya dalam sejarah perang modern, di mana ketergantungan pada drone telah mengubah wajah konflik secara permanen.
Hingga laporan ini diturunkan, upaya pemadaman di kompleks kilang minyak masih berlangsung. Otoritas Rusia terus melakukan investigasi mengenai bagaimana ratusan drone tersebut bisa menembus lapisan pertahanan udara yang paling ketat di negara itu. Bagi warga Moskow, peristiwa hari ini adalah pengingat keras bahwa jarak antara medan perang di garis depan dan kenyamanan hidup di ibu kota telah menghilang. Di tengah asap yang masih mengepul, masa depan konflik ini kini bergantung pada seberapa jauh kedua pihak bersedia melangkah sebelum akhirnya kembali ke meja perundingan atau justru terus terjerumus dalam kehancuran total.

