El Salvador tengah menjadi sorotan dunia setelah pemerintah menggelar sidang massal terhadap 486 pemimpin geng MS-13 (Mara Salvatrucha), sebuah kelompok kriminal yang selama satu dekade terakhir menebar teror melalui lebih dari 47.000 tindak kejahatan sadis. Persidangan ini menjadi babak krusial dalam "perang melawan geng" yang dideklarasikan oleh Presiden Nayib Bukele sejak Maret 2022, menyusul lonjakan kekerasan yang menelan 87 korban jiwa hanya dalam satu akhir pekan.
Kejaksaan Agung El Salvador menyatakan bahwa mereka memegang bukti-bukti kuat yang memungkinkan penerapan hukuman maksimal bagi para terdakwa. Dakwaan yang diajukan pun tidak main-main; mulai dari pembunuhan berencana, pemerasan sistematis, perdagangan senjata dan narkoba, hingga femisida dan penghilangan orang secara paksa. Lebih jauh lagi, kelompok ini didakwa melakukan upaya "pemberontakan" karena mencoba membangun negara paralel yang menguasai wilayah-wilayah tertentu, yang secara langsung melumpuhkan stabilitas ekonomi dan sosial negara.
MS-13 bukanlah sekadar geng jalanan biasa. Mereka adalah organisasi kriminal transnasional yang lahir di Los Angeles, Amerika Serikat, pada era 1980-an. Kelompok ini dibentuk oleh para imigran yang melarikan diri dari perang saudara brutal di El Salvador. Nama "MS-13" sendiri memiliki makna mendalam: "Mara" berarti geng, "Salva" merujuk pada Salvador, dan "Trucha" adalah istilah jalanan untuk seseorang yang cerdik atau waspada. Sementara itu, angka "13" melambangkan posisi huruf ‘M’ dalam alfabet, sebuah penghormatan kepada geng Meksiko (Sur 13) yang berafiliasi dengan mereka di penjara-penjara Amerika.
Sejarah kelam MS-13 mencatat bagaimana mereka berevolusi dari sekumpulan pengungsi menjadi organisasi yang setara dengan kartel narkoba internasional seperti Yakuza di Jepang atau Camorra di Italia. Pada akhir 1990-an, kebijakan deportasi massal dari Amerika Serikat justru menjadi bumerang. Ratusan anggota inti dideportasi kembali ke Amerika Tengah, di mana mereka justru membangun "cabang-cabang" baru yang lebih terorganisir dan kejam. Kini, diperkirakan terdapat lebih dari 60.000 anggota aktif di kawasan Amerika Tengah, menjadikan mereka kekuatan yang melampaui otoritas hukum di beberapa wilayah.
Reputasi kekerasan MS-13 didorong oleh ritual rekrutmen yang mengerikan. Calon anggota baru harus melewati proses "penyergapan" berupa pukulan brutal selama 13 detik tanpa henti sebagai ujian ketahanan. Setelah diterima, mereka diwajibkan untuk "dibasahi" melalui komitmen melakukan tindak kriminal berat, sering kali pembunuhan, untuk membuktikan loyalitas. Keluar dari geng ini hampir mustahil; tato besar yang menutupi tubuh mereka adalah stempel seumur hidup, dan sering kali, anggota yang mencoba melarikan diri akan dieksekusi oleh faksi mereka sendiri.
Pakar FBI yang mendalami struktur geng ini mengungkapkan bahwa motto horor yang dipegang teguh oleh anggota MS-13 adalah "Bunuh, Perkosa, Kendalikan". Slogan ini bukan sekadar retorika, melainkan panduan operasional. Mereka dikenal sering menggunakan parang dan pemukul bisbol dalam aksi-aksi pembunuhan yang acak namun sangat brutal. Salah satu kasus yang memicu kemarahan publik adalah pembunuhan dua siswi SMA di New York pada 2017, di mana para korban diserang secara sadis hanya karena dianggap melintasi wilayah kekuasaan geng.
Di El Salvador, operasi sistematis MS-13 telah memeras rakyat kecil hingga ke akar-akarnya. Berdasarkan data kepolisian, pemasukan tahunan geng ini ditaksir mencapai USD 31,2 juta atau sekitar Rp400 miliar lebih, yang mayoritas diperoleh dari bisnis pemerasan terhadap usaha kecil, transportasi umum, hingga warga sipil yang ingin beraktivitas di wilayah kekuasaan mereka. Hal inilah yang mendorong Presiden Bukele menerapkan status darurat nasional sejak 2022. Kebijakan ini memberikan kewenangan luas bagi aparat untuk menangkap siapa pun yang dicurigai memiliki kaitan dengan geng, meski langkah ini menuai kritik dari pegiat hak asasi manusia terkait penahanan sewenang-wenang.
Persidangan massal terhadap 486 pemimpin geng ini merupakan klimaks dari kebijakan keras pemerintah. Sebanyak 413 orang telah berada dalam tahanan, sementara 73 orang lainnya diadili secara in absentia. Pemerintah El Salvador menggunakan sistem pemantauan canggih untuk melacak setiap jejak aktivitas kriminal mereka. Bagi masyarakat El Salvador, proses hukum ini diharapkan menjadi titik balik untuk mengakhiri dekade ketakutan yang telah merenggut ribuan nyawa.
Meskipun sempat dipolitisasi dalam debat politik di Amerika Serikat—di mana mantan Presiden Donald Trump sempat menuding kebijakan imigrasi era Obama sebagai pemicu pertumbuhan MS-13—para ahli sejarah kriminal membantah klaim tersebut. Faktanya, geng ini sudah menjadi ancaman serius sejak tahun 1990-an, jauh sebelum transisi kekuasaan di AS terjadi. Berbagai pemerintahan AS sebelumnya, termasuk era Bush, dinilai gagal mengantisipasi eskalasi geng ini akibat kebijakan deportasi yang tidak dibarengi dengan strategi pencegahan di negara asal.
Kini, nasib para pemimpin geng MS-13 berada di tangan hakim. Dengan bukti-bukti yang dikumpulkan selama bertahun-tahun, negara berupaya membuktikan bahwa tidak ada lagi ruang bagi "negara paralel" di dalam kedaulatan El Salvador. Persidangan ini bukan sekadar tentang menghukum individu, melainkan upaya untuk memutus rantai teror yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Tato-tato yang dulu menjadi simbol kebanggaan dan kekuasaan bagi anggota MS-13 kini justru menjadi bukti hukum yang akan membawa mereka mendekam di balik jeruji besi selamanya.
Keberhasilan atau kegagalan persidangan ini akan menjadi tolok ukur bagi banyak negara di Amerika Latin yang juga bergelut dengan masalah serupa. El Salvador telah membuktikan bahwa dengan kemauan politik yang kuat—meskipun kontroversial dari sisi HAM—negara dapat membalikkan keadaan melawan geng kriminal yang paling ditakuti sekalipun. Dunia kini menunggu apakah "slogan horor" yang selama ini membungkam rakyat El Salvador akan benar-benar lenyap seiring dengan runtuhnya struktur kepemimpinan MS-13 di kursi pesakitan.
Bagi para korban, persidangan ini adalah bentuk keadilan yang telah lama dinanti. Bagi para anggota geng, ini adalah akhir dari era impunitas. Seiring dengan berjalannya proses hukum, fokus kini beralih pada bagaimana pemerintah akan mengelola rehabilitasi sosial bagi wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi akibat cengkeraman geng, serta memastikan bahwa MS-13 tidak akan pernah bangkit kembali dalam bentuk yang baru.

