"Nggak, itu mah cuma buat film saja sih, proyek saja. Terus dia pas lagi dijodoh-jodohin," ujar Okie Agustina saat ditemui dalam sebuah kesempatan di Kemayoran, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Pernyataan ini menegaskan bahwa dinamika hubungan yang ditampilkan di media sosial atau pemberitaan tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya, melainkan seringkali merupakan bagian dari upaya untuk menarik perhatian publik terhadap karya seni yang sedang dipromosikan. Okie Agustina menunjukkan kemampuannya dalam membedakan antara ranah profesional dan pribadi, serta melindungi putranya dari potensi kesalahpahaman publik.
Lebih lanjut, Okie Agustina mengungkapkan bahwa ia memiliki kedekatan yang sangat erat dengan anak-anaknya, termasuk Kiesha. Ia mengaku selalu memantau dan mengetahui secara mendalam berbagai aspek kehidupan pribadi mereka, tak terkecuali urusan asmara. Menurutnya, Kiesha dan saudara-saudaranya terbiasa untuk bersikap terbuka dan berbagi cerita dengannya. Hal ini menciptakan sebuah lingkungan keluarga yang penuh kepercayaan dan keterbukaan, di mana setiap anggota keluarga merasa nyaman untuk mengekspresikan diri dan meminta dukungan.
"Kalau Kiesha itu sebenarnya nggak cuma Kiesha ya, adik-adiknya juga semua kalau ada masalah apa pun, lagi suka sama siapa pun, selalu cerita sama aku. Jadi aku tahu nih, oh ini memang anaknya suka, oh ini memang untuk proyek film, jadi aku tahu," tuturnya dengan penuh keyakinan. Keterbukaan ini menjadi pondasi penting bagi Okie Agustina dalam membimbing anak-anaknya. Ia tidak hanya berperan sebagai orang tua, tetapi juga sebagai sahabat dan penasihat terpercaya yang selalu siap mendengarkan dan memberikan arahan yang tepat. Kemampuannya dalam memilah informasi dan memahami konteks setiap cerita yang dibagikan oleh anak-anaknya menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional mereka.
Di sisi lain, Okie Agustina juga memberikan tanggapan yang bijak mengenai komentar yang kerap dilontarkan oleh Kiesha Alvaro. Kiesha diketahui seringkali menegaskan bahwa ia tidak mengandalkan privilege atau keuntungan istimewa yang mungkin didapatkannya sebagai anak seorang pejabat. Perlu diketahui, ayah Kiesha, Pasha Ungu, saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Sikap Kiesha ini menunjukkan kematangan dan kesadaran diri yang luar biasa, bahkan di usia yang relatif muda.
Okie Agustina membenarkan bahwa ia secara konsisten mengingatkan putranya agar tidak menyalahgunakan status dan jabatan orang tua untuk kepentingan pribadi. Ia memahami betul potensi jebakan yang bisa muncul ketika seseorang berada dalam posisi yang memiliki akses terhadap sumber daya yang lebih besar. Nasihat ini tidak hanya bertujuan untuk membentuk karakter Kiesha, tetapi juga untuk menjaga nama baik keluarga besar mereka.
"Karena aku selalu bilang sama dia, ‘Kak, yang jadi pejabat itu ayah kamu, bukan kamu’. Itu yang benar-benar aku selalu ingetin ke Kiesha," katanya dengan tegas. Penekanan ini sangat penting, karena membedakan antara identitas individu dan identitas yang melekat karena hubungan keluarga. Kiesha harus didorong untuk membangun identitasnya sendiri, terlepas dari latar belakang orang tuanya.
Okie Agustina juga menyoroti berbagai kasus yang pernah terjadi di masyarakat, di mana anak-anak pejabat justru terjerumus dalam perilaku negatif akibat terlalu mengandalkan privilege mereka. Perilaku pamer kekayaan atau status sosial yang berlebihan, atau yang sering disebut sebagai flexing, dapat menimbulkan citra negatif tidak hanya bagi individu tersebut, tetapi juga berdampak buruk pada reputasi orang tua mereka yang telah bekerja keras membangun kredibilitas.
"Banyak kasus kemarin-kemarin anak pejabat yang flexing akhirnya imbasnya ke ayahnya. Nah itu aku selalu ingetin Kiesha, ke adik-adiknya pun aku ingetin. Jangan seperti itu," ujarnya, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam akan potensi dampak negatif tersebut. Ia ingin anak-anaknya belajar dari pengalaman orang lain dan menghindari kesalahan serupa.
Ia menekankan bahwa sebagai anak seorang pejabat, ada tanggung jawab moral yang lebih besar untuk menjaga nama baik keluarga. Status tersebut bukanlah sekadar label, melainkan sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan integritas.
"Karena saat kamu menjadi anak seorang anggota DPR, itu ada nama yang harus dipertahankan dan dipertaruhkan. Ketika kamu tidak bisa menjaga itu, yang rugi bukannya kalian tapi ayah kalian," tegas Okie, menggambarkan betapa pentingnya menjaga reputasi keluarga bagi kelangsungan karier dan citra publik sang ayah. Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa tindakan mereka memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar diri mereka sendiri.
Lebih lanjut, Okie Agustina menegaskan bahwa pandangan Kiesha yang tidak ingin mengandalkan privilege bukanlah semata-mata hasil dari nasihat orang tua. Sebaliknya, hal tersebut juga merupakan kesadaran pribadi yang telah terbentuk sejak lama dalam diri Kiesha. Hal ini menunjukkan bahwa Kiesha memiliki prinsip hidup yang kuat dan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya kemandirian dan kerja keras.
"Mungkin kalau teman-teman semua tahu, Kiesha dari kecil memang berdiri sendiri tanpa embel-embel ayahnya. Entah dia syuting, dia apa juga buat sendiri, bukan karena ayahnya," ungkap Okie, memberikan bukti nyata dari kemandirian Kiesha. Ia telah menyaksikan langsung bagaimana putranya berjuang dan meraih kesuksesan melalui usahanya sendiri, tanpa memanfaatkan nama besar atau koneksi ayahnya.
Oleh karena itu, Okie Agustina meyakini bahwa Kiesha Alvaro memiliki kapasitas dan kemampuan yang memadai untuk membangun kariernya sendiri di dunia hiburan. Ia tidak perlu bergantung pada nama besar sang ayah untuk meraih kesuksesan. Kemandirian dan kerja keras yang telah ia tunjukkan sejak dini menjadi modal utama yang akan membawanya pada pencapaian yang lebih gemilang di masa depan.
"Jadi untuk kayak gitu ya sudah, dia bisa sendiri kok," pungkasnya dengan penuh optimisme. Pernyataan ini menjadi penutup yang kuat, menunjukkan kepercayaan diri Okie Agustina terhadap kemampuan putranya. Kisah Kiesha Alvaro, yang dibimbing oleh ibunya dengan prinsip kemandirian dan integritas, dapat menjadi inspirasi bagi banyak anak muda lainnya di Indonesia. Ia membuktikan bahwa kesuksesan sejati datang dari usaha sendiri, bukan dari privilege yang diterima begitu saja.

