BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kalina Oktarani, figur publik yang dikenal luas, baru-baru ini menegaskan pendiriannya yang teguh untuk tidak merasa malu atau gengsi dalam menjalankan bisnis jualan es teler di pinggir jalan. Keputusan ini diambilnya sebagai bentuk semangat kewirausahaan dan keyakinan bahwa rezeki yang halal dapat diperoleh dari berbagai usaha, sekecil apapun itu. Dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya, Kalina membagikan pandangannya yang kuat mengenai pentingnya bekerja keras dan tidak terhalang oleh pandangan masyarakat tentang status sosial sebuah pekerjaan. Ia secara gamblang menyatakan bahwa ia bangga bisa mendapatkan penghasilan dari usaha yang dijalankannya, bahkan jika itu berarti harus berdiri di bawah terik matahari dan menghadapi debu jalanan.

Kalina Oktarani, yang saat ini tengah merambah dunia bisnis kuliner dengan berjualan es teler, secara terbuka membagikan pengalamannya dan motivasinya kepada publik. Bisnis ini sendiri ternyata dimodali oleh putranya, Azka. Keputusan Kalina untuk terjun langsung dalam bisnis "kaki lima" ini bukan tanpa alasan. Ia ingin menunjukkan kepada khalayak luas bahwa tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak merugikan orang lain. "Bingung sama mrk yg malu utk berjualan kaki 5.. Gengsi berdiri di pinggir jalan, menjajakan makanan/minuman… Bahkan ada yg blg ‘Gw berdiri dipinggir jalan???!!!’ Apa yg salah dgn berdiri dipinggir jalan?? Saya pribadi bangga lho, bisa mendapatkan rezeki dr berdiri dipinggir jalan, kena panas, kena debu.. Selama kita menjajakan sesuatu yg halal… Ga ada yg salah… Apapun akan saya lakukan utk mendapatkan rezeki, selama pekerjaan itu halal… Dari pada kita hanya menunggu emas dari langit yg entah kapan dtgnya…Utk kalian semua diluar sana, jangan pernah malu dan gengsi ya," tulis Kalina dalam unggahannya di Instagram yang dilihat detikcom pada Minggu, 7 Juni 2026. Pernyataan ini mencerminkan sebuah pandangan yang sangat positif dan progresif mengenai bekerja, terutama di tengah kondisi ekonomi yang terkadang tidak pasti. Kalina ingin menginspirasi orang lain agar tidak terjebak dalam pikiran sempit tentang gengsi dan status, melainkan fokus pada bagaimana cara mendapatkan rezeki yang halal dan berkah.
Lebih lanjut, Kalina Oktarani menambahkan bahwa pengalamannya berjualan es teler di pinggir jalan justru memberikan banyak pelajaran berharga dan kebanggaan tersendiri. Ia menekankan bahwa setiap orang harus berani mencoba berbagai peluang usaha tanpa rasa malu. "Jangan pernah merasa jualan kaki 5 itu adalah pekerjaan yg hina… Saya bisa berdiri sampai saat ini salah satunya karena saya berdiri di pinggir jalan, jualan Es Teler saya… Alhamdulillah, hasil dari jualan kaki 5 saya bisa memberikan makan banyak kepala.. Kalo saya ngga malu, kalian juga jangan malu dan gengsi ya.. Karena perut kita ga paham apa itu gengsi.. Apalagi dikondisi seperti sekarang… Semangat!!!," tutupnya. Pernyataannya ini bukan hanya sekadar ungkapan pribadi, melainkan sebuah manifesto yang mengajak masyarakat untuk lebih realistis dan berani dalam mencari nafkah. Di era digital yang serba cepat ini, banyak orang terbiasa dengan pekerjaan yang terlihat "mewah" atau "bergengsi" di media sosial, namun melupakan bahwa pekerjaan fisik dan usaha mandiri di sektor informal seringkali menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Kalina Oktarani, yang memiliki latar belakang sebagai presenter dan figur publik, tampaknya tidak asing dengan sorotan publik. Namun, keputusannya untuk terjun ke bisnis kuliner pinggir jalan menunjukkan bahwa ia memiliki pandangan yang jauh lebih luas tentang makna kesuksesan dan kemandirian finansial. Ia tidak menjadikan status sosial atau popularitasnya sebagai penghalang untuk melakukan pekerjaan yang menurutnya mulia. Justru, ia menggunakan platformnya untuk menyebarkan pesan positif tentang pentingnya etos kerja dan keberanian dalam berbisnis. Dengan memodali bisnis ini sendiri atau dibantu oleh anaknya, Kalina menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab dalam mengelola kehidupannya.
Perkataan Kalina Oktarani ini juga relevan dengan kondisi ekonomi global yang seringkali mengalami fluktuasi. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk beradaptasi dan mencari peluang baru menjadi sangat penting. Bisnis kuliner, terutama makanan dan minuman, cenderung lebih tahan banting karena merupakan kebutuhan pokok manusia. Es teler, sebagai minuman segar yang populer, memiliki pasar yang luas, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Dengan membuka lapak di pinggir jalan, Kalina juga dapat menjangkau segmen pasar yang lebih luas dan dengan harga yang terjangkau, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat.

Semangat yang ditunjukkan Kalina Oktarani dalam berbisnis patut diapresiasi. Ia memberikan contoh nyata bahwa siapapun bisa sukses asalkan memiliki kemauan kuat, kerja keras, dan keyakinan pada diri sendiri. Sikapnya yang tidak malu berjualan di pinggir jalan adalah sebuah keberanian yang patut ditiru. Ini adalah pesan kuat bagi generasi muda agar tidak takut untuk memulai usaha dari nol dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Gengsi seringkali menjadi tembok penghalang bagi banyak orang untuk meraih kesuksesan. Kalina, dengan gayanya yang lugas, berhasil mendobrak tembok tersebut dan memberikan inspirasi bahwa kesuksesan sejati datang dari kerja keras dan kejujuran.
Lebih dalam lagi, Kalina Oktarani menyentuh aspek fundamental dari kehidupan: kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ia secara eksplisit menyatakan, "Perut kita ga paham apa itu gengsi." Pernyataan ini sangat lugas dan menyadarkan bahwa dalam menghadapi kebutuhan biologis, gengsi adalah hal yang tidak relevan. Hal ini sangat penting untuk ditekankan, terutama bagi mereka yang mungkin masih terjebak dalam pikiran bahwa pekerjaan tertentu dianggap lebih terhormat daripada yang lain. Di balik segala hiruk pikuk kehidupan modern, kebutuhan dasar seperti makan dan minum tetap menjadi prioritas utama.

Usaha Kalina Oktarani dalam berjualan es teler ini bisa dilihat sebagai bentuk pemberdayaan diri dan kemandirian finansial. Ia tidak bergantung pada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, melainkan aktif menciptakan sumber pendapatan sendiri. Hal ini juga dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal, karena setiap transaksi yang terjadi akan memberikan dampak positif. Selain itu, dengan menjadi pengusaha kecil, Kalina juga berpotensi menciptakan lapangan kerja di masa depan jika bisnisnya berkembang pesat.
Pesan yang disampaikan Kalina Oktarani melalui unggahannya ini memiliki jangkauan yang luas. Ia tidak hanya berbicara kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada masyarakat luas, terutama mereka yang mungkin sedang berjuang mencari pekerjaan atau memulai bisnis. Kata-kata penyemangatnya, "Semangat!!!," menjadi penutup yang kuat dan menginspirasi. Ini adalah ajakan untuk terus berjuang, tidak pernah menyerah, dan selalu optimis dalam menghadapi segala tantangan hidup. Ia ingin menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk meraih kesuksesan, terlepas dari latar belakang atau pekerjaan yang mereka pilih.

Kisah Kalina Oktarani ini juga menyoroti pentingnya mengubah persepsi masyarakat terhadap pekerjaan informal. Seringkali, pekerjaan seperti berjualan di pinggir jalan dipandang sebelah mata, padahal mereka adalah para pekerja keras yang turut menggerakkan roda perekonomian. Dengan memberikan contoh positif, Kalina berharap dapat mengubah stigma negatif tersebut dan menciptakan masyarakat yang lebih menghargai setiap bentuk pekerjaan yang halal. Ia membuktikan bahwa ketenaran dan popularitas tidak harus menjadi penghalang untuk tetap membumi dan melakukan pekerjaan yang memberikan manfaat nyata.
Dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan Kalina Oktarani adalah sebuah pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu identik dengan kekayaan materi semata atau pengakuan publik. Kesuksesan sejati dapat ditemukan dalam kepuasan batin, kemampuan untuk mandiri, dan kontribusi positif yang diberikan kepada masyarakat. Dengan berani terjun ke dunia usaha yang mungkin dianggap sederhana oleh sebagian orang, Kalina telah menunjukkan kualitas kepemimpinan dan keberanian yang patut dicontoh. Ia adalah contoh nyata bahwa siapapun bisa menjadi inspirasi, bahkan ketika mereka sedang berjuang dan bekerja keras di jalanan.

