BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sebuah insiden tragis kembali terjadi di perlintasan kereta api, kali ini melibatkan taksi listrik berwarna hijau dari perusahaan Green SM. Kejadian di Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam, di mana sebuah taksi listrik tertabrak oleh kereta commuter line, yang kemudian memicu tabrakan beruntun antara commuter line tersebut dengan Kereta Api Argo Bromo Anggrek, menambah daftar panjang kecelakaan serupa yang melibatkan armada taksi listrik ini. Berdasarkan catatan yang ada, ini bukan kali pertama taksi listrik Green SM mengalami musibah di perlintasan kereta api; tercatat sudah tiga kali kejadian serupa yang menimbulkan kekhawatiran mendalam akan keselamatan operasional dan kesadaran pengemudi.
Peristiwa di Bekasi pada Senin malam itu bermula ketika sebuah taksi listrik Green SM diduga berhenti di perlintasan sebidang JPL 85 Ampera. Akibat insiden ini, lalu lintas kereta api terganggu, menyebabkan commuter line tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Situasi yang sudah genting ini diperparah ketika Kereta Api Argo Bromo Anggrek, yang melaju dari belakang, menabrak commuter line yang sedang berhenti. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, dalam keterangan video yang dirilis Kementerian Perhubungan pada Selasa (28/4/2026), menjelaskan bahwa kejadian dimulai sekitar pukul 9 malam dengan insiden taksi hijau di JPL 85, yang dicurigai mengganggu sistem perkeretaapian di area emplasemen Stasiun Bekasi Timur. PT KAI menyerahkan sepenuhnya kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan investigasi mendalam guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan beruntun ini.
Ini bukan kali pertama taksi listrik Green SM menjadi bagian dari kecelakaan dengan kereta api. Setidaknya, ada dua insiden sebelumnya yang menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Kejadian pertama dilaporkan terjadi di Cengkareng, Jakarta Barat, pada 10 Oktober 2025. Sebuah taksi listrik Green SM tersambar bagian belakang kereta api di perlintasan kereta api Jembatan Gantung. Menurut saksi mata, Muhammad Nasir (60), insiden tersebut diduga bermula ketika sopir taksi berhenti terlalu dekat dengan jalur kereta api. Nasir mengaku sudah memperingatkan sopir taksi untuk mundur, namun peringatan tersebut tidak diindahkan. "Saya sudah suruh setop itu taksinya. Saya bilang, ‘Pak setop, terlalu dekat sama kereta’. Tapi dia enggak mau mundur. Kepala keretanya lewat masih aman, tapi ekornya yang nyamber mobil itu," ujar Nasir kepada wartawan.
Setelah mobil tersambar kereta, seorang penumpang perempuan yang berada di dalam taksi dilaporkan turun dari kendaraan dalam keadaan marah dan menyalahkan sopir. Ia menuduh sopir taksi bermain ponsel dan tidak mau mundur saat diminta. "Penumpangnya langsung turun sambil marah-marah, bilang ‘Bapak juga sih, main handphone terus, disuruh mundur enggak mau’. Seorang ibu itu pun pergi naik ojek," tutur saksi. Namun, sopir taksi membantah tuduhan tersebut. Ia mengklaim tidak bermain ponsel dan sedang fokus melihat peta untuk mengantarkan penumpang. Ia mengaku terkejut ketika tiba-tiba diminta berhenti dan kemudian tersambar ekor kereta. Menurutnya, palang rel tidak tertutup dan tidak ada suara peringatan yang terdengar. Sopir tersebut juga menyatakan bahwa penumpangnya, yang hanya satu orang, tidak mengalami luka, hanya tersenggol bagian belakang kereta.
Insiden kedua yang melibatkan taksi listrik hijau Green SM dan kereta api terjadi di Jalan Rajawali, Kemayoran, Jakarta, pada 31 Desember 2025. Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, taksi listrik Green SM terlihat berada di dalam area palang perlintasan. Setelah satu kereta melintas, taksi tersebut diduga mencoba untuk menyeberangi rel. Tragisnya, tidak lama kemudian, kereta lain datang dan menghantam taksi tersebut. Bagian depan mobil mengalami kerusakan parah, termasuk lampu yang pecah, dan airbag di baris depan mengembang. Meskipun terjadi kerusakan yang signifikan, dilaporkan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam insiden ini.
Peristiwa ketiga, yang terjadi di Bekasi pada Senin malam, menunjukkan eskalasi bahaya. Taksi listrik hijau Green SM diduga mogok di tengah rel di perlintasan sebidang Jalan Ampera. Tabrakan dengan KRL kemudian terjadi, yang berujung pada terhentinya KRL lain di Stasiun Bekasi Timur. Kesialan berlanjut ketika Kereta Api Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang terhenti dari belakang. Akibat dari kecelakaan beruntun ini, dilaporkan tujuh penumpang meninggal dunia dan 81 lainnya mengalami luka-luka. Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengkonfirmasi jumlah korban tersebut dan menyatakan bahwa para korban luka-luka tengah dalam perawatan intensif di rumah sakit.
Menanggapi serangkaian insiden ini, Green SM Indonesia akhirnya memberikan pernyataan resmi. Melalui unggahan di akun Instagram mereka, perusahaan menyatakan menaruh perhatian penuh atas insiden yang terjadi dan telah memberikan keterangan kepada pihak berwenang untuk mendukung proses investigasi. Pernyataan lengkap Green SM Indonesia berbunyi: "Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas. Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk menjaga standar keselamatan yang tinggi melalui sistem operasional, pengawasan, serta peningkatan layanan secara berkelanjutan. Kami akan terus menyampaikan perkembangan terbaru seiring dengan tersedianya informasi yang telah terverifikasi."
Kejadian berulang ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai penyebab utama kecelakaan. Apakah ini murni kelalaian pengemudi, masalah teknis pada kendaraan listrik, ataukah ada faktor lain yang belum terungkap? Analisis mendalam terhadap setiap insiden, termasuk kondisi perlintasan kereta api, kesiapan pengemudi dalam menghadapi situasi darurat, dan faktor teknis kendaraan, sangat diperlukan. Keterlibatan KNKT dalam investigasi diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif dan rekomendasi yang efektif untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Keselamatan penumpang dan publik harus menjadi prioritas tertinggi, dan diperlukan tindakan proaktif dari semua pihak terkait, termasuk operator taksi, otoritas perkeretaapian, dan pemerintah, untuk memastikan lingkungan transportasi yang lebih aman.

