0

Kronologi Kerja Sama Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid dengan Hanania Group

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Keterlibatan pasangan selebritas kondang, Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid, dalam pusaran dugaan penipuan umrah yang dilakukan oleh PT Khazanah Tamma International atau yang lebih dikenal sebagai Hanania Group, kini mulai terkuak tabirnya dengan lebih rinci. Tim kuasa hukum Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid, yang diwakili oleh Sangun Ragahdo, memberikan penjelasan mendalam mengenai seluk-beluk kerja sama tersebut. Sangun menegaskan bahwa jalinan kerja sama ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan menjelang keberangkatan mereka pada akhir tahun 2025. Sebaliknya, manajemen Hanania Group ternyata telah berulang kali berupaya untuk mendekati Thariq Halilintar, bahkan jauh sebelum ia resmi mempersunting Aaliyah Massaid.

"Jadi, awalnya ini memang sebetulnya untuk pendekatan dari Hanania Group ini, Hanania Group-lah yang melakukan pendekatan pertama kali kepada Thariq," ujar Sangun Ragahdo dengan nada tegas saat ditemui di kawasan Polda Metro Jaya pada hari Rabu, tanggal 10 Juni 2026. Ia melanjutkan, "Ini sudah lama sekali, itu bahkan sebelum mereka berdua menikah. Namun, memang pada saat itu, Thariq merasa belum pas, belum cocok dengan berbagai pertimbangan, sehingga tawaran tersebut akhirnya didiamkan saja." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Thariq Halilintar memiliki sikap selektif dan tidak gegabah dalam menerima tawaran kerja sama, terutama yang menyangkut kepercayaan publik.

Setelah sempat mengabaikan tawaran awal tersebut, Thariq Halilintar kembali dihubungi oleh pihak Hanania Group pada akhir tahun 2025. Momen ini menjadi titik balik penting dalam kronologi kejadian. Pihak travel umrah tersebut kembali melayangkan permohonan untuk menjalin kerja sama dalam bentuk promosi. Alasan utama di balik pendekatan kembali ini adalah status Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid yang saat itu tengah menjadi sorotan publik sebagai pasangan baru yang sedang hangat diperbincangkan. Popularitas dan daya tarik mereka sebagai pasangan muda menjadi magnet bagi Hanania Group untuk mendongkrak citra dan jangkauan promosi mereka.

"Setelah menikah dan segala macam, di tahun 2025 akhirnya mereka dihubungi lagi, itu pada bulan November. Kali ini, mereka (Hanania Group) yang secara aktif meminta untuk mengajak kerja sama," ungkap Sangun Ragahdo, menjelaskan lebih lanjut mengenai inisiatif Hanania Group. Hal ini menunjukkan bahwa Hanania Group sangat memahami potensi yang dimiliki oleh Thariq dan Aaliyah sebagai influencer yang memiliki basis penggemar yang besar dan loyal.

Sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk menyetujui kontrak kerja sama tersebut, Thariq Halilintar diketahui melakukan langkah verifikasi mandiri yang patut diapresiasi. Ia tidak serta-merta menerima tawaran tanpa melakukan kajian mendalam. Thariq berupaya keras untuk memastikan bahwa travel umrah tersebut memiliki kredibilitas yang baik dan rekam jejak yang terbukti mampu melayani jemaah secara profesional dan bertanggung jawab. Langkah ini menunjukkan integritas Thariq dalam menjaga nama baiknya dan tidak ingin mengecewakan para pengikutnya yang mungkin akan terpengaruh oleh promosinya.

"Akhirnya, pada bulan Desember, Thariq melakukan pencarian informasi. Ia ingin memastikan apakah ini merupakan travel yang kredibel, apakah memiliki kapabilitas yang memadai untuk memberangkatkan orang dengan baik, apakah reputasinya baik, dan berbagai hal lainnya," jelas Sangun Ragahdo mengenai proses verifikasi yang dilakukan oleh kliennya. Upaya ini merupakan bentuk kehati-hatian yang krusial, mengingat industri travel umrah seringkali rentan terhadap praktik-praktik penipuan yang merugikan konsumen.

Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh Thariq Halilintar pada bulan November 2025, Hanania Group pada saat itu memang tampak sebagai sebuah perusahaan yang stabil dan telah berhasil memberangkatkan banyak jemaah. Laporan dan bukti-bukti yang ditemukan Thariq menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam mengelola program umrah, termasuk adanya berbagai acara dan kegiatan yang diselenggarakan untuk para jemaahnya. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa Thariq akhirnya bersedia menerima kontrak kerja sama dan kemudian berangkat umrah bersama Aaliyah pada bulan Desember 2025.

"Memang pada saat itu, di bulan November, setelah dicek, Hanania Group ini terlihat sebagai travel yang bagus. Bagus dalam artian, mereka telah memberangkatkan banyak orang, mereka memiliki event-event yang menarik untuk para jemaah, dan lain sebagainya. Sehingga, pekerjaan ini akhirnya diterima oleh Thariq," tegas Sangun Ragahdo, menekankan kembali temuan positif yang menjadi pertimbangan utama Thariq. Kepercayaan diri Thariq dalam menerima tawaran ini didasarkan pada informasi yang ia peroleh saat itu, yang belum menunjukkan adanya indikasi masalah.

Namun, takdir berkata lain. Situasi yang awalnya terlihat cerah tersebut berubah drastis beberapa bulan setelah kepulangan mereka dari Tanah Suci. Masalah hukum yang dihadapi oleh Hanania Group mulai mencuat ke permukaan pada periode Maret atau April 2026. Kasus dugaan penipuan ini kemudian berkembang dan menyeret nama-nama besar, termasuk para selebritas yang pernah bekerja sama dengan mereka, ke ranah kepolisian. Ini adalah momen yang sangat tidak terduga bagi Thariq dan Aaliyah, yang pada saat itu mungkin masih menikmati pengalaman spiritual mereka.

"Setelah kembali ke Tanah Air, semuanya tidak ada masalah. Ternyata, di bulan Maret, kalau tidak salah bulan Maret atau April, saya agak lupa tanggal pastinya, barulah timbul masalah seperti ini," pungkas Sangun Ragahdo, menutup penjelasannya dengan nada prihatin. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa masalah hukum yang dihadapi Hanania Group muncul setelah periode kerja sama promosi dengan Thariq dan Aaliyah selesai dilaksanakan dan mereka telah kembali ke Indonesia.

Lebih lanjut, Sangun Ragahdo menjelaskan bahwa kerja sama yang terjalin antara Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid dengan Hanania Group sejatinya adalah murni kerja sama promosi berbayar. Keduanya dibayar oleh pihak Hanania Group untuk mempromosikan paket umrah yang ditawarkan oleh travel tersebut kepada khalayak luas, khususnya para pengikut mereka di media sosial. "Ini adalah murni kerja sama promosi. Thariq dan Aaliyah dibayar oleh Hanania Group untuk melakukan promosi, seperti halnya kerja sama dengan brand-brand lain," tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa Thariq dan Aaliyah tidak memiliki keterlibatan langsung dalam operasional, manajemen, atau penyelenggaraan ibadah umrah yang dilakukan oleh Hanania Group. Tanggung jawab terkait keberangkatan jemaah, akomodasi, dan segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah umrah sepenuhnya berada di tangan pihak Hanania Group sebagai penyelenggara. "Mereka tidak terlibat dalam operasional travelnya, tidak terlibat dalam pengelolaan jemaahnya. Tugas mereka hanya sebatas mempromosikan paket yang ditawarkan," lanjut Sangun.

Proses verifikasi yang dilakukan oleh Thariq sebelum menerima tawaran kerja sama ini patut menjadi contoh bagi publik. Ia tidak hanya mengandalkan reputasi Hanania Group semata, tetapi juga melakukan riset independen untuk memastikan legalitas dan kredibilitas perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa Thariq memiliki pemahaman yang baik mengenai pentingnya berhati-hati dalam menjalin kerja sama, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan publik.

Sangun Ragahdo juga memberikan klarifikasi bahwa Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid tidak pernah melakukan penipuan atau penggelapan dana terkait kasus ini. Mereka hanyalah korban yang juga menjadi pihak yang dirugikan oleh tindakan Hanania Group. "Thariq dan Aaliyah juga menjadi korban. Mereka telah menjalankan tugas promosi mereka sesuai kontrak, dan mereka juga tidak mendapatkan keuntungan lebih dari sekadar honor promosi yang telah disepakati," jelasnya.

Pihak kuasa hukum Thariq dan Aaliyah berharap agar publik tidak salah paham dan tidak mengaitkan kliennya secara langsung dengan dugaan penipuan yang dilakukan oleh Hanania Group. Mereka berupaya untuk membersihkan nama baik kliennya yang terlanjur terseret dalam kasus ini. "Kami berharap agar masyarakat dapat melihat kronologi ini secara utuh dan tidak membuat kesimpulan yang terburu-buru. Klien kami adalah korban, sama seperti jemaah lainnya," ujar Sangun.

Lebih lanjut, Sangun Ragahdo juga menjelaskan bahwa proses hukum yang melibatkan Hanania Group saat ini masih terus berjalan. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap seluruh fakta dan mengusut tuntas kasus ini. "Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan memberikan keterangan yang diperlukan untuk memperlancar proses hukum," tambahnya.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam memilih agen travel umrah. Penting untuk melakukan riset mendalam, memeriksa legalitas perusahaan, dan membaca testimoni dari jemaah sebelumnya sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa mereka. Keterlibatan figur publik dalam promosi sebuah produk atau jasa memang dapat meningkatkan daya tarik, namun bukan berarti mereka bertanggung jawab penuh atas segala risiko yang mungkin timbul jika ada praktik penipuan.

Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid, meskipun dikenal sebagai publik figur, tetaplah individu yang memiliki hak untuk menjalani kehidupan profesional mereka. Dalam kasus ini, mereka telah bertindak sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan integritas, namun tetap saja terseret dalam pusaran masalah yang disebabkan oleh pihak lain. Harapannya, proses hukum yang berjalan dapat memberikan keadilan bagi semua pihak yang dirugikan.