BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah riuh rendahnya isu rumah tangga yang tengah menerpa Ruben Onsu dan Sarwendah, sebuah pertanyaan mendasar muncul dari pihak Ruben sendiri, yakni keheranan atas perubahan sikap Sarwendah. Perubahan ini, menurut Ruben, terasa signifikan dan tidak sesuai dengan karakter Sarwendah yang ia kenal selama ini. Pernyataan ini diungkapkan Ruben saat dirinya menjadi bintang tamu di sebuah program televisi, di mana ia secara terbuka membagikan pandangannya mengenai dinamika hubungannya dengan sang mantan istri.
"Biarkan semuanya melunak, ibunya anak-anak gak mungkin kayak begitu kalau gak ada yang ngomporin. Dia gak begitu, saya tahu dia banget. Selama 11 tahun bersama, kita pun ada senang, bahagia," ujar Ruben Onsu dengan nada prihatin. Ucapan ini menyiratkan keyakinannya bahwa Sarwendah, dalam mengambil tindakan atau bersikap tertentu, tidak melakukannya secara spontan, melainkan ada pengaruh dari pihak luar. Pengalaman hidup bersama selama lebih dari satu dekade telah membentuk pemahaman yang mendalam bagi Ruben mengenai kepribadian Sarwendah. Ia meyakini bahwa Sarwendah yang asli bukanlah pribadi yang mudah terpengaruh atau cenderung bersikap negatif tanpa alasan kuat. Oleh karena itu, ketika ia melihat perubahan sikap yang kontras, nalurinya langsung mengarah pada dugaan adanya pihak ketiga yang sengaja memprovokasi atau memberikan masukan yang kurang baik.

Lebih lanjut, Ruben menyoroti pola komunikasi yang terjadi dalam konflik mereka. Ia merasa heran mengapa fokus utama yang diangkat justru adalah hal-hal negatif mengenai dirinya, sementara kebaikan-kebaikan yang telah ia berikan selama ini seolah-olah dilupakan atau diabaikan begitu saja. "Kenapa sekarang keburukan yang jadi andalan, tapi setiap kebaikan yang sudah dikasih dihilangkan," keluhnya. Pernyataan ini menunjukkan rasa kecewa Ruben atas apa yang ia rasakan sebagai ketidakadilan dalam penyampaian cerita. Ia merasa bahwa narasi yang dibangun lebih condong pada sisi gelap, meninggalkan jejak positif yang seharusnya menjadi bagian dari rekam jejak hubungan mereka. Ruben secara implisit berharap agar ada keseimbangan dalam melihat suatu permasalahan, tidak hanya terpaku pada kesalahan, tetapi juga mengakui kontribusi positif yang telah ada.
Ruben juga menegaskan bahwa ia tidak gentar menghadapi segala bentuk cibiran, tudingan, atau bahkan cacian yang mungkin ditujukan kepadanya. Ia menerima dirinya apa adanya dan meyakini bahwa setiap individu, termasuk dirinya, memiliki proses untuk menjadi lebih baik. "Gue memang begini orangnya, ya begini cara gue. Tapi dalam hidup kan orang pasti mau lebih baik ke depannya gimana, mau maju lagi dan semua orang gue rasa gak lahir langsung jadi orang pintar, pasti berproses," tegas Ruben Onsu. Pernyataan ini mencerminkan kematangan emosional dan kesiapan Ruben untuk menghadapi kritik. Ia tidak defensif, melainkan terbuka terhadap penilaian, sembari menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perbaikan diri adalah sebuah keniscayaan yang membutuhkan waktu dan proses. Ia juga menyiratkan bahwa pencapaian dan kebijaksanaan tidak datang secara instan, melainkan melalui pembelajaran dan pengalaman.
Dalam konteks ini, keheranan Ruben terhadap perubahan sikap Sarwendah dapat diinterpretasikan sebagai bentuk kepeduliannya yang mendalam, bahkan di tengah proses perceraian. Ia tidak ingin melihat Sarwendah terjebak dalam pengaruh negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri atau hubungan mereka yang tersisa demi anak-anak. Pemahaman Ruben mengenai Sarwendah yang "tidak mungkin begitu" tanpa "ngomporin" menunjukkan adanya keyakinan kuat pada integritas dan karakter Sarwendah yang ia kenal, yang mungkin sedang terdistorsi oleh intervensi eksternal.

Fokus pada "keburukan yang jadi andalan" dibandingkan "kebaikan yang sudah dikasih dihilangkan" juga menjadi poin krusial. Ini mengindikasikan bahwa Ruben merasa bahwa narasi yang dibangun oleh Sarwendah atau pihak yang mempengaruhinya cenderung mengabaikan aspek positif dari hubungan mereka, yang justru bisa menjadi jembatan untuk rekonsiliasi atau setidaknya komunikasi yang lebih sehat. Ia merasa bahwa upaya-upaya baik yang telah dilakukan selama bertahun-tahun seolah-olah tidak berarti di hadapan masalah-masalah yang sedang dipermasalahkan saat ini.
Lebih jauh lagi, sikap Ruben yang menyatakan "Gue memang begini orangnya, ya begini cara gue" namun tetap membuka ruang untuk "mau lebih baik ke depannya" dan "mau maju lagi" menunjukkan filosofi hidupnya. Ia menerima kekurangan dan kelebihan dirinya, namun tidak pernah berhenti berupaya untuk berkembang. Ini juga bisa diartikan sebagai pesan kepada Sarwendah, bahwa perubahan itu mungkin, dan proses menuju kebaikan selalu ada, terlepas dari situasi yang sedang dihadapi.
Pernyataan Ruben ini membuka banyak spekulasi mengenai siapa saja pihak yang mungkin dimaksud dengan "ada yang ngomporin". Dalam dunia selebritas, seringkali ada lingkungan pertemanan, keluarga, atau bahkan tim manajemen yang dapat memberikan masukan, baik yang konstruktif maupun destruktif. Kehadiran pihak-pihak ini bisa sangat memengaruhi cara pandang dan keputusan seseorang, terutama dalam situasi emosional yang rentan.

Ruben juga tampaknya ingin menekankan bahwa hubungan yang telah terjalin selama 11 tahun bukanlah hubungan yang statis, melainkan dinamis, penuh dengan suka dan duka. Pengalaman bersama ini, menurutnya, seharusnya menjadi dasar untuk saling memahami dan menghargai, bukan justru dijadikan alat untuk saling menjatuhkan. Ia seolah ingin mengingatkan bahwa di balik segala permasalahan yang muncul, ada memori kebersamaan yang patut dihargai dan tidak seharusnya dikaburkan oleh hal-hal negatif semata.
Pandangan Ruben ini juga bisa menjadi refleksi bagi publik. Dalam menghadapi konflik, terutama yang melibatkan figur publik, seringkali masyarakat terpecah belah dalam penilaian. Pernyataan Ruben mengajak untuk melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang, termasuk potensi adanya pengaruh eksternal yang tidak terlihat secara langsung.
Lebih mendalam lagi, pernyataan Ruben bisa diartikan sebagai upaya untuk menjaga martabat Sarwendah di matanya sendiri, serta di mata publik. Dengan mengatakan bahwa Sarwendah "tidak mungkin begitu kalau tidak ada yang ngomporin", Ruben seolah ingin mengatakan bahwa ia percaya pada inti kebaikan Sarwendah, dan bahwa perubahan sikapnya saat ini bukanlah cerminan jati dirinya yang sebenarnya. Ini bisa menjadi bentuk perlindungan terselubung, di mana ia tidak ingin Sarwendah dicap sebagai pribadi yang negatif tanpa ada penjelasan yang memadai.

Ruben Onsu, dengan pengalamannya yang luas di dunia hiburan dan bisnis, tentu memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana opini publik dapat dibentuk dan dipengaruhi. Pernyataannya ini bisa jadi merupakan strategi untuk mengendalikan narasi, atau setidaknya memberikan perspektif alternatif kepada publik yang mungkin hanya melihat dari permukaan saja. Ia ingin menunjukkan bahwa ada lapisan-lapisan yang lebih dalam dalam sebuah permasalahan rumah tangga, yang seringkali tidak terlihat oleh mata orang luar.
Secara keseluruhan, pernyataan Ruben Onsu mengenai keheranannya terhadap sikap Sarwendah dan dugaan adanya pihak yang memprovokasi, memberikan gambaran tentang kompleksitas hubungan yang sedang mereka jalani. Hal ini menunjukkan bahwa di balik layar kemelut rumah tangga, terdapat dinamika personal dan pengaruh eksternal yang turut berperan dalam membentuk alur cerita. Pernyataan ini juga menyoroti pentingnya pemahaman yang utuh dan berimbang dalam menilai suatu permasalahan, serta mengakui bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk berubah dan berproses menjadi lebih baik.

