0

Vicky Shu Insecure Kena Body Shaming, Sempat Takut Tampil di TV

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Penyanyi Vicky Shu baru-baru ini membagikan pengalaman pahitnya menghadapi body shaming akibat perubahan berat badan. Pengalaman ini membuatnya merasa sangat insecure hingga sempat menarik diri dari dunia hiburan, menolak tawaran tampil di televisi karena ketakutan penampilannya akan terlihat jauh lebih besar di layar kaca. Perasaan tidak percaya diri ini berdampak besar pada kesehatan mentalnya, mendorongnya untuk membatasi aktivitas profesional demi menjaga kestabilan emosional.

"Yang jelas jadi nggak mau keluar di TV juga. Karena ngerasa kalau kayak sekarang saja berat sudah turun, karena aku badan besar di atas tetap kelihatan besar, apalagi di TV ya," ungkap Vicky Shu dengan nada getir saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan, pada Selasa, 5 Mei 2026. Ungkapan ini menyiratkan betapa dalam ia merasakan tekanan dari persepsi publik dan ketakutannya akan penilaian negatif.

Tekanan psikologis yang dialami Vicky Shu semakin diperparah oleh rentetan komentar negatif yang dilontarkan oleh warganet di berbagai platform media sosial. Berbagai cibiran yang menyoroti perubahan fisiknya, mulai dari tudingan pipi yang semakin tembem hingga masalah double chin atau dagu berlipat, kerap menghiasi kolom komentar di setiap unggahannya. Padahal, menurut penuturannya, masalah double chin tersebut sudah ada bahkan sejak ia memiliki tubuh yang lebih kurus.

"Lebih ke ‘Ih kok sekarang gendut banget’, ‘Ih pipinya kok tembem’, ‘Ih double chin’. Padahal zaman aku kurus saja double chin-nya sudah ada gitu," jelasnya, menunjukkan bahwa beberapa komentar tersebut justru tidak akurat dan mengabaikan kondisi fisiknya yang sebenarnya. Komentar-komentar seperti ini, betapapun sering dianggap sepele oleh sebagian orang, dapat memiliki efek destruktif yang mendalam pada harga diri seseorang, terutama figur publik yang selalu berada di bawah sorotan.

Namun, di tengah kegelapan insecurity tersebut, muncul sebuah cahaya motivasi yang sangat kuat: rasa sayangnya yang mendalam kepada kedua buah hatinya. Kesadaran bahwa sebagai seorang ibu dari anak laki-laki yang sedang aktif-aktifnya, ia membutuhkan kondisi fisik yang bugar dan mental yang bahagia, menjadi pendorong utama baginya untuk bangkit. Ia memahami betul bahwa energi positif yang dipancarkannya sebagai seorang ibu akan berdampak langsung pada kebahagiaan dan perkembangan anak-anaknya.

"Aku merasa sangat menyayangi anakku lebih dari diriku sendiri. Jadi salah satu effort-nya adalah kalau ibunya sehat, anak-anak juga pasti senang. Kalau ibunya happy, anak-anak juga pasti happy," terangnya dengan penuh kehangatan. Perkataan ini menegaskan prioritasnya sebagai seorang ibu dan bagaimana ia menjadikan keluarganya sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi tantangan pribadi. Keputusan untuk memperbaiki diri bukan hanya demi dirinya sendiri, tetapi demi memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Proses transformasi yang dijalani Vicky Shu bukanlah sebuah jalan pintas atau metode ekstrem yang mengorbankan kesehatan. Sebaliknya, ia memilih pendekatan yang berfokus pada perubahan gaya hidup yang berkelanjutan. Pendekatan ini mencakup rutinitas berjalan kaki setiap hari dan pembatasan asupan makanan manis, yang selama ini merupakan salah satu kegemarannya. Perubahan gaya hidup ini terbukti memberikan hasil yang signifikan, membantunya menurunkan berat badan dari angka 74 kilogram menjadi 63 kilogram.

Vicky Shu menekankan pentingnya disiplin dalam menjaga aktivitas fisik, meskipun di tengah jadwalnya yang padat. Bahkan, sebuah aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di pusat perbelanjaan pun dianggapnya sebagai bentuk komitmen terhadap kesehatan. "Atur pola makan sama jalan kaki 30 menit setiap pagi atau sore. Pokoknya disempatin, karena selama program aku cuma boleh olahraga jalan kaki 30 menit setiap pagi atau sore atau sempatnyalah. Minimal 30 sampai 60 menit," pungkasnya.

Lebih lanjut, Vicky Shu menceritakan bagaimana pengalaman body shaming tersebut secara spesifik memengaruhi pandangannya terhadap citra diri di depan kamera. Ia mengakui bahwa bahkan setelah melakukan penurunan berat badan, ia masih merasa bahwa bagian atas tubuhnya, terutama area dada dan bahu, cenderung terlihat lebih besar dibandingkan dengan proporsi tubuhnya yang sebenarnya. Perasaan ini menjadi semacam mental block yang membuatnya ragu untuk tampil di televisi. Ia membayangkan bahwa efek visual di layar kaca, yang seringkali menambah kesan lebih besar pada tubuh, akan semakin memperburuk persepsi dirinya sendiri dan potensi komentar negatif dari publik.

"Aku tuh kadang suka mikir, aduh ini kalau di TV nanti kelihatan gede banget nggak ya? Apalagi aku kan memang bentuk badannya kayak jam pasir gitu, jadi kalau bagian atasnya besar, ya pasti kelihatan lebih besar lagi di TV," ujarnya, menggambarkan dilema yang ia hadapi. Ketakutan ini membuatnya lebih memilih untuk menjaga privasi dan membatasi kemunculannya di depan umum, terutama dalam konteks profesional yang menuntut penampilan fisik yang prima di mata penonton.

Meskipun ia mencoba untuk memperbaiki citra dirinya melalui penurunan berat badan, insecurity yang terlanjur tertanam akibat body shaming tidak serta-merta hilang. Komentar-komentar negatif yang ia terima, meskipun kadang terasa tidak adil, tetap membekas dan memengaruhi kepercayaan dirinya. Ia merasa bahwa, terlepas dari usahanya, ada sebagian orang yang tetap fokus pada kekurangan fisiknya dan tidak melihat usaha serta perubahan positif yang telah ia lakukan. Hal ini menciptakan lingkaran setan di mana upaya perbaikan diri justru semakin memicu kecemasannya terhadap penilaian orang lain.

Namun, seperti yang telah disinggung sebelumnya, kekuatan terbesarnya datang dari keluarganya. Vicky Shu menyadari bahwa peran sebagai ibu menuntutnya untuk menjadi pribadi yang kuat dan positif. Ia tidak ingin anak-anaknya melihat ibunya terpuruk karena perkataan orang lain atau ketidakpuasan terhadap penampilan fisik. Oleh karena itu, ia membulatkan tekad untuk mengubah perspektifnya dan menjadikan kesehatan serta kebahagiaan sebagai prioritas utama.

"Aku pengen anak-anakku bangga punya ibu yang sehat, yang semangat, yang nggak gampang nyerah. Kalau aku terus-terusan merasa insecure, bagaimana aku bisa memberikan energi positif buat mereka?" tuturnya, dengan nada penuh keyakinan. Kalimat ini menunjukkan kedalaman pemahamannya tentang pentingnya role model bagi anak-anaknya. Ia ingin mengajarkan kepada mereka bahwa kecantikan sejati tidak hanya terletak pada penampilan fisik, tetapi juga pada kekuatan mental, kebahagiaan, dan kemampuan untuk mengatasi tantangan hidup.

Proses perubahan gaya hidup yang dijalani Vicky Shu juga mencakup aspek mental yang kuat. Ia belajar untuk menerima dirinya sendiri dan memfilter komentar negatif yang tidak membangun. Ia mulai menyadari bahwa persepsi orang lain tidak selalu mencerminkan realitas, dan yang terpenting adalah bagaimana ia memandang dirinya sendiri. Ia juga mulai memfokuskan energinya pada hal-hal positif, seperti menikmati momen bersama keluarga, menekuni hobi, dan merawat kesehatannya.

Salah satu strategi yang ia terapkan adalah dengan mengubah cara pandangnya terhadap makanan. Jika sebelumnya makanan manis menjadi sumber kesenangan dan pelarian, kini ia mencoba mencari alternatif yang lebih sehat atau mengonsumsinya dalam jumlah yang sangat terbatas. Ia mulai menghargai proses dan menikmati setiap langkah kecil dalam perjalanannya menuju hidup yang lebih sehat dan bahagia.

"Yang penting itu kita harus sayang sama diri sendiri dulu. Kalau kita sayang sama diri sendiri, kita akan lebih semangat buat merawat diri. Dan nggak peduli sama omongan orang yang cuma bikin sakit hati," tegasnya, memberikan pesan kuat tentang pentingnya self-love. Pesan ini sangat relevan di era digital saat ini di mana body shaming dan cyberbullying menjadi isu yang semakin marak.

Kisah Vicky Shu ini menjadi pengingat bagi banyak orang, terutama kaum perempuan, bahwa perjuangan melawan insecurity dan tekanan sosial adalah hal yang nyata. Pengalaman ini juga menyoroti betapa berbahayanya body shaming dan dampaknya yang bisa merusak kepercayaan diri seseorang. Namun, di sisi lain, cerita ini juga memberikan inspirasi tentang bagaimana kekuatan cinta keluarga dan kemauan untuk berubah dapat menjadi sumber kekuatan terbesar dalam menghadapi kesulitan.

Dengan menurunkan berat badan dan memperbaiki gaya hidupnya, Vicky Shu tidak hanya mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, tetapi juga menjadi contoh nyata bahwa perubahan positif adalah mungkin. Ia membuktikan bahwa dengan komitmen, disiplin, dan dukungan yang tepat, seseorang dapat mengatasi insecurity dan kembali bersinar, baik di atas panggung maupun dalam kehidupan pribadinya. Transformasinya bukan hanya tentang angka di timbangan, tetapi tentang pemulihan kesehatan mental dan penemuan kembali jati diri yang lebih kuat. Ia kini merasa lebih siap untuk kembali tampil di televisi, bukan dengan rasa takut, tetapi dengan kepercayaan diri yang baru ditemukan, siap berbagi kebahagiaan dan inspirasi kepada khalayak luas.