0

Negosiasi Terbaru Iran dan AS Temui Jalan Buntu?

Share

Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah proposal terbaru yang diajukan Teheran ditolak mentah-mentah oleh pihak Washington. Ketegangan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan ini kini mencapai titik nadir, terutama setelah munculnya skema baru terkait akses Selat Hormuz dan blokade maritim yang saling mengunci kepentingan kedua negara.

Dalam rapat krusial di Situation Room Gedung Putih pada Senin (27/4/2026), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menyatakan ketidakpuasannya secara mendalam atas usulan yang dibawa oleh delegasi Iran melalui mediator Pakistan. Inti dari proposal tersebut sebenarnya cukup sederhana namun fundamental: Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat mereka kendalikan, dengan syarat mutlak Amerika Serikat segera mencabut blokade laut yang melumpuhkan pelabuhan-pelabuhan utama Teheran. Namun, poin krusial yang membuat Washington berang adalah absennya pembahasan mengenai program nuklir Iran dalam draf tersebut.

Bagi Gedung Putih, program nuklir adalah "garis merah" yang tidak bisa ditawar. Sejak lama, AS bersikeras bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup penangguhan pengayaan uranium oleh Iran selama setidaknya satu dekade, serta pemindahan cadangan uranium yang telah diperkaya ke luar wilayah Iran. Absennya poin ini dalam proposal Iran dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap tuntutan keamanan internasional yang selama ini diusung oleh Washington.

Seorang pejabat tinggi AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa menerima proposal tersebut sama saja dengan "menyerahkan kemenangan" secara terbuka kepada Teheran. Sikap tegas ini diperkuat oleh juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, yang menyatakan bahwa AS tidak akan melakukan diplomasi melalui pemberitaan media. Menurut Wales, presiden hanya akan menyetujui kesepakatan yang membawa keuntungan konkret bagi rakyat Amerika dan stabilitas dunia, tanpa mengorbankan batasan-batasan keamanan yang telah ditetapkan.

Di sisi lain, Teheran tampak tidak bergeming. Melalui laporan yang dirilis Axios, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyodorkan skema di mana gencatan senjata jangka panjang—atau bahkan permanen—dapat diwujudkan, namun dengan catatan bahwa negosiasi nuklir baru bisa dimulai setelah jalur perdagangan di Selat Hormuz kembali dibuka dan blokade laut AS dihentikan total. Bagi Iran, kedaulatan maritim dan ekonomi adalah prioritas utama yang harus diselesaikan sebelum mereka bersedia mendiskusikan kembali batasan teknis program nuklir mereka.

Tuntutan Jaminan Keamanan

Krisis diplomatik ini semakin meruncing di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam sesi Dewan Keamanan PBB di New York, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyampaikan argumen yang cukup tajam. Iravani menegaskan bahwa Iran membutuhkan jaminan yang kredibel dan mengikat secara hukum bahwa serangan dari Amerika Serikat maupun Israel tidak akan terulang kembali di masa depan. Menurutnya, stabilitas di kawasan Teluk yang kaya minyak tidak akan pernah tercapai selama agresi militer masih menjadi ancaman konstan.

Iravani dengan berani menuding AS bertindak layaknya "bajak laut" dan "teroris" karena terus melakukan penyitaan terhadap kapal-kapal komersial Iran dan mengintimidasi awak kapal di perairan internasional. Ia menyayangkan sikap negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB yang hanya fokus mengkritik langkah Iran di Selat Hormuz, namun menutup mata terhadap blokade maritim ilegal yang dilakukan AS. "Tidak seorang pun dari mereka yang menyatakan keprihatinan terhadap navigasi internasional berani menyinggung atau mengutuk tindakan teroris ini," tegas Iravani di depan forum internasional tersebut.

Ketegangan di lapangan pun semakin memburuk. Sejak 28 Februari lalu, Iravani menyebut bahwa AS dan Israel telah mengobarkan "perang agresi skala besar" yang tidak beralasan. Tuduhan ini tentu saja memicu reaksi keras dari Washington. Konflik ini tidak hanya terbatas pada masalah maritim, tetapi juga merembet ke ranah diplomasi nuklir yang lebih luas.

Perselisihan di Forum NPT

Ketidakharmonisan antara kedua negara juga mewarnai konferensi peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). AS melayangkan protes keras atas terpilihnya Iran sebagai salah satu wakil presiden dalam konferensi tersebut. Christopher Yeaw, Asisten Sekretaris Biro Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi AS, menyebut pemilihan Iran sebagai sebuah "penghinaan" terhadap kredibilitas NPT. AS menilai bahwa negara yang terus menolak bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) seharusnya tidak memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kebijakan nuklir dunia.

Reaksi tersebut dibalas dengan ketus oleh Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi. Ia menyebut retorika AS sebagai tindakan munafik dan bermotif politik. Najafi mengingatkan bahwa Amerika Serikat adalah satu-satunya negara di dunia yang pernah menggunakan senjata nuklir dalam sejarah dan hingga kini terus memodernisasi persenjataan nuklirnya sendiri. Menurut Iran, upaya AS untuk memposisikan diri sebagai "polisi nuklir" dunia adalah bentuk standar ganda yang tidak dapat dibenarkan.

Analisis Jalan Buntu

Mengapa negosiasi ini terus menemui jalan buntu? Pertama, adanya perbedaan mendasar mengenai urutan prioritas. AS menginginkan denuklirisasi Iran sebagai syarat utama, sementara Iran menginginkan pencabutan sanksi ekonomi dan jaminan keamanan sebagai syarat utama. Tanpa adanya kesepakatan mengenai "apa yang harus didahulukan", kedua negara terjebak dalam siklus saling tuduh.

Kedua, faktor politik domestik di kedua negara memainkan peran besar. Donald Trump, yang dikenal dengan kebijakan America First, tentu tidak ingin terlihat lemah di mata basis pendukungnya dengan menyetujui kesepakatan yang dianggap memberikan konsesi terlalu besar kepada Iran. Sebaliknya, pemerintah Iran berada di bawah tekanan internal untuk menunjukkan ketegasan terhadap pengaruh Barat agar tidak kehilangan legitimasi di mata kelompok garis keras di dalam negeri.

Ketiga, keterlibatan Israel dalam konflik ini menambah kompleksitas. Iran memandang Israel sebagai aktor yang bekerja di balik layar bersama AS untuk menekan kedaulatan mereka. Ketidakpercayaan yang mendalam antara Teheran dan sekutu Baratnya membuat setiap proposal perdamaian, sekecil apa pun, akan selalu dicurigai sebagai taktik untuk mendapatkan keuntungan strategis.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa kedua belah pihak akan melunakkan posisinya. Selat Hormuz tetap menjadi titik panas yang bisa meledak kapan saja, sementara program nuklir Iran terus menjadi duri dalam hubungan internasional. Dunia kini menanti apakah akan ada pihak ketiga yang mampu memediasi atau apakah krisis ini akan terus memburuk hingga ke titik konfrontasi militer yang lebih luas.

Dengan situasi yang semakin panas di Teluk Persia dan kegagalan diplomasi di PBB, masa depan keamanan energi global kini berada di ujung tanduk. Jalan buntu ini bukan sekadar masalah teknis antara Washington dan Teheran, melainkan cerminan dari pergeseran tatanan dunia di mana dialog tampak semakin sulit dilakukan di tengah dominasi ego nasional dan ambisi militer. Selama kepercayaan belum dibangun kembali, maka setiap proposal yang diajukan hanya akan menjadi dokumen yang terbuang sia-sia, sementara dunia harus terus bersiap menghadapi ketidakpastian yang lebih besar di kawasan tersebut.