BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Paul Pogba harus mengakhiri musim 2025/2026 dengan catatan yang jauh dari memuaskan. Gelandang bintang AS Monaco FC ini dipastikan tidak akan ambil bagian dalam pertandingan terakhir Ligue 1 melawan RC Strasbourg Alsace yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. Kabar buruk ini datang akibat cedera paha yang kembali menghantamnya, membuatnya harus menepi dan menyaksikan rekan-rekannya berjuang dari luar lapangan. Absennya Pogba pada laga penutup musim, yang akan digelar di kandang Strasbourg pada Senin (18/5/2026) dini hari WIB, menambah daftar kekecewaan dalam musim debutnya bersama Monaco yang memang telah diwarnai berbagai kendala. Musim ini, yang seharusnya menjadi awal baru bagi Pogba untuk membuktikan diri kembali di kancah sepak bola Eropa, justru harus berakhir dengan rasa pahit akibat rentetan masalah kebugaran yang tak kunjung usai.
Pogba, yang memutuskan untuk bergabung kembali dengan AS Monaco pada bursa transfer musim panas 2025, memiliki niat mulia untuk membangun kembali kariernya yang sempat terganjal masalah doping. Kepulangannya ke Prancis disambut dengan antusiasme tinggi, mengingat statusnya sebagai salah satu gelandang kelas dunia yang pernah menjadi tulang punggung timnas Prancis saat menjuarai Piala Dunia 2018. Harapan besar disematkan padanya untuk bisa mentransformasi lini tengah Monaco menjadi lebih kuat dan dinamis. Namun, perjalanan Pogba bersama tim berjuluk Les Rouges et Blancs ini ternyata jauh dari kata mulus. Sejak awal musim, ia telah berjuang keras untuk menemukan performa terbaiknya, lebih banyak berkutat dengan berbagai masalah kebugaran yang membatasi penampilannya di lapangan. Hingga kini, gelandang berusia 33 tahun itu tercatat hanya mampu mengumpulkan enam penampilan di Ligue 1. Ironisnya, dari enam laga terakhir yang dilakoni Monaco, Pogba hanya sempat merumput di tiga pertandingan. Meskipun dalam beberapa kesempatan ia sempat memperlihatkan kilasan kualitasnya yang luar biasa, cedera tampaknya menjadi musuh utama yang terus menghalanginya untuk tampil konsisten dan memberikan kontribusi maksimal bagi tim.
Kondisi yang dialami Paul Pogba ini bukan hanya menjadi pukulan bagi sang pemain, tetapi juga memberikan tantangan besar bagi pelatih AS Monaco, Sebastien Pocognoli. Sang pelatih kini tengah menghadapi situasi krisis pemain yang cukup serius menjelang pertandingan krusial melawan Strasbourg. Selain Pogba yang dipastikan absen karena cedera paha, Monaco juga harus kehilangan sejumlah pemain kunci lainnya yang tak kalah penting. Nama-nama seperti Eric Dier, yang merupakan bek tangguh, Caio Henrique, seorang bek sayap yang memiliki peran vital dalam transisi serangan, dan Vanderson, pemain serba bisa di lini pertahanan, juga dipastikan tidak dapat diturunkan. Lebih lanjut, lini kreatif Monaco juga akan mengalami pukulan telak dengan absennya dua pemain penting, yakni Aleksandr Golovin dan Stanis Idumbo. Kedua pemain ini dikenal memiliki kemampuan individu yang tinggi dan menjadi sumber kreasi serangan bagi tim. Dengan absennya begitu banyak pemain inti, Pocognoli terpaksa harus memutar otak untuk meracik strategi terbaik dan menyusun skuad yang tersisa demi menghadapi laga terakhir musim ini. Kondisi ini tentu saja membuat Monaco harus menjalani pertandingan penutup musim dengan skuad yang terbilang pincang dan kurang ideal.
Situasi yang dihadapi Paul Pogba musim ini kembali memicu perbincangan hangat mengenai masa depan kariernya yang penuh liku. Gelandang yang pernah dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia, berkat kontribusinya yang signifikan dalam membawa Prancis meraih gelar Piala Dunia 2018, kini harus menghadapi kenyataan pahit. Dalam beberapa tahun terakhir, karier gemilangnya terus-menerus diganggu oleh masalah fisik yang berulang, serta berbagai kontroversi yang muncul di luar lapangan. Ketidakmampuannya untuk menjaga kebugaran secara konsisten telah menghambatnya untuk kembali ke performa puncak yang pernah ia tunjukkan. Musim pertamanya bersama AS Monaco, yang seharusnya menjadi babak baru dalam upaya rehabilitasi karier, justru harus berakhir dengan catatan yang kurang menggembirakan.
Perjalanan karier Paul Pogba memang selalu menarik perhatian, baik di dalam maupun di luar lapangan. Setelah bersinar di Juventus dan menjadi figur sentral di Manchester United, ia memutuskan untuk kembali ke Italia sebelum akhirnya memilih petualangan baru di Prancis bersama Monaco. Keputusan ini diambil setelah ia menjalani hukuman larangan bermain akibat kasus doping yang menjeratnya. Kembalinya Pogba ke Ligue 1 disambut dengan harapan besar dari para penggemar dan pengamat sepak bola. Banyak yang berpendapat bahwa kembali ke liga yang ia kenal dengan baik, serta berada di klub yang memiliki ambisi besar, dapat menjadi momentum yang tepat baginya untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi. Namun, kenyataan di lapangan justru berbicara lain. Musim 2025/2026 ini tampaknya akan menjadi musim yang akan dikenang Pogba sebagai musim yang penuh perjuangan melawan cedera dan masalah kebugaran.
Statistik penampilan Pogba di musim ini menjadi bukti nyata betapa ia kesulitan untuk mendapatkan ritme permainan yang stabil. Enam pertandingan di Ligue 1 bukanlah jumlah yang sedikit, namun bagi seorang pemain dengan kaliber seperti Pogba, jumlah tersebut terasa sangat minim. Fakta bahwa ia hanya mampu bermain di tiga dari enam pertandingan terakhir Monaco semakin mempertegas dominasi cedera dalam musimnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan fisiknya untuk menjalani kompetisi yang panjang dan intens. Para pelatih dan staf medis di Monaco tentu telah bekerja keras untuk mengembalikan kebugaran Pogba, namun tampaknya perjuangan ini belum membuahkan hasil yang optimal.
Absennya Pogba pada laga terakhir melawan Strasbourg ini tentu saja menjadi kerugian tersendiri bagi AS Monaco. Meskipun skuad Monaco memiliki kedalaman yang cukup baik, kehadiran Pogba di lini tengah selalu memberikan dimensi permainan yang berbeda. Kemampuannya dalam mendistribusikan bola, memenangkan duel udara, dan melakukan penetrasi ke lini pertahanan lawan adalah aset berharga yang sulit digantikan. Tanpa kehadirannya, lini tengah Monaco mungkin akan terasa kurang bertenaga dan kurang kreatif dalam menghadapi Strasbourg yang tentu akan berusaha keras untuk mengakhiri musim dengan hasil positif.
Bagi Paul Pogba sendiri, musim yang berakhir pahit ini tentu menjadi sebuah refleksi diri. Ia harus mengevaluasi kembali kondisinya, program latihannya, dan mungkin juga manajemen kariernya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi dalam dunia sepak bola, menjaga kebugaran fisik menjadi semakin krusial. Pengalaman cedera yang berulang-ulang ini harus menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih serius dalam menjaga kondisi fisiknya agar dapat kembali tampil konsisten dan meraih kembali kejayaan masa lalunya.
Di sisi lain, kondisi krisis pemain yang dialami AS Monaco ini juga menyoroti pentingnya kedalaman skuad bagi sebuah klub yang berkompetisi di level tertinggi. Meskipun Monaco memiliki beberapa pemain muda berbakat yang siap untuk unjuk gigi, pengalaman dan kualitas para pemain senior seperti Pogba, Dier, dan Golovin sangatlah dibutuhkan, terutama di momen-momen krusial seperti pertandingan penutup musim.
Karier Paul Pogba memang selalu menjadi sorotan publik. Dari pemain muda yang bersinar di Manchester United, lalu menjadi bintang dunia di Juventus dan timnas Prancis, hingga mengalami pasang surut yang dramatis. Kasus doping dan cedera yang berulang menjadi bayang-bayang gelap yang terus mengikuti langkahnya. Musim 2025/2026 ini menjadi bukti bahwa jalan untuk bangkit kembali tidaklah mudah. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kariernya kini berada di persimpangan jalan. Keputusan-keputusan yang ia ambil di masa depan, baik dalam hal klub, program latihan, maupun penanganan cedera, akan sangat menentukan apakah ia mampu kembali ke performa terbaiknya atau justru akan terus tenggelam dalam ketidakpastian.
Dengan berakhirnya musim kompetisi 2025/2026, perhatian kini beralih pada langkah selanjutnya Paul Pogba. Apakah ia akan tetap bertahan di AS Monaco dan berjuang untuk mendapatkan kembali posisinya, ataukah ia akan mencari petualangan baru di klub lain? Satu hal yang pasti, musim ini akan menjadi babak yang pahit dan penuh pelajaran bagi seorang Paul Pogba.
Meskipun demikian, semangat juang seorang atlet profesional seperti Paul Pogba tidak boleh diremehkan. Pengalaman pahit ini bisa menjadi bahan bakar baginya untuk bangkit lebih kuat di masa mendatang. Dukungan dari para penggemar, keluarganya, serta tim medis yang profesional akan menjadi faktor penting dalam proses pemulihannya. Harapan besar tetap ada agar Paul Pogba dapat segera pulih sepenuhnya dari cedera dan kembali menunjukkan magisnya di lapangan hijau, membuktikan bahwa ia masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan dalam dunia sepak bola. Kehebohan seputar kariernya, baik positif maupun negatif, selalu membuat namanya menjadi perbincangan hangat, dan ini menunjukkan betapa besar dampak yang ia miliki dalam dunia sepak bola global. Musim 2025/2026 ini menjadi pengingat bahwa perjalanan karier seorang bintang tidak selalu mulus, dan Pogba harus membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi badai ini.

