BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Florentino Perez, sang nakhoda Real Madrid, secara tegas membantah anggapan bahwa keputusan merekrut Xabi Alonso sebagai pelatih tim senior merupakan sebuah kekeliruan. Pernyataan ini datang di tengah musim yang dilabeli "bencana" oleh banyak pihak, mengingat Real Madrid harus menelan pil pahit tanpa satu pun gelar yang berhasil diraih. Xabi Alonso, yang pernah menjadi idola di lini tengah Los Blancos, harus mengakhiri masa baktinya di Santiago Bernabeu hanya dalam kurun waktu delapan bulan setelah ditunjuk menggantikan Carlo Ancelotti pada Januari silam. Selama 34 pertandingan yang dipimpin oleh legenda sepak bola Spanyol ini, Real Madrid berhasil mencatatkan 24 kemenangan, namun tak luput dari enam kekalahan yang terbilang krusial.
Pasca berpisahnya jalan antara klub dan Alonso, manajemen Real Madrid memutuskan untuk mempromosikan Alvaro Arbeloa, mantan rekan setim Alonso, untuk menduduki kursi kepelatihan tim senior. Ironisnya, rekor kepelatihan Arbeloa di Madrid justru menunjukkan catatan yang lebih buruk dibandingkan pendahulunya. Dari total 25 pertandingan yang dijalani, Arbeloa hanya mampu mengamankan 15 kemenangan, sembari harus menelan delapan kekalahan. Situasi ini semakin memperparah kondisi tim, yang secara beruntun tersingkir dari ajang Copa del Rey, Liga Champions, serta tertinggal dalam perburuan gelar La Liga dari rival abadi mereka, Barcelona. Kegagalan ini menandai musim nirgelar kedua berturut-turut bagi Real Madrid, sebuah catatan yang terakhir kali terjadi pada musim 2008/09 dan 2009/10, mengulang periode yang mengecewakan bagi para penggemar setia klub.
Namun, di tengah badai kritik dan kekecewaan, Florentino Perez mencoba memberikan perspektif yang berbeda. Presiden berusia 79 tahun ini secara gamblang menyatakan bahwa akar permasalahan performa buruk Real Madrid musim ini tidak terletak pada keputusan merekrut Xabi Alonso, melainkan pada faktor eksternal yang lebih besar. Menurut Perez, partisipasi Real Madrid di Piala Dunia Antarklub 2025 menjadi biang kerok utama, karena secara tidak langsung menggagalkan tim untuk menjalani program pramusim yang ideal. Ketiadaan pramusim yang memadai ini, menurutnya, menjadi pemicu dari serangkaian cedera yang menghantui skuad sepanjang musim. "Merekrut dia itu bukanlah sebuah kesalahan," tegas Perez dalam sebuah wawancara eksklusif dengan media La Sexta. "Saya rasa awal mula semuanya ada di Piala Dunia Antarklub. Kami tidak menjalani pramusim."
Lebih lanjut, Perez merinci bagaimana dampak negatif dari ketiadaan pramusim itu sangat terasa. "Kami mendapatkan 28 cedera," ungkapnya, menyoroti tingginya angka pemain yang harus menepi karena cedera. "Kami ganti pelatih. Kami tidak bisa memulihkan kebugaran kami. Ketika Anda terus bermain pada Hari Rabu dan Minggu tanpa basis itu, para pemain cedera, dan kebugaran kami tidak cukup bagus," tambahnya, menjelaskan lingkaran setan yang menjerat performa tim. Perez berargumen bahwa jadwal pertandingan yang padat, tanpa jeda yang cukup untuk pemulihan dan peningkatan kebugaran, secara signifikan mempengaruhi performa fisik para pemain. Hal ini membuat tim menjadi lebih rentan terhadap cedera dan kesulitan untuk mempertahankan intensitas permainan yang dibutuhkan di level tertinggi.
Analisis Perez ini mencoba mengalihkan fokus dari performa individu pelatih atau pemain, dan menyoroti isu struktural yang dihadapi klub. Ia mengisyaratkan bahwa jadwal kompetisi yang semakin padat, ditambah dengan komitmen global seperti Piala Dunia Antarklub, menjadi tantangan besar bagi klub-klub top Eropa. Ketiadaan waktu untuk membangun fondasi kebugaran yang kuat di awal musim, serta kesempatan untuk menerapkan taktik dan strategi dengan optimal, dapat berakibat fatal pada performa tim sepanjang musim. Perez juga menyentil dampak pergantian pelatih yang terjadi di tengah musim. Meskipun Alonso dipecat bukan karena performa buruk secara statistik, namun keputusan ini diambil dalam upaya mencari solusi cepat. Namun, seperti yang diungkapkan Perez, pergantian pelatih pun tidak mampu menyelamatkan musim, yang terlanjur dirusak oleh masalah kebugaran dan cedera pemain.
Pernyataan Perez ini juga dapat diartikan sebagai bentuk pembelaan terhadap Xabi Alonso, yang mungkin merasa difitnah karena kegagalan tim. Dengan mengaitkan masalah performa dengan faktor eksternal, Perez secara tidak langsung membersihkan nama Alonso dari tanggung jawab penuh atas musim yang mengecewakan ini. Ia ingin menegaskan bahwa Alonso adalah pilihan yang tepat, namun kondisi yang ada di luar kendalinya membuat sang pelatih tidak dapat menunjukkan potensi terbaiknya. Real Madrid, di bawah kepemimpinan Perez, dikenal memiliki ambisi besar untuk selalu berada di puncak. Namun, musim ini menjadi pengingat keras bahwa bahkan klub sebesar Real Madrid pun dapat mengalami pasang surut, dan faktor-faktor di luar lapangan seringkali memiliki pengaruh yang lebih besar daripada yang diperkirakan.
Lebih jauh lagi, pandangan Perez ini bisa menjadi sebuah kritik terselubung terhadap kalender kompetisi internasional yang semakin padat. Ia menyiratkan bahwa FIFA dan UEFA perlu mempertimbangkan kembali format dan jadwal kompetisi agar tidak membebani klub secara berlebihan, terutama dalam hal kesehatan dan kebugaran pemain. Kelelahan fisik yang dialami pemain akibat jadwal yang ketat dapat berujung pada cedera serius, yang pada akhirnya merugikan performa tim dan berpotensi memperpendek karier pemain. Real Madrid, sebagai salah satu klub dengan jadwal pertandingan terbanyak karena partisipasi di berbagai ajang domestik dan internasional, menjadi contoh nyata dari dampak negatif tersebut.
Dalam konteks ini, keputusan merekrut Xabi Alonso, yang memiliki visi dan pemahaman mendalam tentang sepak bola modern, tetap dianggap sebagai langkah strategis yang tepat oleh Florentino Perez. Ia meyakini bahwa dengan kondisi yang ideal, Alonso mampu membawa Real Madrid kembali ke jalur kejayaan. Namun, musim ini menjadi bukti bahwa bahkan keputusan terbaik pun bisa menemui jalan terjal ketika dihadapkan pada tantangan yang kompleks dan di luar kendali. Perez menegaskan komitmennya untuk terus berjuang dan mencari solusi terbaik bagi Real Madrid di masa mendatang, dengan harapan musim depan akan menjadi cerita yang berbeda, di mana faktor-faktor negatif yang dialami musim ini dapat diminimalisir. Ia tetap optimis bahwa, dengan manajemen yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, Real Madrid akan mampu bangkit dari keterpurukan dan kembali meraih kesuksesan yang menjadi ciri khasnya. Pengakuan ini juga bisa menjadi sinyal bahwa Perez akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen jadwal dan program kebugaran tim untuk musim-musim mendatang, demi mencegah terulangnya tragedi cedera yang menghancurkan performa tim.

