0

Damai AS-Iran Hampir Jadi Angin Lalu karena Ulah Netanyahu

Share

Kesepakatan bersejarah yang digadang-gadang akan mengakhiri ketegangan panjang antara Amerika Serikat dan Iran nyaris berakhir menjadi sekadar catatan kaki sejarah yang gagal. Di balik meja perundingan yang alot, manuver agresif Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, hampir menghancurkan seluruh upaya diplomatik yang telah dibangun melalui mediasi intensif selama berbulan-bulan. Peristiwa ini menyoroti betapa rapuhnya stabilitas geopolitik Timur Tengah ketika kepentingan nasional sebuah negara berbenturan dengan upaya perdamaian global yang sedang dirintis oleh kekuatan besar.

Pengumuman mengenai kesepakatan damai ini pertama kali disampaikan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Senin (15/6/2026). Sharif, yang berperan sebagai fasilitator utama, mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran telah sepakat untuk menghentikan seluruh permusuhan secara permanen. Menurut Sharif, kedua belah pihak berkomitmen mengakhiri operasi militer di semua lini, termasuk konflik proksi yang selama ini berkecamuk di Lebanon. Rencananya, nota kesepahaman (MoU) tersebut akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni.

Langkah perdamaian ini disambut dengan pernyataan konfirmasi dari Presiden AS, Donald Trump. Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut telah final. Salah satu implikasi paling signifikan dari kesepakatan ini adalah pencabutan total blokade militer AS di Selat Hormuz. Trump menegaskan bahwa jalur vital distribusi minyak dunia tersebut akan dibuka kembali tanpa biaya tol, sebuah langkah yang diharapkan mampu menstabilkan harga energi global yang selama ini terombang-ambing akibat sanksi dan ancaman blokade. "Kapal-kapal di dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!" tulis Trump dengan nada optimis.

Di sisi lain, Teheran merespons dengan narasi kemenangan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi komitmen negaranya terhadap kesepakatan tersebut. Gharibabadi menegaskan bahwa implementasi perdamaian akan segera berlaku efektif pasca-penandatanganan di Swiss. Namun, ia juga memberikan catatan keras bahwa kesepakatan ini bukan semata-mata produk diplomasi lunak, melainkan hasil dari ketangguhan militer Iran. Bagi Teheran, kesepakatan ini adalah bukti bahwa strategi ‘tekanan maksimum’ yang pernah dilancarkan lawan-lawan mereka telah gagal. "Musuh yang menyerang untuk melaksanakan tujuan jahatnya telah dikalahkan," ujar Gharibabadi dengan nada kemenangan.

Namun, di balik narasi kesuksesan tersebut, terungkap fakta mengejutkan bahwa proses perdamaian ini hampir kandas akibat provokasi dari pihak Israel. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan New York Times yang dirilis tak lama setelah pengumuman mediasi Pakistan, Donald Trump secara terbuka meluapkan kekesalannya terhadap Benjamin Netanyahu. Trump menyebut Netanyahu sebagai sosok yang "sangat sulit" dan mengklaim bahwa tindakan gegabah sang PM Israel hampir merusak seluruh fondasi kesepakatan yang baru saja dibangun.

Pemicu kemarahan Trump adalah serangan udara Israel yang menyasar pinggiran selatan Beirut pada Minggu (14/6/2026) pagi. Meskipun saat itu negosiasi damai sedang berada di tahap final, militer Israel tetap melancarkan serangan yang menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai 15 lainnya. Trump menilai serangan tersebut sebagai tindakan provokasi yang tidak perlu dan sangat berbahaya, mengingat intensitas diplomasi yang sedang berlangsung untuk menghentikan konflik di Lebanon. Bagi Trump, tindakan Netanyahu bukan hanya menantang perdamaian, tetapi juga dianggap sebagai sikap tidak tahu terima kasih.

Trump secara dramatis mengklaim bahwa dirinya telah menyelamatkan eksistensi Israel. Ia berargumen bahwa jika Iran berhasil mengembangkan senjata nuklir—sesuatu yang menurutnya dapat dicegah melalui kesepakatan damai ini—Israel tidak akan mampu bertahan lebih dari dua jam dalam sebuah konfrontasi langsung. "Dia (Netanyahu) seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan ini," tegas Trump.

Ketegangan antara Washington dan Tel Aviv ini mencerminkan dinamika yang semakin kompleks dalam hubungan sekutu tradisional. Netanyahu selama ini dikenal sebagai penentang keras segala bentuk pelonggaran sanksi atau kesepakatan damai dengan Iran, yang ia pandang sebagai ancaman eksistensial bagi negaranya. Baginya, diplomasi dengan Iran adalah sebuah kesalahan strategis yang justru memberikan ruang bagi Teheran untuk memperkuat pengaruh proksinya di kawasan. Sebaliknya, pendekatan Trump kali ini lebih berorientasi pada stabilitas ekonomi dan penghentian keterlibatan militer langsung AS, sebuah pergeseran kebijakan yang membuat Israel merasa terabaikan.

Upaya sabotase yang dilakukan Netanyahu melalui serangan di Lebanon merupakan cerminan dari ketakutan mendalam Israel akan kehilangan dukungan penuh AS dalam mengisolasi Iran. Namun, bagi komunitas internasional, tindakan Netanyahu justru dilihat sebagai batu sandungan bagi terciptanya ketenangan di Timur Tengah. Analis kebijakan luar negeri mencatat bahwa jika kesepakatan damai ini benar-benar berjalan, peta kekuatan di kawasan akan berubah secara radikal. Blokade Selat Hormuz yang berakhir akan mengurangi ketegangan di jalur logistik energi, dan penghentian perang di Lebanon akan memberikan napas panjang bagi warga sipil yang terjepit di antara konflik berkepanjangan.

Meskipun kesepakatan di Swiss nanti diharapkan akan mengunci komitmen kedua belah pihak, tantangan pasca-penandatanganan tetap besar. Kepercayaan antara AS dan Iran masih sangat rendah, dan pengaruh pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian—seperti faksi garis keras di kedua negara maupun sekutu yang merasa dirugikan—tetap menjadi variabel pengacau. Netanyahu, dengan segala manuver politiknya, telah menunjukkan bahwa ia tidak akan ragu untuk mengambil risiko guna menekan AS agar tidak mengubah arah kebijakannya.

Wawancara Trump dengan New York Times bukan sekadar kritik personal, melainkan sebuah pesan diplomatik yang kuat kepada Israel bahwa prioritas AS telah bergeser. Dengan menyebut Netanyahu sebagai sosok yang sulit, Trump secara tersirat memperingatkan bahwa AS tidak lagi bersedia didikte oleh agenda militer Israel jika hal tersebut berbenturan dengan kepentingan nasional Amerika dalam mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Kini, dunia menunggu apakah upacara penandatanganan pada 19 Juni di Swiss akan berjalan lancar atau justru kembali dirusak oleh aksi militer lainnya. Ketegangan yang terjadi pada hari-hari menjelang kesepakatan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian bukanlah garis finish, melainkan sebuah proses yang terus-menerus diganggu oleh kepentingan politik jangka pendek. Keberhasilan perdamaian ini pada akhirnya tidak hanya bergantung pada tanda tangan di atas kertas, tetapi juga pada kemauan para pemimpin untuk menahan diri dari ego dan provokasi yang dapat memicu perang yang lebih besar.

Dengan berakhirnya blokade di Selat Hormuz dan gencatan senjata di Lebanon, dunia kini berharap pada stabilitas yang lebih berkelanjutan. Namun, bayang-bayang kegagalan yang hampir terjadi karena ulah Netanyahu menjadi catatan penting bagi sejarah diplomasi modern. Bahwa di tengah upaya besar untuk menciptakan dunia yang lebih damai, selalu ada aktor-aktor yang lebih memilih jalur konfrontasi daripada dialog. Apakah kesepakatan ini akan bertahan lama atau hanya menjadi jeda singkat sebelum konflik berikutnya meletus, hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: dinamika antara AS, Iran, dan Israel telah memasuki babak baru yang penuh dengan ketidakpastian dan intrik politik tingkat tinggi.